Review: Sixteen Candles (1984)

Hi. Adakah di sini yang suka menonton film lama? Yo ngacung yo!

Kalau memang ada, tos dulu dongs. Karena saya juga suka.

Menonton film lama sama rasanya seperti memasuki mesin waktu. Seperti kita kembali ke masa lalu dan melihat bagaimana keadaan yang ada waktu itu. Polemik sosial, gaya berpakaian, teknologi zaman itu, dan lain sebagainya yang jelas berbeda dengan sekarang. Memang kualitasnya akan terlihat sangat jadul. Secara visual bisa jadi jauh kalah memukau dengan yang ada sekarang. Namun, bila itu semua dikesampingkan, sejujurnya menonton film lama bisa sangat menyenangkan. Lagipula secara alur dan karakter, orang zaman dulu adalah pencerita yang dahsyat. Beberapa bahkan menganggap film-film dulu punya kualitas penyutradaraan dan akting jauh di atas sekarang. Bolehlah dicoba sekali-sekali menonton film lama šŸ™‚

Film lama yang baru saja saya tonton adalah Sixteen Candles keluaran tahun 1984.

sixteen-candles
Kiri-Kanan: Farmer Ted/Geek, Samantha, Jake Ryan. Btw si Jake ini punya aura-aura Zac Efron. Minus bisep sama sixpacknya doang yang nggak keliatan. Untung aja ehe

Continue reading “Review: Sixteen Candles (1984)”

Advertisements

Changeling (2008)

Ngomongin film lagi yuk!
Saya lumayan sering nonton film. Sampai-sampai, kalau ada pertanyaan dalam formulir apapun tentang hobi, dengan nekat saya mengisi “menonton film”. Saya pikir daripada cuma nonton doang, baiknya dibarengi dengan penyuaraan opini sekaligus latihan menulis hmm.

Kali ini, film yang sedikit akan saya bagi adalah filmnya Angelina Jolie keluaran tahun 2008, Changeling

changeling2bquad

Saya cukup yakin banyak yang tidak mengetahui film ini. Saya pun begitu. Awalnya bertemu dengan film ini karena kemarin tiba-tiba ngidam nonton film bertema crime-mystery. Dan bertemulah dengan poster filmnya. Angelina Jolie brow!

Bukan Angelina Jolie yang menjadi minat utama saya mulai menonton ini. Selain karena genre crime-mystery nya, premisnyalah berhasil mengundang ketertarikan bagi saya untuk segera memencet tombol ‘play’. Amat memikat Continue reading “Changeling (2008)”

Paprika (2006) – Batas Antara Mimpi dan Realita yang Kabur beserta Kegilaan di Dalamnya

Sepertinya masih cukup banyak orang di luar sana yang menganggap bahwa kartun/anime hanyalah konsumsi anak-anak. Sebenarnya tidak juga. Sudah cukup banyak film animasi (khususnya produksi Jepang) yang menyoroti sisi dunia dewasa sebagai fokus utama cerita. Animasi hanyalah kanvas bagi insan perfilman untuk menumpahruahkan ekspresi mereka. Sama seperti lensa kamera film ataupun lainnya. Jadi, animasi tidak melulu untuk anak-anak karena hampir seluruh animator adalah orang dewasa dengan pikiran dan imajinasi yang dewasa pula. Mereka hanya memilih animasi sebagai wadah kreasi. Contoh terbaik dari animasi-animasi ini adalah film anime produksi Ghibli. Tak terbatas hanya di Ghibli, satu film animasi ini, Paprika, sekali lagi menjadi bukti bahwa film animasi juga bisa memiliki ide cerita yang brilian, alur yang kompleks, serta memerlukan nalar berat untuk sekedar mencerna jalan ceritanya secara umum

Ah. Entah harus dari mana untuk mengopinikan Paprika. Dalam satu kalimat, Paprika adalah anime yang penuh dengan kegilaan. Kegilaan dalam arti yang positif.

paprika_poster
Continue reading “Paprika (2006) – Batas Antara Mimpi dan Realita yang Kabur beserta Kegilaan di Dalamnya”

Review: The Conjuring 2

Beberapa hari yang lalu saya dan teman sejawat saya janjian buat nonton film yang lagi happening di kampus kami, The Conjuring 2. Pasti tahu lah. Film horror sekuel The Conjuring yang (katanya) serem gak nanggung-nanggung. Penggemar film horror sejati pun memiliki ekspektasi tinggi terhadap film satu ini. Tetapi bukan saya, karena saya tidak berharap film ini akan bagus pun saya juga bukan penggemar film horror. Tujuan saya ikut nonton bareng ini adalah untuk menghibur diri melihat teman lain yang ketakutan nonton. Kedengaran jahat ya -_-

Sebelumnya perlu saya ingatkan kepada para pembaca kalau tulisan ini membeberkan jalan cerita. Nggak seru kan kalau nanti nonton tapi sudah tahu bagaimana ujungnya gara-gara baca ini.

Filmnya sendiri kembali bercerita tentang pasangan Ed dan Lorraine Warrens si Pembasmi/Negosiator/Mediator hantu. Kali ini mereka berurusan dengan kasus berhantu dalam keluarga Hodgson di Enfield, London Utara.

Continue reading “Review: The Conjuring 2”

Timelapse Syndrome

Marie, are you awake? Good.

You look so beautiful and peaceful, you almost look dead. I’m glad because there is something that has always been very difficult for me to say. I slit the sheet, the sheet I slit, and on the slitted sheet I sit. I’ve never been relaxed enough around anyone to be able to say that. You give me confidence in myself.

I know we’ve only known each other four weeks and three days, but to me it seems like nine weeks and five days. The first day seemed like a week and the second day seemed like five days and the third day seemed like a week again and the fourth day seemed like eight days and the fifth day you went to see your mother and that seemed just like a day and then you came back and later on the sixth day, in then evening, when we saw each other, that started seeming like two days, so in the evening it seemed like two days spilling over into the next day and that started seeming like four days, so at the end of the sixth day on into the seventh day, it seemed like a total of five days. And the sixth day seemed like a week and a half. I have it written down, but I can show it to you tomorrow if you want to see it.

Anyway, I’ve decided that tomorrow, when the time is right, I’m going to ask you to marry me, if that’s o.k. with you. Just don’t say anything.

(no answer) You’ve made me very happy.

Navin R. Johnson

The most romantic monologue i’ve ever seen in entire of my life…

I hereby convinced that theĀ fondest love comes from the idiot ones