Author: mfadel

Fadelswebaddress@gmail.com

Paprika (2006) – Batas Antara Mimpi dan Realita yang Kabur beserta Kegilaan di Dalamnya

Sepertinya masih cukup banyak orang di luar sana yang menganggap bahwa kartun/anime hanyalah konsumsi anak-anak. Sebenarnya tidak juga. Sudah cukup banyak film animasi (khususnya produksi Jepang) yang menyoroti sisi dunia dewasa sebagai fokus utama cerita. Animasi hanyalah kanvas bagi insan perfilman untuk menumpahruahkan ekspresi mereka. Sama seperti lensa kamera film ataupun lainnya. Jadi, animasi tidak melulu untuk anak-anak karena hampir seluruh animator adalah orang dewasa dengan pikiran dan imajinasi yang dewasa pula. Mereka hanya memilih animasi sebagai wadah kreasi. Contoh terbaik dari animasi-animasi ini adalah film anime produksi Ghibli. Tak terbatas hanya di Ghibli, satu film animasi ini, Paprika, sekali lagi menjadi bukti bahwa film animasi juga bisa memiliki ide cerita yang brilian, alur yang kompleks, serta memerlukan nalar berat untuk sekedar mencerna jalan ceritanya secara umum

Ah. Entah harus dari mana untuk mengopinikan Paprika. Dalam satu kalimat, Paprika adalah anime yang penuh dengan kegilaan. Kegilaan dalam arti yang positif.

paprika_poster
(more…)

Advertisements

Harry-Markle

Pangeran Harry (33) akhirnya bertunangan dengan seorang gadis bernama Meghan Markle (36). Berita bahagia itu tersiar ke seluruh dunia, seperti yang kutonton tadi subuh dalam acara berita nasional. Terdapat video di mana mereka berjalan beriringan di taman. Begitu manisnya. Sementara om-tante terpaku pada manisnya pasangan itu, aku sendiri terfokus ke satu lingkaran emas di kepala Pangeran Harry. Lingkaran emas yang wujud karena jarangnya rambut di daerah tersebut. Botak.

Ternyata begitu ya. Bahkan keluarga kerajaaan tak bisa lari dari datangnya kebotakan yang terkutuk

Pasangan Muda

Kemarin kembali aku naik kereta antar provinsi. Namun tak seperti perjalanan-perjalananku yang sebelumnya, kali ini di gerbongku ada banyak sekali pasangan muda. Suami istri yang kelihatan masih muda dan jelas sekali usia keluarga mereka masih seumur jagung

Di depanku, duduk pasangan suami istri beserta bayi mereka. Mereka terlihat cocok satu sama lain. Sang istri cantik luar biasa dan sang suami tampan bak tokoh utama film romantis religi. Tak heran si jantan kecil yang berumur 14 bulan berparas rupawan. Ia lebih mirip ke ibunya namun juga ganteng seperti ayahnya. Bergantian mereka mengemong si kecil, bergantian pula mereka saling mengumpan tawa

Di seberang mereka, ada lagi pasangan suami istri. Sang istri sedang hamil. Kutaksir setidaknya sudah 4-5 bulan. Sang suami sesekali mengelus-elus perut sang istri dan ketika ia melakukannya, tangan sang istri turut pula mengelusnya. Tangan mereka kemudian bertemu, berbincang sedikit, lalu saling meminjam bahu untuk bersender satu sama lain.

Di depan perempuan hamil itu, hadir pasangan lainnya. Mereka belum punya anak pun tidak kelihatan cabang anak di perut sang istri. Merekalah pasangan yang terlihat paling ‘baru’. Sang istri memangku laptop di pahanya. Dapat kuintip suatu slide presentasi yang sedang dikerjakannya. Sang suami yang sedari tadi sibuk memainkan smartphone sesekali dimintai pendapat oleh istrinya terkait presentasi tersebut. Sang suami kemudian menjawab bercanda, dibalas pukulan manja dari sang istri, lalu dibalas lagi dengan kecupan kening oleh sang suami.

Kemudian di tengah-tengah mereka ada aku. Ya, si lajang menyedihkan tiada berperi, yang sedari tadi mau tak mau memerhatikan semua pasangan itu lamat-lamat. Kudapati satu kesamaan di antara mereka semua: mereka mesra. Dan setiap kali aku menonton kemesraan mereka, melihat semburat kebahagiaan di wajah mereka, aku melihat satu kalimat yang jelas tertulis di jidat mereka: KAMU KAPAN?

KAMU KAPAN?
KAMU KAPAN?
KAMU KAPAN?

Mengerikan sekali.

Jomblo Pengabdi Setan

Kamis malam. Dua jomblo berdiri mematung di tengah lobi bioskop. Mereka tampak bingung. Tiket film yang ingin mereka tonton, Pengabdi Setan (yang waktu itu tengah ngehits sengehits-ngehitsnya), sudah habis terbeli. Bahkan hingga jadwal penayangan yang berikutnya. Alhasil, mereka terpaku sambil memandangi poster-poster film yang dipajang. Ada beberapa film lain yang tak kalah menarik dimainkan hari itu. Sebut saja The Foreigner dengan Jackie Chan-nya yang makin tua makin jadi, juga film Indonesia yang amat merepresentasikan dua insan yang sedang bingung itu, Jomblo. Selang beberapa detik, Jomblo 1 berkata ke Jomblo 2…

“Jomblo yuk…”

“Ayuk”, kata Jomblo 2, yang dengan ringan mengiyakan. Seolah yakin betul takkan ada penyesalan.

(more…)

Kopdar Bersama Zapufaa alias zapufaa.wordpress.com dan Rika

Kalau kalian (re: Zapufaa dkk) sempat berpikir tidak akan pernah ada tulisan mengenai kopdar waktu itu, tepis jauh-jauh pemikiran itu karena kalian salah. Ini dia:

Kopdar Bersama Zapufaa dan Rika
Jeng-jeng-jeng jeng, jeng-jeng-jeng jeng-jeng~
(backsound: Final Countdown)

Yuhuuu! YEAH! GUE LEBAY BANGET NGGAK SEEEH??
Ehemm.. Oke. Lebih baik menenangkan diri sedikit. Bisa-bisa kesurupan nanti. Yah, untuk memulai tulisan kopdar kali ini, memang baiknya diawali dengan berapi-api.

Semarang sedang tidak terlalu panas saat saya ke sana waktu itu. Hm.. Namun se-tidakpanas-nya Semarang, hitungannya masih panas juga. Saya heran kenapa teman-teman saya yang berasal dari Semarang dan juga banyak orang Semarang lainnya yang saya jumpai tidak berkulit hitam. Padahal di sana panas. Saking panasnya, matahari di sana berasa ada 2 sodara-sodara! Walaupun begitu, tetap saja mereka berkulit sawo matang dan bahkan sirsak matang (iyakan sajalah perumpamaan ini)

Apa kebanyakan dari mereka tidak suka main di luar dan cuma suka main warnet? Rasanya tidak mungkin. Perlu warnet sebanyak apa untuk menampung anak satu kota. Atau jangan-jangan gen yang ada dalam sel orang Semarang secara alami mengandung penangkal sinar UV-a dan UV-b yang ramai ditakuti kaum hawa itu? Ah mana mungkin. Yang jelas, kondisinya berbeda sekali dengan Batam, my lovely barren land. Batam panas. Makanya saya tak heran anak-anak di sana (termasuk si penulis mirisnya) banyak yang hitam, kucel, alay, dan gampang tersinggung. Errr… mungkin hitam berlebihan. Kalau ibarat sawo, maka warna kulitnya sawo bakar. Coklat tua gelap. Very very dark brown. (more…)

Beberapa yang Belum Tertulis: Final

Hohoho… sampai juga ke bagian terakhir. Awalnya nggak pengen memecahnya menjadi 5 bagian. Makasih untuk Bang Desfortin yang sengaja atau tidak memberikan ide untuk membuatnya seperti bab-bab dalam skripsi. Pada akhirnya yang dibikin mirip cuma jumlah bab nya yang sama-sama 5. Hmm…

Oke. Yang terakhir ini yang paling tidak penting. Sebelum-sebelumnya juga tidak penting. Tetapi bahkan yang ini masih kalah penting dari bacaan-bacaan tidak penting itu.


(more…)

Dulu Wibelum, Sekarang Wisuda

Yo. Masih dalam seri ‘beberapa yang belum tertulis’. Kali ini bahas wisuda. Mohon maaf judulnya terlalu receh. Hasrat kerecehan ini tak tertahankan lagi

Selamat menikmati…

Bab IV. Wisuda

Waktu-waktu yang lalu, saya mendatangi tiga wisuda berbeda di tiga kota berbeda, hanya dalam waktu seminggu. Keren kan? Dan coba tebak kesimpulan apa yang didapat setelah mendatangi wisuda-wisuda itu. Wisuda itu rumit, kacau, liar, nakal, brutal, dan membuat semua orang menjadi gempar. Yah, begitulah.

Mungkin mirip-mirip kondangan kali ya. Sang wisudawan/wati adalah mempelainya. Mereka memakai jas/kebaya berbalut toga lengkap dengan riasan berat. Yang bukan wisudawan/wati otomatis menjadi tamu. Nah bedanya kondangan dan wisuda, di wisuda mempelainya ada banyak. Berapa banyak? Ratusan! (irama Tango~). Jadi, masuk akal kalau ramenya bikin sesak nafas.

Nah, tahun-tahun sebelumnya, wisuda bukanlah sesuatu spesial. Bukan berarti tidak spesial, hanya saja kadar spesialnya biasa. ‘Spesial biasa’ ya hmm. Entahlah spesial yang bagaimana itu. Namun tahun ini, spesialnya spesial banget. Kespesialan wisuda tahun ini pasti berhubungan dengan banyaknya teman seangkatan yang juga wisuda. Wajar saja. Bersama teman seangakatan, ada perasaan solidaritas yang berbeda.

Makanya saya cukup antusias dengan wisuda tahun ini. Banyak teman dekat yang menyelesaikan kuliahnya. Tentu saja terpikir untuk mendatangi wisuda mereka selama syarat waktu-kesempatan memenuhi dan untungnya masih sempat mengunjungi beberapa wisuda.

wisuda3
Lalu bagian mana dari wisuda yang membuatnya rumit, kacau, liar, nakal, brutal, dan membuat semua orang menjadi gempar? Adalah kerumunan orang-orang itu. Percayalah, kumpulan berbagai jenis manusia berbeda yang datang dengan niat berbeda sedikit banyak memengaruhi visi misi kita datang ke wisuda. Misalnya, arah jalan ke gedung wisuda yang sebenarnya lurus-lurus saja mendadak berubah menjadi labirin karena terlalu ramai. Atau kita yang awalnya tidak ingin membeli apa-apa jadi terpaksa membeli dagangan wisuda karena pedagangnya kelewat cantik. Semua terasa sulit.,.

Di antara fenomena-fenomena yang umumnya terjadi pada wisuda, saya menyoroti beberapa hal yang (mungkin) menarik. Fenomena-fenomena ini selalu saya temukan selama bertualang di tiga wisuda kemarin (more…)

Ketoprak

Di dekat kos saya di Jakarta, ada abang ketoprak yang punya dagangan enak luar biasa. Karena kenikmatan ketopraknya, gerobak ketopraknya selalu ramai pembeli. Orang-orang mesti mengantri cukup lama hanya untuk membeli sebungkus. Seandainya kita baru datang ba’da maghrib, biasanya baru dapat tuh ketoprak deket-deket azan isya’. Luar biasa banget.

Kemudian saya ke Semarang. Di sana saya kedapatan warung ketoprak yang di depan gerobaknya tertulis tulisan besar “KETOPRAK KHAS JAKARTA”. Dahi saya berkerut. Baru kali itu saya mendengar ketoprak khas Jakarta. Karena penasaran dan punya uang (ini penting diberitahu), tak ada salahnya mencoba. Ternyata yang dinamakan ketoprak khas Jakarta ini tak begitu berbeda dengan yang biasa saya makan di dekat kos. Ia masih sama-sama ketoprak. Ada lontong, toge, tahu, dan bawang putih halus bermandikan kuah kacang creamy nan gurih.

Masalahnya cuma satu. Abang ketoprak yang biasanya saya datangi berdagang “KETOPRAK KHAS CIREBON”. Dan sepertinya cukup banyak pedagang ketoprak lain di Jakarta yang memasang label ‘Cirebon’ di gerobaknya

Jadi kalau “KETOPRAK KHAS JAKARTA” yang ada di Semarang merujuk pada “KETOPRAK KHAS CIREBON” yang ada di Jakarta, berarti bukannya pedagang ketoprak di Semarang itu menjual “KETOPRAK KHAS CIREBON” juga? Lalu bagaimana dengan Cirebon? Apa ketoprak yang dijual di sana adalah “KETOPRAK KHAS JAKARTA”? Atau malah muncul nama “KETOPRAK KHAS SEMARANG”? Hati dan pikiran berkecamuk.

Sembari mengunyah ketoprak yang tadi (yang saya makan di Semarang), saya menatap curiga ke arah seporsi ketoprak tak berdaya di atas meja. Ia tak lagi kelihatan pede sejak saya mempertanyakan asal-usulnya. Sebenarnya ia tak bersalah. Ia cuma sepiring ketoprak. Hanya saja, ada sedikit hal yang mesti diklarifikasi. Dari mana datangnya kamu? Dan entah dari mana sebutan khas yang tersemat padamu, wahai ketoprak?

Pulang dari Tere Liye

Saya sadar sudah sangat terlambat untuk memberikan sedikit pandangan untuk novel ini. Yah, bisa bilang apa. Toh ini seri ‘beberapa yang belum tercatat’.

Bab III. Pulang

Seandainya masing-masing dari kita diminta untuk membuat daftar 10 novelis terbaik yang dimiliki Indonesia saat ini, besar kemungkinan akan selalu ada nama Tere Liye di dalamnya. Sulit sekali mengabaikan beliau. Bang Darwis tak hanya produktif, namun juga konsisten menelurkan karya-karya laris. Ah, entah apalagi target yang ingin beliau capai sebagai novelis. Meski begitu, saya tak begitu mengenal karya-karyanya. Sedih sekali ya

Yak. Terima kasih berkat skripsi yang sudah selesai (HAHA! Mamam noh yang masih ngerjain!) dan liburan singkat yang mau tak mau mesti dijalani, saya berkesempatan untuk membaca karya beliau dengan sungguh-sungguh. Pilihan saya jatuh ke Pulang. Kenapa? Karena itulah yang paling murah di antara rak-rak karya Tere Liye waktu itu. Sedih sekali memang (more…)

Lamar (Pantun Mode)

Tulisan Bold: Calon Mertua
Tulisan Biasa: Lelaki Pede

Bubur sumsum rasanya enak
Masak panaskan jangan berkerak
Assalamualakum pak
Saya ingin melamar anak bapak

Kepulauan Seribu banyak kelapa
Kelapa dipanjat sedaya upaya
Kenalkan dulu kamu siapa
Dan mengapa harus anak saya?

Bubur sumsum beli di kota
Mampir sebentar membeli mentega
Saya hanya bujang tertawan cinta
Karna di mata anak bapak terlihat surga

Ke Pasar Senen membeli jamu
Jangan lupa kasih manisannya
Anak muda, manis nian mulutmu
Kalau begitu apa yang kamu punya?

Bubur sumsum kesukaan mertua
Dikasih dua, mintanya tiga
Jangan bapak pusingkan itu semua
Saya mahasiswa kaya cinta

Nona manis duduk termenung
Ke Ancol bujang menjemput nona
Kamu membuat saya bingung
Maksud kamu, kamu mahasiswa durjana?

Bubur sumsum begitu dicita
Sumsum tak ada, ketanpun tak apa
Mungkin mahasiswa miskin harta
Tapi tenang, saya bisa nafkahi dengan cinta

Kota Tua ramai di akhir pekan
Mata dimanja bangunan kuno
Sayangnya cinta nggak bisa dimakan
Tentu jawabannya…

Iyo?

NOOOOO!!!