Lembur Malam Ini

Saya tak pernah habis pikir.

Tempat kerja saya tak pernah kehabisan orang pengidap workaholic alias “cinta” kerja. Dalam kasus kali ini, dua orang dalam foto di bawah adalah subjek kita. Pengidap workaholic garis keras.

Jam sudah menunjukkan 11 malam saat saya menulis ini dan kami masih di kantor. Sesuatu yang saya rasa salah, karena seharusnya sudah sejak jam 8 tadi kami pulang. Tadinya dua orang ini mengatakan tidak perlu lama-lama, paling cuma satu jam. Tapi coba tebak, tiga jam sudah berjalan. Overtime 3 kali lipat!

Continue reading “Lembur Malam Ini”

Tiga Bulan dan Terus Berjalan

Karena memulai hubungan dari LDR, saya pikir untuk berjauhan lagi dengan Ziza ketika menikah nanti bukanlah sesuatu yang ditakutkan. Berat tentu. Tapi saya rasa tidak akan seberat itu. Toh sudah pernah ketemu cuma sekali dalam setahun. Ternyata saya salah.

Ekspektasi saya yang mengatakan “LDR tidak seberat itu” patah di LDR usia sebulan dan sekarang kami sudah berjauhan 3 bulan

Banyak detail-detail kecil yang saya rindukan dari Ziza setelah apa yang ia lakukan dalam hidup saya. Yang paling parah, sosoknya yang tidak ada di rumah ketika saya baru pulang ke rumah. Suara sepi tanpa sautan ” wa alaikumussalam” dari Ziza rasanya takkan pernah terbiasa bagi saya. Pun dengan pipi dan wajah tertidurnya ketika saya bangun membuat awal hari menjadi jauh lebih cepat.

Saya rindu. Jelas. Rindu tiap senti dari seorang Ziza sebagai istri, partner, dan teman sepanjang usia.

Iftina Haura – Cahaya

Sistem penglihatan Haura mulai bekerja. Akibatnya, Haura saat ini sangat suka memerhatikan cahaya. Cahaya apapun itu. Entah bersumber dari lampu, lilin, atau matahari. Yang awalnya menangis, jadi bengong ketika disiram cahaya matahari. Yang mulanya gelisah tak menentu, berubah kalem melihat kerlap-kerlip lampu.

Dan yang paling saya sukai dari kegemaran Haura melihat cahaya, wajah damainya yang bagaikan mensyukuri betapa melihat itu sebuah nikmat. Priceless.

Sore Ini dengan Radio

Sore ini kembali saya mendengar radio. Radio streaming lebih tepatnya. Sudah lama, lama sekali sejak terakhir kali mendengar radio via streaming.

Saking lamanya sampai lupa nama channel radio yang sering didengar dulu, sewaktu di Jakarta. Yang jelas acara pagi yang amat sering saya dengar adalah Sarapan Roti (Ronald-Tike) yang entah di saluran apa. Malam pun masih mendengar saluran itu karena biasanya selera musiknya mirip2

Bertahun kemudian, saluran radio yang saya ingat cuma Prambors. Dan inilah yang sedang saya dengar sambil menulis tulisan ini.

Feeling mendengar radio tak pernah berubah terlepas apapun saluran radionya. Baik dulu, maupun sekarang. Selalu membuat saya mereka seperti karyawan executive kelas atas yang sedang pulang naik mercedes, lalu terjebak macet, dan akhirnya menyalakan radio…

Yak, seperti itu persisnya

Sendiri

Saya selalu merasa kalau saya tak pernah berubah dari diri saya semasa SMA. Bukan dari yang terlihat di luar, tapi dari dalam. Mental, moral, perasaan, tak ada perbedaannya antara saya yang sekarang dan saya versi 10 tahun yang lalu. Terkadang saya merasa tak pernah mendewasa.

Akibatnya, saya amat menghargai teman-teman masa kecil saya. Mereka yang membersamai ketika dulu membekas dalam benak. Bersama mereka yang juga ‘belum dewasa’ membuat saya merasa berkawan. Bersosialisasi. Tidak sendiri

Masalahnya, ternyata mereka semua tumbuh. Berkembang secara lahiriah dan mental. Meninggalkan saya sendiri yang menetap 10 tahun di belakang.

Membuat saya merasa sendiri…

Soal Sarapan pun Berbeda

Saya pergi mencari sarapan untuk keluarga kecil kami pagi ini di Semarang. Baru menoleh sedikit keluar rumah, teringatlah saya betapa berbedanya kota ini dibandingkan tempat tinggal saya. Tak heran saya dan Ziza memiliki latar belakang yang berbeda. Bahkan berbeda sampai ke hal-hal kecil seperti menu sarapan.

Tujuan pertama saya dalam mencari sarapan adalag tempat makan Nasi Ayam “Goyang Lidah”. Lokasinya bisa dilihat sendiri ya, di Jalan Pusponjolo. Ziza yang mau makan nasi ayam di sini. Menurutnya enak.

Continue reading “Soal Sarapan pun Berbeda”

Tidak Ada yang Namanya Cantik Doang

Karena melihat banyak bayi pagi ini, aku jadi mengerti kalau anakku cantik. Kesimetrisan sudut matanya, hidungnya yang pesek namun proporsional, lalu mulut kecilnya yang duduk anggun ditopang dagu membulat, membuatku yakin kalau anakku memang cantik. Juara satu bayi paling rupawan di puskesmas pagi ini.

Aku pun mencium pipinya karena gemas. Ada kesenangan tersendiri bagi orang tua ketika mengetahui anaknya cantik. Namun setelah menciumnya, aku sadar anakku juga punya kekurangan di balik kecantikannya itu.

Wajah anakku bau eek.

Iftina Haura 14 Hari: Aqiqah

Saya dan ketiga adik saya tidak pernah diaqiqah. Alasannya klasik: dana. Membeli satu atau dua kambing tidak masuk ke prioritas sebagian keluarga, termasuk keluarga saya di Batam. Lagipula, aqiqah hukumnya sunnah, sehingga pada akhirnya tidak pernah ada agenda aqiqah di keluarga kami. Hal ini membuat saya bersemangat untuk mengadakan aqiqah untuk anak Haura. Aqiqah pertama di keluarga kami.

Haura dengan foto andalan yang suka dipamerin kedua orang tuanya karena terlihat jelas kedua lesung pipinya yang gemashh ulu-uluu cihuyy
Continue reading “Iftina Haura 14 Hari: Aqiqah”

Sepenggal Mengenai Sate Kelinci

Ada yang sudah pernah makan sate kelinci?

Saking tidak umumnya di telinga saya, saya bahkan tidak tahu kalau daging kelinci halal di makan. Saya sendiri baru bertemu kuliner sate kelinci di Bandungan, Kabupaten Semarang. Di sana ada banyak yang menjual sate kelinci. Berderet-deret bahkan menjual dagangan yang sama. Sate kelinci.

Rasa sate kelinci amat persis dengan sate ayam. Tidak alot seperti sapi dan tidak bau seperti kambing. Persis daging ayam. Bedanya, sate kelinci tidak ada kulit ayamnya. Ya iyalah. Maksudnya kalau biasanya di sate ayam sering terdapat kulit ayam yang nikmatnya surga dunia, di sate kelinci tidak ada yang seperti itu.

Biasanya pedagang yang menjual sate kelinci juga menyediakan sate ayam. Hmm ini membuat saya curiga. Apa jangan-jangan yang saya makan tadi siang sate ayam? Seharusnya saya tadi membeli sate kelinci dan ayam untuk dibandingkan.

Bingkisan untuk Haura

Secara materi, saya menerima banyak keuntungan dengan menikahi Ziza. Makanan dan cemilan selalu tersedia di rumahnya di Semarang. Ia punya banyak koleksi novel (beberapa bahkan masih bersampul!) yang bisa saya baca kapan saja. Dan yang paling beneficial, Ziza memiliki banyak teman dekat yang luar biasa baik. Luar biasa baik, sampai ke tahap sering mengirimkan bingkisan kado.

Kali ini tidak cuma saya yang kecipratan rezeki dari temannya Ziza, namun juga Haura. Haura baru saja mendapat baju-baju elok nan branded yang hari ini dikirim oleh teman ibunya. Entah teman yang mana. Tidak ada tanda pengenal dalam bingkisan yang kami terima. Memang ada beberapa kawan Ziza yang menanyakan alamat rumah Semarang dan bisa ditebak karena ingin mengirimkan sesuatu. Sayangnya informasi itu saja tidak cukup untuk melacak siapa pengirimnya.

Coba liat betapa berkilaunya busana bayi di atas. Sangat perempuan dan jelas kelihatan berharga. Pakaian yang kami beli sebelumnya jadi kelihatan murah bin murahan. Bahkan terakhir kami membeli sarung tangan, harganya Rp10.000 dapat 3. Dan yang membuat semakin miris, kami senang membeli sarung tangan itu…

Setidaknya dengan kiriman ini, Haura punya satu setel pakaian yang bisa dipakai untuk kondangan para bangsawan, atau minimal pesta ulang tahun sekelas Rafathar. Terima kasih, teman Uminya Haura, siapapun itu