Dalam Do’aku

Dalam do’aku
oleh: Sapardi Djoko Damono

Dalam do’aku subuh ini kau menjelma langit yang
semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening
siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening
karena akan menerima suara-suara

Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala,
dalam do’aku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang
hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya
mengajukan pertanyaan muskil kepada angin
yang mendesau entah dari mana

Dalam do’aku sore ini kau menjelma seekor burung
gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis,
yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu
bunga jambu, yang tiba-tiba gelisah dan
terbang lalu hinggap di dahan mangga itu

Maghrib ini dalam do’aku kau menjelma angin yang
turun sangat perlahan dari nun di sana, bersijingkat
di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya
di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku

Dalam do’a malamku kau menjelma denyut jantungku,
yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit
yang entah batasnya, yang setia mengusut rahasia
demi rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi
bagi kehidupanku

Aku mencintaimu.
Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendo’akan
keselamatanmu Continue reading “Dalam Do’aku”

Advertisements

Kue Busur (Bow Cake)

Aku terbangun tengah malam ini, ketika sebuah dompet mencekik, mengguncang-guncang leherku. Di atas pelipisnya mengalir peluh sementara matanya mengisyaratkan kepanikannya. Setelah memastikan mataku benar-benar terbuka, dompetku pun berteriak putus asa,

“Bos kita bokek bos!”

“Apa?”

“BOS KITA BOKEK BOS!!!”

Dalam kebingungan, ingin kulari ke pantai, berteriak sekencang-kencangnya…

Bukan Cuma Mie Ayam

Kurang lebih setengah kilo dari kos saya, ada satu warung bakso-mie ayam. Di sini tak banyak warung yang menjual bakso-mie ayam dan menyadari salah satu warung itu berada dekat dengan kos membuat saya merasa bersyukur. Siapa yang tidak suka bakso-mie ayam? Obama saja suka

Yah, saya pribadi biasa saja sama bakso, tapi mie ayam lain cerita. Kalau disuruh pilih, tentu hati saya condong ke mie ayam (sorry, bakso). Mie ayam enak. Mie ayam bisa ditambah bakso, dan namanya tetap mie ayam. Sedangkan bakso tidak bisa ditambah mie ayam, karena kalau digabung namanya tidak lagi bakso, tetapi mie ayam. Bingung? Bagus.

Sayangnya, mie ayam yang dijual di warung dekat kos tidak seenak mie ayam-mie ayam yang pernah saya makan sebelumnya. Hmm… plis jangan ngadu ke om om mie ayamnya ya. Maaf om…

Harga mie ayamnya Rp 10.000. Terbilang murah untuk ukuran makanan sini. Tetapi ternyata porsinya sedikit. Ayamnya pun sedikit dan sepertinya ayam yang disajikan selalu ayam yang berbadan kurus ceking semasa hidup. Satu hal yang unik adalah kuahnya. Kuahnya memiliki cita rasa ebi (spesies udang imut). Pernah saya menemukan ebi naas dalam mangkok mie ayam saya. Itu adalah bukti om mie ayam benar-benar memakai ebi sungguhan sebagai penambah cita rasa ebi, bukan ebi plastik. Namun sayangnya, bagi saya kuah ebi itu terasa kurang cocok bila dipadukan dengan mie ayam. Mungkin hanya lidah saya yang kurang familier dengan rasanya.

Oke. Jadi mie ayam ini bukanlah mie ayam yang sempurna (emang mie ayam yang sempurna yang bijimane bang hmm). Dan sejujurnya kurang memuaskan juga makannya dari segi porsi maupun rasa. Tetapi nyatanya, warung bakso-mie ayam dekat kos itu secara rutin saya datangi. Alasannya bukan karena posisinya yang dekat kos. Bukan karena harganya terhitung murah. Bukan pula karena suka melihat oomnya yang berpeluh seksi saat memasak mie ayam.

Alasannya, karena hanya warung om yang nyetel Liverpool main saat tempat makan lain nyetel dangdut atau acara lainnya. Dan bukannya tidak suka, hanya saja Liverpool ada di atas dangdut. Tentu saja lebih memilih ngedate intim bareng Liverpool ketimbang dangdutan. Jadi saya ulangi. Liverpool ada di atas dangdut. Lalu seandainya dapat diprioritaskan, Liverpool juga ada di atas bakso, mie ayam, oom yang dagang, dan banyak tim lainnya di klasemen saat ini. Hehe

YNWA
You’re Nothing Without Ayah-ibu

Kini pun Untukmu

Mungkin kau benar. Aku khawatir. Khawatir karenamu. Khawatir untukmu. Rasa khawatir sejadinya, yang sebelumnya hanya ditujukan ke malaikat-malaikat pelindungku. Dan kini aku merasakannya untukmu.

Untukmu, yang kesekian kalinya

Horror Malam Ini

“Setelah sekian lama, gue akhirnya bisa satu grup whatsapp sama dia. Ya gue save dong nomornya. Kapan lagi coba. Langsung aja tuh gue stalking status dan info whatsapp doi. Pas nyecroll, eh kepencet video call…

GIMANA NEEEEEH!!!”


.

.

.

SEREM BANGET GA SEEEEH!!!

Jodoh

Jadi seorang senior saya yang bekerja di kantor akan segera menikah. Panggilannya Uni Wawat. Saya pribadi tidak terlalu mengenal beliau. Hanya saja, kami terikat satu ikatan grup whatsapp yang isinya insan-insan luar biasa yang menulis. Dibandingkan mereka mah saya masih jauh di bawah.

Kembali lagi ke Uni Wawat. Karena di grup itu banyak yang menulis, senior saya yang lain (yang baiknya luar biasa, gemar tersenyum, plus lumayan saya kenal), Kak Bayu, memiliki inisiatif untuk memberikan kado khusus. Kado khusus tersebut adalah karya tulisan tentang pernikahan. Bentuk tulisannya bebas yang penting menyangkut tema pernikahan/cinta sejati. Haha.

Nantinya, kumpulan tulisan dari kami akan dijadikan satu menjadi satu buku mini. Tentu saja itu niat yang mulia. Kalau saya yang jadi Uni Wawat pasti saya sudah mengembang karena senang. Namun saya punya masalah. Temanya itu loh. Pernikahan

Boro-boro menikah, ditanya kapan menikah saja belum pernah. Pun sama dengan cinta sejati. Apa yang saya tahu tentang cinta sejati?

Tetapi tak mengapa. Kak Bayu bilang mereka butuh banyak pandangan. Itu artinya, mereka juga butuh pandangan dari jomblo mengenaskan, dan sepertinya saya siap mengisi pandangan itu. Hohoho… Dimulai dari mana ya Continue reading “Jodoh”

Jakarta, 15 Agustus 1945

Tanggal ini amat banyak berarti bagi kita, bangsa Indonesia. Pada tanggal ini 73 tahun yang lalu, kabar Jepang yang menyerah ke Sekutu tak terbendung lagi. Usaha bala tentara mereka yang berada di Indonesia untuk menutupi tersebarnya berita tersebut sia-sia. Berkat pergerakan radio bawah tanah, rakyat Indonesia di ibukota sudah mengetahui bahwa sang penjajah telah jatuh. Kekalahan Jepang menjadi pembicaraan hangat di mana-mana, khususnya bagi pemuda. Bagi mereka, tak ada lagi waktu lain untuk memerdekakan tanah air. Harus saat ini. Mesti saat ini mereka berteriak senyaring-nyaringnya: Indonesia sudah merdeka.

“Demam” proklamasi yang melanda pemuda saat itu amat terasa tergambarkan dalam buku Betawi: Queen of the East oleh Alwi Shahab. Ini tak terlalu mengherankan. Berkat koronologis yang runtut dan latar yang detail, bukannya sulit untuk membayangkan situasi saat itu. Peristiwa sejarah yang (memang) penting dapat menjadi menariknya di tangan seorang Alwi Shahab.

Saya punya potongan tulisan dari bukunya itu, tentang detik-detik mendebarkan menjelang kemerdekaan. Yang ini bagian favorit saya. Continue reading “Jakarta, 15 Agustus 1945”