Review: Sixteen Candles (1984)

Hi. Adakah di sini yang suka menonton film lama? Yo ngacung yo!

Kalau memang ada, tos dulu dongs. Karena saya juga suka.

Menonton film lama sama rasanya seperti memasuki mesin waktu. Seperti kita kembali ke masa lalu dan melihat bagaimana keadaan yang ada waktu itu. Polemik sosial, gaya berpakaian, teknologi zaman itu, dan lain sebagainya yang jelas berbeda dengan sekarang. Memang kualitasnya akan terlihat sangat jadul. Secara visual bisa jadi jauh kalah memukau dengan yang ada sekarang. Namun, bila itu semua dikesampingkan, sejujurnya menonton film lama bisa sangat menyenangkan. Lagipula secara alur dan karakter, orang zaman dulu adalah pencerita yang dahsyat. Beberapa bahkan menganggap film-film dulu punya kualitas penyutradaraan dan akting jauh di atas sekarang. Bolehlah dicoba sekali-sekali menonton film lama 🙂

Film lama yang baru saja saya tonton adalah Sixteen Candles keluaran tahun 1984.

sixteen-candles
Kiri-Kanan: Farmer Ted/Geek, Samantha, Jake Ryan. Btw si Jake ini punya aura-aura Zac Efron. Minus bisep sama sixpacknya doang yang nggak keliatan. Untung aja ehe

Continue reading

Advertisements

Kopdar Bersama Dea Rahma, DiPtra, dan Hendra

Eh, tulisan kopdar lagi. Hahaha!
Sepertinya ini adalah rapot kopdar yang paling sulit ditulis di Semut Hitam. Sudah ada 3 tulisan yang membahas materi ini dan keduanya super bagus. Khas dengan sudut pandang dan gaya menulis mereka sendiri.

Mau dari sudut pandang:
yang kalem, jujur apa adanya, ngenes, silakan klik Hendra
duta sampo lain kekinian Bekasi, silakan klik Dea Rahma
ninja, acekiwir, slengean, silakan klik DiPtra
wong Semarangan yang lagi jadi turis di Bekasi, silakan klik Azizatoen

Pasti sedikit banyak tulisan saya akan terpengaruh oleh mereka. Entah tulisan yang seperti apa yang mesti dibuat supaya terlihat berbeda -______-

Yah, sama atau beda, saya akan tetap menuliskannya. Bagi saya tulisan kopdar adalah bentuk hadiah terima kasih paling personal yang bisa saya berikan kepada teman-teman kopdar. Hukumnya wajib. Jadi tak peduli setelat apapun atau sebasi apapun materinya, bodo amat. Tetap akan ada tulisan kopdar di blog ini. Jadi, maafkan saya teman-teman jagat blog. Tulisan tentang kopdar di Bekasi kemarin akan bertambah 1 lagi

IMG_20180210_200847480
Foto-foto yang ada di sini berasal dari hape Bang DiPtra

Continue reading

Lamar (Monolog Mode)

Apa pantun sudah sebegitu kunonya hingga aku ditolak? Tidak, tidak. Sekalipun dianggap usang, melamar dengan pantun adalah ide brilian. Aku hanya kaget ayahnya juga mampu berpantun. Mungkin lain kali aku akan menyiapkan pantun yang lebih sulit dibalas hmm. Untuk sekarang, sebaiknya kukejar kereta yang akan berangkat sebentar lagi.

Kupikir, mencari jodoh layaknya kita melakukan perjalanan kereta. Perempuan tercinta kita, atau katakanlah jodoh, adalah stasiun tujuan tempat kita turun. Stasiun lain hanya pemeran pembantu semata Continue reading

Selamat Ulang Tahun yang ke-3 “Keep Writing, Fadel!”

Tiga tahun. Tiga tahun sudah. Tiga tahun!

Hari ini si Semut Hitam menginjak tahun ketiganya. Ibarat anak, di usia 3 tahun biasanya anak tengah bandel bandelnya. Nggak bisa diam. Lari ke sana kemari, menangis tiada henti.

Tapi nggaklah ya. Blog nggak bisa dianggap sebagai anak.

Saya lebih suka menganggap blog sebagai teman curhat. Salah satu yang terbaik. Temen curhat yang nggak bakal motong kalau sedang curhat, yang bakal anteng diam mendengarkan selagi kita menulis

Memang sejak pertama kali ngeblog dulu, sudah ada keinginan untuk terus diupdate blognya agar dijadikan kebiasaan. Setidaknya sampai bertahun-tahun lamanya. Dan sekarang, setelah tiga tahun, rasanya nggak percaya juga. Ternyata sudah selama itu saya menulis di blog ini.

ultahblog3 Continue reading

Aduan

Bersama dengan waktu yang berjalan tak terhentikan
Bersama dengan ledakan tawa yang menepikan rasa takut
Bersama dengan hari-hari penuh pengharapan yang digantungkan

Malam ini, kuadukan kau pada Tuhanku

STIS: Tes Masuk STIS dan Tips Mengalahkannya

Saya sudah memperkenalkan STIS. Sudah pula memaparkan syarat-syarat untuk diterima sebagai mahasiswa STIS. Nah, pertanyaan berikutnya, apa saja yang mesti dilakukan untuk memperbesar kemungkinan diterima?

Eittss… tunggu dulu. Sebelum kita melaju lebih jauh, kita lihat dulu bagaimana gambaran penerimaan mahasiswa STIS tiap tahunnya. Dengan cara statistik pula pastinya hehehe

Pada tahun 2016, Kemenpan-RB menerapkan sistem penerimaan sekolah kedinasan yang terintegrasi (satu pintu) atau bahasa mudahnya pendaftaran sekolah kedinasan dilakukan secara online ke website Kemenpan-RB. Sekolah kedinasan apapun itu (STIS termasuk). Apa dampaknya? Dampaknya calon pendaftar hanya dapat mendaftar ke satu sekolah kedinasan,

Misalkan saya bingung mau masuk mana, antara STAN atau STIS. Karena masih bimbang, mengapa tidak daftar keduanya saja lalu lihat lolosnya di mana? Ini tidak bisa dilakukan. Kita hanya bisa mengikuti seleksi di satu sekolah kedinasan. Akhirnya saya memilih STIS dan hidup bahagia selama-lamanya. The End.

Tentunya mesti lolos tahapan seleksinya dulu ya agar diterima menjadi mahasiswa STIS sejati. Dan ternyata, setelah coba ditelusuri dan dirapikan, statistik penerimaan mahasiswa baru STIS terlihat menyedihkan. Mungkin ada bagusnya juga saya tidak tahu data-data berikut sebelum mendaftar STIS.

stis-jumlahpendaftarditerimapersentaserasio
Rasanya menciut melihat angka seperti itu :”)
Sebagai catatan, data jumlah pendaftar tersebut didapatkan dari blog senior saya di sini. Sedangkan untuk kuota diterima adalah angka estimasi/kurang-lebih (tapi cukup akurat kok), karena STIS sendiri tidak mempublikasikan statistik pendaftar di websitenya. Persentase, rasio adalah hasil perhitungan sendiri

Yak. Seperti yang telah saya tuliskan dalam postingan STIS sebelumnya tentang syarat masuk STIS, tes masuk STIS kini terbagi menjadi 4 tahapan. Sedikit banyak akan saya bahas ke-4 tahap tersebut Continue reading

Bermula dari Dilan

Arista membuka forum dalam forum ketika ia tiba-tiba berkata ke Ayang, “Rasanya aku lagi pengen baca Dilan nih.”

“Emh. Ngapain sih ta”, balas Ayang dengan nada mencemooh. Aku tau pasti ia juga tidak suka dengan Dilan. “Del, Arista katanya mau baca Dilan.”

Serta merta, aku yang ditanya mengingat kembali 80 halaman awal kisah Milea dan Dilan yang pernah kubaca. Milea, perempuan fakir asmara yang doyan sekali digombalin dan Dilan yang sepertinya kerasukan jin gombal, yang membuatnya ngegombal Milea hampir di setiap dialog miliknya.

Kebetulan aku masih menyimpan sepotong dari novel itu. Sepotong dialog yang membuatku merinding membacanya. Continue reading