Surat Nikah 1968

Pekerjaan saya membawa badan dan pikiran ini ke satu pintu ke pintu lain, satu pulau ke pulau lainnya. Entah sudah berapa banyak pintu yang dimasuki. Tiap pintu yang saya masuki, selalu ada pelajaran baru yang dapat diambil. Salah satunya: CARI NAFKAH ITU CAPEK! Eh belum cari nafkah ding.

Hmm… ya ya… yang jelas, selalu ada cerita baru setiap kali saya pulang dari rumah responden dan ada 1-2 hal yang dapat dijadikan pelajaran. Atau kalau memang tidak ada yang relevan dijadikan hikmah, setidaknya saya telah melihat a new fantastic point of view, seperti kata Mas Ali Ababwa. Karena di balik setiap pintu, ada kisah dan sudut pandang baru yang dapat dilihat.

Oke. Jadi di balik salah satu pintu di Pulau Senayang, saya menemukan arsip tua yang menjadi saksi berpadunya dua insan. Surat nikah keluaran tahun 1968.

img_1387

Orang zaman dulu tidak memiliki buku nikah. Karena tanda nikah waktu itu masih berbentuk surat, bukan buku. Foto di atas adalah kover paling depannya. Dapat dilihat sendiri, pada masa ini, huruf ‘c’ belum ditemukan dalam ejaan resmi bahasa Indonesia (saatnya pura-pura kaget sambil mengatakan ‘whoaa!’). Begitu pula dengan huruf ‘y’. Hanya dengan memperhatikan hurufnya, kita sudah tahu bahwa surat ini sudah melalui banyak zaman. Syukurlah ia masih bisa bertahan.

Surat ini terdiri dari 6 halaman, termasuk halaman kover ini. Halaman kover berisi informasi mengenai judul surat dan juga lokasi penerbitan surat yang ditulis menggunakan pulpen (dan gaya tulisan tegak bersambung yang kini sudah mulai langka). Ada tempat untuk menaruh foto penganten juga yang sayangnya tidak dipasang.

img_1390.jpg

Lalu di halaman kedua, terdapat informasi mengenai penganten laki-laki, perempuan, wali-walinya, dan juga mas kawin. Sepertinya untuk dua halaman ini, konten yang ada sama dengan buku nikah yang sekarang. Meski konten tersebut terletak di halaman yang berbeda.

Pada informasi maskawin, redaksi yang digunakan adalah “berupa apa dan berapa” sedangkan buku nikah yang sekarang hanya menanyakan “berapa”. Perbedaan yang tidak terlalu penting sebenarnya. Toh tetap mesti mencantumkan berapa banyak gram nya kalau dalam bentuk emas (cmiiw, cuddle me if i wrong). Yang menjadi perhatian saya adalah jenis maskawinnya. Mungkin agak sulit dibaca, tapi maskawin yang dimaharkan berupa “Rp44, kain dan ———–.” Hmm Rp44 sadja…

Di sini ditanyakan pula apakah siap mengucap sigar ta’lik. Apa itu sigar ta’lik? Kita baca di bawah aja ya

img_1388

Masuk ke halaman 3, kita diberikan tutorial singkat tentang bagaimana menjadi suami yang baik. Saya tidak tau apa buku nikah sekarang mencantumkan isi ini atau tidak, tapi setau saya tidak dicantumkan. Jadi sebenarnya saya tau atau tidak ini? Bagi yang tau atau baru menikah mungkin bisa dikasih jawaban de facto nya di komentar

Menurut saya adanya tulisan “kewajiban suami terhadap istri” sangat baik. Setiap calon suami jadi tersadarkan begitu membaca ini, bahwa menjadi suami bukan perkara enaknya saja. Tanggung jawab yang diemban pun bukan sekadar mencari nafkah dan memberi uang bulanan. Misalnya pada kewajiban nomor 2, di mana suami hendaknya senantiasa penuh perhatian dan bermuka manis kepada istri. Ada pula kewajiban nomor 6, yaitu agar istri diberikan kebebasan bergaul dan bergerak di tengah-tengah masyarakat selama masih sesuai dengan syariat.

Kedua belas kewajiban tersebut menggambarkan bahwa masing-masing laki-laki punya tanggung jawab yang besar terhadap perempuannya. Bagaimana tidak, tugasnya untuk memuliakan perempuan kan?

img_1389

Bila di halaman sebelumnya ada kewajiban untuk suami, karena negara ini adalah negara hukum yang adil (harusnya begitu hehe), pada halaman 4 gantian dituliskan kewajiban istri terhadap suami. Kewajiban istri pun sama dengan suami, yakni terdiri dari 12 poin. Sebagai laki-laki rasanya lebih menyenangkan membaca bagian ini hehehe.

Sekilas mata, kewajiban istri di sini lebih singkat kalimatnya dibanding dengan kewajiban suami. Mungkin ada hubungannya dengan tanggung jawab suami yang lebih berat? Entahlah. Yang jelas sama dengan kewajiban suami, kewajiban yang tertulis sifatnya umum dan luas.

Saya rasa ini bisa dijadikan kalimat sakti apabila sang istri nanti kenapa-kenapa. Istri ngambek? Bacakan kewajiban nomor 3. Istri suka diam-diam belanja online sehingga pengeluaran membengkak? Kewajiban nomor 7. Istri ngeluh-ngeluh karena susah sinyal? Kewajiban nomor 11. Postingan ini semestinya saya simpan baik-baik untuk kepentingan di masa depan.

Saya bersyukur sempat membaca kewajiban istri di atas. Setidaknya itu menegaskan menjadi istri itu tidak mudah. Setidaknya memotivasi untuk memudahkan istri menjalankan kewajibannya, dengan cara menjalankan kewajiban suami sejalan-jalannya.

img_1391

Terakhir ada halaman mengenai sighat ta’lik. Mudahnya, sighat ta’lik adalah perjanjian lisan oleh suami terkait kapan talak satu (belum resmi bercerai) dapat dijatuhkan. Sighat ta’lik sendiri adalah produk asli Indonesia. Ia secara resmi diatur dalam perundang-undangan di masa yang lampau. Biasanya, sighat ta’lik ini dibacakan setelah prosesi akad nikah dan tidak termasuk dalam rukun nikah. Sepertinya teks sighat ta’lik ini pun masih ada di buku nikah sekarang (cmiiw)

Saya sempat mencari tau di sini mengenai sighat ta’lik. Katanya:

Dalam sejarahnya, sighat ta’liq talaq muncul bertujuan melindungi istri dari kesewenang-wenangan suami. Seorang istri dilindungi dengan perjanjian khusus dimana jika sang suami melanggar perjanjian tersebut, sang istri berhak mengajukan gugatan perceraian.

Begitulah. Memang kalau dibaca teks sighat ta’lik pada foto, hukum asalnya adalah kewajiban bagi suami dalam syariat Islam. Keempat poin di atas adalah contoh-contoh tindakan kedzaliman suami kepada istri. Sehingga jika salah satu dari pelanggaran di atas dilakukan oleh suami, sebenarnya istri berhak untuk mengajukan gugatan, sekalipun tidak dinyatakan dalam akad nikah. Karena dengan sebatas adanya pelanggaran di atas, istri berhak untuk gugat cerai dengan membayar sebesar Rp2,5 kepada suami.

Hmm… untuk membahas sighat ta’lik ini saja sebenarnya bisa membutuhkan waktu yang panjang. Untungnya ada banyak penjelasan mengenai hal ini di internet.

Oh ya, masih ada halaman lebih terakhir daripada foto di atas. Namun tak terfoto. Isinya tanda tangan mempelai dan pihak KUA kok


Yak, itu dia. Sejujurnya adanya surat nikah ini sewaktu saya bertugas mengalihkan perhatian saya. Rasanya mengagumkan melihat bagaimana kondisi buku nikah zaman dulu. Sekarang bahkan ada yang namanya kartu nikah, lengkap dengan QR Code hmm. Meski posisi kartu nikah tidak mengganti buku nikah, tak menutup kemungkinan ke depannya akan ada terobosan baru yang akhirnya mengganti peran buku nikah. Layaknya ia menggantikan surat nikah. Tak ada salahnya menyimpan buku nikah yang sekarang. Siapa tau pada tahun 2069 nanti, buku nikah yang kita pegang menjadi barang antik.

EH IYA LUPA, SAYA BELUM PUNYA BUKU NIKAH

8 thoughts on “Surat Nikah 1968

  1. Saya jadi baca keseluruhan lembar ke 3 & ke 4 ya, hehe dimana kewajiban suami terhadap istri dan kewajiban istri terhadap suami, yang point ke 7 : itu benar sekali, istri harus hemat, dan cermat dan tidak boros 🙂 btw, surat nikahnya sudah lama sekali yaa.

    Like

  2. Pernah baca buku nikah ayah ibu. Maharnya Rp. 5.000 rupiah

    Whoaaaa !
    bener bener takjub . Wkwkw

    Iya juga ya buku nikah saat ini bisa jg jadi barang antik kalau nanti udah berpuluh-puluh tahun lagi

    Like

  3. Kepikiran tiga hal:

    1. Ejaan tahun 1968 sudah disempurnakan.

    2. Jarang-jarang ada orang menikah dengan menyepakati Ta’liq Talaq. Padahal sigat itu menyelamatkan masing-masing.

    3. Aku bakal diundang nggak, ya. Seenggaknya dikabari. ~

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s