Review: Sixteen Candles (1984)

Hi. Adakah di sini yang suka menonton film lama? Yo ngacung yo!

Kalau memang ada, tos dulu dongs. Karena saya juga suka.

Menonton film lama sama rasanya seperti memasuki mesin waktu. Seperti kita kembali ke masa lalu dan melihat bagaimana keadaan yang ada waktu itu. Polemik sosial, gaya berpakaian, teknologi zaman itu, dan lain sebagainya yang jelas berbeda dengan sekarang. Memang kualitasnya akan terlihat sangat jadul. Secara visual bisa jadi jauh kalah memukau dengan yang ada sekarang. Namun, bila itu semua dikesampingkan, sejujurnya menonton film lama bisa sangat menyenangkan. Lagipula secara alur dan karakter, orang zaman dulu adalah pencerita yang dahsyat. Beberapa bahkan menganggap film-film dulu punya kualitas penyutradaraan dan akting jauh di atas sekarang. Bolehlah dicoba sekali-sekali menonton film lama 🙂

Film lama yang baru saja saya tonton adalah Sixteen Candles keluaran tahun 1984.

sixteen-candles
Kiri-Kanan: Farmer Ted/Geek, Samantha, Jake Ryan. Btw si Jake ini punya aura-aura Zac Efron. Minus bisep sama sixpacknya doang yang nggak keliatan. Untung aja ehe

Sixteen Candles sebuah film romance-comedy remaja yang menceritakan kisah cinta seorang gadis bernama Samantha Baker, yang baru saja berulang tahun ke 16. Tentu saja banyak intrik dan problematika khas remaja perempuan menyertai Sam (panggilan Samantha) dalam mengarungi petualangan cintanya

Sam merasa hari ulang tahunnya yang ke-16 adalah hari terburuk dalam hidupnya. Bagaimana tidak? Di hari ulang tahunnya, tidak ada seorang pun anggota keluarganya yang menyadari kalau ia berulang tahun. Hal ini dikarenakan keesokan harinya kakak perempuannya akan menikah, dan oleh sebab itu seisi keluarga Baker sibuk mempersiapkannya

Kemudian di sekolahnya, Sam tersadar kalau sang lelaki pujaan hati (seorang kakak tingkat bernama Jake Ryan) tak tahu ia ada. Jake hanyalah lelaki impian yang takkan pernah Sam gapai dan itu membuatnya lebih berpatah hati. Padahal Sam sendiri bukanlah perempuan yang tanpa pesona. Buktinya, ia didekati seorang adik kelas yang geeky, pede maksimal, dan slenge’ abis dalam diri Farmer Ted/Geek. Tetapi seperti yang diduga, Sam menolak pendekatan nakal Ted. Karena… yah… Ted bukanlah laki-laki yang disukai banyak perempuan sedangkan Sam sudah memuja Jake

Apa hari Sam bisa lebih buruk lagi? YA. Pulang dari sekolah seusai digoda-goda Ted, ternyata keempat kakek-nenek Sam datang menginap ke rumah, yang artinya akan ada sambutan dan pertanyaan menyebalkan untuknya, ada anak Asia super aneh yang ikutan, plus pesta dansa sekolah yang semakin membuat hati Sam semakin hancur. Semua berjalan begitu buruk

Apa benar-benar tak ada hal baik di hari ulang tahun Sam yang ke-16? Lalu siapakah yang akhirnya mendapatkan cinta Sam? Hm… sebenarnya tak terlalu suilt menebak pertanyaan ini jika menonton filmnya

Rotten Tomatoes memberikan nilai 84% untuk film ini, dan sejujurnya saya kaget dibuatnya. Menurut saya film ini tak sebagus itu. Sixteen Candles semacam tipikal FTV yang sering bermunculan di TV

Tentu saja Sam akhirnya berdekatan dengan Jake. Meski awalnya Jake sama sekali tak menyadari keberadaan Sam, seperti klise-klise film romance lainnya, diam-diam Jake menyimpan ketertarikan pada Sam. Akhirnya mereka bersama, bla bla bla, bla bla bla. Sedikit melelahkan untuk menonton cerita seperti ini. Mengapa film romance dengan tokoh utama perempuan selalu berakhir dengan “si laki-laki juga sebenarnya selama ini menyukai si perempuan” ?

Alur cerita yang ada sedikit kacau. Ia terpecah, inkonsisten, dengan sekuens yang cepat berganti antara Sam, Ted, juga Jake. Menurut saya ada cukup banyak adegan yang kurang penting untuk dijelaskan. Misalnya bagaimana fokus Ted yang mengejar Sam tiba-tiba kehilangan minat begitu saja di akhir film

Namun aspek lain film ini memang patut diacungi jempol. Akting Molly Ringwald sebagai Samantha Baker brilian. Peran sebagai remaja perempuan yang seakan kena mens setiap hari dengan nyata ia mainkan. Ekspresi, gerak-gerik, intonasi, semua terasa pas. Lawan mainnya, Anthony Michael Hall yang menjadi Ted juga terihat total meski kerap kali cheesy di beberapa bagian.

Film ini juga lucu, terutama di bagian awal. Tetapi dari semua, menurut saya dialognya lah yang membuatnya menarik untuk diikuti. Dialog yang ada terkesan natural dan masuk akal, seakan memang aktor-aktornya sedang mengobrol percakapan sehari-hari anak muda

Secara keseluruhan, ini bukanlah film yang jelek, bukan juga film yang bagus. Tema cinta remaja perempuan yang diangkat sudah sering dieksplor khususnya di masa-masa sekarang. Ya hmm…

Direkomendasikan untuk:
Entahlah. Masih banyak film romance lain yang lebih superior daripada ini. Tetapi ini bisa jadi alternatif bagus bagi siapa yang ingin melihat bagaimana kehidupan remaja Amerika di era 80an.


Mengapa demen banget bahas film nirpopuler di blog ini -_-

Advertisements

10 thoughts on “Review: Sixteen Candles (1984)

  1. Wow, film romance utk remaja ini ya…? Thn 1984 itu thn sy lahir mas, tp kok sy blm prnah nonton ini film ya, haha…ketahuan gak update film, 🙈

    Sy jg suka sbnarnya nonton film lawas mas, kyak Indiana Jones jg suka.

    Like

    1. Oalah.. tahun yang berkesan pasti yak hahaha
      Mending bang. Itungannya masih lumayan update itu. Saya malah belum pernah nonton Indiana Jones sama sekali biarpun filmnya terkenal minta ampun hahaha

      Like

  2. ahhahahaha, mantep bang, aku juga suka nonton film laga, cuma koleksi aja yang dikit.
    btw, ikut sedih ya buat sam, biar aku aja yang ingat, bilang sama dia. heheh
    engga apa-apa bang, keep semnagat aja!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s