Anger-Bending: Tips Mengendalikan Marah

Apa memang ada manusia yang tidak pernah marah? Entahlah. Mungkin harus segera periksa ke dokter karena tidak pernah marah. Nggg.. sebenarnya bahkan orang yang sakit masih bisa marah. Dokter belum tentu bisa menyembuhkannya. Jadi ke mana harus memeriksakan diri? Mungkin ke sini jawabannya! *tssaaaahh*

Marah itu normal. Wajar. Lazim. Sudah fitrah ada di dalam diri manusia. Ia juga salah satu bentuk dari emosi kita. Sebagaimana yang umum ketahui, emosi adalah luapan ekspresi yang kita rasakan. Biasanya hanya kita yang paling tahu emosi sebenarnya diri kita. Tetapi tidak selamanya begitu, karena emosi juga tercermin dari tindak-tanduk perilaku kita sehingga seseorang sedikit banyak mampu membaca apa yang kita rasakan. Misal ketika seseorang terkadang berpikir tidak senonoh, ia akan tersenyum mesum. Atau ketika seorang istri termakan gombalan dari suami, ia akan memukul-mukul manja sang suami. Tentu masih banyak contoh lainnya.

Nah marah juga seperti itu. Ia juga tercermin dalam perilaku kita, walaupun tidak di semua individu seperti itu. Ada orang yang ketika marah tiba-tiba suka menyebut nama-nama binatang (kebanyakan berkaki 4), alur napas memburu tidak beratur, hingga mengepal tinju sana-sini. Orang begini bisa jadi jauh lebih aktif saat marah. Menjadi lebih verbal dan pecicilan.

Tetapi ada juga yang ketika marah, ia menjadi semakin inaktif. Ia akan diam seribu bahasa. Terkadang menyilangkan tangan. Raut wajahnya beku. Kalaupun kita memberanikan diri bertanya, jawaban yang akan ia berikan akan selalu “Terserah…”. Dengan akhiran ‘ah’ yang amat tipis mematikan. Alternatif jawaban lain adalah “Coba pikir aja sendiri…”

Continue reading “Anger-Bending: Tips Mengendalikan Marah”

Patungan

Hey, aku dapat ilmu baru sewaktu menonton akad nikah kakak tingkatku kemarin. Tentang buku nikah misalnya. Si suami megang buku nikah warna merah, sedangkan istri warna ijo. Entah apa filosofi dari warna itu.

Tetapi yang paling penting, tahu tidak, ternyata buku nikah itu nggak bisa dibikin sendirian lho. Kamu nggak bisa bikin yang warna ijo doang atau nggak bisa juga bikinin yang merah doang. Harus sepaket. Makanya harganya jadi mahal karena yang kita bayar dobel…

Ogah bayar mahal? Tenang. Aku punya solusinya. Buku nikah bisa dibayar patungan kok. Jadi, daripada susah kalau sendiri, mending patungan aja bareng aku. Gimana?

Di Suatu Resepsi

Sang Suami, menatap kosong ke arah luar. Tidak jelas apa yang dipandangnya. Yang pasti wajahnya menyiratkan sendu. Raut yang sama sekali tak cocok dengan kemeriahan resepsi pernikahan anak perempuannya. Sebenarnya ia merasa malu karena merasa sedih di hari pernikahan Si Putri. Sebab itu, setelah lelah sekian lama memaksakan senyum di depan pelaminan, ia pergi menjauh. Sejauh mungkin dari putrinya hingga raut wajahnya tak terlihat dari kursi pelaminan.

Sang Istri, yang setahun lebih muda dari Sang Suami namun dengan sikap sepuluh tahun lebih bijak sadar akan kondisi suaminya. Perlahan ia berjalan ke arah lelaki yang bersamanya sudah dirasakan luluh lantak membangun keluarga. Pernikahan ini sendiri menandakan masuknya babak akhir cerita keluarga mereka. Tentu Sang Istri paham hal itu. Ia pun paham kalau suaminya juga paham dan bersedih karenanya. Tetapi sebagai istri yang baik, sudah menjadi kewajibannya untuk menanyakan kabar suami, sebaik atau seburuk apapun itu, meskipun ia sudah tahu jawaban sebenarnya.

“Tidak, tidak ada apa-apa.” jawab Sang Suami. Ia sadar meskipun ia jago berbohong, istrinya adalah satu-satunya orang yang tidak mampu ia bohongi. Namun entah kenapa ia tetap berbohong. Ia hanya merasa harus, untuk saat ini.

“Gadisku dicuri orang. Itu saja…”, kata Sang Suami, menyerah pada istrinya…

Lalu seperti yang diduga Sang Suami, Sang Istri tahu suaminya berbohong. Tetapi tidak seperti biasanya. Kali ini ia sengaja diam menunggu Sang Suami mengatakan sebenarnya. Dan benar akhirnya ia mengatakannya. Gadis mereka dicuri orang. Lalu mereka diam memandang jauh ke depan. Tirai baru hidup mereka resmi dibuka

Flatulensi Insidental

Langsung saja, flatulensi adalah bahasa ilmiah dari buang angin. Inilah salah satu kehebatan bahasa ilmiah. Bahkan buang angin pun dapat terdengar cerdas. Yang ingin saya katakan, bisa jadi tulisan ini dirasa sangat jorok. Jadi, segera cari tombol ‘back’ sebelum membaca lebih jauh bagi Anda yang menyumpah kejorokan. Sudah diperingatkan…

Flatulensi/buang angin/kentut adalah hal wajar. Tak kentut, maka tak patut. Permasalahannya adalah flatulensi ini semacam sampah, yang harus dibuang pada tempatnya. Karena kalau dibuang sembarangan, kita akan mencemari lingkungan. Mungkin bukan alam yang kita cemari, tetapi nama baik sendiri. Oleh karena itu diperlukan tindakan yang bijak dalam menghadapi flatulensi ini.

Continue reading “Flatulensi Insidental”

Perilaku Labil yang Kelak Dinamakan Alay, Ninja Saga, dan Terkhusus Facebook Itu Sendiri

Hi

Semasa SMP dulu, saya punya semacam janji yang mati-matian dijaga agar selalu tertunai, yaitu untuk tidak mempunyai satu pun akun media sosial selama seumur hidup. janji itu bermula karena Ninja Saga di Facebook. Yup.

Saya dahulu adalah seorang penggemar Naruto garis keras. Sudah menonton Naruto sejak kelas 3 SD dari channel TV Malaysia dan bisa dibilang jadi profesor di dunia per-Naruto-an. Saking luasnya ilmu saya tentang Naruto, saya berhasil menghasut teman saya agar ia mengalihkan cita-citanya dari polisi menjadi Hokage. Oleh karena itu saat mendengar ada suatu game internet bernama Ninja Saga yang meniru-niru Naruto, otomatis saya kesal. Kenapa ada yang berani-beraninya meniru karya agung seperti Naruto? Saya mencap Ninja Saga sebagai game palsu nan murahan sekaligus mengfatwakan kepada teman lainnya bahwa Ninja Saga hukumnya haram. Naas, perkataan saya tidak didengar. Keseruan game itu menjajal akal dan pikiran mereka. Tak peduli itu sebenarnya game apa, selama ada chidori dan raikiri yang mirip seperti di Naruto, mereka hanyut juga

5
Ninja Saga semasa jaya adalah saya semasa lara. Ah, jangan2 cuma saya yang tahu Ninja Saga di sini -_- (sumber)

Continue reading “Perilaku Labil yang Kelak Dinamakan Alay, Ninja Saga, dan Terkhusus Facebook Itu Sendiri”

Kopdar Bersama Kunudhani alias kunudhani.wordpress.com

Yow. Cerita kopdar lagi nih. Kali ini bloger yang saya jumpai adalah…(drumroll)…

KUNUDHANI! (yay)

kunudhanihome

Kalau ditanya blog mana yang memiliki banyak tulisan hidup nyeremin, kemungkinan sebagian orang akan sulit menjawabnya. Terkhusus apalagi kalau sebagian orang yang dimaksud tidak kenal sama blog yang satu ini, Kunudhani. Mungkin sekarang sudah sedikit mereda, tetapi tulisan pengalaman mistis itu bocah banyak benerr. Kunu sudah beberapa kali berinteraksi dengan orang kesurupan, orang yang iseng nelfon yang sebenarnya diragukan itu orang apa bukan, bahkan punya adik tuyul yang suka nyembunyiin barang. Bayangkan. ADIK TUYUL men. Berapa banyak dari kita yang punya adik seorang/seekor/sesosok tuyul? Kalau memang ada yang namanya panti tuyul, mengadopsi satu saja ogah, tapi Kunu punya. Luar biasa sekali kan. Saya pikir teman-teman Kunu beruntung sekali punya teman seperti Kunu, yang punya ‘orang dalam’ di dunia mistis. Tetapi sepertinya teman2 Kunu tidak berpikir seperti itu :”)

Oleh karena itu, dapat dikira bagaimana bergejolaknya pikiran saya saat detik-detik bertemu dengan Kunudhani tempo yang lalu. Entah akan bagaimana orangnya. Membaca blognya, saya jadi sedikit meraba-raba bagaimana kesan pertama saat bertemu dengannya. Mungkin ia dikelilingi aura-aura dingin menggetarkan roma dan juga punya dandanan gothic yang dipengaruhi oleh nuansa mistis lokal. Atau yang lebih seru, ia turut mengajak adik beda alamnya itu (Si Bona namanya) ikut kopdar. Hmm… yang terakhir ini ini sedikit saya khawatirkan, lantaran saya tidak punya adik atau kakak tuyul sebagai tandem main Si Bona. Kan gawat kalau Si Bona bosan terus ngerengek minta pulang. Btw dunia tuyul punya jenis permainan yang seperti apa ya?

Yah.. itu semua berlebihan. Memikirkan hal seperti itu sudah terlampau jauh. Paranoid istilahnya. Saya sudah didoktrin untuk tidak takut kepada hal mistis seperti itu. Seandainya memang Si Bona diajak jalan naik motor Kunu, saya sama sekali tidak keberatan. Terserah dia nanti mau duduk di belakang atau depan. Kalau perlu saya tanya Kunu sebelumnya tentang makanan kesukaan tuyul biar Si Bona senang kala ikut. Selama tak berhubungan dengan darah dan sesajen,  pasti saya usahakan. Hmm.. ya. Entah kenapa saya lebih fokus ke Bona daripada Kunu sendiri

Continue reading “Kopdar Bersama Kunudhani alias kunudhani.wordpress.com”

Es Krim

Dua perjaka itu masih berdiri di dekat tembok itu meski sudah lama ditinggal perempuan berpipi jambu. Seakan menunggu seseorang, mereka melihat ke sudut tikungan kiri mereka. Sorot mata mereka sepakat untuk merencanakan suatu hal yang sama.

Lalu benarlah, datang perempuan yang berikutnya, dengan bibir tipis mengkilat. Tatapannya dingin. Jalannya lurus ke depan. Keberadaan kedua perjaka sepertinya tak dianggapnya ada dan memang tak disadarinya. Kedua perjaka pun sadar kalau mereka diabaikan, namun tak peduli. Mata mereka awas menyapu langkah perempuan itu. Ada aura beku mewarnai jejaknya yang perlahan hilang di balik tikungan berikutnya.

“Nah. Itu tadi yang kunamakan gadis jutek. Lihat ekspresinya tadi? Dingin sekali”

“Ya aku lihat. Dan kau memang betul. Ia jutek…”

“Ohh.. yang barusan kau juga kenal?”

Perjaka yang ditanya mengangguk elok. Sebentar kemudian ia menggumam

“Dia itu layaknya es krim. Dingin sih, tapi manis…”

Membandingkan dan Dibandingkan

Ada satu hal yang sulit dihindari apabila kita tidak terlahir sebagai anak tunggal, yaitu dibanding-bandingkan, antara kita dan saudara kita.

“Lho, kok adiknya pintar kakaknya biasa aja ya?”

“Haha.. padahal kakakmu jadi juara terus di lomba itu. Yah kamu coba lagi tahun depan ya, sekalian belajar sama kakakmu”

“Ternyata bisa ya adik-kakak berbeda sejauh itu”

dan seterusnya… dan seterusnya

Hmm yah, mungkin hampir semua yang memiliki kakak/adik pernah dibanding-bandingkan orang lain. Dan dari ‘hampir semua’ itu, mayoritas merasa tidak suka jika dibandingkan. Terlebih jika yang dibandingkan berada di posisi lebih inferior. Pasti tidak menyenangkan rasanya.

Continue reading “Membandingkan dan Dibandingkan”

Kopdar Bersama Vallendri Arnout alias pursuingmybule.com

Ah ya, jikalau ada yang belum tau siapa itu Vallendri, coba klik sini. Ini adalah pengalaman kopdar sama itu gadis dari sudut pandang saya. Bisa aja sih kalau mau bandingin sama yang dibuat Vallendri, jangan ragu untuk mengklik sini 2. Di tulisan itu dia ngakunya telat menerbitkan tulisan. Entah apa perlu superlatif apa untuk menggambarkan telat yang ini -_-

Kalau memang ada istilah too late late-post, maka inilah dia… Selamat menikmati

Jakarta, 25 Desember 2016. Sudut kosan yang panas… banget

Memasuki natal dan tahun baru, banyak dari kami yang pulang kampung. Tetapi tidak untuk saya dan Asgi. Kampung kami terlau jauh untuk dinikmati waktu satu minggu. Akhirnya sejak kemarin kami bingung tak menentu, bagai kucing yang gelisah memasuki musim kawin. Asgi, pemuda asal Biak, teman kos saya, sama-sama merasakan sakitnya terkhianati teman kos lain yang lebih memilih pulang kampung. Sebagai pelipur lara ia katanya bakal mengajak teman lainnya (yang tidak mengkhianatinya) untuk kongkow bareng ke Bogor. Seketika saya merasa tersakiti karena tidak diajak

Alhasil waktu yang ada hari ini saya habiskan dengan mojok di kosan. Buka-tutup blog, raba-raba bahan tulisan, ataupun coba-coba cari akal bagaimana caranya skripsi saya bisa menulis dirinya sendiri. Itu saya lakukan dari pagi hingga sore menjelang. Di tengah kegelisahan saya, muncul notifikasi blog yang datang dari tulisan kopdar feat. Azizatoen. Satu notifikasi tentang ajakan menuju kopdar lainnya oleh Vallendri Arnout. Yang membuat saya kaget adalah waktu ajakannya yang sangat tiba-tiba. Perempuan yang dulu rajin mengejar bule itu ngajak ketemu besok. Yup.

Dalam pengalaman saya berbincang dengan orang lain, ada tipe-tipe orang yang mengartikan kata besok sebagai hari kapanpun setelah hari ini. Entah itu sehari setelahnya atau hari satu bulan setelahnya. Artinya ‘besok’ bisa jadi kapan saja. Ternyata Vallendri bukan orang yang seperti itu. Ia juga seperti saya, yang mengartikan besok sebagai ‘besok’. Tetap saja itu membuat kaget. Campur senang sebenarnya. Karena ini pertanda kegabutan saya akan berakhir

Continue reading “Kopdar Bersama Vallendri Arnout alias pursuingmybule.com”

Rasa Penasaran Ibu

Pernah suatu kali aku pergi keluar dari malam hari dan terus keluyuran hingga jam 2 pagi. Saat pulang, aku kaget karena ibu masih belum tidur. Ia kemudian bertanya darimana saja aku dan kenapa baru pulang. Aku yang merasa lelah dengan malas menjawab sekenanya. Suatu tindakan yang aku sesali hingga kini. Waktu itu aku tidak sadar, namun sekarang aku tahu kalau seorang ibu tidak akan tidur sebelum ia memastikan kalau anaknya pulang dengan selamat, dalam keadaan hidup, sama seperti terakhir kali terlihat.

Akan lebih mudah jika ibu tahu selalu keadaan kita. Percayalah. Rasa penasaran ibu adalah hal pertama yang kelak kita rindukan