Iftina Haura, 11 Hari

Hari ini harusnya anak pertama kami lahir. Namun, ternyata Allah berkata lain. Ia lahir 11 hari lebih cepat. Hari Selasa 13 Juli 2021, seorang anak perempuan lahir dari rahim istriku.

12 Juli 2021

Pukul 19.17. Ziza mulai merasakan sering kontraksi sejak selesai yoga ibu hamil sore tadinya. Ia mulai menggunakan aplikasi penghitung kontraksi. Kontraksi terjadi 5-10 menit sekali mulai sore hingga malam ini. Ziza sendiri masih merasa kontraksi yang terjadi cuma kontraksi palsu

Pukul 21.07. Kontraksi masih konstan terjadi dengan interval rata-rata 5-11 menit sekali. Juga mulai keluar noda merah pucat ketika Ziza buang air kecil. Ziza sudah berkonsultasi via whatsapp dengan bidan ira sejak sejam sebelumnya. Dari isyarat bu bidan ira sendiri sepertinya bayi akan lahir tak lama lagi

13 Juli 2021

Pukul 00.58. Akibat kontraksi yang terus terjadi, Ziza tidak bisa tidur. Interval kontraksi makin memendek, menjadi 4-6 menit sekali. Ziza sendiri akhirnya berkemas dan bersiap untuk pergi ke rumah sakit. Namun ternyata kata Umi tunggu muncul rasa ‘sakit banget’ dulu baru ke RS

Pukul 02.30. Ziza akhirnya ke RS diantar Umi dan Umar. Ia merasa sakitnya semakin intens. Di RS, ia masih bisa tersenyum saat melapor ke bidan jaga, yang ditangkap oleh sang bidan baru pembukaan awal. Ternyata benar, baru pembukaan pertama. Dan ternyata, rasa nyeri kontraksi yang ia alami dari sore kemarin ini baru permulaan. Ziza diminta pulang ke rumah dan tiba di rumah pukul 03.12. Untuk 12 jam ke depan, Ziza diminta dipantau selalu kontraksi dan rasa sakitnya.

Pukul 07.15. Kontak ke Bidan Ira kembali dilakukan. Ziza membuat janji dengan sang bidan untuk melakukan treatment induksi alami di ruko prakteknya jam 11.00 nanti. Sementara itu, rasa sakit semakin kuat. Ziza yang sebenarnya semakin mengantuk karena amat minim tidur akhirnya tidak tidur sama sekali. Kemudian kata Bidan Ira, “Lahir hari ini.”

Pukul 12.48. Ziza telah pulang ke rumah dari Bidan Ira. Benar di sana ia menjalani treatment induksi alami, di antaranya pijatan, esens untuk memudahkan kelahiran, dan juga moksa. Ia jelas-jelas merasa cabang bayinya ingin keluar. Namun, hasil pemeriksaan Bidan Ira mengatakan ia baru pembukaan kedua. Setelah mengalami kontraksi dari sore kemarin, Ziza kaget bukan kepalang. Pada akhirnya ia mesti berdamai kembali dengan nyeri kontraksi itu di rumah

Pukul 15.43. Kembali bersama Umi dan Umar, Ziza pergi ke rumah sakit. Rasa sakitnya makin menjadi. Waktu pun menunjukkan sudah lebih dari 12 jam sejak pembukaan pertama. Ziza sendiri berulang kali berdiri dan menggoyang-goyangkan pinggang untuk meredakan kontraksi hingga mereka bertiga naik mobil, berangkat ke RS Roemani.

Pukul 17.00. Ziza akhirnya masuk ruang persalinan. Sebelumnya ia sudah masuk ke IGD dan bidan jaga mengatakan sudah bukaan 4. Ziza pun langsung dilarikan untuk diperiksa swab antigen, menunggu bidan lain yang bertugas, lalu pindah ke ruang persalinan. Sementara itu Umi menunggu di luar sembari mengurus administrasi. Tinggallah Ziza sendiri dengan perempuan-perempuan bidan menunggu dokter persalinan masik ruangan

Pukul 18.23. Bayinya lahir. Normal. Perempuan, seperti hasil USG. Beratnya 2,98kg. Panjangnya 49cm. Dengan keluarnya statistik-statistik itu, Ziza resmi menjadi ibu. Dunia akhirat.


Yah, peran saya sendiri cuma si ayah yang tidak ada di tempat saat si ibu melahirkan. Ziza melahirkan sendirian. Sesuatu yang (saya tahu) tidak ia inginkan. Kelahiran Haura lebih cepat 11 hari dari HPL. Ditambah lagi dengan pemberlakuan PPKM, saya yang rencananya baru berangkat tanggal 18 agar bisa menemani lahiran tanggal 24 ternyata dihitung terlambat. Jelas saya melewatkan sesuatu yang penting seumur hidup

Sedih juga sesal pasti saya dan Ziza rasakan. Meski begitu, saya pikir hal itu tertutupi dengan rasa membahagiakan ketika melihat bayi kami muncul. Kami sama-sama tahu perjalanan kami menjadi orang tua baru dimulai. Mungkin akan berat. Mungkin. Tetapi, kami yang tadinya cuma berdua kini jadi bertiga. Bukankah perjalanan hidup akan semakin menyenangkan dengan bertambahnya kawan perjalanan?

Sapi-sapi Perantau

Malam ini tak cuma manusia yang menyebrangi Selat Sunda. Ada pula mereka, mujahid qurban yang akan menunaikan misinya esok hari. Yang saya baru ngeh, tentu tak semua sapi yang disembelih di ibukota datang dari daerah sekitaran Jakarta. Sisanya? Sapi perantau yang datang dari pulau seberang. Entah apa kata sapi-sapi sumatera ini ketika menginjak mega metropolitan nanti.

Selamat hari iduladha, kawan-kawan semua 😊

Di mana di?

Ada satu artikel di belakang LKS semasa saya SMP dulu yang hingga kini masih terngiang. Tau kan ya LKS? Lembar kerja siswa (cmiiw), yang biasanya jadi andalan guru pas jam kosong sekolah.

Artikel itu berjudul Di mana “di”?

Artikel itu pendek. Pendek dan sederhana. Tentang bagaimana penulis mengungkapkan pada masanya orang-orang banyak yang salah menggunakan kata “di”. Ia mengatakan masih ada juga orang menulis “buanglah sampah ditempatnya” atau “mohon sampah di buang pada tempatnya” yang tentu jelas salah.

Saya menganggap enteng artikel itu. Maksudnya, itu terlalu remeh untuk dibahas. Ya biarkan saja orang salah dalam menggunakan kata “di” dalam tulisan. Toh artinya dapat dipahami orang yang membaca. Tetapi, fenomena yang ada di sehari-hari lambat laun membuat saya berpikir sama seperti penulis. Berpikir layaknya grammar nazi-nya versi pribumi.

Pernah merasa gatal, merasa ingin mengoreksi, saat membaca penggunaan “di” yang semena-mena? Mungkin Anda juga sama. Mereka yang merasa benar dalam berbahsa. Sama-sama grammar nazi. Polisi bahasa yang menjaga ketertiban penulisan bahasa Indonesia. Dan menurut saya, hal itu tidak buruk

Mingguku

Komik One Piece. Tiga volume sekaligus.

Handphone dengan music playernya siap memanjakan telinga. Playlist hasil mengoleksi lagu terfavorit sejak 2011.

Kipas angin yang diarahkan cukup ke satu arah saja.

Mendung.

Aku kembali menjadi diriku sepuluh tahun lalu. Di mana masalah terbesar “cuma” UAS yang sebulan kemudian menjelang atau keseleo sehabis main futsal. Dan untuk ujung mingguku, selalu ada mereka. Komik, music player, dan kipas angin. Bibit euforia. Ketenteramanku.

Minggu adalah untuk mereka yang menikmatinya

Selalu dan selalu

Pengalaman Mengurus Migrasi Rekening menjadi Rekening Bank Syariah Indonesia (BSI)

Mumpung saya sedang ada di Batam, saatnya migrasi rekening Bank Syariah Indonesia! Bulan Mei lalu saya dengan nekat datang ke BNI Syariah untuk mengaktifkan ebanking. Tapi kata customer servicenya:

“Lebih baik nanti setelah 14 Juni 2021 datang lagi ke sini ya pak. Kita ada mutasi atau pemindahan rekening dari BNI Syariah menjadi Bank Syariah Indonesia. Sudah pernah mendengar BSI, pak?”

Maka dari itu pada kesempatan ke Batam yang berikutnya, yang artinya kemarin (28 Juni 2021), saya datang menuju Kantor Cabang Bank Syariah Indonesia Batam di Jalan Raden Patah (Nagoya), sederet dengan bioskop 21 lama. KC itu dulunya punya BNI Syariah.

Tampak depan KC BSI di Batam

Sewaktu saya datang, sudah ada petugas yang stand by untuk mengarahkan nasabah untuk berganti rekening. Juga ada tenda dan banyak kursi yang khusus disediakan mengantisipasi banyaknya nasabah yang ingin migrasi rekening. Saya sendiri langsung diberi tahu petugas untuk mengisi form migrasi rekening serta melengkapi dokumen:

  • KTP asli
  • Buku rekening bank syariah yang ingin dimutasikan (punya saya BNI Syariah)
  • Kartu ATM rekening yang ingin dimutasikan

Kelengkapan itu nantinya akan diklip dengan form mutasi rekenkng yang kita isi

Form mutasi rekening

Apabila sudah diisi lengkap dan diterima pegawainya, tinggal menunggu nomor antrean kita dipanggil. Oleh petugasnya kita disuruh membawa KTP, buku rekening, dan kartu ATM yang tadi diperiksa menuju customer service.

Di customer service, kita akan dijelaskan soal teknis pemindahan rekeningnya. Ada biaya sebesar Rp50.000 yang diblok pada rekening lama. Sehingga nominal pada rekening BSI nanti lebih sedikit Rp50.000 dari rekening lama karena tidak bisa dipindahkan. Kemudian, untuk nomor rekeningnya sendiri berubah hanya sedikit. Yang awalnya angka ‘0’ berada di depan nomor rekening lama, sekarang adanya di paling belakang. Sebagai informasi: kode bank rekening BSI adalah 451

Ketika ttd beberapa kali, maka siaplah buku rekening BSI saya. Namun tidak berhenti di sana, saya juga mengurus net banking BSI. Aplikasi untuk memudahkan bertransaksi kapan saja di mana saja

Kita diminta download terlebih dahulu aplikasinya di App Store (ios) atau Play Store (android). Di ios kapasitas aplikasinya tidak besar-besar amat, cuma 89mb kalau tidak salah. Setelah download, kita diminta untuk menyiapkan

  • Nomor pin. Terdiri dari 6 digit dan hanya terdiri dari angka. Diperlukan saat ingin bertransaksi di dalam aplikasi
  • Password/Kata Sandi. Terdiri dari maksimal 8 digit, huruf dan angka. Diperlukan saat ingin masuk ke aplikasi

Mendaftar net banking BSI juga memerlukan pulsa untuk mendapat sms konfirmasi pengaktifan akun. Jadi pastikan handphonemu ada pulsanya ya ;))

Tadaa, sudah jadi~

Selesai. Saya pun akhirnya diserahkan buku rekening dan kartu ATM baru BSI. Yang dilakukan selanjutnya tinggal mengaktifkan kartu ATMnya dengan petugas lain di bank. Jangan lupa dengan nomor pin ATM yang tadi dibuat ya! Saya hampir lupa soalnya wkwk.

Mbak Customer Service tadi menjelaskan di mana saja lokasi BSI di Batam. Ternyata sudah lumayan banyak. Misalnya di Botania dan juga Winsor.

Oh ya, satu lagi catatan penting untuk penggunaam ATM. Untuk saat ini penarikan uang tunai ATM rekening BSI hanya gratis di ATM BSI dan Mandiri. Untuk ATM lainnya dikenakan biaya (Rp6.500 kalau nggak salah). Di ATM Mandiri pun walau tarik tunai gratis, untuk cek saldo dan lain2 tetap dikenakan biaya.

Nah cukup sekian pengalaman saya kemarin. Semoga yang membaca sudah dapat pencerahan ya bagaimana cara migrasi rekening ke BSI. Selamat bermigrasi rekening!

Omurice with Bolognese Lava Sauce

Menyambung tulisan sebelumnya, kacang panjang yang tersisa akhirnya saya buat Spaghetti Burjo with Del Monte Sauce and Long Bean lagi sampai habis. Itu artinya saya makan spaghetti tiga hari berturut-turut. Siang dan malam hingga akhirnya kacang panjang tidak panjang lagi, tidak bersisa lagi.

Namun ternyata tak berhenti di situ. Kacang panjang habis, masih ada saus spaghetti yang perlu dihabiskan mengingat kulkas saya di-non job-kan selama beberapa bukan ke depan. Daripada basi, lebih baik saus spaghetti itu saya kawinkan dengan telur dadar menjadi Omurice with Bolognese Lava Sauce

Continue reading “Omurice with Bolognese Lava Sauce”

Spaghetti Burjo with Del Monte Sauce and Long Bean

Untuk episode jarang-masak kali ini, saya membuat spaghetti ala burjo with long bean. Alias spaghetti yang dimasak layaknya mie dog dog di burjo dicampur kacang panjang. Gara-gara melihat saos spaghetti instan Del Monte dan mie lidi di minimarket kemarin, terpikirlah untuk bikin spaghetti. Tetapi ya apa daya. Dengan skill masak dan niat seadanya, bukannya jadi bolognese, malah dimasak dog dog.

Persoalan bagi saya ketika memasak untuk diri sendiri adalah sulitnya memasak untuk satu porsi saja. Seringkali berlebihan. Karena ketika membeli bahan masak, tidak bisa membeli hanya untuk makan 1 orang saja. Itu adalah masalah bagi saya yang jarang-jarang masak. Mau beli stok banyak, nanti keburu busuk.

Contohnya untuk spaghetti dog dog hari ini. Kacang panjangnya sisa banyak. Lebih dari setengah yang saya beli untuk bikin spaghetti ini. Entah akan saya apakan kacang panjang ini ke depannya. Yang jelas saya tidak ingin ia membusuk sia-sia.

Catatan: kacang panjang ternyata cocok lho untuk bahan masak nasi/mie goreng. Apalagi kalau kacang panjangnya dipotong kecil-kecil seperti instastory selebgram. Hmmm~

Lahir

Kedua orang tua saya sudah ada di rumah sakit di jum’at pagi itu demi menanti kelahiran anak pertamanya. Entahlah detailnya bagaimana. Saya belum lahir untuk menyaksikan kronologis kelahiran itu. Yang saya ingat dari cerita mereka: Keberangkatan mereka ke rumah sakit pada jumat itu sedikit tak terduga. Hasil estimasi dari seorang dokter kandungan menyatakan saya akan lahir bulan depan, atau bulan ke-9 pasca positif hamil. Namun nyatanya ‘bukaan’ terjadi pada jumat sebulan sebelum perkiraan. Maka mereka berdua pun berangkat ke rumah sakit terdekat.

Abah gelisah. Sudah sejak pagi ia berada di rumah sakit, namun belum ada panggilan dari balik ruang kelahiran tempat Umi berada. Katanya, Abah dulu mondar-mandir di depan pintu kaca rumah sakit yang serba putih. Klise sekali. Tapi kurang lebih saya mengerti perasaannya. Perasaan gelisah dan deg2an itu. Semua pasti berasa amat cepat baginya. Tak sampai setahun pernikahannya berlangsung, ia akan menjadi ayah. Continue reading “Lahir”

Pedagang Buah

Ketika masih kecil, saya tak pernah ingin menjadi pedagang buah. “Pasti itu pekerjaan paling tidak enak di muka bumi”, pikir saya waktu itu. Bayangkan saja buah sebanyak itu dipajang untuk dijual. Tentu tidak semua terjual. Pasti ada yang busuk. Mengeluarkan aroma tidak sedap mematahkan selera. Belum lagi tampilan visual buah busuk yang berlubang, menjadi sarang lalat ataupun serangga lainnya bertelur. Sebagai pembeli saja saya tidak betah. Apalagi menjadi pedagangnya. Membayangkan saya ketika dewasa nanti berkutat dengan aroma busuk dan ulat-ulat buah itu adalah masa depan yang tidak ingin saya lihat.

Kemudian, saya dewasa.

Satu hal yang saya pikirkan setiap mampir ke toko buah adalah, “Pasti enak jadi pedagang buah, tiap hari BAB lancarr…”

Dapat Bola, Buang Jauh ke Depan

Kami bertujuh, budak-budak statistik, mendadak menjadi pandit sepak bola malam ini. Sekonyong-konyong berubah menjadi komentator bola negara, setelah bosan mengomentari politiknya. Bagaimana tidak mengkritik kalau menonton bola negara seperti malam ini…

Indonesia vs Vietnam. 0-4. Kebobolan empat gol tanpa balas. Dengan membaca skor ini saja sudah ketahuan kita kalah telak dibanding negara tetangga kita itu, yang makin ke sini semakin digdaya dalam urusan sepak bola ASEAN. Tetapi masalahnya bukan cuma Vietnam yang semakin piawai. Indonesia yang ‘gitu-gitu aja’ tentu saja menjadi sorotan di tengah serentetan hasil buruknya.

Continue reading “Dapat Bola, Buang Jauh ke Depan”