Dinginproof

Di tengah rentetan hujan berkepanjangan di Daik, ada satu hal yang semakin ke sini semakin saya sadari: saya tidak sedingin-proof yang dulu. Alias, sekarang gampang banget kedinginan.

Semasa kecil dulu, saya terbiasa tidur tanpa baju di kamar ber-AC. Masa-masa tidur ternikmat yang pernah saya rasa. Di masa itu, seringkali saya “meremehkan” Abah yang tidak tahan dingin. “Masa’ segini doang kedinginan?”, kata seorang anak yang setengah songong, setengah santun. Abah pun seringkali menyanjung (atau menyindir mungkin) betapa nekatnya saya tidur tanpa busana, maksud saya tanpa baju, ketika AC bekerja gigih mengembuskan angin 20 derajat celcius. Ia juga berkilah, bahwa ia yang dulu tentu saja tahan dingin. Abah berkali-kali mendaki gunung. Udara dingin sudah menjadi sahabatnya. Mungkin karena faktor usia, kini tubuh atau kulitnya tidak bisa berkompromi lagi dengan dingin. Bukan sekali-dua kali ia terlihat menggigil karena AC.

I’m slowly becoming him. Saya merasa semakin mirip dengan Abah. Tidak hanya semakin tidak ‘dingin-proof’. Cara berbicara, bagaimana ia menjelaskan sesuatu, bagaimana ia merespons sesuatu, dan detail-detail kecil yang ia lakukan saya temukan ada pada diri saya.

Abah sendiri sudah pernah bilang, “jangan jadi seperti Abah”, yang saya duga adalah konotasi dari “jadilah lebih baik daripada Abah”. Saya sepakat. Meski banyak teladan yang dapat saya ambil darinya, secuil karakteristik kurang baik dan babak-babak tertentu dalam hidupnya menjadikan saya tak ingin menjadi seperti beliau. Saya harus melampauinya, bagaimana pun caranya

Namun apa yang saya dapati dewasa ini adalah sebuah ironi. ‘Secuil karakteristik kurang baik’ yang saya tulis di kalimat sebelumnya ada pada diri saya. ‘Babak-babak tertentu dalam hidupnya’ yang saya katakan ingin dihindari malah saya titi saat ini. Saya semakin dekat ke Abah dalam persona dan pengambilan keputusan. Dan hal itu membuat segala pilihan hidup yang ia ambil, dapat saya maklumi sepenuhnya.

Lebih dari itu, saya amat bangga menjadi anak Abah.
Cacat-sempurnanya Abah, ia yang membentuk saya seperti saat ini.
Tak peduli sekeras apapun saya menyangkal.
Selamat hari ayah, Abah

 

Menunggu

Menunggu untuk orang-orang yang sabar

untuk orang-orang yang tak ingin ditunggu

untuk mereka yang tunduk pada pilihan diam dan menerima

untukku,

atasmu.

Dompet Orang Dewasa untuk Jajanan Anak, Why Not?

Ada dua tubuh menjulang di antara kerumunan anak-anak SD dan abang cilok (yang sebenarnya lebih mendekati somay heh) siang tadi. Itu adalah saya dan istri. Berada di tengah anak-anak yang umurnya mungkin hanya sepertiga dari kami lalu mengantri membeli hal yang sama sejujurnya sedikit memalukan bagi saya. Sudah semacam pendamping karya wisata saja. Tapi ya mau begimana. Somaynya enaq

Ziza yang pertama menginginkannya, ketika kami sedang bermotoran menuju rumah untuk makan siang. Sudah ada beberapa anak-anak di sana yang mengantri. Dan tanpa rasa salah, kami bergabung di tengah-tengah mereka.

Wajah abang-abangnya memang lebih mendekati ke pedagang somay daripada pedagang cilok. Ternyata benar. Sesuatu yang ia sebut cilok sebenarnya somay. Tak cuma somay, ada juga es cendol sirup jagung yang maknyuss segerrrnya bertandem nikmat dengan pedasnya somay. Intinya kami menyukai jajanan abang somay ini.

Hal yang sebenarnya membuat kaget adalah murahnya harga yang dibanderol. Saya lupa ini jajanan anak SD dan lupa juga bahwa saya ini sudah jadi karyawan. Awalnya memberi Rp5.000, ternyata Rp3.000 saja sudah dapat 10 pentol . Berarti satunya Rp300! Ah terlalu murah itu untuk ukuran harga sini. Tetapi begitulah adanya

Saya bersyukur tidak ada diskriminasi harga, bahkan untuk saya yang sudah bekerja. Baik saya maupun anak-anak SD itu yang berdompet tipis banget, harga somaynya sama. Tentu saja tanpa ampun kami memanfaatkan ini untuk membeli banyak sekaligus menraktir teman-teman pengentri.

Saya pernah mendengar opini seseorang yang mengatakan menjadi dewasa itu tidak enak. Tapi ketika kita bisa membeli kebahagiaan ala anak-anak dengan dompet orang dewasa, masih bisakah bilang dewasa itu tidak enak?

Ngambek Must Goes On

Satu hal yang kusadari saat istriku ngambek adalah: meski di saat ia tidur, ia tetap ngambek

Sudah lebih dari 24 jam ngambek teknik silent treatment ini diberlakukan dan aku tak melihat kapan ini akan berakhir. Tak hanya didiamkan, respons mata pun tak ia berikan. Ia secara konstan memalingkan wajah dari suaminya. Sebenarnya ini bukan yang pertama kali, namun tetap saja tidak nyaman merasakannya lagi

Sekarang pukul 02.05 WIB. Waktu di mana biasanya aku tetap tidur, tetapi tidak malam ini. Kupikir aku bisa melihat wajah istriku dengan khusyuk selagi ia tertidur. Aku salah. Sama ketika bangun, ia masih memalingkan muka. Ia tidur memunggungi suaminya. Kadang tubuhnya sempat sebentar berbalik, tapi wajahnya tetap dipalingkan. Sekejap ekspresinya tertangkap saat aku mengintip sedikit wajahnya dari arah berlawanan, ekspresi mengambek. Seakan aku bisa melihat tulisan di-bold “MASIH NGAMBEK” di jidat beningnya. Yap. Bold dan capslock.

Yah begitulah. Suami akan terus berbuat kesalahan dan istri akan selalu mengambek. Terkadang kesalahan itu sangat jelas disadari suami, terkadang ia samar-samar. Namun apapun salahnya, ketika istri mengambek jelas si suami salah, dan jelas si suami akan meminta maaf. Hal itu pula yang terus aku lakukan sejak lebih dari 24 jam lalu.

Sama seperti ketika aku mencintai istriku, meski ia ngambek 1×24, 2×24, atau 24/7

Burger dalam Kotak Kue

Aku tak ingat kapan terakhir kali sesenang ini saat melihat “paket” makananku datang. Burger, yang ditaruh dalam kotak kue.

Burger jelas bukan makanan yang bisa sering ditemui di sini. Bahkan namanya pun terdengar asing, tidak cocok disebutkan di pulau seperti ini. Tapi kini ia di mejaku. Dan sebentar lagi akan sampai ke tangan istriku. Kuharap ia bisa senang. Atau setidaknya sedikit senang, melihat barang langka ini.

Ia selalu menyebutkan “Mister Burger” saat memakan burger apapun. Mister Burger-lah standar burger yang enak baginya. Burger lain hanya bisa mencapai standar “enaknya sama kayak Mister Burger”. Tanpa bisa melewati rasa lezat franchise itu

Aku sendiri tak terlalu bisa membedakan garis batas enak-tidak enaknya burger. Asal ia kelihatan berisi dan bukan burger McD, kemungkinan label enak akan dicap oleh standar lidahku. Burger tipis adalah suatu dosa dan burger McD tak pernah seindah gambarnya, yang menumbuhan sedikit rasa kecewa saat melihat aslinya. Hal yang terakhir ini disetujui istriku. Ia yang bermakmum pada Mister Burger

Mengenai preferensinya dalam memilih burger, ia selalu memilih tanpa keju, lebih memilih daging sapi daripada ayam (mungkin kalau ada burger kambing, ia akan memfavoritkan itu di atas semuanya), tanpa keju, hanya sedikit mayonnaise, dan sekali lagi, tanpa keju

Padahal keju enak. Tapi untuk urusan satu itu, kami tidak sepakat. Satu hal yang terkadang SANGAT kusyukuri

Daik Ramai adalah Baik

Meski corona semakin mengganas, keadaan itu memberikan dampak sedikit berbeda pada kehidupan sehari-hari di Daik. Tentu jumlah pemakai masker mudah dijumpai di tempat umum (dan jumlahnya jelas banyak). Pun dengan tempat cuci tangan yang berlipat ganda di toko-toko ataupun rumah makan. Tetapi “sedikit berbeda” yang saya maksud adalah bagaimana Daik terasa lebih ramai semenjak pandemi.

Contohnya pedagang barang pecah belah di atas. Pemandangan tupperware jadi-jadian yang terhampar di pinggir jalan seperti pada foto adalah suatu hal langka. Tak pernah saya temui selama 2 tahun menetap di sini, kecuali pada acara bazaar yang dilaksanakan setahun sekali. Sama halnya dengan pedagang sayur-buah yang entah muncul dari mana. Mungkin ada belasan jumlahnya. Tiba-tiba mereka muncul begitu saja di pagi hari. Tak cuma muncul, bahkan menetap untuk sekian lama, sampai saat ini.

Belakangan saya mengetahui bahwa pedagang sayur-buah, tupperware jadi-jadian, dan warung kelontong yang baru saja menyemarakkan persaingan ekonomi di Daik mayoritas datang dari Jambi dan Sumbar. Mungkin mereka mencium adanya bau cuan di Daik yang sepi ini, dan memilih mengadu kesempatan di Bunda Tanah Melayu. Atau juga karena corona yang semakin menyulitkan, berdagang ke pulau nan jauh ini menjadi jalan yang patut dipertimbangkan.

Apapun itu, melihat Daik semakin ramai adalah suatu rezeki

Pengecualian

Sekali-dua kali, aku merasa lelah untuk bersosialisasi. Berbincang. Mendengarkan. Tersenyum. Menanggapi. Merasa letih hanya untuk sekadar memasang telinga atau memasang senyum. Meski hanya sebentar. Hingga akhirnya, menyepi adalah pilihan.

Tetapi di atas lelah letih itu, selalu ada pengecualian. Ke satu orang itu. Tempat segala lelah dan letih berpulang

Pertama Ia Berguncang, Lalu…

Pesawat yang baru saja kunaiki terus berguncang. Kata pilot via speaker, pesawat kami sedang menghadapi cuaca buruk. Suasana kemudian hening. Penumpang pun mulai berandai-andai.

Tak lama setelah itu, suara pramugari mengambil alih. Kali ini si pramugari mengajukan permohonan maafnya karena “sedikit” goncangan yang telah dan/atau akan penumpang tercintanya alami selama beberapa detik (atau mungkin menit). Pramugari tersebut ikut-ikutan menyalahkan cuaca atas terjadinya goncangan penerbangan kali ini. Namun tidak seperti bapak pilot, bahasa yang dituturkan si pramugari berbunga-bunga, beriring irama yang tenang nan damai. Continue reading “Pertama Ia Berguncang, Lalu…”

Dari Mulut Bocah Sekitaran Ibukota

Seusai azan maghrib menggema…

“Tadi maen bola?”, tanya anak berkalung sarung ke dua temannya

“Maenlah. Gua nyetak dua”

“Wuih. Tumbenan lu”

“Iya tumben. Yang satunya gol bunuh diri sih”

“Oh…”

“Eh, besok sekolah?”

“Ya iya njir. Besok senen”

“Iya iya, tau gua. Bosen aja gua sekolah. Gurunya itu-itu mulu”


Sulit mendengar percakapan seperti itu lagi sekarang. Tetapi semasa kuliah dulu, tidak sengaja menguping pembicaraan bocah-bocah Jabodetabek yang manis adalah suatu hiburan.

 

Rengasdengklok, 16 Agustus 1945

Ancaman para pemuda rupanya bukan omong kosong. Meskipun tak terjadi pertumpahan darah, tapi 16 Agustrus 1945 pukul 04.00 setelah sahur, mereka menculik Bung Karno dan Bung Hatta, dan membawanya ke Rengasdengklok. Di kota kecamatan ini sekali lagi para pemuda gagal memaksa Bung Karno dan Bung Hatta untuk memproklamirkan kemerdekaan

Baru pada tengah malam hari berikutnya, setelah kembali dari Rengasdengklok, keduanya bersedia menandatangi teks naskah proklamasi 17 Agustus pukul 04.00 dinihari di kediaman Laksamana Maeda di Jalan Imam Bonjol 1. Juga disepakati proklamasi akan dibacakan di kediaman Bung Karno pukul 10.00. Sebelumnya direncanakan pembacaan dilakukan di Lapangan Ikada (sekarang Monas)


Sepertinya saya menulis ini 2 tahun yang lalu, saat keranjingan sejarah selepas main ke rumah Laksamana Maeda di Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat. Jadi kangen main ke museum huhu. Pembaca yang budiman jangan melupakan sejarah ya!