Malam Minggu via Suara

Dahulu sebelum menikah, malam mingguan saya dan Ziza tak pernah jauh dari hape. Maklum LDR-an. Pacaran ala kami adalah pacaran ghaib lewat hape.

Dan ternyata, setelah menikah pun tak terlalu berbeda. Malam minggu kami tetap tak berjauhan dari hape. Tetap diisi dengan suara-suara, berbicara dengan orang yang kami cinta. Jika dulu orang yang kami cintai itu saya-Ziza, maka sekarang sedikit berbeda. Ada suara ibu kami (yang tentunya teramat kami cintai) yang tersambung tiap malam minggu.

Karena tak bisa tatap muka, menjaga komunikasi sebisa mungkin dengan orang tua adalah kunci agar silaturahmi terus terjalin. Salah satu cara yang kami lakukan dengan menelepon secara rutin. Minimal seminggu sekali. Biasanya malam hari di akhir minggu, seperti malam ini.

Entah alurnya ibu saya dulu lalu ibu Ziza, maupun sebaliknya, saya menemukan persamaan antara menelepon ibu saya ataupun ibu ziza. Yaitu ibu kami selalu punya bahan untuk diceritakan.

Tempo hari bercerita tentang ayahnya si B yang baru saja meninggal dunia, yang mana B ini adalah temannya adik Ziza. Pernah juga diceritakan ke kami bagaimana ayah saya terjatuh lalu tertimpa tangga, yang kemudian dikomentari adik dengan, “baru kali ini ngeliat beneran orang habis jatuh ketimpa tangga.” Dan cerita manapun yang dikisahkan oleh ibu kami, ada suara syahdu, ada tawa hangat, ada perempuan yang kami rindukan nun jauh di sana.

Malam minggu kami tak pernah terlalu berubah. Selalu terselip rindu terpendam.

Liebster Award – Discover New Blog

Saya pertama kali melihat postingan award2an saat dulu memulai blogwalking. Dulunya saya suka main ke blognya bule. Sudahlah sosoan akrab sama orang nggak dikenal, sosoan bahasa inggris pula. Nah di antara sekian banyak blog bule tersebut, postingan award-award-an sedang marak. Tentu saya sosoan SKSD juga di postingan award itu mesti tak terlalu mengerti apa maksudnya. Baru setelah bermain ke blog tanah air saya mengerti.

Dulunya saya sempat berpikir award-award itu keren. Ya jelas lah ya. Namanya saja ‘award’. Penghargaan. Tak penting pemberinya siapa, mendapat apresiasi menurut saya bukanlah hal buruk. Wa bil khusus dalam Liebster Award ini. Pemberinya teman blog sendiri, tidak ada reward atau hadiah materi. Prestisius pun tidak. Murni sebuah apresiasi dari satu bloger ke bloger lainnya karena sudah ngeblog. Simpel. Sederhana. Dan karena alasan sesimpel itu, praktis Liebster Award bagi saya adalah sarana menyambung silaturahim sesama bloger. Atau bisa juga pemicu bagi bloger yang lagi kena sindrom males luar biasa :”

Oh ya, sebelumnya saya mesti berterima kasih kepada kawanku, sobatku yang harusnya berumur 22 tahun sebentar lagi (semoga nggak salah HAHA), Dika Sukma. Satu hal yang saya ingat tentang blognya adalah tulisan saat-saat doi jatuh cinta dengan seorang perempuan waktu itu. Tulisannya begitu tulus dan jujur dalam melukiskan afeksinya ke si perempuan. Apapun yang terjadi sejak saat itu, semoga cita dan cintamu berjalan baik ya, Dik!

Peraturan:

  1. ucapkan terima kasih pada bloger yang menominasikan anda.
  2. bagikanlah 11 fakta tentang dirimu & pajang 3 link ke artikel blogmu.
  3. jawablah 11 pertanyaan yang diajukan (para) narablog kepadamu.
  4. nominasikan 11 narablog dan bikin mereka senang!
  5. buatlah 11 pertanyaan untuk dijawab oleh para nominator.
  6. beritahukan 11 nominatormu.
Continue reading “Liebster Award – Discover New Blog”

Suami dan 15 Mangkok Mie Ayam yang Terkutuk

Bagi si suami dan Ziza, ini adalah lebaran pertama mereka. Lebaran pertama bersama. Lebaran pertama yang dirayakan cuma berdua. Lebaran pertama di perantauan, jauh dari keluarga tempat mereka berasal. Tentu saja ini berat bagi si suami (pada mulanya)

Tetapi menurut si suami, untuk berhari raya jauh dari keluarga, jauh lebih berat bagi Ziza. Dan menjadi bertambah lebih berat lagi baginya berkat 2 hal yang mungkin ia sesali: suaminya dan 15 mangkok mie ayam yang terkutuk

Hanya Allah yang tahu betapa mangkok-mangkok mie ayam di atas begitu menguras hati Ziza. Sementara suaminya yang berkontribusi hanya 1-2% dari proses pembuatan menjadikan segalanya semakin berat.

Si suami cukup mengerti kalau Ziza tidak sering memasak sebelum menikah dulu. Mendadak ia mesti memasak porsi banyak untuk menjamu tamu yang belum ada setahun dikenalnya. Stress? Bukan kepalang. Fakta bahwa si suami hampir tidak membantu membuat segalanya semakin parah.

Pada akhirnya 15 mangkok mie ayam tersaji juga. Tersusun kompak membangun menara. Sambil menata, si suami tahu ada keringat dan air mata di balik proses lahirnya tumpukan mie itu. Untungnya, para tamu tidak tahu. Mungkin mereka akan sungkan memakannya andaikan tahu cerita di belakang layar. Bersama perut yang kenyang mereka menyantap, lalu berangsur pulang.

Tinggallah si suami dan sisa mangkok mie ayam yang terkutuk. Mencoba berdamai dalam, saling mengisi, saling berlindung, tak termaafkan di bawah langit mendung idulfitri.

Honeymoon Backpacking: Jogja

Halo

Sudah lama sejak terakhir kali saya membuka blog (Tapi istri saya tetap lebih lama! HAHAHA!). Maaf ya apabila komen-komen yang tersampaikan pada postingan sebelumnya belum/tidak terbalas. Percayalah, baru menjadi suami-istri artinya mengesampingkan hal-hal keduniaan kecuali pasangan kita. Yap. Jangankan blog, sosmed dan kerjaan kantor pun dengan senang hati diduakan demi pasangan. Saya mulai mengerti arti “dunia milik berdua, yang lain ngontrak.” Karena ketika baru menikah, dunia saya hanya tentang saya dan Hajar Azizatun. Dan saya tidak keberatan karenanya.

Hmm… saya pikir setiap nyawa yang sedang jatuh cinta dapat mengerti.

Nah, cerita ngebucin kami belum selesai. Mumpung ada kesempatan saya mau berbagi sedikit cerita pasca “SAH!”. Ada banyak hal yang terjadi sebulanan pasca menikah yang ingin saya abadikan dalam bentuk tulisan. Misalnya cerita jalan-jalan bulan madu atau kehidupan pasca nikah. Hmm… berbicara kehidupan pasca menikah adalah satu hal yang tak akan ada habisnya untuk dibahas. Tetapi untuk bulan madunya saja, saya pikir masih bisa dirangkum dalam beberapa postingan postingan blog. Tenang. Tentu saja postingan ini Safe For Work *kedip

Honeymoon Backpacking

Kalaulah ada istilah “honeymoon backpacking”, saya rasa istilah itu dapat digunakan dalam perjalanan bulan madu saya dan Ziza. Kami mengunjungi banyak kota dengan transportasi umum sambil tetap memegang prinsip “semurah-murahnya”. Maklumlah ya. Kami tak mengalokasikan banyak dana untuk bulan madu. Tapi apa daya hasrat jalan-jalan ingin terpuaskan, akhirnya ngebolang jadi pilihan.

Sekurang-kurangnya ada 9 kota yang kami kunjungi selama fase bulan madu yang manis itu. Sebagian besar dari kota itu kami datangi karena ada keluarga atau teman yang ingin dikunjungi. Dan ini dia Honeymoon Backpacking edisi Jogja Continue reading “Honeymoon Backpacking: Jogja”

SAH!

Hai

Ini postingan pertama saya selepas wisuda dari status jomblo (HAHA!). Mengenai pernikahan saya dan Ziza, alhamdulillah semua berjalan lancar. Dan kini sudah lebih seminggu kami menikah. Apa yang bisa dikonfirmasi dari pernikahan berumur seminggu ini adalah menikah rasanya manis luar biasa! Pantas saja ada yang menikah berkali-kali.

Ramai, ramai, ramai sekali tamu berdatangan ke pernikahan kami. Sesuatu yang saya pribadi tidak harap/ekspektasikan. Saya merasa menyalami seribu tangan pada pernikahan kemarin, plus memasang pose senyum pepsodent selama 2 jam full. Tentu saja melelahkan. Rahang senyum pun berasa kaku. Tapi di akhir hari, para tamu ikut menjadi alasan kami berbahagia di hari itu. Terima kasih!

Terima kasih atas ucapan selamat dan doa dari teman-teman sekalian. Sulit mengungkapkan seluruh cita kami ketika menerima selamat-doa baik di blog ini maupun media lainnya. Harapan kami, tiap samawa yang disampaikan kian mendekatkan kami ke pernikahan ideal dunia akhirat

Ini ada bonus foto pernikahan kami kemarin. Random banget sih emang dari berbagai kamera. Tapi nikmati sajalah ya wahai netizen

Abah-Umi Semarang

Bersama keluarga batam

Pulang Sore Kemarin

Kemarin sore saya memutuskan untuk main ke rumah semasa saya SMA setelah sekian lama. Jaraknya tidak dekat, kira-kira 18 km. Itu jarak yang terbilang jauh untuk tempat sekecil Batam. Sempat ragu, akhirnya saya putuskan untuk pergi saja ke rumah tersebut. Saya pikir waktu saya tak banyak di Batam. Kalau tidak pergi kemarin, entah kapan lagi akan terwujud

Waktu sudah menunjukkan jam 5 lewat waktu itu. Dan meski sudah memprediksi jalanan akan dipadati jiwa-jiwa kelelahan sehabis kerja, tapi tak menyangka akan seramai kemarin. Jalanan macet setidaknya untuk 2 km. Suatu pemandangan langka bagi saya yang sekarang. Mungkin karena kelamaan di pulau, untuk sesaat saya merasa senang merasakan macet. Menyedihkan memang.

Perasaan senang tersebut tak bertahan lama. Saya sadar langit sudah semakin gelap, tanda tak lama lagi azan. Rencana saya pada mulanya adalah shalat maghrib di tempat tujuan. Rencana yang semakin sulit diwujudkan karena macet ini. Sepeda motor pun saya paksa meliuk-liuk di antara cahaya merah lampu mobil demi melangkahi macet yang ada, menanti lampu hijau, hingga akhirnya melaju mulus di bawah langit yang semakin gelap.

Batam tetap sama sekaligus berbeda setelah lama tidak saya tinggali. Ia masihlah panas. Orang-orangnya pun masih sangat beragam suku, dengan cara bicara yang mungkin akan dikatakan kasar bagi pendatang. Tetapi di luar itu, Batam terus menjadi berbeda. Ia terus membangun. Di atas tanah gersang ini kian bermunculan pabrik-pabrik, perumahan, dan aspal-aspal yang terus melebar-memanjang. Aspal tersebut bahkan tak lagi memijak tanah, seiring dibangunnya flyover besar kebanggaan orang kota.

Ada rasa nostalgia seiring saya melaju dengan sepeda motor. Saya rasa, masing-masing dari kita memiliki kota yang hanya di kota itu kita merasa di rumah. Dan rumah, layaknya rumah, tak pernah salah untuk kembali pulang ke rumah.

Saya Akan Menikah

Langsung aja ya.

Insyaallah saya akan menikah dengan Hajar Azizatun, atau pemilik blog Unknown Person, atau yang biasa dipanggil Ziza di dunia perblogan. Hahaha.

hal 1

Hmm… lagi-lagi saya disalip Ziza untuk menulis tulisan yang serupa. Yah mau gimana lagi. Mungkin yang akan saya tulis selain sebuah pengumuman, ada sedikit jejak rekam kami dari awal bertemu. Hitung-hitung melengkapi tulisannya Ziza. Nggak papa ya dek ditambah dan dilengkapin dikit tulisannya. Nanti gantian deh biar kamu yang ngelengkapin aku dan agamaku.

Saya rasa, baik saya dan Ziza (atau Hajar) sama-sama telah menunggu tanggal 24 November nanti sejak lama. Yak, sejak lama. Kami pertama kali saling mengenal sejak Januari 2016. Dan sejak saat itu, tanpa sadar kami semakin dekat hingga akhirnya sampai ke titik ini. Kurang dari sebulan sebelum pernikahan.

Meski sama-sama bermain blog, saya dan Ziza mencoba setertutup mungkin akan hubungan kami (kayaknya sih hmm). Bagaimana tidak, kami hanyalah teman blog pada awalnya. Hanya orang yang saling mengenal secara online alias bukan siapa-siapa. Siapa sangka hubungan kami menjadi lebih serius seserius sekarang. Saya rasa masing-masing dari kami mencoba untuk biasa saja pada mulanya, tidak terlalu dekat dalam menjalani hubungan. Tidak untuk diseriusi. Toh cuma “teman blog” atau “teman chat”. Tapi kemudian lama-lama akhirnya bablas juga. Yang namanya perasaan susah banget ya dikontrol. Sama orang yang jauhan dan nggak pernah ketemu aja bisa suka hm

Tulisan kali ini saya dedikasikan khususnya untuk saya di masa depan. Sebagai catatan dan pengingat bagaimana perjalanan saya dan Ziza yang bermula dari salam kenal di blog hingga saat ini, atau dengan kata lain dari Januari 2016 sampai Oktober 2019. Sebagaimana yang pernah saya katakan dulu di blog ini, blog adalah catatan perjalanan hidup. Dan karena seorang Hajar Azizatun penting, bahkan bakal menjadi semakin penting dalam hidup-mati saya, alangkah baiknya dia ikut tertulis.

Yah, mungkin juga tulisan ini bisa diartikan sebagai ungkapan rasa syukur, bahwa betapa bersyukurnya saya dapat dipertemukan dengannya lewat cara paling tak terduga. Bahwa seperti ungkapan rasa syukur saya yang sebelum-sebelumnya, seorang Hajar Azizatun kembali tertulis di blog ini, untuk yang kesekian kalinya. Bahwa setelah mengetahui baik dan buruknya ia, saya semakin bersyukur telah mengenalnya. Yang entah ia sadar atau tidak, telah saya jadikan plan A dalam hidup saya sejak lama. Masih tanpa plan B (*kedip)

6 Januari 2016: Sebuah Salam Kenal

Januari 2016. Hampir setahun sudah blog saya ada. Tetapi baru sejak Desember 2015 kemarinnya saya baru membuka diri, yang artinya belum ada sebulan saya mencoba menjelajah dunia blog dengan blogwalking. Teman blog saya waktu itu baru satu atau dua, di antaranya yang paling saya ingat adalah Mbak Pradita Maulia dan Mas Slamet Parmanto. Mereka berdua saat itu diam-diam saya jadikan panutan dalam ngeblog hehe. Sayangnya, keduanya sudah jarang ngeblog kini. Saya pun juga sama HAHAHA.

Saya tengah giat-giatnya mencari follow-an blog saat itu. Mencari follow-an dan follower lebih tepatnya wkwk. Lalu entah bagaimana persisnya, sampailah saya di blognya Ziza. Pada waktu itu, kultur blog yang ada adalah dengan mengunjungi halaman About/Tentang, meninggalkan jejak yang biasanya diakhiri “salam kenal”, kemudian mengomentari salah satu postingan blog yang ada. Kebiasaan itu sepertinya lenyap kini. Memang kurang praktis untuk dilakukan di smartphone sih, jadi wajar kultur tersebut ditinggalkan.

Di bawah ada percakapan pertama saya dan Ziza di dunia blog. Tentu saja keluar jurus SKSDnya hahaha. Entah apa yang ada di pikiran Ziza waktu itu saat membacanya hmm

1 2016 komentar1

Saya yang pertama kali mengunjungi blognya Ziza. Ia gantian berkunjung tak lama kemudian. Sama sekali tak ada dugaan waktu itu kalau percakapan pertama kali di blog waktu itu menjadi awal mula dari kisah yang panjang.

1 2016 komentar2

“Semoga bisa terus silaturahim ya!”

Agustus 2016: Sebuah Komentar di Blog dan Balasan-balasannya

Selepas perkenalan itu, saya dan Ziza tak memiliki momen-momen khusus. Saya melihat dia sebagai teman blog yang hanya sesekali muncul, yaitu ketika dia patah hati. Rasanya dulu memang begitu. Ziza tak begitu sering muncul di blog, namun sekalinya muncul, tulisannya galau merana. Saya menduga ia pernah patah hati hebat sampai ke tulang-tulang yang mengakibatkannya sulit move on. Yah, kurang lebih begitulah impresi pertama saya terhadap Ziza di blog

Anehnya, Ziza di kolom komentar seolah menjadi sosok berbeda dengan tulisan blog nya waktu itu. Di kolom komentar ia cenderung lebih ceria. Hal itulah yang membuat impresi pertama saya ke dia (tentang galau-galau itu) runtuh perlahan.

Saya kembali membuka halaman-halaman lama di blog untuk memastikan kembali bagaimana kondisi saya dan dia pada kurun waktu ini, dan ternyata memang benar begitu. Ziza dengan beberapa tulisan galaunya efek patah hati yang saya kira kronis, dan saya dengan tulisan singkat nan gaje nya. Yang membuat cukup kaget adalah meski kami sudah berkenalan sejak Januari, baru pada Juli-Agustus saling bertukar komentar di antara kami menjadi lebih intens. Baru di bulan-bulan ini kami mulai rutin mengisi komentar di blog bersangkutan. Setidaknya hal ini membuat saya sadar, untuk benar-benar yakin kita nyaman berkomunikasi dengan orang itu butuh waktu. Termasuk kepada calon ibu negara sekalipun.

1 November 2016: Sebuah Kontak Line

Rutinitas saling bertukar komentar kami terus berlanjut seiring kami memosting tulisan blog. Ziza sendiri masih menulis beberapa tulisan galau dan saya semakin yakin patah hatinya perempuan sulit untuk disembuhkan. Akhirnya rasa penasaran akan Ziza muncul. Sampai berapa lama tulisan galaunya berlanjut? Saya mereservasi tempat di blognya untuk menjadi pengunjung tetap.

Kemudian di suatu postingan, ia menulis tentang tugas UAS nya tentang membuat blog dan bahwa ia membutuhkan “bantuan” penduduk blog sekalian. Tentu tulisan kali itu pun saya komentari. Satu hal yang berbeda di tulisan kali itu adalah saya mencoba mencari tahu latar belakangnya Ziza. Eh ternyata Ziza juga balik bertanya. Mungkin penasaran juga dia (HAHAHA!)

Komentar saling berbalas makin panjang hingga akhirnya Ziza berinisiatif untuk meminta kontak Line. Hmm… rasanya agak terbalik ya. Masa’ perempuan yang duluan meminta. Sayangnya, baru ketika ia minta saya berpikir harusnya saya duluan.

92 2019 mintaline.jpg

Jujur geli sendiri membaca gaya komen waktu itu. Lepas dan nggak tau malu. Untunglah Ziza tahan-tahan saja dengan komentarnya. Dan benar, percakapan kami berlanjut di Line. Saya dan Ziza terhubung dengan teman SMA nya Ziza yang waktu itu satu kampus dengan saya. Kemudian kami mulai saling mencari tahu latar belakang lebih dalam kami. Tentang kuliah, keluarga,dan  hal-hal kecil tentang diri masing-masing. 

Saya merasa ada kecocokan gaya chat dengan Ziza. Tentu menyenangkan menemukan teman chat seperti itu. Walau begitu, saya tetap berhati-hati ketika ngechat. Hanya membahas tentang bahasan yang “aman” dan di waktu yang “aman” pula. Kebetulan saya dan Ziza menyukai gambar meme. Tiap minggu saya selalu menyiapkan meme untuk dipamerkan ke dia. Memang pengalaman saya berkomunikasi dengan perempuan tidak banyak. Meme-meme itu sungguh membantu. Oh, gaya chatnya Ziza juga. Andaikata dia tidak responsif, terstruktur, dan masif, tentu saya sudah berhenti ngechat dia sejak lama. Karena jujur saja, sebelumnya saya tidak terlalu betah chat berlama-lama. Berbulan-bulan kemudian saya sadar ada terdapat esuatu dalam gaya chat dan komunikasinya yang perlahan membuat saya berubah.

Kami hanya saling chat seminggu sekali waktu itu. Dan tanpa ia ketahui, saya selalu menunggu waktu seminggu sekali itu.

15 Desember 2016: Sebuah Kabar untuk Main ke Semarang

Kamis. Hari itu saya baru menyelesaikan rangkaian UTS. Lalu sekitar seminggu-dua minggu sebelumnya, saya merencanakan untuk main ke Semarang tanggal 16 Desember. Biasanya saya memang menghabiskan waktu liburan UTS dengan melancong ke kota-kota besar di Jawa dan kebetulan saya belum pernah ke kota lumpia itu. Kebetulannya lagi, ada teman SMA di sana yang bisa ditumpangi bermalam hehe. Toh sudah lama juga tidak berjumpa dengan teman itu dan ada event khusus terkait dirinya

Selain si teman saya itu, tentu saya teringat dengan teman saya satu lagi. Teman blog lebih tepatnya, yang dalam beberapa minggu ke belakang naik pangkat menjadi teman chat. Tentu saya mengabarkan Ziza akan keinginan saya ke Semarang. Sambil berharap ia punya waktu kosong. Bohong kalau saya tak ingin bertemu setelah berkali-kali komunikasi via chat. Ziza, seperti chat-chatnya yang lain yang menyenangkan, menyambut ramah kabar kedatangan saya ke Semarang (meskipun sepertinya ia agak kaget HAHAHA!). Harapan saya terkabul mengetahui ia akan memiliki waktu luang untuk sekadar bertemu esok hari

16 Desember 2019: Sebuah Pertemuan

Jum’at. Saya sudah beberapa kali mendengar bahwa Semarang itu panas. Itu benar. Jam baru menunjukkan angka 6 pagi ketika saya keluar stasiun dan tak perlu waktu lama untuk mengonfirmasi kebenaran panasnya Semarang. Sembari menyapu keringat, kembali saya mengabarkan Ziza akan kedatangan saya. Kami pun membuat janji untuk bertemu di suatu tempat.

Ada banyak hal yang terjadi berikutnya sehingga waktu dan tempat yang sudah dijanjikan terus berubah-ubah. Pada akhirnya kami menentukan Halte BRT di Jalan Pemuda sebagai titik temu kami. Hmm yah, sebenarnya kejadian ini sudah pernah ditulis di sini. Tanggal ini adalah kopdar pertama kami sebagai bloger. Tentu sudah ada postingan tulisannya hahaha. Sila dibaca bagi yang berminat *kedip *kelilipan

Jadi, mungkin saya hanya akan sedikit menambah isi dari postingan itu. Menambah sesuatu yang mungkin Ziza belum tau (HAHA!).

  1. Di chat Ziza tidak pernah bilang kalau ia cantik. Makanya saya sedikit terkejut saat bertemu sosok aslinya. Tapi sekarang mah nggak ada hujan nggak ada angin pun dia bisa dengan pedenya bilang “kurang cantik apa lagi sih aq?” Hmm…
  2. Sejak satu jam pertama pertama bertemu, saya sudah menilai kalau Ziza anak “baik-baik” yang dididik dalam lingkungan islami. Artinya: untuk jalan bersama lelaki berdua saja saat itu bukanlah tindakan yang akan dibenarkan orang tuanya. Terlepas dari salah atau benar penilaian saya, ada perasaan sedikit was-was, takut Ziza tertangkap basah oleh keluarganya kemudian ia merasa tidak nyaman. Perasaan was-was itu perlahan menghilang seiring obrolan kami berlanjut. Dan jadilah kami dua insan berdosa yang berdua-duaan sampai malam.
  3. Salah satu yang membuat saya salut padanya pada kopdar kali itu adalah keluwesannya saat berkomunikasi dengan orang yang baru dikenalnya pertama kali. Saya tahu ia sedikit grogi sewaktu pertama kami bertemu siangnya. Namun seiring jalannya waktu, malu dan groginya kian tidak kelihatan. Dan menurut saya bisa dengan luwes beirnteraksi seperti itu keren sih. Apa karena Ziza anak Ilmu Komunikasi ya hmm
  4. Saya cuma pura-pura teriak takut waktu lari melewati dahan yang banyak monyetnya di Goa Kreo
  5. Pada kopdar pertama saya merasa Ziza di chat dan aslinya sedikit berbeda. Rasanya Ziza lebih ekspresif ketika masuk dalam mode chat dengan segala emotikon dan luapan ekspresinya. Tetapi setelah kopdar-kopdar berikutnya, saya makin mengerti Ziza memang seperti itu. Tidak berbeda. Tidak aneh sama sekali. Belakangan saya pun pernah dikomentari Ziza bahwa di chat saya lebih ekspresif daripada ketemu aslinya! HAHAHA!

Hmmm. Begitulah. Sudah pasti saya masih ingat saat pertama kali melihat Ziza dan momen-momen lain di pertemuan hari itu yang masih saya ingat.

Kembali lagi. Pertemuan hari itu masihlah berjudul kopdar dengan bloger. Saya masih sangat sadar bahwa meskipun merasakan senang di dua hari kopdar bersama Ziza, kami hanya teman blog. Bukan pada taraf dekat yang sudah saling memahami satu sama lain. Meskipun pahit, seketika saya sudah kembali ke Jakarta waktu itu, pertemuan dengan Ziza kemarinnya hanyalah sedikit selingan dari rutinitas. Setidaknya itu yang ada di pikiran saya waktu itu.

Tetapi saya salah. Ada makna makna lebih besar di balik pertemuan kami hari itu. Siapa sangka pertemuan hari itu lagi-lagi menjadi permulaan dari kisah yang lebih panjang? Semoga saya dapat terus mengingat kejadian-kejadian yang tertulis di sini :))

Percaya atau tidak, masih ada banyak-banyak-banyak yang ingin saya tulis. Tulisan ini barulah mencakup perjalanan kami di tahun 2016, sementara untuk menuju ke 2019 ini ada kisah lain yang hendak ditulis (HAHA!). Apa daya. Bahkan ini sudah terlalu panjang saya rasa. Terima kasih bagi yang bertahan membaca sampai ke sini. Semoga diberikan kesempatan untuk menulis perjalanan yang berikutnya~

hal 2

Sekali lagi saya dan Ziza mengundang bloger ataupun sesiapa yang membaca undangan ini pada pernikahan kami nanti. Jikalau kebetulan sedang ada di Semarang pada 24 November nanti, silakan singgah ke resepsi kami. Lumayan bisa makan siang gratis hitung-hitung kopdar dengan dua bloger sekaligus ;))

 

Surat Nikah 1968

Pekerjaan saya membawa badan dan pikiran ini ke satu pintu ke pintu lain, satu pulau ke pulau lainnya. Entah sudah berapa banyak pintu yang dimasuki. Tiap pintu yang saya masuki, selalu ada pelajaran baru yang dapat diambil. Salah satunya: CARI NAFKAH ITU CAPEK! Eh belum cari nafkah ding.

Hmm… ya ya… yang jelas, selalu ada cerita baru setiap kali saya pulang dari rumah responden dan ada 1-2 hal yang dapat dijadikan pelajaran. Atau kalau memang tidak ada yang relevan dijadikan hikmah, setidaknya saya telah melihat a new fantastic point of view, seperti kata Mas Ali Ababwa. Karena di balik setiap pintu, ada kisah dan sudut pandang baru yang dapat dilihat.

Oke. Jadi di balik salah satu pintu di Pulau Senayang, saya menemukan arsip tua yang menjadi saksi berpadunya dua insan. Surat nikah keluaran tahun 1968.

img_1387

Orang zaman dulu tidak memiliki buku nikah. Karena tanda nikah waktu itu masih berbentuk surat, bukan buku. Foto di atas adalah kover paling depannya. Dapat dilihat sendiri, pada masa ini, huruf ‘c’ belum ditemukan dalam ejaan resmi bahasa Indonesia (saatnya pura-pura kaget sambil mengatakan ‘whoaa!’). Begitu pula dengan huruf ‘y’. Hanya dengan memperhatikan hurufnya, kita sudah tahu bahwa surat ini sudah melalui banyak zaman. Syukurlah ia masih bisa bertahan.

Surat ini terdiri dari 6 halaman, termasuk halaman kover ini. Halaman kover berisi informasi mengenai judul surat dan juga lokasi penerbitan surat yang ditulis menggunakan pulpen (dan gaya tulisan tegak bersambung yang kini sudah mulai langka). Ada tempat untuk menaruh foto penganten juga yang sayangnya tidak dipasang.

img_1390.jpg

Lalu di halaman kedua, terdapat informasi mengenai penganten laki-laki, perempuan, wali-walinya, dan juga mas kawin. Sepertinya untuk dua halaman ini, konten yang ada sama dengan buku nikah yang sekarang. Meski konten tersebut terletak di halaman yang berbeda.

Pada informasi maskawin, redaksi yang digunakan adalah “berupa apa dan berapa” sedangkan buku nikah yang sekarang hanya menanyakan “berapa”. Perbedaan yang tidak terlalu penting sebenarnya. Toh tetap mesti mencantumkan berapa banyak gram nya kalau dalam bentuk emas (cmiiw, cuddle me if i wrong). Yang menjadi perhatian saya adalah jenis maskawinnya. Mungkin agak sulit dibaca, tapi maskawin yang dimaharkan berupa “Rp44, kain dan ———–.” Hmm Rp44 sadja…

Di sini ditanyakan pula apakah siap mengucap sigar ta’lik. Apa itu sigar ta’lik? Kita baca di bawah aja ya

img_1388

Masuk ke halaman 3, kita diberikan tutorial singkat tentang bagaimana menjadi suami yang baik. Saya tidak tau apa buku nikah sekarang mencantumkan isi ini atau tidak, tapi setau saya tidak dicantumkan. Jadi sebenarnya saya tau atau tidak ini? Bagi yang tau atau baru menikah mungkin bisa dikasih jawaban de facto nya di komentar

Menurut saya adanya tulisan “kewajiban suami terhadap istri” sangat baik. Setiap calon suami jadi tersadarkan begitu membaca ini, bahwa menjadi suami bukan perkara enaknya saja. Tanggung jawab yang diemban pun bukan sekadar mencari nafkah dan memberi uang bulanan. Misalnya pada kewajiban nomor 2, di mana suami hendaknya senantiasa penuh perhatian dan bermuka manis kepada istri. Ada pula kewajiban nomor 6, yaitu agar istri diberikan kebebasan bergaul dan bergerak di tengah-tengah masyarakat selama masih sesuai dengan syariat.

Kedua belas kewajiban tersebut menggambarkan bahwa masing-masing laki-laki punya tanggung jawab yang besar terhadap perempuannya. Bagaimana tidak, tugasnya untuk memuliakan perempuan kan?

img_1389

Bila di halaman sebelumnya ada kewajiban untuk suami, karena negara ini adalah negara hukum yang adil (harusnya begitu hehe), pada halaman 4 gantian dituliskan kewajiban istri terhadap suami. Kewajiban istri pun sama dengan suami, yakni terdiri dari 12 poin. Sebagai laki-laki rasanya lebih menyenangkan membaca bagian ini hehehe.

Sekilas mata, kewajiban istri di sini lebih singkat kalimatnya dibanding dengan kewajiban suami. Mungkin ada hubungannya dengan tanggung jawab suami yang lebih berat? Entahlah. Yang jelas sama dengan kewajiban suami, kewajiban yang tertulis sifatnya umum dan luas.

Saya rasa ini bisa dijadikan kalimat sakti apabila sang istri nanti kenapa-kenapa. Istri ngambek? Bacakan kewajiban nomor 3. Istri suka diam-diam belanja online sehingga pengeluaran membengkak? Kewajiban nomor 7. Istri ngeluh-ngeluh karena susah sinyal? Kewajiban nomor 11. Postingan ini semestinya saya simpan baik-baik untuk kepentingan di masa depan.

Saya bersyukur sempat membaca kewajiban istri di atas. Setidaknya itu menegaskan menjadi istri itu tidak mudah. Setidaknya memotivasi untuk memudahkan istri menjalankan kewajibannya, dengan cara menjalankan kewajiban suami sejalan-jalannya.

img_1391

Terakhir ada halaman mengenai sighat ta’lik. Mudahnya, sighat ta’lik adalah perjanjian lisan oleh suami terkait kapan talak satu (belum resmi bercerai) dapat dijatuhkan. Sighat ta’lik sendiri adalah produk asli Indonesia. Ia secara resmi diatur dalam perundang-undangan di masa yang lampau. Biasanya, sighat ta’lik ini dibacakan setelah prosesi akad nikah dan tidak termasuk dalam rukun nikah. Sepertinya teks sighat ta’lik ini pun masih ada di buku nikah sekarang (cmiiw)

Saya sempat mencari tau di sini mengenai sighat ta’lik. Katanya:

Dalam sejarahnya, sighat ta’liq talaq muncul bertujuan melindungi istri dari kesewenang-wenangan suami. Seorang istri dilindungi dengan perjanjian khusus dimana jika sang suami melanggar perjanjian tersebut, sang istri berhak mengajukan gugatan perceraian.

Begitulah. Memang kalau dibaca teks sighat ta’lik pada foto, hukum asalnya adalah kewajiban bagi suami dalam syariat Islam. Keempat poin di atas adalah contoh-contoh tindakan kedzaliman suami kepada istri. Sehingga jika salah satu dari pelanggaran di atas dilakukan oleh suami, sebenarnya istri berhak untuk mengajukan gugatan, sekalipun tidak dinyatakan dalam akad nikah. Karena dengan sebatas adanya pelanggaran di atas, istri berhak untuk gugat cerai dengan membayar sebesar Rp2,5 kepada suami.

Hmm… untuk membahas sighat ta’lik ini saja sebenarnya bisa membutuhkan waktu yang panjang. Untungnya ada banyak penjelasan mengenai hal ini di internet.

Oh ya, masih ada halaman lebih terakhir daripada foto di atas. Namun tak terfoto. Isinya tanda tangan mempelai dan pihak KUA kok


Yak, itu dia. Sejujurnya adanya surat nikah ini sewaktu saya bertugas mengalihkan perhatian saya. Rasanya mengagumkan melihat bagaimana kondisi buku nikah zaman dulu. Sekarang bahkan ada yang namanya kartu nikah, lengkap dengan QR Code hmm. Meski posisi kartu nikah tidak mengganti buku nikah, tak menutup kemungkinan ke depannya akan ada terobosan baru yang akhirnya mengganti peran buku nikah. Layaknya ia menggantikan surat nikah. Tak ada salahnya menyimpan buku nikah yang sekarang. Siapa tau pada tahun 2069 nanti, buku nikah yang kita pegang menjadi barang antik.

EH IYA LUPA, SAYA BELUM PUNYA BUKU NIKAH

Ketika Sudah Meninggal Nanti

Bapak pernah bilang:

Kalau mau tau orang itu baik atau nggak, coba liat ketika dia sudah meninggal nanti. Sebanyak apa orang yang datang ke pemakamannya. Sebanyak apa orang yang mengenang kematiannya

dan sekarang kita sudah sama-sama melihat, ketika kita kehilangan satu putra terbaik bangsa. Selamat jalan Pak Habibie.

Lemah

Bukankah menyenangkan menemukan seseorang yang kepadanya kita bisa mengakui segala kelemahan kita?

Seseorang yang bersamanya kita melepas segala baju zirah dan tameng yang telah dikenakan seharian.

Seseorang yang kepadanya diperlihatkan sosok kita yang penuh celah, seakan memintanya untuk mengisi bagian kosong di antara celah tersebut.

Seseorang yang mengatakan pada kita bahwa tak mengapa bila terlihat lemah, dan adalah wajar untuk memiliki kelemahan, dan sesungguhnya segala perasaan ketakberdayaan yang kita rasa sekarang hanyalah sementara.

Bukankah menyenangkan menemukan seseorang yang seperti itu?