Lamar (Pantun Mode)

Tulisan Bold: Calon Mertua
Tulisan Biasa: Lelaki Pede

Bubur sumsum rasanya enak
Masak panaskan jangan berkerak
Assalamualakum pak
Saya ingin melamar anak bapak

Kepulauan Seribu banyak kelapa
Kelapa dipanjat sedaya upaya
Kenalkan dulu kamu siapa
Dan mengapa harus anak saya?

Bubur sumsum beli di kota
Mampir sebentar membeli mentega
Saya hanya bujang tertawan cinta
Karna di mata anak bapak, saya melihat surga

Ke Pasar Senen membeli jamu
Jangan lupa kasih manisannya
Anak muda, manis nian mulutmu
Kalau begitu apa yang kamu punya?

Bubur sumsum kesukaan mertua
Dikasih dua, mintanya tiga
Jangan bapak pusingkan itu semua
Saya mahasiswa kaya cinta

Nona manis duduk termenung
Ke Ancol bujang menjemput nona
Kamu membuat saya bingung
Maksud kamu, kamu mahasiswa durjana?

Bubur sumsum begitu dicita
Sumsum tak ada, ketanpun tak apa
Mungkin mahasiswa miskin harta
Tapi tenang, saya bisa nafkahi dengan cinta

Kota Tua ramai di akhir pekan
Mata dimanja barang kuno
Sayangnya cinta nggak bisa dimakan
Tentu jawabannya…

Iyo?

NOOOOO!!!

Tulisan Bold: Mantan Calon Mertua
Tulisan Biasa: Mantan Lelaki Pede

Advertisements

Beberapa yang Belum Tertulis: Dramaga dan Adik Saya

Cuss.. masih berlanjut dari postingan kemarin nich. Membayar sedikit utang atas keabsenan saya dalam dunia blog. Kali ini saya membahas sedikit tentang adik saya…

Bab II. Filza

Itu nama adik saya. Tahun ini ia mulai berkuliah di IPB. Tentu saja saya senang bukan kepalang. Setidaknya jarak kami hanya menjadi puluhan kilo. Tak lagi menyebrangi lautan untuk bertemu.

Berhubung abangnya (yang secara fisik tidak mirip sama sekali) ada di Jakarta, sudah pasti kedua orang tua Filza memanfaatkan abangnya itu untuk mengurus segala keperluan Filza. Mulai dari pendaftaran ulang mahasiswa, masuk asrama, perlengkapan kamar, sampai pakaian untuk kuliah. Dan sungguh itu sesuatu yang menyenangkan. Banyak hal baru yang dilihat dan dipelajari abangnya itu.

Yang paling pertama mungkin tentang Dramaga dan kampus IPB. Meski sudah beberapa kali mendengar, saya belum pernah merasakan sendiri perjalanan yang harus ditempuh dari Jakarta ke Dramaga. Yang saya tahu kalau tempatnya lumayan jauh. Ternyata benar. Hanya saja perlu ditekankan kata “lumayan” di situ, menjadi LUMAYAN jauh. Untuk saya, sekali jalan dari kos menuju ke IPB dengan angkutan umum (kombinasi angkot-kereta-ojek) butuh waktu kurang lebih 2 jam. Itupun dengan asumsi macet yang normal. Jalanan dari Stasiun Bogor menuju Dramaga itu yang parah benar-benar. Tidak seperti Jakarta yang punya jalan raya cukup besar, jalan di sana cukup kecil. Hanya mampu menampung satu kendaraan di satu jalur. Ditambah lagi dengan ramainya Bogor, lengkaplah sudah untuk resep macet berkepanjangan (yay!)

Namun macet tak selalu menjadi masalah bagi saya. Hidup di Jakarta membuat saya beradaptasi dengan macet. Sudah biasa. Saya hanya baru tau kalau menuju jalan Dramaga-stasiun seramai itu. Yang saya pikirkan adik saya. Tak lama lagi Filza akan menjadi perempuan tangguh yang kebas macet.

IPB sendiri ternyata kampus yang cukup asri. Hijaunya mirip-mirip UI lah. Hanya saja luasnya lebih kecil. Walaupun saya bilang lebih kecil, tetap saja IPB kampus yang luas. Saya belum khatam jalan-jalan di sana karena Filza malas membawa saya jalan-jalan karena menurutnya itu terlalu luas untuk dibawa “jalan-jalan”. Lalu seperti kawasan-kawasan PTN lainnya, di sana banyak sekali mahasiswa berseliweran. Dan coba tebak, mereka tidak memakai seragam! Wow! Berbeda sekali dengan kampus saya.

Sebelum persiapan sidang, saya rutin tiap minggunya main ke IPB. Lumayan. Hitung-hitung rekreasi sambil melihat Filza. Adik saya itu selalu punya cerita baru untuk disampaikan. Seperti bagaimana ia mencoba meniru temannya yang teramat hemat dengan hanya mengeluarkan Rp 5000 untuk makan tiap harinya atau bagaimana teman-temannya yang berdomisili Jabodetabek bisa pulang setiap minggunya sedangkan ia mesti pindah ke kamar temannya agar tak kesepian. Saya selalu suka mendengar ceritanya pun bahagia melihat sosoknya yang tak berubah.

tenor

Kalau dari luar, Filza kelihatannya seperti orang kena tipes. Lemes banget asli. Orang yang tidak mengenalnya mungkin akan mengira ia introvert pemurung yang sering sakit-sakitan. Yah, itu salah besar. Saya telah mengenalinya sejak ia lahir dan ia jauh dari kata introvert ataupun pemurung yang sakit-sakitan. Memang ia tak lagi sama seperti dulu, seorang anak kecil perempuan yang ekspresif dan humoris. Sekarang entah bagaimana sifat ekspresifnya itu menghilang. Tetapi tidak selera humornya yang unik (yang saya sukai) dan pribadi ramahnya. Percaya atau tidak, setiap kali saya jalan bersamanya, ia selalu menyapa senyum semua orang yang ia lewati baik kenal ataupun tidak. Sebagai balasan, banyak juga yang menyapanya lebih dulu, bertanya siapa lelaki besar yang berjalan di sampingnya, lalu seperti biasa lawan bicaranya itu seakan tak percaya bahwa kami adalah kakak-adik. Kemudian seperti biasa pula, senyum ramahnya itu kembali ia antarkan ke tiap lawan bicaranya sewaktu berpisah.

Dan yang paling saya senangi, ia kelihatan sehat dan baik-baik saja. Ia masih cuek dalam berpakaian, cara tertawanya masih seperti orang kena asma, dan masih saja suka bercerita tentang sesuatu yang sebenarnya tak penting. Itu, beserta kualitas-kualitas lain dalam dirinya, sungguh menandakan betapa spesial dirinya pun membuat saya bahagia ketika bertemu. Bertemu dengannya selalu menjadi tanggal merah dalam kalender saya

Beberapa yang Belum Tertulis: Skripsi

Hi. Saya pernah bilang kalau Semut Hitam ini adalah blog pribadi. Jadi jangan heran kalau di dalamnya ketemu dengan tulisan anarsis (anarkis+narsis). Pada mulanya tidak seperti itu. Dulu kebijakannya tidak ingin memosting tulisan yang eksplisit membahas pribadi. Yah kalau dibias-biaskan sedikit sih pernah. Yang pasti diusahakan tidak anarsis. Namun lambat laun, jiwa narsis ini memberontak dan menuliskannya di blog pun menjadi tak terhindarkan. Beginilah jadinya Semut Hitam. Jadi jangan heran kalau ketemu hal-hal nggak penting di sini. Ah, memang dominannya nggak penting sih -_-

Oke. Bisa dibilang ini tulisan pertama yang dibuat murni dalam ruang lingkup ‘blogging’ setelah sekian lama. Banyak-banyak-banyak yang terjadi ke dalam hidup saya selama tidak nangkring di Semut Hitam ini. Mungkin baiknya saya rangkum menjadi beberapa postingan ya. Hitung-hitung memperbanyak postingan juga (peace) (more…)

Karenanya

Pagi itu aku bangun dengan perasaan baik. Amat baik. Entah mengapa rasanya ringan sekali. Aku sendiri tak mengerti. Mungkin sisa tawa tadi malam. Mungkin aku bermimpi sesuatu yang menyenangkan tetapi melupakannya. Atau mungkin aku mulai gila, tersenyum sendiri tanpa alasan. Entahlah. Apapun kemungkinan itu, ini semua pasti karenanya.

Aku sama sekali tak menyesali fakta selalu hadirnya ia, bahkan ketika aku tak ingin sadar ia ada. Dan tak pernahnya aku bosan mengenang ia kupikir menjadi satu bukti bahwa aku telah dibodohkannya. Yah. Aku sama sekali tak keberatan bodoh karenanya

Kemudian aku awas hidupku harus berjalan. Aku ingat betul apa-apa saja yang harus kulaksanakan hari itu dan energi meluap-luap dari euforia pagi selayaknya kujadikan baterai hingga akhir hari nanti. Dan percaya atau tidak, tak ada sama sekali rasa takut meski sebenarnya aku harus menempuh banyak hal. Aku menyenangi hal itu. Lalu kesenangan pagi itu turut aku tularkan ke semuanya. Ke matahari yang bersinar cerah dan awan-awan yang menari-nari, ke selasa dan hari libur yang semu, dan tentunya kepadanya. Aku sama sekali tak malu meneriakkan kata-kata syukurku kepadanya dan sama sekali tak malu sekalipun ia tak mengerti mengapa. Mungkin kalau aku sudah memiliki cara untuk mengatakannya dengan lebih baik, aku cukup menambahkan “karenanya” karena ini memang karenanya.

Karena seseungguhnya aku amat berterimakasih atas keberadaannya. Menyadari bahwa dia ada sungguh membuatku bahagia. Andai ia tau. Andai ia tau ini ada karenanya.

 

19.11
yang seharusnya menjadi sebuah kejutan

Ada Juga Laki-laki yang Tidak Jago Bermain Layangan

Hey. Sepertinya di Jakarta tempatku tinggal kini sedang musim layangan. Yah, bisa kubuktikan dengan mudah. Aku cukup menengok keluar jendela, lalu terlihatlah layangan mengudara. Dan setelah menjadi pengamat selama bertahun di sini, aku sampai pada satu kesimpulan: anak Jakarta adalah salah satu penerbang layangan terhebat di dunia.

Mengapa? Karena di tengah kawasan padat pemukiman, di antara tiang dan kabel listrik yang berjuntai-juntai, dan di celah-celah gang padat, mereka masih dapat membuat layangan tinggi mengudara. Mereka tidak pergi berkelana jauh ke taman atau lapangan kosong (kalau memang ketemu) hanya demi bermain layangan. Buat apa? Gang dan jalanan depan rumah adalah kerajaan bermain bagi mereka. Tak peduli seramai apa jalan tersebut

Jadi bayangkan saja. Seharusnya jalan yang ramai dilalu lalang orang dan kabel listrik malang melintang bisa menjadi alasan yang bagus jikalau mereka tidak bisa main layangan. Tetapi tidak. Banyak dari mereka yang sudah menjadi expert di bidang perlayangan. Sudah menguasai teknik-tekniknya

Sebelum menjadi sedewasa sekarang, aku tidak pernah begitu menyesal karena tidak bisa main layangan. Namun sekarang sedikit berbeda. Ada satu kemampuan yang tidak dipelajari karena tidak bermain layangan, yaitu kemampuan tarik ulur. Malu melihat mereka yang masih anak-anak sudah jago tarik ulur sedangkan aku di sini tak kunjung menguasaInya. Padahal skill tarik ulur penting dikuasai bagi insan laki-laki.

Mengingat

Bentuk cinta paling dasar adalah mengingat.

Pun sama dengan pasifnya. Diingat berarti dicinta.

Aku senang ketika suatu pagi aku hidup, mengingat, dan mengeja Tuhanku,

aku lalu sadar akan hidupnya kau dalam ingatanku

 

Aku mengingatmu meski kau tak ingatkan

Tapi kalau memang kau ingatkan,

aku tahu kau mengingatku

dan aku pun akan terus menunjukkan bahwa aku mengingatmu

sampai Tuhan mengatakan cukup

Ya

 

Kopdar Bersama Winda Bungahahihuheho dan Halipiani

Hi. Kurang lebih seminggu yang lalu, saya melakukan kopdar lagi lho. Kopdar yang ke-5 bersama Semut Hitam. Dan seperti biasanya, saya selalu menjadi yang paling belakang menuliskannya di blog hmm. Kondisi biasa saja nulis tulisan kopdar basi, gimana dalam kondisi dihantui skrips* gini -_-. Yah, karena ini tentang kopdar, ini jadi wajib untuk dituliskan.

Kopdar terakhir ini amat berbeda dengan yang sebelum-sebelumnya. Di mana letak berbedanya? Jawabannya adalah di (1) ini adalah kopdar pertama yang terlaksana karena adanya grup Obrolin. Karena bloger yang ikutan kopdar ini murni saya kenal dari grup itu. Tidak dari readers atau kolom komentar seperti sebelum-sebelumnya. Jadi, terima kasih untuk Obrolin telah memberikan kami jalan! (hmm.. mudah dimisinterpretasikan ya).

Lalu, (2) kopdar ini adalah yang pertama kalinya dilaksanakan dengan bloger yang juga tinggal di Jakarta. Yah, sedih aja sih kalau punya niat ketemu bloger ini dan itu tapi yang dekat malah tidak dijamah. Karena tinggal berdekatan, saya yakin kami bisa saling berbagi tentang macet, tentang polusi, tentang transjakarta, tentang KRL, dan tentang semuanya yang kalau disebutkan terbayang dengan kata “Jakarta”. Di samping itu, saya sendiri cukup excited akan mendapatkan teman di Jakarta, di luar teman area kampus-warteg.

(3) kopdar ini yang pertama kalinya dilakukan dengan 2 bloger sekaligus. Harusnya lebih dari dua malahan -_-. Jujur awalnya agak bingung mau ngapain aja bertiga ngumpul. Mau main catur orangnya kelebihan. Mau main bulutangkis ganda campuran orangnya kekurangan. Hmm.. gimana ya. Sepertinya apapun nggak enak dilakuin kalau ada orang ketiga (eh?). Namun, semua kebingungan saya tentang agenda kopdar menghilang ketika saya bertemu dengan mereka. Ah, saya lupa ini kopdar! Ngelakuin apa aja rasanya pas (dengan asumsi canggung udah ilang, malu sudah dibuang, kompak sampai pulang)

Jadi siapa kedua orang beruntung itu yang berkesempatan kopdar bareng saya (hoek)? Beri sambutan meriah pada Winda dan Halipiani! Yay! (Prok prok prok)

Winda dan Halipiani adalah perempuan. Suatu fakta yang sebenarnya sudah bisa diketahui dari namanya namun entah kenapa tetap saya ceritakan. Kurang lebih mereka seumuran lah dengan saya. Beda hitungan bulan saja. Baiknya saya beri deskripsi sedikit tentang mereka. (more…)

Skripsi dan Blog

Sudah sangat lama sejak terakhir kali saya berkunjung ke blog. Hitungannya sudah masuk bulan. Selama kekosongan itu, alhamdulillah masih ada saja orang yang kesasar ke Semut Hitam. Lewat pencarian tak lazim di google atau teman-teman koloni wordpress yang tetap datang silaturahim walaupun orangnya nggak ada. Saya sendiri sangat mensyukuri teman-teman yang tetap berkunjung ke sini walaupun penghuninya sedang melipir entah ke mana. Itu sangat berarti. Ah ya, mohon maaf juga karena tiba-tiba absen dari peredaran blog teman-teman ­čśŽ

Tentu ada alasan mengapa waktu-waktu belakangan ini jadi makin jarang main ke blog. Alasan tersebut berhubungan dengan status saya sebagai mahasiswa tingkat akhir. Mahasiswa basi.┬áSelama menjadi mahasiswa yang lebih ‘seger’ (yah meski dulu nggak seger-seger amat sih), rutinitas kampus jelas lebih padat. Lebih padat ketimbang saat ini. Ada kesibukan organisasi, kuliah dengan SKS yang lebih banyak, juga kesibukan mengejar perempuan. Meski begitu, menjadi mahasiswa basi memiliki tingkat kesulitannya sendiri. Pertama mungkin karena masalah motivasi. Tau sendiri gimana “rajinnya” mahasiswa-mahasiswa tingkat akhir. Absen bisa makin sering, tugas syukur2 dikerjain. Masalah motivasi ini krusial. Dan masalah itu menjadi kombinasi hebat bersama masalah kedua. SKRIPSI. Yak. (more…)

Lumpia Semarang

Bertahun yang lalu, saya bertemu dengan pedagang Lumpia Semarang seperti pada gambar. Lokasinya di depan Gelanggang Remaja Jakarta Timur. Pertemuan itu pun jadi perkenalan pertama saya dengan Lumpia Semarang. Sebenarnya, sebelumnya saya sudah pernah makan Lumpia Semarang. Hanya saja waktu itu Lumpia Semarangnya langsung saya makan tanpa sempat berkenalan.

Oke. Jadi ceritanya waktu itu sedang lelah dan lapar seusai macet-macetan dalam transjakarta (transportasi kita semua…).┬áKebetulan, pedagang Lumpia Semarang ini adalah pedagang makanan pertama yang terlihat begitu keluar dari halte busway. “Lumpia Semarang? Tapi ini kan Jakarta…” Kurang lebih begitu kata batin mengomentari apa yang dilihat. Berhubung lapar, saya pikir tak ada salahnya untuk mencoba membelinya. Toh bagi saya tidak ada makanan yang tidak enak. Yang ada hanya “enak” dan “enak banget”. (more…)

Kisah Hidup Perempuan yang Tak Bisa Tertawa

Satu hari, hiduplah seorang perempuan cantik yang tidak bisa tertawa. Sebenarnya bukan tidak bisa. Namun apabila ia terkekeh sedikit saja, ia merasakan sakit di jantungnya. Oleh karena itu ia selalu menjaga agar tidak tertawa. Meski awalnya berat, ia akhirnya berhasil meniadakan hasrat tawanya. Jadilah ia dikenal sebagai perempuan tanpa tawa.

Tetapi semua berakhir saat ia makan pisang sambil berjalan. Selesai makan, kulitnya ia lempar begitu saja di jalan, mengakibatkan orang di belakangnya terkangkang terpeleset. Si perempuan melihatnya. Ia kemudian tertawa terbahak-bahak, tersedak, lalu mati. Tamat.

Moral: jangan makan pisang sambil berjalan. Jangan buang kulit pisang di jalan

 


Kadang malu bisa berimajinasi sejauh ini hanya karena melihat kulit pisang tergeletak tak berdaya di atas aspal. Mungkin imajinatif. Mungkin delusif. Atau mungkin aku terlalu banyak nonton Spongebob

Selamat libur lebaran