SAH!

Hai

Ini postingan pertama saya selepas wisuda dari status jomblo (HAHA!). Mengenai pernikahan saya dan Ziza, alhamdulillah semua berjalan lancar. Dan kini sudah lebih seminggu kami menikah. Apa yang bisa dikonfirmasi dari pernikahan berumur seminggu ini adalah menikah rasanya manis luar biasa! Pantas saja ada yang menikah berkali-kali.

Ramai, ramai, ramai sekali tamu berdatangan ke pernikahan kami. Sesuatu yang saya pribadi tidak harap/ekspektasikan. Saya merasa menyalami seribu tangan pada pernikahan kemarin, plus memasang pose senyum pepsodent selama 2 jam full. Tentu saja melelahkan. Rahang senyum pun berasa kaku. Tapi di akhir hari, para tamu ikut menjadi alasan kami berbahagia di hari itu. Terima kasih!

Terima kasih atas ucapan selamat dan doa dari teman-teman sekalian. Sulit mengungkapkan seluruh cita kami ketika menerima selamat-doa baik di blog ini maupun media lainnya. Harapan kami, tiap samawa yang disampaikan kian mendekatkan kami ke pernikahan ideal dunia akhirat

Ini ada bonus foto pernikahan kami kemarin. Random banget sih emang dari berbagai kamera. Tapi nikmati sajalah ya wahai netizen

Abah-Umi Semarang
Bersama keluarga batam

Pulang Sore Kemarin

Kemarin sore saya memutuskan untuk main ke rumah semasa saya SMA setelah sekian lama. Jaraknya tidak dekat, kira-kira 18 km. Itu jarak yang terbilang jauh untuk tempat sekecil Batam. Sempat ragu, akhirnya saya putuskan untuk pergi saja ke rumah tersebut. Saya pikir waktu saya tak banyak di Batam. Kalau tidak pergi kemarin, entah kapan lagi akan terwujud

Waktu sudah menunjukkan jam 5 lewat waktu itu. Dan meski sudah memprediksi jalanan akan dipadati jiwa-jiwa kelelahan sehabis kerja, tapi tak menyangka akan seramai kemarin. Jalanan macet setidaknya untuk 2 km. Suatu pemandangan langka bagi saya yang sekarang. Mungkin karena kelamaan di pulau, untuk sesaat saya merasa senang merasakan macet. Menyedihkan memang.

Perasaan senang tersebut tak bertahan lama. Saya sadar langit sudah semakin gelap, tanda tak lama lagi azan. Rencana saya pada mulanya adalah shalat maghrib di tempat tujuan. Rencana yang semakin sulit diwujudkan karena macet ini. Sepeda motor pun saya paksa meliuk-liuk di antara cahaya merah lampu mobil demi melangkahi macet yang ada, menanti lampu hijau, hingga akhirnya melaju mulus di bawah langit yang semakin gelap.

Batam tetap sama sekaligus berbeda setelah lama tidak saya tinggali. Ia masihlah panas. Orang-orangnya pun masih sangat beragam suku, dengan cara bicara yang mungkin akan dikatakan kasar bagi pendatang. Tetapi di luar itu, Batam terus menjadi berbeda. Ia terus membangun. Di atas tanah gersang ini kian bermunculan pabrik-pabrik, perumahan, dan aspal-aspal yang terus melebar-memanjang. Aspal tersebut bahkan tak lagi memijak tanah, seiring dibangunnya flyover besar kebanggaan orang kota.

Ada rasa nostalgia seiring saya melaju dengan sepeda motor. Saya rasa, masing-masing dari kita memiliki kota yang hanya di kota itu kita merasa di rumah. Dan rumah, layaknya rumah, tak pernah salah untuk kembali pulang ke rumah.

Saya Akan Menikah

Langsung aja ya.

Insyaallah saya akan menikah dengan Hajar Azizatun, atau pemilik blog Unknown Person, atau yang biasa dipanggil Ziza di dunia perblogan. Hahaha.

hal 1

Hmm… lagi-lagi saya disalip Ziza untuk menulis tulisan yang serupa. Yah mau gimana lagi. Mungkin yang akan saya tulis selain sebuah pengumuman, ada sedikit jejak rekam kami dari awal bertemu. Hitung-hitung melengkapi tulisannya Ziza. Nggak papa ya dek ditambah dan dilengkapin dikit tulisannya. Nanti gantian deh biar kamu yang ngelengkapin aku dan agamaku.

Saya rasa, baik saya dan Ziza (atau Hajar) sama-sama telah menunggu tanggal 24 November nanti sejak lama. Yak, sejak lama. Kami pertama kali saling mengenal sejak Januari 2016. Dan sejak saat itu, tanpa sadar kami semakin dekat hingga akhirnya sampai ke titik ini. Kurang dari sebulan sebelum pernikahan.

Meski sama-sama bermain blog, saya dan Ziza mencoba setertutup mungkin akan hubungan kami (kayaknya sih hmm). Bagaimana tidak, kami hanyalah teman blog pada awalnya. Hanya orang yang saling mengenal secara online alias bukan siapa-siapa. Siapa sangka hubungan kami menjadi lebih serius seserius sekarang. Saya rasa masing-masing dari kami mencoba untuk biasa saja pada mulanya, tidak terlalu dekat dalam menjalani hubungan. Tidak untuk diseriusi. Toh cuma “teman blog” atau “teman chat”. Tapi kemudian lama-lama akhirnya bablas juga. Yang namanya perasaan susah banget ya dikontrol. Sama orang yang jauhan dan nggak pernah ketemu aja bisa suka hm

Tulisan kali ini saya dedikasikan khususnya untuk saya di masa depan. Sebagai catatan dan pengingat bagaimana perjalanan saya dan Ziza yang bermula dari salam kenal di blog hingga saat ini, atau dengan kata lain dari Januari 2016 sampai Oktober 2019. Sebagaimana yang pernah saya katakan dulu di blog ini, blog adalah catatan perjalanan hidup. Dan karena seorang Hajar Azizatun penting, bahkan bakal menjadi semakin penting dalam hidup-mati saya, alangkah baiknya dia ikut tertulis.

Yah, mungkin juga tulisan ini bisa diartikan sebagai ungkapan rasa syukur, bahwa betapa bersyukurnya saya dapat dipertemukan dengannya lewat cara paling tak terduga. Bahwa seperti ungkapan rasa syukur saya yang sebelum-sebelumnya, seorang Hajar Azizatun kembali tertulis di blog ini, untuk yang kesekian kalinya. Bahwa setelah mengetahui baik dan buruknya ia, saya semakin bersyukur telah mengenalnya. Yang entah ia sadar atau tidak, telah saya jadikan plan A dalam hidup saya sejak lama. Masih tanpa plan B (*kedip)

6 Januari 2016: Sebuah Salam Kenal

Januari 2016. Hampir setahun sudah blog saya ada. Tetapi baru sejak Desember 2015 kemarinnya saya baru membuka diri, yang artinya belum ada sebulan saya mencoba menjelajah dunia blog dengan blogwalking. Teman blog saya waktu itu baru satu atau dua, di antaranya yang paling saya ingat adalah Mbak Pradita Maulia dan Mas Slamet Parmanto. Mereka berdua saat itu diam-diam saya jadikan panutan dalam ngeblog hehe. Sayangnya, keduanya sudah jarang ngeblog kini. Saya pun juga sama HAHAHA.

Saya tengah giat-giatnya mencari follow-an blog saat itu. Mencari follow-an dan follower lebih tepatnya wkwk. Lalu entah bagaimana persisnya, sampailah saya di blognya Ziza. Pada waktu itu, kultur blog yang ada adalah dengan mengunjungi halaman About/Tentang, meninggalkan jejak yang biasanya diakhiri “salam kenal”, kemudian mengomentari salah satu postingan blog yang ada. Kebiasaan itu sepertinya lenyap kini. Memang kurang praktis untuk dilakukan di smartphone sih, jadi wajar kultur tersebut ditinggalkan.

Di bawah ada percakapan pertama saya dan Ziza di dunia blog. Tentu saja keluar jurus SKSDnya hahaha. Entah apa yang ada di pikiran Ziza waktu itu saat membacanya hmm

1 2016 komentar1

Saya yang pertama kali mengunjungi blognya Ziza. Ia gantian berkunjung tak lama kemudian. Sama sekali tak ada dugaan waktu itu kalau percakapan pertama kali di blog waktu itu menjadi awal mula dari kisah yang panjang.

1 2016 komentar2

“Semoga bisa terus silaturahim ya!”

Agustus 2016: Sebuah Komentar di Blog dan Balasan-balasannya

Selepas perkenalan itu, saya dan Ziza tak memiliki momen-momen khusus. Saya melihat dia sebagai teman blog yang hanya sesekali muncul, yaitu ketika dia patah hati. Rasanya dulu memang begitu. Ziza tak begitu sering muncul di blog, namun sekalinya muncul, tulisannya galau merana. Saya menduga ia pernah patah hati hebat sampai ke tulang-tulang yang mengakibatkannya sulit move on. Yah, kurang lebih begitulah impresi pertama saya terhadap Ziza di blog

Anehnya, Ziza di kolom komentar seolah menjadi sosok berbeda dengan tulisan blog nya waktu itu. Di kolom komentar ia cenderung lebih ceria. Hal itulah yang membuat impresi pertama saya ke dia (tentang galau-galau itu) runtuh perlahan.

Saya kembali membuka halaman-halaman lama di blog untuk memastikan kembali bagaimana kondisi saya dan dia pada kurun waktu ini, dan ternyata memang benar begitu. Ziza dengan beberapa tulisan galaunya efek patah hati yang saya kira kronis, dan saya dengan tulisan singkat nan gaje nya. Yang membuat cukup kaget adalah meski kami sudah berkenalan sejak Januari, baru pada Juli-Agustus saling bertukar komentar di antara kami menjadi lebih intens. Baru di bulan-bulan ini kami mulai rutin mengisi komentar di blog bersangkutan. Setidaknya hal ini membuat saya sadar, untuk benar-benar yakin kita nyaman berkomunikasi dengan orang itu butuh waktu. Termasuk kepada calon ibu negara sekalipun.

1 November 2016: Sebuah Kontak Line

Rutinitas saling bertukar komentar kami terus berlanjut seiring kami memosting tulisan blog. Ziza sendiri masih menulis beberapa tulisan galau dan saya semakin yakin patah hatinya perempuan sulit untuk disembuhkan. Akhirnya rasa penasaran akan Ziza muncul. Sampai berapa lama tulisan galaunya berlanjut? Saya mereservasi tempat di blognya untuk menjadi pengunjung tetap.

Kemudian di suatu postingan, ia menulis tentang tugas UAS nya tentang membuat blog dan bahwa ia membutuhkan “bantuan” penduduk blog sekalian. Tentu tulisan kali itu pun saya komentari. Satu hal yang berbeda di tulisan kali itu adalah saya mencoba mencari tahu latar belakangnya Ziza. Eh ternyata Ziza juga balik bertanya. Mungkin penasaran juga dia (HAHAHA!)

Komentar saling berbalas makin panjang hingga akhirnya Ziza berinisiatif untuk meminta kontak Line. Hmm… rasanya agak terbalik ya. Masa’ perempuan yang duluan meminta. Sayangnya, baru ketika ia minta saya berpikir harusnya saya duluan.

92 2019 mintaline.jpg

Jujur geli sendiri membaca gaya komen waktu itu. Lepas dan nggak tau malu. Untunglah Ziza tahan-tahan saja dengan komentarnya. Dan benar, percakapan kami berlanjut di Line. Saya dan Ziza terhubung dengan teman SMA nya Ziza yang waktu itu satu kampus dengan saya. Kemudian kami mulai saling mencari tahu latar belakang lebih dalam kami. Tentang kuliah, keluarga,dan  hal-hal kecil tentang diri masing-masing. 

Saya merasa ada kecocokan gaya chat dengan Ziza. Tentu menyenangkan menemukan teman chat seperti itu. Walau begitu, saya tetap berhati-hati ketika ngechat. Hanya membahas tentang bahasan yang “aman” dan di waktu yang “aman” pula. Kebetulan saya dan Ziza menyukai gambar meme. Tiap minggu saya selalu menyiapkan meme untuk dipamerkan ke dia. Memang pengalaman saya berkomunikasi dengan perempuan tidak banyak. Meme-meme itu sungguh membantu. Oh, gaya chatnya Ziza juga. Andaikata dia tidak responsif, terstruktur, dan masif, tentu saya sudah berhenti ngechat dia sejak lama. Karena jujur saja, sebelumnya saya tidak terlalu betah chat berlama-lama. Berbulan-bulan kemudian saya sadar ada terdapat esuatu dalam gaya chat dan komunikasinya yang perlahan membuat saya berubah.

Kami hanya saling chat seminggu sekali waktu itu. Dan tanpa ia ketahui, saya selalu menunggu waktu seminggu sekali itu.

15 Desember 2016: Sebuah Kabar untuk Main ke Semarang

Kamis. Hari itu saya baru menyelesaikan rangkaian UTS. Lalu sekitar seminggu-dua minggu sebelumnya, saya merencanakan untuk main ke Semarang tanggal 16 Desember. Biasanya saya memang menghabiskan waktu liburan UTS dengan melancong ke kota-kota besar di Jawa dan kebetulan saya belum pernah ke kota lumpia itu. Kebetulannya lagi, ada teman SMA di sana yang bisa ditumpangi bermalam hehe. Toh sudah lama juga tidak berjumpa dengan teman itu dan ada event khusus terkait dirinya

Selain si teman saya itu, tentu saya teringat dengan teman saya satu lagi. Teman blog lebih tepatnya, yang dalam beberapa minggu ke belakang naik pangkat menjadi teman chat. Tentu saya mengabarkan Ziza akan keinginan saya ke Semarang. Sambil berharap ia punya waktu kosong. Bohong kalau saya tak ingin bertemu setelah berkali-kali komunikasi via chat. Ziza, seperti chat-chatnya yang lain yang menyenangkan, menyambut ramah kabar kedatangan saya ke Semarang (meskipun sepertinya ia agak kaget HAHAHA!). Harapan saya terkabul mengetahui ia akan memiliki waktu luang untuk sekadar bertemu esok hari

16 Desember 2019: Sebuah Pertemuan

Jum’at. Saya sudah beberapa kali mendengar bahwa Semarang itu panas. Itu benar. Jam baru menunjukkan angka 6 pagi ketika saya keluar stasiun dan tak perlu waktu lama untuk mengonfirmasi kebenaran panasnya Semarang. Sembari menyapu keringat, kembali saya mengabarkan Ziza akan kedatangan saya. Kami pun membuat janji untuk bertemu di suatu tempat.

Ada banyak hal yang terjadi berikutnya sehingga waktu dan tempat yang sudah dijanjikan terus berubah-ubah. Pada akhirnya kami menentukan Halte BRT di Jalan Pemuda sebagai titik temu kami. Hmm yah, sebenarnya kejadian ini sudah pernah ditulis di sini. Tanggal ini adalah kopdar pertama kami sebagai bloger. Tentu sudah ada postingan tulisannya hahaha. Sila dibaca bagi yang berminat *kedip *kelilipan

Jadi, mungkin saya hanya akan sedikit menambah isi dari postingan itu. Menambah sesuatu yang mungkin Ziza belum tau (HAHA!).

  1. Di chat Ziza tidak pernah bilang kalau ia cantik. Makanya saya sedikit terkejut saat bertemu sosok aslinya. Tapi sekarang mah nggak ada hujan nggak ada angin pun dia bisa dengan pedenya bilang “kurang cantik apa lagi sih aq?” Hmm…
  2. Sejak satu jam pertama pertama bertemu, saya sudah menilai kalau Ziza anak “baik-baik” yang dididik dalam lingkungan islami. Artinya: untuk jalan bersama lelaki berdua saja saat itu bukanlah tindakan yang akan dibenarkan orang tuanya. Terlepas dari salah atau benar penilaian saya, ada perasaan sedikit was-was, takut Ziza tertangkap basah oleh keluarganya kemudian ia merasa tidak nyaman. Perasaan was-was itu perlahan menghilang seiring obrolan kami berlanjut. Dan jadilah kami dua insan berdosa yang berdua-duaan sampai malam.
  3. Salah satu yang membuat saya salut padanya pada kopdar kali itu adalah keluwesannya saat berkomunikasi dengan orang yang baru dikenalnya pertama kali. Saya tahu ia sedikit grogi sewaktu pertama kami bertemu siangnya. Namun seiring jalannya waktu, malu dan groginya kian tidak kelihatan. Dan menurut saya bisa dengan luwes beirnteraksi seperti itu keren sih. Apa karena Ziza anak Ilmu Komunikasi ya hmm
  4. Saya cuma pura-pura teriak takut waktu lari melewati dahan yang banyak monyetnya di Goa Kreo
  5. Pada kopdar pertama saya merasa Ziza di chat dan aslinya sedikit berbeda. Rasanya Ziza lebih ekspresif ketika masuk dalam mode chat dengan segala emotikon dan luapan ekspresinya. Tetapi setelah kopdar-kopdar berikutnya, saya makin mengerti Ziza memang seperti itu. Tidak berbeda. Tidak aneh sama sekali. Belakangan saya pun pernah dikomentari Ziza bahwa di chat saya lebih ekspresif daripada ketemu aslinya! HAHAHA!

Hmmm. Begitulah. Sudah pasti saya masih ingat saat pertama kali melihat Ziza dan momen-momen lain di pertemuan hari itu yang masih saya ingat.

Kembali lagi. Pertemuan hari itu masihlah berjudul kopdar dengan bloger. Saya masih sangat sadar bahwa meskipun merasakan senang di dua hari kopdar bersama Ziza, kami hanya teman blog. Bukan pada taraf dekat yang sudah saling memahami satu sama lain. Meskipun pahit, seketika saya sudah kembali ke Jakarta waktu itu, pertemuan dengan Ziza kemarinnya hanyalah sedikit selingan dari rutinitas. Setidaknya itu yang ada di pikiran saya waktu itu.

Tetapi saya salah. Ada makna makna lebih besar di balik pertemuan kami hari itu. Siapa sangka pertemuan hari itu lagi-lagi menjadi permulaan dari kisah yang lebih panjang? Semoga saya dapat terus mengingat kejadian-kejadian yang tertulis di sini :))

Percaya atau tidak, masih ada banyak-banyak-banyak yang ingin saya tulis. Tulisan ini barulah mencakup perjalanan kami di tahun 2016, sementara untuk menuju ke 2019 ini ada kisah lain yang hendak ditulis (HAHA!). Apa daya. Bahkan ini sudah terlalu panjang saya rasa. Terima kasih bagi yang bertahan membaca sampai ke sini. Semoga diberikan kesempatan untuk menulis perjalanan yang berikutnya~

hal 2

Sekali lagi saya dan Ziza mengundang bloger ataupun sesiapa yang membaca undangan ini pada pernikahan kami nanti. Jikalau kebetulan sedang ada di Semarang pada 24 November nanti, silakan singgah ke resepsi kami. Lumayan bisa makan siang gratis hitung-hitung kopdar dengan dua bloger sekaligus ;))

 

Surat Nikah 1968

Pekerjaan saya membawa badan dan pikiran ini ke satu pintu ke pintu lain, satu pulau ke pulau lainnya. Entah sudah berapa banyak pintu yang dimasuki. Tiap pintu yang saya masuki, selalu ada pelajaran baru yang dapat diambil. Salah satunya: CARI NAFKAH ITU CAPEK! Eh belum cari nafkah ding.

Hmm… ya ya… yang jelas, selalu ada cerita baru setiap kali saya pulang dari rumah responden dan ada 1-2 hal yang dapat dijadikan pelajaran. Atau kalau memang tidak ada yang relevan dijadikan hikmah, setidaknya saya telah melihat a new fantastic point of view, seperti kata Mas Ali Ababwa. Karena di balik setiap pintu, ada kisah dan sudut pandang baru yang dapat dilihat.

Oke. Jadi di balik salah satu pintu di Pulau Senayang, saya menemukan arsip tua yang menjadi saksi berpadunya dua insan. Surat nikah keluaran tahun 1968.

img_1387

Orang zaman dulu tidak memiliki buku nikah. Karena tanda nikah waktu itu masih berbentuk surat, bukan buku. Foto di atas adalah kover paling depannya. Dapat dilihat sendiri, pada masa ini, huruf ‘c’ belum ditemukan dalam ejaan resmi bahasa Indonesia (saatnya pura-pura kaget sambil mengatakan ‘whoaa!’). Begitu pula dengan huruf ‘y’. Hanya dengan memperhatikan hurufnya, kita sudah tahu bahwa surat ini sudah melalui banyak zaman. Syukurlah ia masih bisa bertahan.

Surat ini terdiri dari 6 halaman, termasuk halaman kover ini. Halaman kover berisi informasi mengenai judul surat dan juga lokasi penerbitan surat yang ditulis menggunakan pulpen (dan gaya tulisan tegak bersambung yang kini sudah mulai langka). Ada tempat untuk menaruh foto penganten juga yang sayangnya tidak dipasang.

img_1390.jpg

Lalu di halaman kedua, terdapat informasi mengenai penganten laki-laki, perempuan, wali-walinya, dan juga mas kawin. Sepertinya untuk dua halaman ini, konten yang ada sama dengan buku nikah yang sekarang. Meski konten tersebut terletak di halaman yang berbeda.

Pada informasi maskawin, redaksi yang digunakan adalah “berupa apa dan berapa” sedangkan buku nikah yang sekarang hanya menanyakan “berapa”. Perbedaan yang tidak terlalu penting sebenarnya. Toh tetap mesti mencantumkan berapa banyak gram nya kalau dalam bentuk emas (cmiiw, cuddle me if i wrong). Yang menjadi perhatian saya adalah jenis maskawinnya. Mungkin agak sulit dibaca, tapi maskawin yang dimaharkan berupa “Rp44, kain dan ———–.” Hmm Rp44 sadja…

Di sini ditanyakan pula apakah siap mengucap sigar ta’lik. Apa itu sigar ta’lik? Kita baca di bawah aja ya

img_1388

Masuk ke halaman 3, kita diberikan tutorial singkat tentang bagaimana menjadi suami yang baik. Saya tidak tau apa buku nikah sekarang mencantumkan isi ini atau tidak, tapi setau saya tidak dicantumkan. Jadi sebenarnya saya tau atau tidak ini? Bagi yang tau atau baru menikah mungkin bisa dikasih jawaban de facto nya di komentar

Menurut saya adanya tulisan “kewajiban suami terhadap istri” sangat baik. Setiap calon suami jadi tersadarkan begitu membaca ini, bahwa menjadi suami bukan perkara enaknya saja. Tanggung jawab yang diemban pun bukan sekadar mencari nafkah dan memberi uang bulanan. Misalnya pada kewajiban nomor 2, di mana suami hendaknya senantiasa penuh perhatian dan bermuka manis kepada istri. Ada pula kewajiban nomor 6, yaitu agar istri diberikan kebebasan bergaul dan bergerak di tengah-tengah masyarakat selama masih sesuai dengan syariat.

Kedua belas kewajiban tersebut menggambarkan bahwa masing-masing laki-laki punya tanggung jawab yang besar terhadap perempuannya. Bagaimana tidak, tugasnya untuk memuliakan perempuan kan?

img_1389

Bila di halaman sebelumnya ada kewajiban untuk suami, karena negara ini adalah negara hukum yang adil (harusnya begitu hehe), pada halaman 4 gantian dituliskan kewajiban istri terhadap suami. Kewajiban istri pun sama dengan suami, yakni terdiri dari 12 poin. Sebagai laki-laki rasanya lebih menyenangkan membaca bagian ini hehehe.

Sekilas mata, kewajiban istri di sini lebih singkat kalimatnya dibanding dengan kewajiban suami. Mungkin ada hubungannya dengan tanggung jawab suami yang lebih berat? Entahlah. Yang jelas sama dengan kewajiban suami, kewajiban yang tertulis sifatnya umum dan luas.

Saya rasa ini bisa dijadikan kalimat sakti apabila sang istri nanti kenapa-kenapa. Istri ngambek? Bacakan kewajiban nomor 3. Istri suka diam-diam belanja online sehingga pengeluaran membengkak? Kewajiban nomor 7. Istri ngeluh-ngeluh karena susah sinyal? Kewajiban nomor 11. Postingan ini semestinya saya simpan baik-baik untuk kepentingan di masa depan.

Saya bersyukur sempat membaca kewajiban istri di atas. Setidaknya itu menegaskan menjadi istri itu tidak mudah. Setidaknya memotivasi untuk memudahkan istri menjalankan kewajibannya, dengan cara menjalankan kewajiban suami sejalan-jalannya.

img_1391

Terakhir ada halaman mengenai sighat ta’lik. Mudahnya, sighat ta’lik adalah perjanjian lisan oleh suami terkait kapan talak satu (belum resmi bercerai) dapat dijatuhkan. Sighat ta’lik sendiri adalah produk asli Indonesia. Ia secara resmi diatur dalam perundang-undangan di masa yang lampau. Biasanya, sighat ta’lik ini dibacakan setelah prosesi akad nikah dan tidak termasuk dalam rukun nikah. Sepertinya teks sighat ta’lik ini pun masih ada di buku nikah sekarang (cmiiw)

Saya sempat mencari tau di sini mengenai sighat ta’lik. Katanya:

Dalam sejarahnya, sighat ta’liq talaq muncul bertujuan melindungi istri dari kesewenang-wenangan suami. Seorang istri dilindungi dengan perjanjian khusus dimana jika sang suami melanggar perjanjian tersebut, sang istri berhak mengajukan gugatan perceraian.

Begitulah. Memang kalau dibaca teks sighat ta’lik pada foto, hukum asalnya adalah kewajiban bagi suami dalam syariat Islam. Keempat poin di atas adalah contoh-contoh tindakan kedzaliman suami kepada istri. Sehingga jika salah satu dari pelanggaran di atas dilakukan oleh suami, sebenarnya istri berhak untuk mengajukan gugatan, sekalipun tidak dinyatakan dalam akad nikah. Karena dengan sebatas adanya pelanggaran di atas, istri berhak untuk gugat cerai dengan membayar sebesar Rp2,5 kepada suami.

Hmm… untuk membahas sighat ta’lik ini saja sebenarnya bisa membutuhkan waktu yang panjang. Untungnya ada banyak penjelasan mengenai hal ini di internet.

Oh ya, masih ada halaman lebih terakhir daripada foto di atas. Namun tak terfoto. Isinya tanda tangan mempelai dan pihak KUA kok


Yak, itu dia. Sejujurnya adanya surat nikah ini sewaktu saya bertugas mengalihkan perhatian saya. Rasanya mengagumkan melihat bagaimana kondisi buku nikah zaman dulu. Sekarang bahkan ada yang namanya kartu nikah, lengkap dengan QR Code hmm. Meski posisi kartu nikah tidak mengganti buku nikah, tak menutup kemungkinan ke depannya akan ada terobosan baru yang akhirnya mengganti peran buku nikah. Layaknya ia menggantikan surat nikah. Tak ada salahnya menyimpan buku nikah yang sekarang. Siapa tau pada tahun 2069 nanti, buku nikah yang kita pegang menjadi barang antik.

EH IYA LUPA, SAYA BELUM PUNYA BUKU NIKAH

Ketika Sudah Meninggal Nanti

Bapak pernah bilang:

Kalau mau tau orang itu baik atau nggak, coba liat ketika dia sudah meninggal nanti. Sebanyak apa orang yang datang ke pemakamannya. Sebanyak apa orang yang mengenang kematiannya

dan sekarang kita sudah sama-sama melihat, ketika kita kehilangan satu putra terbaik bangsa. Selamat jalan Pak Habibie

Lemah

Bukankah menyenangkan menemukan seseorang yang kepadanya kita bisa mengakui segala kelemahan kita?

Seseorang yang bersamanya kita melepas segala baju zirah dan tameng yang telah dikenakan seharian.

Seseorang yang kepadanya diperlihatkan sosok kita yang penuh celah, seakan memintanya untuk mengisi bagian kosong di antara celah tersebut.

Seseorang yang mengatakan pada kita bahwa tak mengapa bila terlihat lemah, dan adalah wajar untuk memiliki kelemahan, dan sesungguhnya segala perasaan ketakberdayaan yang kita rasa sekarang hanyalah sementara.

Bukankah menyenangkan menemukan seseorang yang seperti itu?

Twitter

Yak. Oke. Jadi saya bermain twitter. Info yang sangat penting bukan?

Saya ingat pertama kali mengetahui twitter pada tahun 2007-2008. Friendster masih menjadi komoditas panas saat itu. Bersama Facebook, ketiga nama tersebut menjadi starter pack anak gahoel yang hukumnya fardhu ain untuk dimiliki.

Tetapi bagi saya, ketiga benda itu trivial. Dan khusus Twitter, saya baru membuat akunnya sekaligus ‘mencuit’ pada 2017. Selang 10 tahun sejak pertama kali mengenal.

Lalu apa yang bisa saya katakan ketika bergabung? Twitter mengasyikkan

Tak lama sejak bermain Twitter, mudah sekali mengerti mengapa ada banyak sekali yang menggandrungi Twitter. Saya sendiri menyukai Twitter karena ia adalah media sosial hasil perkawinan kata “ringkas” dan “fleksibel.” Satu, ia hanya terdiri dari 280 karakter per tweetnya. Dan dua, retweet dan mention yang memanjakan, yang saking manjanya, segala macam orang bisa kumpul dalam satu forum buat sekadar sambat atau sumpah serapah. Hmm.

Entah bagaimana, Twitter menjadi tempat yang nyaman bagi banyak orang mencurahkan seluruh sambatnya. Saya pun tak mengerti mengapa. Ada macam-macam sambat bisa ditemui di Twitter.

Pertama, sambat indoor. Ini adalah jenis sambat yang hanya si pembuat tweet saja lah yang betul-betul mengerti maksudnya apa. Ia mengeluh, tapi hal yang ia keluhkan hanya ia sendirilah yang tau. Untuk sambat indoor, alangkah baiknya kalau sambatannya dibawa ke doa dan dzikir sehabis shalat. Siapa tau malaikat ikut nge-retweet.

Kedua, sambat outdoor. Sambat jenis ini dapat diidentifikasi dari jumlah retweet dan likes yang relatif banyak. Artinya, sambatan si pembuat tweet ini sudah bermanfaat bagi banyak orang. Entah itu karena menghibur, atau sekadar mewakili perasaan penyambat-penyambat lainnya. Ada kecurigaan bahwa orang yang menyambat outdoor sebenarnya tidak menyambat, tetapi suatu metode agar si pembuat tweet dinotice banyak orang/orang tertentu. Alangkah indahnya jika sambatan outdoor ini juga dibawa selepas shalat. Sambat dan keluhan kita belum tentu dinotice oleh orang-orang, tapi Allah pasti notice

Terakhir, sambat door-to-door. Sambat jenis ini adalah jenis sambat yang dilakukan sembunyi-sembunyi dan terkadang tweet sambatnya disampaikan lewat akun anonim. Biasanya si penyambat melakukan sambat door-to-door dikarenakan ia tidak ingin sisi lain dari dirinya diketahui orang yang ia kenal, tapi di satu sisi ia juga ingin eksis di kalangan orang-orang yang tidak ia kenal. Umumnya si penyambat sudah cukup senang bila sambatannya mengudara di alam Twitter sekalipun dilakukan diam-diam. Alangkah damainya jika prinsip sambat door-to-door ini diikutkan pula dalam shalat. Agar tidak riya dalam beribadah.

Entah apa yang telah saya tulis ini. Terima kasih telah membaca. Wassalam