Beberapa dari Kita Selalu Aman, Sedangkan yang Lain Ingin Lari Darinya

Rekan sejawat saya di ibukota me-retweet amukan massa yang menyerang stasiun MRT ini tahun lalu. Terlepas dari motif apa yang membuat manusia-manusia-berakal-dangkal ini menyerang stasiun MRT (yang jelas tidak ada sangkut pautnya dengan pengesahan RUU Ciptaker), gambaran itu menyiratkan ketidakamanan yang dirasakan teman saya di Jakarta

Lalu beralih lagi ke Daik, tanah lengang nan damai tempat saya berpijak sekarang. Obrolan Jakarta yang ‘kacau’ mengisi kekosongan saya dan Mas-mas Telur Gulung sembari menunggu telur gulung saya matang. Saya bertanya padanya apa ia pernah mencoba peruntungan di Jakarta. Katanya tidak. Ia malas hidup di ibukota. Terlalu padat, terlalu mainstream. Tak cocok untuknya. Sebelumnya ia juga pernah berjualan di Jambi dan Pekanbaru yang ternyata tak seia sekata dengannya. Katanya, baru di Daik ia merasa nyaman. Nyaman karena sekuritasnya. Nyaman karena ia merasa aman.

“Nggak ada preman di sini. Aman. Berjualan juga enak”

Kata “aman” tidak pernah terlintas di benak saya bila itu menyangkut pilihan untuk menetap. Daik memang aman. Jauh dari kekacauan, amit-amit kriminalitas. Sayangnya faktor aman itu tiada saya agungkan. Keinginan untuk berhijrah dari Daik belakangan semakin menggeliat lantaran sudah sekian tahun saya tinggal di Daik. Selama ini saya masih berpegang pada kerlap-kerlip dan kompletnya fitut kehidupan di kota

Tetapi, mungkin kini saya dan Ziza harus mempertimbangkannya. Rasa aman. Damai.

The Art of War dari Sun Tzi

Entah karena paparan dari film apa, sejak dulu saya menganggap buku The Art of War dari Sun Tzu adalah buku paling elite yang pernah ada. Lebih elite (tahukah kalian kalau kata bakunya itu ‘elite’ dan bukan ‘elit’?) daripada kamus oxford. Buku yang hanya dibaca oleh CEO tingkat adiluhung dan hanya dibincangkan oleh kalangan elite dan teman-temannya yang juga elite. Bukan sekali dua kali saya melihat tokoh bijak dalam film mereferensikan The Art of War sebagai sumber segala kearifannya.

Wajar saya versi lebih muda tentu ingin tahu bagaimana isi dan esensi dari buku tersebut. Keinginan itu baru terwujudkan akhir-akhir ini. Saat saya mengetahui, ternyata The Art of War termasuk koleksi gratis yang dapat diunduh dari Apple Books, aplikasi untuk membaca ebooks di Ios.

Bagaimana petikan halaman buku di atas? Luar biasa bijak bukan? Katanya, “Dasar dari segala peperangan adalah tipu muslihat”.

Mungkin beberapa dari kita bisa bilang “ah gitu doang, siapa juga tauk”. Tetapi untuk bisa membuat satu kesimpulan yang representatif dari suatu tema tidaklah mudah. Apalagi dengan kalimat seperti itu. Butuh pemahaman dan pengalaman yang nyata tentang peperangan.

Memang buku ini diciptakan dalam konteks memenangkan perang. Tetapi banyak petuah yang saya rasa dapat dijadikan pelajaran hidup

Meski buku ini bagus, saya tidak yakin akan menghabiskan buku ini sekalipun cuma berjumlah 316 halaman. Belakangan minat membaca saya turun drastis. Hmm… mohon doanya saja ya

Genre Musik

Genre musik adalah perihal selera. Oleh sebab itu, rasanya lucu kalau ada orang yang menganggap satu genre musik berada di kasta yang lebih tinggi dari genre lain. Karena selera orang berbeda-beda.

Saya sebagai penikmat musik selalu mencoba memahami dan menyukai genre penikmat musik lain. Tetapi tidak dengan musik dari kontrakan sebelah.

Apapun genrenya, mereka berisik.

Ceri? Kersen? Kresen?

KBBI mengenalnya dengan kersen. Ziza sedikit berbeda, dengan ia melafalkan “kresen”. Saya sendiri dan banyak kawan Batam saya menyebutnya “ceri”. Yah, yang mana pun istilahnya, saya rasa buah yang mungil nan manis ini banyak memberikan kenangan bagi kita generasi 80-90an.

Ada satu pohon kersen di belakang kantor kami. Lebat buahnya. Saking lebatnya, kalau sedang musim berbuah, buah-buah itu jatuh sendirinya akibat terlalu matang. Wajar saja. Tak banyak makhluk sekitaran kantor yang peduli dengan keberadaan pohon kersen ini. Yang paling sering memanennya adalah monyet-monyet. Oh ya, setahunan ke belakang bertambah satu lagi konsumen tetap pohon kersen ini. Bukan dari golongan monyet, bukan pula binatang melata. Ia dari golongan bidadari beraksesoris pipi tembem. Ziza, istri saya.

Suatu Hari di Kakkoi Semarang

Ulang tahun pernikahan yang ke-1. Tetapi rasanya tidak begitu. Lebih ke pemenuhan nafsu duniawi wkwk

Jadi ke Kakkoi karena Ziza pengen makan all you can eat tipe barbeque. Kebetulan tempatnya baru buka dan masih ngadain promo. Mumpung masih di Semarang, tanpa acara tunda-tunda, langsung call Zahra buat makan di Kakkoi. Kami berdua sendiri baru selesai bikin janji periksa kehamilan di William Booth. Dan akhirnya sampai juga ke Kakkoi sini

Ini pertama kali saya makan tipe all you can eat. Terkhusus untuk Kakkoi, tempatnya nyaman. Cozy untuk makan bareng sekeluarga. Sewaktu pertama kali masuk, langsung deh tu asap bakar-bakar rame-rame nyelinep hidung wkwk. Bau yang sangat menggoda perut sejujurnya.

“Count the memories, not calories”, katanya…

Jenis makanan yang ada di Kakkoi sangat sangat lengkap. Mulai daging ayam, daging sapi, daging ikan fillet, sushi, sate-satean, fish cake, crab stick, shabu-shabu, sampai ke es krim juga ada. Melihat makanan terhampar yang variasinya kelewatan, saya keder. Sebagai pemula, tentu saya tidak mengetahui kalau ternyata ada strategi saat makan di all you can eat restaurant. Misalnya seperti ambil sedikit nasi (atau bahkan tanpa nasi). Atau utamakan mengambil daging, karena tentu orang yang datang ke resto barbeque ingin puas makan bakar-bakaran daging

Maka dari itu. Saya yang membawa piring berisikan ayam dan ikan tentu saja salah. Baru beberapa menit sudah full duluan ini perut. Oh ya, perlu diketahui, sama seperti resto all you can eat lainnya, durasi makan di Kakkoi adalah 90 menit. Bebas makan apapun selama dalam waktu itu.

Untuk saya, periode makan yang benar-benar saya nikmati adalah 30 menit pertama. Lebih dari itu, nikmat makan semakin berkurang seiring berjalannya waktu. Semakin lama semakin tidak nikmat. Rasanya makanan masuk ke perut masuk begitu saja. Langsung ke perut, tidak melewati lidah/mulut.

Kadang miris juga. Untuk mengetahui ‘makan secukupnya’ adalah cara makan yang paling nikmat, kita harus makan yang berlebihan dulu. Hmm…

Mati Air

Tempat kami sedang kesusahan air. Parah parah sekali. Satu kelurahan pontang-panting mencari air.

Memang di sini sedang kemarau. Matahari selalu terik dan pernah berhari-hari tidak turun hujan. Tetapi tempat kami berada di dekat kaki gunung, yang notabenenya merupakan sumber datangnya air bersih. Walaupun alirannya kecil, air sungai masih mengalir. Entah bagaimana air tidak mau mengalir ke rumah-rumah. Sebagian pihak menuding PDAM yang kerjanya kurang bagus, sementara yang lain memilih bersabar. Toh ini bukan pertama kalinya terjadi katanya

Kesusahan air adalah penyiksaan. Saya makin mengerti betapa megahnya kalimat “sekarang air su dekat” oleh saudara-saudara kita di NTT. Tidak seperti listrik, air tidak ada penggantinya. Listrik PLN bisa diganti dengan beberapa energi lain. Sedangkan air? Air putih tidak bisa diganti Sunco, sekalipun beningnya Sunco seperti air. Air untuk cebok pun tidak bisa diganti dengan dengan tayamum.

Banyak orang mengeluh ketika hujan. Sepertinya ini adalah cara Tuhan dalam menyadarkan kita, bahwa hujan adalah sesungguh-sungguh rahmat

2021

Saya yakin saya tidak sendiri yang berdoa agar tahun 2021 ini menjadi tahun yang baik. Setidaknya lebih baik dari tahun lalu. Dengan segala situasi pandemi, bencana alam, bahkan kematian orang yang kita cintai, mengulang segala kejadian di 2020 bukanlah sesuatu yang saya (dan mungkin juga banyak orang lain) inginkan.

Tetapi sayang, jauh panggang dari api.

Tepat tanggal 1 Januari 2021, hujan turun tidak berhenti dua hari berturut-turut di tempat kami. Menyebabkan rumah-rumah terendam banjir bahkan sampai hanyut terseret air laut dan angin kencang. Tiga hari kemudian, atasan saya meninggal dunia. Si bapak pemimpin yang pendiam, tapi suka keramaian. Kematian almarhum begitu mendadak. Sehari sebelum meninggal beliau masih sempat berkomunikasi dengan saya menanyakan pekerjaan.

Lalu ada insiden SJ-182, banjir Kalsel, pandemi yang menjadi-jadi, dan lain-lainnya yang mengisi 17 hari kita di 2021. Telinga dan mata yang pesimis mungkin mencerna semua kejadian ini hanyalah pengantar untuk tahun ini menjadi 2020 yang kedua. Beberapa yang lainnya masih memegang harap pada keadaan baik terjadi di minggu depan atau minggu depannya lagi. Dan sisanya selalu ada mereka yang tidak berekspektasi. Yang terjadi, terjadilah.

Semua akan terlewati juga akhirnya. Baik maupun buruk. Selama waktu terus berjalan.

Rusak

Kau tidak bisa membahagiakan semua orang katanya. Juga tidak bisa mendapatkan semua yang kita inginkan.

Tidak bisa selalu bahagia sepanjang waktu.

Tidak bisa mencita-citakan orang lain menjadi sumber kebahagiaan kita

Tetapi kita bisa, bila itu tentang merasa kecewa

Untuk merasa gagal

Merasa tak diinginkan

Merasa sesal atas semua yang telah dilakukan, tak peduli berakhir baik atau buruk

Pada akhirnya, untuk menjadi rusak, kandas, hampa, adalah hal yang mudah

Terlebih kalau kau mau.

Perspektif Luar dari Youtube

Belakangan saya suka menonton (atau lebih tepatnya mendengar) vlog youtube. Hmm… apa pantas disebut vlog ya? Yah maksud saya video di youtube yang biasanya menampilkan satu orang bercerita mengenai satu atau beberapa hal. Sebuah monolog lewat video. Contoh paling terkenalnya mungkin videonya Agung Hapsah atau Gita Savitri. Tentu banyak lagi contoh lainnya. Kok bisa ya mereka bicara sendiri panjang lebar depan kamera hmm.

Nah, untuk saya saat ini, saya sedang menyukai channelnya Chanee Kalaweit dan Ivy Phan. Ada yang juga menontonnya?

Chanee adalah orang Perancis pelindung satwa alam yang kini tinggal di tengah belantara Kalimantan. Saya rasa ia sudah cukup terkenal sejak kurang lebih 10 tahun yang lalu karena jasanya. Bayangkan, bule jauh-jauh dari Perancis sengaja datang ke hutan Kalimantan untuk melindungi primata. Dan ia sudah tinggal bertahun-tahun di hutan sana!

Ini salah satu episode yang bagus. Mengenai bagaimana caranya punya rumah di tengah hutan tapi jarang digigit nyamuk. Coba perhatikan bagaimana rupa anak mereka atau bagaimana cara Chanee mengucapkan huruf nun sukun

Satu lagi, Ivy, adalah seorang dokter gigi berkebangsaan Malaysia yang baru saja lulus dari kuliahnya di FKG UGM. Yap, UGM yang Universitas Gajah Mada di Yogyakarta. Orang Malaysia yang bercerita tentang masa kuliahnya di tanah Jawa tentu saja menarik. Malaysia yang dianggap serumpun ternyata memiliki banyak-banyak perbedaan dengan Indonesia. Bahkan dari kata ‘beda’ nya saja sudah berbeda/berbeza. Belum lagi dengan cerita kehidupan sehari-hari. Culture shock inilah yang menurut saya menjadi nilai jual videonya Ivy.

Yah, baru tau dia keagungan tangan kanan di Indonesia. Mau dengar orang cina malaysia ngomong sedikit jowo? Temukan di sini!

Saya pertama kali mengetahui Chanee ketika menonton Kick Andy bertahun-tahun yang lalu, namun baru seminggu yang lalu mengetahui channel youtubenya. Sedangkan untuk Ivy baru kenal channelnya juga semingguan yang lalu. Keduanya menurut saya amat menarik untuk diikuti. Orang luar yang bicara Indonesia? Please! Baik Ivy yang bicara bahasa indonesia logat cina malaysia atau Chanee yang sengau-sengau nun sukun khas Perancis bahkan ketika ngomong bahasa indonesia kurang menggemaskan apa lagi coba.

Terlebih topik yang mereka angkat selalu personal, atau dalam kata lain sangat ‘mereka’. Mereka tidak perlu bersusah payah membuat ceritanya menarik, karena menurut saya, cerita mereka yang jujur itulah yang membuatnya menarik. Sudut pandang yang mungkin takkan pernah kita tahu sebelum menonton video mereka. Setidaknya dengan menontonnya, kita menjadi sedikit (memeragakan pose ‘sedikit banget’ dengan tangan) lebih bijak dengan mengetahui perspektif mereka.

Hmm… iya ya, barangkali karena mereka berdua orang luar Indonesia menceritakan pengalaman Indonesianya yang membuat menonton mereka menarik bagi saya. Suatu perspektif luar yang patut dilihat untuk lebih mengenal ke dalam.

Dinginproof

Di tengah rentetan hujan berkepanjangan di Daik, ada satu hal yang semakin ke sini semakin saya sadari: saya tidak sedingin-proof yang dulu. Alias, sekarang gampang banget kedinginan.

Semasa kecil dulu, saya terbiasa tidur tanpa baju di kamar ber-AC. Masa-masa tidur ternikmat yang pernah saya rasa. Di masa itu, seringkali saya “meremehkan” Abah yang tidak tahan dingin. “Masa’ segini doang kedinginan?”, kata seorang anak yang setengah songong, setengah santun. Abah pun seringkali menyanjung (atau menyindir mungkin) betapa nekatnya saya tidur tanpa busana, maksud saya tanpa baju, ketika AC bekerja gigih mengembuskan angin 20 derajat celcius. Ia juga berkilah, bahwa ia yang dulu tentu saja tahan dingin. Abah berkali-kali mendaki gunung. Udara dingin sudah menjadi sahabatnya. Mungkin karena faktor usia, kini tubuh atau kulitnya tidak bisa berkompromi lagi dengan dingin. Bukan sekali-dua kali ia terlihat menggigil karena AC.

I’m slowly becoming him. Saya merasa semakin mirip dengan Abah. Tidak hanya semakin tidak ‘dingin-proof’. Cara berbicara, bagaimana ia menjelaskan sesuatu, bagaimana ia merespons sesuatu, dan detail-detail kecil yang ia lakukan saya temukan ada pada diri saya.

Abah sendiri sudah pernah bilang, “jangan jadi seperti Abah”, yang saya duga adalah konotasi dari “jadilah lebih baik daripada Abah”. Saya sepakat. Meski banyak teladan yang dapat saya ambil darinya, secuil karakteristik kurang baik dan babak-babak tertentu dalam hidupnya menjadikan saya tak ingin menjadi seperti beliau. Saya harus melampauinya, bagaimana pun caranya

Namun apa yang saya dapati dewasa ini adalah sebuah ironi. ‘Secuil karakteristik kurang baik’ yang saya tulis di kalimat sebelumnya ada pada diri saya. ‘Babak-babak tertentu dalam hidupnya’ yang saya katakan ingin dihindari malah saya titi saat ini. Saya semakin dekat ke Abah dalam persona dan pengambilan keputusan. Dan hal itu membuat segala pilihan hidup yang ia ambil, dapat saya maklumi sepenuhnya.

Lebih dari itu, saya amat bangga menjadi anak Abah.
Cacat-sempurnanya Abah, ia yang membentuk saya seperti saat ini.
Tak peduli sekeras apapun saya menyangkal.
Selamat hari ayah, Abah