Entah Mengapa Kepikiran Lagu Anak-anak…

Bintang kecil di langit yang biru~

Tetapi bukankah bintang hanya muncul di malam hari, yang mana langitnya hitam?Kalau biru dongker masih okelah. Dan kalau mau dicari, sepertinya ada beberapa lagi lagu anak-anak yang liriknya bisa dipertanyakan.

Naik kereta api, tut tut tuuuut. Siapa hendak turut. Ke Bandung, Surabaya. Bolehlah naik dengan percuma~

Entah kereta apa yang dinaiki sehingga bayarannya gratis sampai ke Surabaya

Saya rasa sudah ada penelitian makna dibalik lirik lagu anak-anak legendaris kita. Kenapa liriknya begini dan begitu. Kalau ketemu, pasti saya ingin baca.

Ruang Tunggu ini Dingin

Aku baru tahu ruang tunggu rumah sakit bisa sebegitu dinginnya di tengah malam. Ruang tunggu medical check up. Ruang tunggu operasi. Ruang tunggu ICU. Juga ruang tunggu pemeriksaan radiologi. Semua sama dinginnya. Hawa dingin menusuk lalu merambat tiap titik sensor jari.

Kawanku yang masih hidup di ruang tunggu mengeluhkan udara dingin yang kami terpa. Sarung yang kupinjamkan sepertinya tidak terlalu berefek padanya. Sementara itu, kawanku yang satu lagi dalam ruang operasi entah bagaimana kabarnya. Kuharap ia masih bisa merasa dingin sedingin yang kami rasakan.

Setidaknya itu bisa jadi bukti bahwa ia masih hidup. Dan aku betul betul berharap, kawanku satu itu yang berada di ruang operasi, masih hidup ketika menemui kami di ruang tunggu. Lalu bersama merasa dingin yang tidak ada apa-apanya dibanding dinginnya kematian.

Selamat Pagi untuk Kalian

Sempat saya lihat di whatsapp wajah-wajah bahagia pagi ini. Karyawan yang memulai hari dengan berkendara, bayi-bayi bermain, dan para pekerja yang sudah sedari pagi bercengkerama dengan tugasnya. Sementara di luar, langit ceria secerianya sehabis hujan semalam

Tak ada yang perlu ditakuti hari ini. Selamat pagi.

Membeli Bubur Bayi

Setelah sekian kali saya membeli bubur Haura, saya sampai pada suatu kesimpulan: lebih banyak bapak-bapak yang beli dibanding ibu-ibu.

Kesimpulan ini tentu berangkat dari logika sederhana ibu-ibu yang menjaga bayinya di rumah, sehingga bapak-bapak yang bertugas membeli makanan. Atau ibu-ibu yang kurang mobile bergerak ke sana kemari, tidak seperti bapak-bapak yang sat set sat set. Namun apapun alasan itu, saya melihat kami (bapak-bapak) ibarat prajurit menjalankan misi dari jenderal (ibu-ibu). Selain memang karena tugasnya membeli bubur, juga karena rasa hormat.

Pancong dan Pukis

Bak saudara kembar, pancong dan pukis punya bentukan siluet yang sama. Cetakannya sama, tepungnya serupa. Bahkan mereka seringkali ditemukan di dalam satu pasar. Ini membuat saya berpikir, pancong dan pukis ada layaknya alfamart dan indomaret.

Dan saya selalu memilih pancong. Sama seperti saya yang selalu berbelanja di alfamart (*kedip)

Say No to Botak

Dulu ada temanku yang botak awaliyah alias mengalami kebotakan dini. Umurnya 20 waktu itu ketika menjadi bahan olok-olok laki-laki sekelas. Membuatku paham bahwa kebotakan adalah kabar buruk bagi kami kaum Adam, tak terkecuali aku.

Dahulu ia sering mereview banyak macam krim/minyak penumbuh rambut. Sampo metal, Wak Doyok. Sebutlah apapun mereknya. Pasti sudah ia coba. Tapi bak gayung tak bersambut. Kepalanya, terkhusus bagian depan, tetaplah tandus. Cerita reviewnya akan krim Wak Doyok dan saudara2nya seakan menjadi cerita tragedi, namun komedi bagi kami. Naas memang.

“Tak apa bray. Prince William botak. Vin Diesel juga botak,” hiburku sebisanya

Namun kini, temanku yang dulu botak itu kini sudah berambut lebat. Aku melihat foto barunya sambil memegang kemudi mobil di facebook. Rambutnya bahkan berponi ala emo. Lupakan Vin Diesel atau Vin Bensin atau apalah itu. Temanku satu ini telah mendefinisikan kata “keren” dalam poni lebat nan baru miliknya. Aura di sekelilingnya jauh berbeda meski hanya kulihat dari foto. Mungkin bukan cuma karena rambut, rasa percaya diri yang memancar deras membuat sosoknya dalam foto semakin powerful. Dan itu semua dipicu oleh rambut poni baru.

Pesan moral: untuk para lelaki, jangan pernah botak.

Kasta Perkantoran

Mau diakui atau tidak, pengkastaan akan selalu ada. Dalam kehidupan sehari-hari, dalam sekolah, dan tentunya dalam kantor. Saya diingatkan lagi dengan “pengkastaan” ini saat memegang sendok semen ketika gotong royong kantor pagi kemarin. Sendok semen yang dengan senang hati saya terima, karena diberikan oleh atasan saya. Yess. Kasta is a real thing.

Kasta tertinggi, Bos. Seseorang yang paling berkuasa. Telunjuknya punya kekuatan puluhan otak dan otot. Bos biasanya sadar akan powernya, dan tak sungkan mempergunakannya untuk kebaikan kantor atau pribadi

Lalu di bawah Bos ada Senior. Sudah banyak makan asam garam dunia perkantoran. Oleh sebab itu, di banyak kesempatan sudah tahu harus bertindak apa dan bagaimana dalam perkantoran. Senior pelan tapi pasti dapat merangkak jadi Bos. Jadi tak heran kalau ada “bos prematur” di dunia perkantoran.

Di bawahnya lagi ada Junior. Si baru masuk kantor. Pengalaman belum banyak, tapi skillnya cukup. Karenanya menjadi yang terdepan saat mengeksekusi sesuatu. Menjadi yang pertama pula jadi sasaran telunjuk jari untuk mengerjakan hal remeh temeh. Karena posisinya di bawah dengan potensi ke atas beberapa tahun lagi, nasib kasta Junior mengenaskan tapi punya banyak harapan.

Lalu di posisi bawah dan paling bawah, muncullah anak magang. Tempat segala pekerjaan “bawahan” bermuara

Bekal Roti

Saya termasuk pekerja yang punya privilege tinggal tidak jauh dari kantor. Sejak pertama kerja hingga sekarang, jam istirahat lebih banyak saya habiskan ke rumah ketimbang makan di kantor atau tempat lain. Karena sering pulang, otomatis saya juga tak perlu membawa bekal makanan dari rumah. Buat apa? Toh siang juga bakal makan di rumah.

Tetapi hari ini saya membawa bekal roti dari Ziza. Mungkin karena saya yang membeli roti tawar dan meses kemarin. Atau mungkin karena saya Ziza iseng. Tapi bagi saya, bekal ini adalah rupa cinta seorang istri. Sesuatu yang membuat saya begitu bersyukur menjadi suaminya Ziza