Mengingat

Bentuk cinta paling dasar adalah mengingat.

Pun sama dengan pasifnya. Diingat berarti dicinta.

Aku senang ketika suatu pagi aku hidup, mengingat, dan mengeja Tuhanku,

aku lalu sadar akan hidupnya kau dalam ingatanku

 

Aku mengingatmu meski kau tak ingatkan

Tapi kalau memang kau ingatkan,

aku tahu kau mengingatku

dan aku pun akan terus menunjukkan bahwa aku mengingatmu

sampai Tuhan mengatakan cukup

Ya

 

Kopdar Bersama Winda Bungahahihuheho dan Halipiani

Hi. Kurang lebih seminggu yang lalu, saya melakukan kopdar lagi lho. Kopdar yang ke-5 bersama Semut Hitam. Dan seperti biasanya, saya selalu menjadi yang paling belakang menuliskannya di blog hmm. Kondisi biasa saja nulis tulisan kopdar basi, gimana dalam kondisi dihantui skrips* gini -_-. Yah, karena ini tentang kopdar, ini jadi wajib untuk dituliskan.

Kopdar terakhir ini amat berbeda dengan yang sebelum-sebelumnya. Di mana letak berbedanya? Jawabannya adalah di (1) ini adalah kopdar pertama yang terlaksana karena adanya grup Obrolin. Karena bloger yang ikutan kopdar ini murni saya kenal dari grup itu. Tidak dari readers atau kolom komentar seperti sebelum-sebelumnya. Jadi, terima kasih untuk Obrolin telah memberikan kami jalan! (hmm.. mudah dimisinterpretasikan ya).

Lalu, (2) kopdar ini adalah yang pertama kalinya dilaksanakan dengan bloger yang juga tinggal di Jakarta. Yah, sedih aja sih kalau punya niat ketemu bloger ini dan itu tapi yang dekat malah tidak dijamah. Karena tinggal berdekatan, saya yakin kami bisa saling berbagi tentang macet, tentang polusi, tentang transjakarta, tentang KRL, dan tentang semuanya yang kalau disebutkan terbayang dengan kata “Jakarta”. Di samping itu, saya sendiri cukup excited akan mendapatkan teman di Jakarta, di luar teman area kampus-warteg.

(3) kopdar ini yang pertama kalinya dilakukan dengan 2 bloger sekaligus. Harusnya lebih dari dua malahan -_-. Jujur awalnya agak bingung mau ngapain aja bertiga ngumpul. Mau main catur orangnya kelebihan. Mau main bulutangkis ganda campuran orangnya kekurangan. Hmm.. gimana ya. Sepertinya apapun nggak enak dilakuin kalau ada orang ketiga (eh?). Namun, semua kebingungan saya tentang agenda kopdar menghilang ketika saya bertemu dengan mereka. Ah, saya lupa ini kopdar! Ngelakuin apa aja rasanya pas (dengan asumsi canggung udah ilang, malu sudah dibuang, kompak sampai pulang)

Jadi siapa kedua orang beruntung itu yang berkesempatan kopdar bareng saya (hoek)? Beri sambutan meriah pada Winda dan Halipiani! Yay! (Prok prok prok)

Winda dan Halipiani adalah perempuan. Suatu fakta yang sebenarnya sudah bisa diketahui dari namanya namun entah kenapa tetap saya ceritakan. Kurang lebih mereka seumuran lah dengan saya. Beda hitungan bulan saja. Baiknya saya beri deskripsi sedikit tentang mereka. (more…)

Skripsi dan Blog

Sudah sangat lama sejak terakhir kali saya berkunjung ke blog. Hitungannya sudah masuk bulan. Selama kekosongan itu, alhamdulillah masih ada saja orang yang kesasar ke Semut Hitam. Lewat pencarian tak lazim di google atau teman-teman koloni wordpress yang tetap datang silaturahim walaupun orangnya nggak ada. Saya sendiri sangat mensyukuri teman-teman yang tetap berkunjung ke sini walaupun penghuninya sedang melipir entah ke mana. Itu sangat berarti. Ah ya, mohon maaf juga karena tiba-tiba absen dari peredaran blog teman-teman ūüė¶

Tentu ada alasan mengapa waktu-waktu belakangan ini jadi makin jarang main ke blog. Alasan tersebut berhubungan dengan status saya sebagai mahasiswa tingkat akhir. Mahasiswa basi.¬†Selama menjadi mahasiswa yang lebih ‘seger’ (yah meski dulu nggak seger-seger amat sih), rutinitas kampus jelas lebih padat. Lebih padat ketimbang saat ini. Ada kesibukan organisasi, kuliah dengan SKS yang lebih banyak, juga kesibukan mengejar perempuan. Meski begitu, menjadi mahasiswa basi memiliki tingkat kesulitannya sendiri. Pertama mungkin karena masalah motivasi. Tau sendiri gimana “rajinnya” mahasiswa-mahasiswa tingkat akhir. Absen bisa makin sering, tugas syukur2 dikerjain. Masalah motivasi ini krusial. Dan masalah itu menjadi kombinasi hebat bersama masalah kedua. SKRIPSI. Yak. (more…)

Lumpia Semarang

Bertahun yang lalu, saya bertemu dengan pedagang Lumpia Semarang seperti pada gambar. Lokasinya di depan Gelanggang Remaja Jakarta Timur. Pertemuan itu pun jadi perkenalan pertama saya dengan Lumpia Semarang. Sebenarnya, sebelumnya saya sudah pernah makan Lumpia Semarang. Hanya saja waktu itu Lumpia Semarangnya langsung saya makan tanpa sempat berkenalan.

Oke. Jadi ceritanya waktu itu sedang lelah dan lapar seusai macet-macetan dalam transjakarta (transportasi kita semua…).¬†Kebetulan, pedagang Lumpia Semarang ini adalah pedagang makanan pertama yang terlihat begitu keluar dari halte busway. “Lumpia Semarang? Tapi ini kan Jakarta…” Kurang lebih begitu kata batin mengomentari apa yang dilihat. Berhubung lapar, saya pikir tak ada salahnya untuk mencoba membelinya. Toh bagi saya tidak ada makanan yang tidak enak. Yang ada hanya “enak” dan “enak banget”. (more…)

Kisah Hidup Perempuan yang Tak Bisa Tertawa

Satu hari, hiduplah seorang perempuan cantik yang tidak bisa tertawa. Sebenarnya bukan tidak bisa. Namun apabila ia terkekeh sedikit saja, ia merasakan sakit di jantungnya. Oleh karena itu ia selalu menjaga agar tidak tertawa. Meski awalnya berat, ia akhirnya berhasil meniadakan hasrat tawanya. Jadilah ia dikenal sebagai perempuan tanpa tawa.

Tetapi semua berakhir saat ia makan pisang sambil berjalan. Selesai makan, kulitnya ia lempar begitu saja di jalan, mengakibatkan orang di belakangnya terkangkang terpeleset. Si perempuan melihatnya. Ia kemudian tertawa terbahak-bahak, tersedak, lalu mati. Tamat.

Moral: jangan makan pisang sambil berjalan. Jangan buang kulit pisang di jalan

 


Kadang malu bisa berimajinasi sejauh ini hanya karena melihat kulit pisang tergeletak tak berdaya di atas aspal. Mungkin imajinatif. Mungkin delusif. Atau mungkin aku terlalu banyak nonton Spongebob

Selamat libur lebaran

Pada Bulan Ramadhan di Jakarta

Pada bulan Ramadhan di Jakarta, sulit membedakan antara orang yang membangunkan sahur dan orang yang ngajak berantem. Mereka teriak sama lancangnya, membawa perlengkapan yang kurang lebih sama, pun datang dengan kru tawuran yang sama. Ini mengakibatkan pekerjaan mereka sangat efektif. Sukses membangkitkan kesadaran plus membangkitkan amarah orang yang tidur. Mungkin ini cuma balasan untuk diri ini, yang dulu juga kesetanan membangunkan orang sahur. Mungkin cuma karma

Pada bulan Ramadhan di Jakarta, pedagang kembang api, petasan, mercon, dan semua sanak keluarganya dapat ditemui hampir di setiap persimpangan. Mereka dengan mulia memfasilitasi kebutuhan anak-anak Jakarta yang sudah kecanduan suara ledakan petasan. Suara mengagetkan pun dapat terdengar di mana-mana dan kapan saja. Di mana-mana dan kapan saja pula pekik kaget terdengar. Bermain petasan menyenangkan karena kita sudah siap akan ledakannya. Namun bagi yang tidak, petasan ialah celaka. Mungkin ini cuma balasan untuk diri ini, yang dulu juga menyalakan puluhan petasan kala Ramadhan tanpa memedulikan telinga dan jantung makhluk lain. Mungkin cuma karma.

Tapi setelah diingat lagi, pada bulan Ramadhan, diri ini tak pernah terlibat tawuran pasca tarawih maupun pra sahur, tak pernah menyebabkan orang terjebak macet menahun kala maghrib, serta tak pernah pula makan terang-terangan siang hari di pinggir jalan. Mungkin ini bukan karma. Ini cuma Ramadhan di Jakarta

Pra Lahir

Sejujurnya enggan menulis ini. Hm.. tapi yasudahlah. Sudah terlanjur. Hitung-hitung membuat mesin waktu. Baca jika ada waktu. Baca jika tak ada lagi kegiatan yang berguna. Dan terkhusus untuk saya, baca ini ketika ingin berjalan kembali ke masa lalu.¬†Semoga saja 10 tahun sampai 15 tahun yang akan datang wordpress tetap ada, supaya mudah berkunjung ke sini lagi. (more…)

Masakan Abah

Apakah masih ada yang menganggap  laki-laki yang memasak itu tabu? Kalau mungkin masih ada, perlu diingat. Restoran-restoran di luar sana memiliki tukang masak yang mayoritas laki-laki. Sekarang malah terkesan aneh jika head chef dari satu dapur adalah seorang perempuan. Dalam kehidupan sehari-hari pun kemampuan memasak bagi laki-laki semakin dielu-elukan. Ia juga jadi salah satu nilai jual yang mahal. Terlebih kemampuan memasak ini menjadikan seorang laki-laki jadi lebih bernilai suamiable. Istri mana yang tidak melayang dapat memakan masakan enak dari suaminya?

Istri mana ya hmm… Mungkin salah satu jawabannya adalah istri dari Abah. Aih. Umi saya.

Bukannya mau bilang tak bisa memasak. Abah cuma punya kreativitas yang tak lazim di dapur. Ia jarang memasak, tetapi sekali memasak, satu rumah bisa heboh. (more…)

KITA Berbagi: 1000 Paket Ramadhan

Enaknya tinggal di Jakarta, banyak tempat dapat diakses mesti tidak ada transportasi pribadi.¬†Semua itu berterima kasih kepada¬†mode transportasi umum ibukota. Berkat mereka, saya dapat berkeliling melihat Jakarta. Mulai dari gedung pencakar langitnya (maaf langit), mal-mal besar, tempat makan ngehitz, sampai jalan raya 8 ruas, semua dapat dilihat dengan bermodal sedikit uang (Rp 3.500 doang kalau mengandalkan Transjakarta, transportasi kita semua…)

Namun selain tempat-tempat bagus seperti yang disebutkan sebelumnya, mata saya turut melihat mirisnya kehidupan golongan bawah. Dan sesungguhnya mereka berada dekat. Contohnya bisa jadi di belakang mal-mal besar tadi terdapat pemukiman kumuh. Atau tak jauh dari gedung pencakar langit itu, hidup orang-orang yang masih mesti mencakar-cakar tempat sampah demi menyulapnya menjadi beberapa lembar uang. Jakarta adalah tempat di mana si golongan atas dan golongan bawah hidup berdampingan, namun tak sekalipun mereka bersinggungan.

Lalu hiduplah kita, yang bisa saja berada di golongan atas atau bawah atau mungkin pula bukan keduanya. Jika dimisalkan golongan atas dan bawah itu pisahkan oleh garis lurus panjang melintang, maka yang tidak termasuk kedua golongan ini berada tepat di tengah garis. Mereka sadar betul diapit oleh dua kubu. Mereka menonton. Mereka spektator sejati.

Pernahkah tersadar kalau kita dapat melakukan sesuatu yang lebih? Tidak sekadar menonton maksudnya. Baik jauh atau dekat, selama kita tahu, saya percaya kita selalu dapat melakukan hal lebih banyak. Kepada orang-orang yang posisinya lebih bawah, kita dapat mengulurkan tangan untuk sedikit meninggikan mereka. Kepada orang-orang yang berada lebih atas, kita dapat menolehkan pandangan mereka ke arah bawah. Banyak. Banyak yang dapat kita lakukan untuk membantu. Dan di sini, saya ingin memperkenalkan satu program mulia milik teman seperjuangan. Milik KITA Berbagi

kitaberbagi3.JPG (more…)

Maaf, Saya Belum Siap Menikah…

Satu jawaban menakutkan yang bisa didengar dari seorang laki-laki saat melamar perempuannya, “Maaf, saya belum siap menikah…”

Sebenarnya jawaban ini terdengar manis. Demi terdengar lebih manis, barangkali akan ada laki-laki yang berteriak, “BAIKLAH. AKAN KUTUNGGU SAMPAI KAU SIAP. KALA ITU, AKU AKAN JAUH LEBIH SIAP DARIPADA KESIAPANKU SAAT INI.”

Tetapi kemudian disadari sesuatu. Yang diajak komunikasi adalah perempuan. Selalu ada misteri di balik perkataan mereka. Misteri dalam bentuk kode rahasia. Misteri yang tak akan pernah terbuka pintu jawabannya bagi laki-laki.

Salah satu misteri menakutkan itu misalnya kalau ternyata kata-kata dari sang perempuan tadi ada sambungannya, namun tidak terucap (atau memang sengaja tidak diucap). “Maaf, saya belum siap menikah… dengan ANDA. Kalau dengan laki-laki lain, saya SANGAT¬†siap.”

Ahh.. menakutkan sekali. Rasanya ingin cepat-cepat belajar memahami kode perempuan agar cepat sadar kalau kata-kata yang mereka sampaikan sebenarnya pahit. Tak menutup kemungkinan juga kalau jawaban sebenarnya jauh lebih manis dari itu. Yahh, seperti yang dikatakan. Perempuan adalah suatu misteri yang berbicara dengan kode.

Kembali ke jawaban tadi, perkataan “Maaf, saya belum siap menikah…” seharusnya memang memiliki sambungan jawabannya. Tuh. Coba lihat. Di akhir jawaban itu ada titik 3 nya kan? Mendingan langsung tanya aja deh. Nggak capek apa dipusingin kode?