Horror Malam Ini

“Setelah sekian lama, gue akhirnya bisa satu grup whatsapp sama dia. Ya gue save dong nomornya. Kapan lagi coba. Langsung aja tuh gue stalking status dan info whatsapp doi. Pas nyecroll, eh kepencet video call…

GIMANA NEEEEEH!!!”


.

.

.

SEREM BANGET GA SEEEEH!!!

Advertisements

Jodoh

Jadi seorang senior saya yang bekerja di kantor akan segera menikah. Panggilannya Uni Wawat. Saya pribadi tidak terlalu mengenal beliau. Hanya saja, kami terikat satu ikatan grup whatsapp yang isinya insan-insan luar biasa yang menulis. Dibandingkan mereka mah saya masih jauh di bawah.

Kembali lagi ke Uni Wawat. Karena di grup itu banyak yang menulis, senior saya yang lain (yang baiknya luar biasa, gemar tersenyum, plus lumayan saya kenal), Kak Bayu, memiliki inisiatif untuk memberikan kado khusus. Kado khusus tersebut adalah karya tulisan tentang pernikahan. Bentuk tulisannya bebas yang penting menyangkut tema pernikahan/cinta sejati. Haha.

Nantinya, kumpulan tulisan dari kami akan dijadikan satu menjadi satu buku mini. Tentu saja itu niat yang mulia. Kalau saya yang jadi Uni Wawat pasti saya sudah mengembang karena senang. Namun saya punya masalah. Temanya itu loh. Pernikahan

Boro-boro menikah, ditanya kapan menikah saja belum pernah. Pun sama dengan cinta sejati. Apa yang saya tahu tentang cinta sejati?

Tetapi tak mengapa. Kak Bayu bilang mereka butuh banyak pandangan. Itu artinya, mereka juga butuh pandangan dari jomblo mengenaskan, dan sepertinya saya siap mengisi pandangan itu. Hohoho… Dimulai dari mana ya Continue reading “Jodoh”

Jakarta, 15 Agustus 1945

Tanggal ini amat banyak berarti bagi kita, bangsa Indonesia. Pada tanggal ini 73 tahun yang lalu, kabar Jepang yang menyerah ke Sekutu tak terbendung lagi. Usaha bala tentara mereka yang berada di Indonesia untuk menutupi tersebarnya berita tersebut sia-sia. Berkat pergerakan radio bawah tanah, rakyat Indonesia di ibukota sudah mengetahui bahwa sang penjajah telah jatuh. Kekalahan Jepang menjadi pembicaraan hangat di mana-mana, khususnya bagi pemuda. Bagi mereka, tak ada lagi waktu lain untuk memerdekakan tanah air. Harus saat ini. Mesti saat ini mereka berteriak senyaring-nyaringnya: Indonesia sudah merdeka.

“Demam” proklamasi yang melanda pemuda saat itu amat terasa tergambarkan dalam buku Betawi: Queen of the East oleh Alwi Shahab. Ini tak terlalu mengherankan. Berkat koronologis yang runtut dan latar yang detail, bukannya sulit untuk membayangkan situasi saat itu. Peristiwa sejarah yang (memang) penting dapat menjadi menariknya di tangan seorang Alwi Shahab.

Saya punya potongan tulisan dari bukunya itu, tentang detik-detik mendebarkan menjelang kemerdekaan. Yang ini bagian favorit saya. Continue reading “Jakarta, 15 Agustus 1945”

Sebuah Kantor dan Karyawannya yang Muda

Kantor kami hanyalah kantor kecil berisi 14 orang. Ke-14 orang itu bertanggung jawab atas statistik 88.971 orang penduduk. Jumlah penduduk itu adalah jumlah penduduk dalam satu kabupaten dan masih terbilang sedikit dibanding banyak kabupaten lainnya. Meskipun begitu, tetap saja pekerjaan di tempat saya banyak. Dapat terbayangkan bagaimana tekanan yang dialami karyawan kantor kami. Deadline-deadline-deadline selalu ada. Dengan tekanan seperti itu, karyawan muda yang kuat, tahan banting, pressure-resistant

Di kawasan sini, kantor saya dikenal memiliki karyawan yang muda-muda. Sebenarnya ini hanya tanggapan dari orang-orang sekitar, tapi saya mengerti mengapa mereka berkata begitu. Kebanyakan dari kami adalah pendatang dan setiap pendatang biasanya mencolok. Oleh karenanya kami mudah dikenali. Kebetulan kami pun muda-muda. Setengah dari karyawan kantor berumur kurang dari 27 tahun

Apa dampaknya? Yang paling saya soroti adalah bagaimana banyak orang yang melihat karyawan kami dengan mata mencari jodoh. Muda, rupawan/rupawati, dan memiliki nilai ekonomi yang diperhitungkan. Wajar saja banyak yang tergiur. Baik mereka yang mencari jodoh untuk diri sendiri ataupun para calon mertua bermata elang.

Seorang teman perempuan saya nun jauh di sana mengeluh karena lelah dicoba dijodohkan oleh semua orang. Bahkan oleh tetangga kos barunya yang baru kenal

Memang benar. Ketika berumur 20an, sudah bekerja, dan belum berkeluarga, seisi dunia seakan berusaha menjodohkan atau men-ciyeeeeee-kan seseorang dengan seseorang lainnya. Apalagi ibu-ibu. Asalkan dari segi usia tak berbeda terlalu jauh, itu sudah cukup dijadikan alasan bagi ibu-ibu itu untuk menjodoh-jodohkan sepasang jantan dan betina. Mungkin mereka pikir kami ayam

Workaholic

Yay, besok sudah masuk kerja lagi!

Kek kata Pak Jokowi, “Kerja, kerja, kerja!”

Kek kata Rihanna, “Work, work, work, work, work…”

Sebelum berangkat ke daerah, salah seorang atasan di pusat (Pak Agus namanya) sempat memberikan tips dalam menghadapi dunia kerja. Katanya, agar dicintai karier, kita mesti: “… datang sebelum bos datang, pulang setelah bos pulang”

Masuk akal bukan? Hablum minal boss dipercaya akan semakin baik. Karena semakin banyak waktu yang kita habiskan untuk bekerja di kantor, semakin sering pula atasan melihat kita bekerja. Pamrih mode: ON

Sayangnya, ilmu itu sulit diaplikasikan di tempat saya bekerja sekarang. Para pekerja di sini, termasuk atasannya, semuanya workaholic. Gila kerja. Alias suka nambah jam kerja sendiri. Mereka datang lebih awal dari jam normal, mereka pulang lebih telat, dan mereka tetap datang di tanggal merah

Begini, jam kerja normal di kantor kami sebenarnya pukul 07.30-16.00. Namun karena workaholic tadi, jam kerja yang “normal” menjadi 07.30-17.00 atau seringkali sampai langit gelap. Belum lagi kalau lembur. Sampai jam 11 malam, menginap di kantor pun dijabanin. Dan kami seakan tidak memiliki hari libur (libur itu apa ya?). Selalu ada yang hadir di kantor mengerjakan pekerjaannya. Atasan saya pun seperti itu. Malah ia sepertinya yang paling sering bekerja di kantor. Memang jumlah pekerjaan kami bejibun, lengkap dengan deadline dari pusat yang mengikat napas.

Kesimpulannya, sulit untuk menerapkan ilmu “…datang sebelum bos datang, pulang setelah bos pulang.” Perlu ketahanan fisik dan mental prima. Menginap di kantor 24 jam? Hmm…

Lebaran FAQ

1. Apa kabar?
2. Kapan nikah?
3. Kapan wisuda?
4. Anak udah berapa?
5. Kelas/semester berapa sekarang?
6. Libur berapa lama?
7. Bapak/ibu sehat?
8. Kerja masih di sana sekarang?
9. Habis ini mau ke rumah siapa lagi?
10. Kamu mau sama anak tante?*

Hmm… begitulah. Itu tadi rangkaian pertanyaan yang kerap kali terdengar selama lebaran ini. Saya yakin masih banyak lagi pertanyaan yang biasanya ditanyakan ke sobat (ceileeeh, sobat) semua. Pertanyaan yang seakan wajib, karena saking seringnya ditanyakan pada saat lebaran. Mungkin kita kesal ditanyakan pertanyaan seperti itu. Kalau nggak kesal, jengkel. Atau jenuh. Atau sebal. Atau dongkol. Atau memendam ungkapan hati lainnya yang seandainya masuk TV, pasti nggak lulus sensor.

Tetapi sabar. Kalau memang bosan, bersabarlah. Coba pikirkan lagi. Tak sering kita ditanyakan pertanyaan seperti itu. Paling-paling hanya setahun sekali. Ditambah lagi, orang yang bertanya umumnya adalah orang yang jarang sekali bertemu dengan kita dan hanya pada momen lebaran inilah kita bisa dipertemukan dengan orang tersebut. Masa’ iya sudah lama nggak bertemu, sekalinya bertemu mau diem-diem aja kayak lagi musuhin mantan. Pasti setidaknya bertegur sapa. Dan ketika ngobrol, yang dibahas bakalan seputar social updates. Toh kita sendiri pernah terbersit untuk menanyakan hal yang sama ke mereka kan? Atas nama silaturahim, pertanyaan-pertanyaan itulah yang bisa memperkuat kembali hubungan sesama

Oke. Jadi ini agak terlambat, tapi…

Selamat hari raya idulfitri!
Taqabbalallahu minna wa minkum!
Mohon maaf lahir batin!
Maafkan segala kesalahan online/offline, sengaja/taksengaja yaaa!

Kos with Kamar Mandi Dalam Installed

Sepanjang perjalanan hidup saya, tak sekalipun saya pernah merasakan tinggal di kamar kos dengan kamar mandi sendiri. Minimal harus berbagi kamar mandi berdua. Tetapi kini, kemegahan bernama kamar mandi dalam dapat saya rasakan di kos sendiri. Dan jujur saja saya menikmatinya

Punya kamar mandi sendiri berarti hak kepemilikan kamar mandi sepenuhnya diserahkan padamu. Tak ada kompetitor mendapatkan pole position kamar mandi. Tak ada intrik jahat (misal dengan pura-pura sakit perut) bagaimana caranya bisa masuk kamar mandi duluan. Tak ada pukul-pukul tembok atau lantai kalau gagal masuk duluan. Dan yang paling penting, sekalipun bangun telat dan butuh mandi cepet (atau saat harus buang air saat itu juga, di tempat itu juga), kita bisa langsung masuk tanpa ba bi bu

Punya kamar mandi sendiri berarti timeline mandi atau buang air dapat dikendalikan sesukamu. Kapan mau mandi, kapan mau buang air, semua dapat terjadwal dengan baik dan benar. Plus tak perlu takut durasi waktu selama di kamar mandi. Mau selama apapun di kamar mandi, tak ada yang dapat melarang. Tak ada pintu kamar mandi yang digedor. Tak ada yang tiba-tiba mematikan lampu kamar mandi saat sedang buang air dan belum cebok. Tak ada makhluk-makhluk yang berteriak, “del, cepet del…” atau teriakan penuh sandiwara “kebelet nih, sakit peruut…”

Punya kamar mandi sendiri artinya mempersilakan bibit keegoisan tumbuh membabi buta. Menjadi diktator di kamar mandi sendiri. Satu-satunya penguasa. Pemerintah tunggal. Kekuatan adidaya. Dulu saya tak pernah terlalu peduli dengan fitur kamar mandi dalam. Namun ketika terinstal dan merasakannya sendiri, kamar mandi pribadi bukanlah sekadar kamar mandi. Ia adalah manifestasi kebebasan

Wahai kalian, makhluk-makhluk yang mesti berbagi kamar mandi, bersabarlah…