Review: Sixteen Candles (1984)

Hi. Adakah di sini yang suka menonton film lama? Yo ngacung yo!

Kalau memang ada, tos dulu dongs. Karena saya juga suka.

Menonton film lama sama rasanya seperti memasuki mesin waktu. Seperti kita kembali ke masa lalu dan melihat bagaimana keadaan yang ada waktu itu. Polemik sosial, gaya berpakaian, teknologi zaman itu, dan lain sebagainya yang jelas berbeda dengan sekarang. Memang kualitasnya akan terlihat sangat jadul. Secara visual bisa jadi jauh kalah memukau dengan yang ada sekarang. Namun, bila itu semua dikesampingkan, sejujurnya menonton film lama bisa sangat menyenangkan. Lagipula secara alur dan karakter, orang zaman dulu adalah pencerita yang dahsyat. Beberapa bahkan menganggap film-film dulu punya kualitas penyutradaraan dan akting jauh di atas sekarang. Bolehlah dicoba sekali-sekali menonton film lama 🙂

Film lama yang baru saja saya tonton adalah Sixteen Candles keluaran tahun 1984.

sixteen-candles
Kiri-Kanan: Farmer Ted/Geek, Samantha, Jake Ryan. Btw si Jake ini punya aura-aura Zac Efron. Minus bisep sama sixpacknya doang yang nggak keliatan. Untung aja ehe

Continue reading “Review: Sixteen Candles (1984)”

Advertisements

Review: Hacksaw Ridge

Sudah ada cukup banyak film bertemakan Perang Dunia ke-2 sebagai suguhan utamanya. Hebatnya, tiap-tiap film tersebut dapat menyajikan premis dan plot yang berbeda satu sama lain. Sudah ada cerita mengenai sekompi tentara dengan nekat berkelana di medan perang hanya demi menyelamatkan satu prajurit dalam Saving Priate Ryan ataupun drama tentang bagaimana seorang Yahudi yang berusaha mati-matian menyelamatkan diri agar tak dibantai Nazi dalam The Pianist. Dapatlah dibilang hampir semua yang berkenaan dengan perang terbesar sepanjang sejarah itu sudah pernah dijadikan materi film. Tetapi ternyata tidak. Hollywood belum kehabisan ide, seperti yang ditampilkan film Perang Dunia ke-2 terbaru kali ini, Hacksaw Ridge.

Continue reading “Review: Hacksaw Ridge”

Review: The Conjuring 2

Beberapa hari yang lalu saya dan teman sejawat saya janjian buat nonton film yang lagi happening di kampus kami, The Conjuring 2. Pasti tahu lah. Film horror sekuel The Conjuring yang (katanya) serem gak nanggung-nanggung. Penggemar film horror sejati pun memiliki ekspektasi tinggi terhadap film satu ini. Tetapi bukan saya, karena saya tidak berharap film ini akan bagus pun saya juga bukan penggemar film horror. Tujuan saya ikut nonton bareng ini adalah untuk menghibur diri melihat teman lain yang ketakutan nonton. Kedengaran jahat ya -_-

Sebelumnya perlu saya ingatkan kepada para pembaca kalau tulisan ini membeberkan jalan cerita. Nggak seru kan kalau nanti nonton tapi sudah tahu bagaimana ujungnya gara-gara baca ini.

Filmnya sendiri kembali bercerita tentang pasangan Ed dan Lorraine Warrens si Pembasmi/Negosiator/Mediator hantu. Kali ini mereka berurusan dengan kasus berhantu dalam keluarga Hodgson di Enfield, London Utara.

Continue reading “Review: The Conjuring 2”