recehman

Orang Pintar vs Orang Bejo

Laki-laki kelas kami selalu punya hal-hal konyol untuk diperdebatkan. Mulai dari tema legendaris (namun juga sangat unfadeah) seperti lebih dulu ayam atau telur sampai bumi itu bulat atau datar. Setiap perdebatan itu terjadi, keadaan kelas menjadi heboh. Heboh sampai-sampai setiap telinga mendengar apa yang mereka perdebatkan. Namun aku kira tak ada yang lebih menghebohkan selain perdebatan episode “apakah sebenarnya wanita bisa kentut?” Aku lupa bagaimana kesimpulan akhirnya. Yang jelas para wanita di kelas langsung segera keluar saat perdebatan menjadi semakin intens

Episode perdebatan terakhir mengambil tema “lebih sukses mana, orang pinter atau orang bejo?” Sama seperti perdebatan-perdebatan sebelumnya, perdebatan ini memakan waktu lama. Dan ya, tetap kaya akan unfaedahness (more…)

Patungan

Hey, aku dapat ilmu baru sewaktu menonton akad nikah kakak tingkatku kemarin. Tentang buku nikah misalnya. Si suami megang buku nikah warna merah, sedangkan istri warna ijo. Entah apa filosofi dari warna itu.

Tetapi yang paling penting, tahu tidak, ternyata buku nikah itu nggak bisa dibikin sendirian lho. Kamu nggak bisa bikin yang warna ijo doang atau nggak bisa juga bikinin yang merah doang. Harus sepaket. Makanya harganya jadi mahal karena yang kita bayar dobel…

Ogah bayar mahal? Tenang. Aku punya solusinya. Buku nikah bisa dibayar patungan kok. Jadi, daripada susah kalau sendiri, mending patungan aja bareng aku. Gimana?

Flatulensi Insidental

Langsung saja, flatulensi adalah bahasa ilmiah dari buang angin. Inilah salah satu kehebatan bahasa ilmiah. Bahkan buang angin pun dapat terdengar cerdas. Yang ingin saya katakan, bisa jadi tulisan ini dirasa sangat jorok. Jadi, segera cari tombol ‘back’ sebelum membaca lebih jauh bagi Anda yang menyumpah kejorokan. Sudah diperingatkan…

Flatulensi/buang angin/kentut adalah hal wajar. Tak kentut, maka tak patut. Permasalahannya adalah flatulensi ini semacam sampah, yang harus dibuang pada tempatnya. Karena kalau dibuang sembarangan, kita akan mencemari lingkungan. Mungkin bukan alam yang kita cemari, tetapi nama baik sendiri. Oleh karena itu diperlukan tindakan yang bijak dalam menghadapi flatulensi ini.

(more…)

Santa Claus

Sewaktu libur natal, entah dari mana ia mendapatkan lowongan pekerjaan itu. Aah. aku tak begitu yakin apa ini dihitung lowongan pekerjaan atau tidak. Menjadi Santa Claus katanya. Membayangkannya saja sulit

Katanya upah menjadi Santa Claus lumayan besar. Dengan memakai kostum serba merah, janggut putih ikal palsu nan tebal, plus sumpelan pakaian di perut untuk menjadi lebih buncit, kita akan diganjar 500 ribu. “Apa susahnya? Tahan panas sedikit tak apalah. Lagipula aku cukup akrab dengan anak-anak. Ini pekerjaan yang mudah”

Suatu hari aku memutuskan untuk mengunjunginya. Namun ketika kudatangi tempat duduk Santa Claus, tak ada siapa-siapa di sana. Yang ada cuma pohon cemara yang meski sudah didandani tetap saja tampil tidak percaya diri. Mungkin sedih karena ditinggal tuannya. Kurasa yang bertanya-tanya di mana Santa Claus jejadian alias temanku berada tidak hanya aku. Kulihat banyak anak-anak bergerombol di pelataran rumah Santa ini. Tanda tanya jelas tertulis di jidat mereka. Akhirnya satu anak memberanikan diri bertanya ke satpam yang berjaga di dekat rumah Santa itu. Jawaban satpam itu sangat mencengangkan.

“Santa nya lagi shalat Ashar”

 


 

Ide diceritakan teman, sepertinya dari facebooknya. Oh Santa yang shalat ashar 😀

Tipis Banget

Satu hal yang aku benci ketika memakai make-up adalah komentar. Tak pernah ada komentar positif. Seperti pada waktu itu

“Min, lu udah make-up?”

“Udah, emang napa?”

“Tipis banget…”

“Apanya del?”

“Perubahannya… PFFTT”

“Makasih del”, kukatakan itu sambil terguncang.

Sejak itu aku sadar tidak ada yang namanya jadi ganteng dalam 10 menit