Sebelas Tamu

Kami baru saja mencatat rekor “jumlah orang terbanyak yang datang bertamu ke rumah” kemarin. Tercatat ada 11 orang yang masuk. Di hari lebaran ke-3. Masih dalam suasana pandemi, anti mudik mudik club.

Rumah kami yang remang dan hangat berubah menjadi gelap dan panas seiring bertambahnya orang di dalamnya
Continue reading “Sebelas Tamu”

“Siapa sih yang Kepikiran Menciptakan Ketupat?”

Pertanyaan itu keluar dari mulut Ziza setelah 5 menit mencoba memasukkan beras ke dalam ketupat.

Ini lebaran pertama kami dengan ketupat. Tahun lalu kami terlalu kaget mesti berlebaran di Daik sampai-sampai tidak menyiapkan ketupat. Hanya memakai lontong. Itu pun keburu basi karena telat menghabiskan. Tahun ini karena sudah ikhlas berlebaran di rantau (lagi), tentu saja kami memesan daun ketupat. Tetapi, ternyata ketupat membawa polemik tersendiri. Kami sama-sama amatir dalam hal mengolah ketupat.

Okelah kami belum khatam cara membuat daun ketupat. Daun ketupat bisa dibeli di sini seharga Rp600 satunya. Namun masih ada persoalan lain seperti cara menyimpan daun ketupat, cara efisien memasukkan beras, sampai cara memasaknya.

Pertanyaan Ziza di judul muncul saat kami mencoba memasukkan beras ke dalam ketupat. Kami suntuk. Mengapa orang zaman dulu iseng? Sambil tangan bekerja, saya pun jadi benar-benar bertanya bagaimana orang zaman dulu bisa terpikir untuk membuat wajik 3D dari daun kelapa. Mungkin karena orang zaman dulu punya banyak waktu luang. Mungkin pula karena pada zaman dulu belum ada smartphone sehingga waktu mereka menjadi lebih produktif berkarya tratakdungcessss

Pada akhirnya, kami mendapat arahan dan bimbingan dari Umi. Tentang menyimpan daun ketupat dalam ember yang kemudian ditutup kain lembab agar tidak cepat layu dan menguning. Tentang mengisi beras dalam ketupat cukup setengah ketupatnya saja karena kalau terlalu banyak ketupatnya akan keras. Tentang memasak ketupat selama 3-4 jam dan tidak mengikuti cara 30 menit-30 menit yang beredar karena cara itu bisa membuat ketupat lebih cepat basi. Semua teknik ketupatlogi yang kami praktekkan lebaran ini baru kami ketahui. Sifatnya ekperimental.

Yah, di luar itu semua, ketupat kami jadi juga. Eksperimen kami berhasil. Saya yakin lebaran kami akan baik-baik saja.

Oh ya, taqabbalallahu minna wa minkum 🙏🏼