flashfiction

Kisah Hidup Perempuan yang Tak Bisa Tertawa

Satu hari, hiduplah seorang perempuan cantik yang tidak bisa tertawa. Sebenarnya bukan tidak bisa. Namun apabila ia terkekeh sedikit saja, ia merasakan sakit di jantungnya. Oleh karena itu ia selalu menjaga agar tidak tertawa. Meski awalnya berat, ia akhirnya berhasil meniadakan hasrat tawanya. Jadilah ia dikenal sebagai perempuan tanpa tawa.

Tetapi semua berakhir saat ia makan pisang sambil berjalan. Selesai makan, kulitnya ia lempar begitu saja di jalan, mengakibatkan orang di belakangnya terkangkang terpeleset. Si perempuan melihatnya. Ia kemudian tertawa terbahak-bahak, tersedak, lalu mati. Tamat.

Moral: jangan makan pisang sambil berjalan. Jangan buang kulit pisang di jalan

 


Kadang malu bisa berimajinasi sejauh ini hanya karena melihat kulit pisang tergeletak tak berdaya di atas aspal. Mungkin imajinatif. Mungkin delusif. Atau mungkin aku terlalu banyak nonton Spongebob

Selamat libur lebaran

Patungan

Hey, aku dapat ilmu baru sewaktu menonton akad nikah kakak tingkatku kemarin. Tentang buku nikah misalnya. Si suami megang buku nikah warna merah, sedangkan istri warna ijo. Entah apa filosofi dari warna itu.

Tetapi yang paling penting, tahu tidak, ternyata buku nikah itu nggak bisa dibikin sendirian lho. Kamu nggak bisa bikin yang warna ijo doang atau nggak bisa juga bikinin yang merah doang. Harus sepaket. Makanya harganya jadi mahal karena yang kita bayar dobel…

Ogah bayar mahal? Tenang. Aku punya solusinya. Buku nikah bisa dibayar patungan kok. Jadi, daripada susah kalau sendiri, mending patungan aja bareng aku. Gimana?

Es Krim

Dua perjaka itu masih berdiri di dekat tembok itu meski sudah lama ditinggal perempuan berpipi jambu. Seakan menunggu seseorang, mereka melihat ke sudut tikungan kiri mereka. Sorot mata mereka sepakat untuk merencanakan suatu hal yang sama.

Lalu benarlah, datang perempuan yang berikutnya, dengan bibir tipis mengkilat. Tatapannya dingin. Jalannya lurus ke depan. Keberadaan kedua perjaka sepertinya tak dianggapnya ada dan memang tak disadarinya. Kedua perjaka pun sadar kalau mereka diabaikan, namun tak peduli. Mata mereka awas menyapu langkah perempuan itu. Ada aura beku mewarnai jejaknya yang perlahan hilang di balik tikungan berikutnya.

“Nah. Itu tadi yang kunamakan gadis jutek. Lihat ekspresinya tadi? Dingin sekali”

“Ya aku lihat. Dan kau memang betul. Ia jutek…”

“Ohh.. yang barusan kau juga kenal?”

Perjaka yang ditanya mengangguk elok. Sebentar kemudian ia menggumam

“Dia itu layaknya es krim. Dingin sih, tapi manis…”

Rasa Penasaran Ibu

Pernah suatu kali aku pergi keluar dari malam hari dan terus keluyuran hingga jam 2 pagi. Saat pulang, aku kaget karena ibu masih belum tidur. Ia kemudian bertanya darimana saja aku dan kenapa baru pulang. Aku yang merasa lelah dengan malas menjawab sekenanya. Suatu tindakan yang aku sesali hingga kini. Waktu itu aku tidak sadar, namun sekarang aku tahu kalau seorang ibu tidak akan tidur sebelum ia memastikan kalau anaknya pulang dengan selamat, dalam keadaan hidup, sama seperti terakhir kali terlihat.

Akan lebih mudah jika ibu tahu selalu keadaan kita. Percayalah. Rasa penasaran ibu adalah hal pertama yang kelak kita rindukan

Memulai Pembicaraan

Aku takut pada perempuan yang memulai pembicaraan. Karena apabila terjadi, awal dialog itu seakan menjadi pembuka sebuah film romantis dengan aku sebagai karakter utamanya. Lalu di setiap akhir film romantis, si pemeran utama akan mendapatkan perempuannya. Aku tidak mau menjadi pemeran utama.

Bukan berarti aku tidak suka perempuan. Setiap perempuan bagiku adalah hadiah utama. Masalahnya, ketika sang perempuan memulai pembicaraan, aku takut mulai berkhayal layaknya film. Bukan hidup. Kita semua tahu film dan hidup berbeda. Dan ketahuilah berkhayal itu tidak baik. Berhenti sebelum ia menyakiti

“Hey… kamu yang kemarin pidato kan?” kata seorang perempuan padaku.

Ini dia.

Aku takut.

Mimpi Buruk

Hi. Kemarin malam aku bermimpi buruk. Mimpi paling buruk mungkin. Ceritanya begini. Aku datang ke acara pernikahanmu. Dan mempelai lelakinya bukan aku.

Begitu bangun aku bertanya-tanya. Apa kau senang jika kau yang memimpikannya? Jawabannya tentu tergantung dengan mempelai lelakinya.

“Siapa dia?”

Rahasia. Enak aja. Cukup dalam mimpi maling itu sukses!

Banyak Tanya

Oh perempuan itu. Aku tahu sedikit tentang dia. Kemudian kata sedikit itu akan mengundang banyak kalimat tanya. Siapa temannya? Di mana biasanya ia nongkrong? Bagaimana masa lalunya? Buku apa yang dibacanya? Ia tipe yang lebih menyukai mie kuah atau mie goreng?

Tanda sedang jatuh cinta nomor 49: mendadak jadi banyak tanya

Pare dalam Siomay

Jika diibaratkan kami ini sepanci siomay, maka sudah pasti dia jadi pare. Pahit, tak punya tekstur, dilaknat hampir semua orang. Orang lain bisa jadi siomay si protagonis. Atau mungkin kol yang walaupun hanya figuran namun jika absen siomay jadi tampil tidak maksimal. Dan dia adalah pare

Bagiku pare selalu menjadi antagonis dalam siomay. Antagonis demi maksud baik. Seperti dalam cerita pahlawan, yang membuat pahlawan menjadi pahlawan adalah penjahat. Tak ada penjahat, pahlawan alih profesi jadi rakyat sipil. Mungkin pare juga begitu. Pahitnya pare membuat siomay relatif lebih enak. Namun pahit adalah pahit. Tidak enak. Cuih.

Anehnya, aku suka pare

Menggaruk Kayu

Baru 2 malam berjalan, Tono sudah ingin pindah kamar di asrama barunya. Ia tidak betah. Alasannya? Ada suara-suara aneh muncul ketika malam. Seperti suara kayu yang digaruk-garuk.

“Alah, kirain masalahnya apaan. Masa’ gara-gara suara nggak jelas gitu kamu minta pindah”, remeh Toni merespon. Untuk melepaskan keresahannya Tono curhat pada temannya Toni yang selalu logis. Sebelumnya Tono sudah mencari “10 alasan manusia diganggu jin” di internet namun tak ada jawaban memuaskan. Barangkali Toni dapat memberikan jawaban masuk akal yang menenangkan hatinya

“Belum tentu jin bro. Jin nggak mungkin iseng gitu. Paling juga kucing”

“Siluman kucing maksudnya…” Wajah Toni jauh menerawang.

Celana Panjang

Pemakai celana pendek kedatangan tamu menginap. Tamu itu adalah sahabatnya sendiri, pemakai celana panjang. Karena susah bilangnya, panggil saja mereka Celpen dan Celpan

Waktu tidur menjelang. Celpen menanyakan pertanyaan trivial yang biasa ditanyakan seorang teman sesaat sebelum tidur..

“Pan, lu kalau tidur lampunya harus dimatiin atau nggak?”

“Terserah sebenarnya. Tetapi biasanya saya matiin”

Celpen mematikan lampu. Kini suasana gelap gulita.

“Lu mau minjem celana gue gak? Nggak gerah apa pakai celana panjang terus?”

“Ah udah biasa. Saya cuma nggak mau kalau saya mati dalam tidur nanti, saya mati dengan aurat terbuka”

Celpen bangkit, membuka lemari, lalu mengganti celananya. Celana panjang