<100kata

Kisah Hidup Perempuan yang Tak Bisa Tertawa

Satu hari, hiduplah seorang perempuan cantik yang tidak bisa tertawa. Sebenarnya bukan tidak bisa. Namun apabila ia terkekeh sedikit saja, ia merasakan sakit di jantungnya. Oleh karena itu ia selalu menjaga agar tidak tertawa. Meski awalnya berat, ia akhirnya berhasil meniadakan hasrat tawanya. Jadilah ia dikenal sebagai perempuan tanpa tawa.

Tetapi semua berakhir saat ia makan pisang sambil berjalan. Selesai makan, kulitnya ia lempar begitu saja di jalan, mengakibatkan orang di belakangnya terkangkang terpeleset. Si perempuan melihatnya. Ia kemudian tertawa terbahak-bahak, tersedak, lalu mati. Tamat.

Moral: jangan makan pisang sambil berjalan. Jangan buang kulit pisang di jalan

 


Kadang malu bisa berimajinasi sejauh ini hanya karena melihat kulit pisang tergeletak tak berdaya di atas aspal. Mungkin imajinatif. Mungkin delusif. Atau mungkin aku terlalu banyak nonton Spongebob

Selamat libur lebaran

Advertisements

Bisa Jadi

Memahami perempuan sama seperti bermain Indonesia Pintar lah, cuma ditambah modifikasi dikit yang menjadikannya sedikit lebih sulit dan sedikit lebih seru. Semisal laki-laki bertanya dengan perempuannya. Jawaban yang mungkin diberikan perempuan: iya, nggak, bisa jadi

Iya berarti nggak atau bisa jadi.
Nggak bisa jadi iya atau bisa jadi.
Bisa jadi bisa jadi iya atau nggak, namun karena membingungkan, anggaplah tetap bisa jadi

Nah. Di situ bagian serunya. Terlalu banyak bisa jadi yang mesti ditafsirkan

 

Patungan

Hey, aku dapat ilmu baru sewaktu menonton akad nikah kakak tingkatku kemarin. Tentang buku nikah misalnya. Si suami megang buku nikah warna merah, sedangkan istri warna ijo. Entah apa filosofi dari warna itu.

Tetapi yang paling penting, tahu tidak, ternyata buku nikah itu nggak bisa dibikin sendirian lho. Kamu nggak bisa bikin yang warna ijo doang atau nggak bisa juga bikinin yang merah doang. Harus sepaket. Makanya harganya jadi mahal karena yang kita bayar dobel…

Ogah bayar mahal? Tenang. Aku punya solusinya. Buku nikah bisa dibayar patungan kok. Jadi, daripada susah kalau sendiri, mending patungan aja bareng aku. Gimana?

Rasa Penasaran Ibu

Pernah suatu kali aku pergi keluar dari malam hari dan terus keluyuran hingga jam 2 pagi. Saat pulang, aku kaget karena ibu masih belum tidur. Ia kemudian bertanya darimana saja aku dan kenapa baru pulang. Aku yang merasa lelah dengan malas menjawab sekenanya. Suatu tindakan yang aku sesali hingga kini. Waktu itu aku tidak sadar, namun sekarang aku tahu kalau seorang ibu tidak akan tidur sebelum ia memastikan kalau anaknya pulang dengan selamat, dalam keadaan hidup, sama seperti terakhir kali terlihat.

Akan lebih mudah jika ibu tahu selalu keadaan kita. Percayalah. Rasa penasaran ibu adalah hal pertama yang kelak kita rindukan

Memulai Pembicaraan

Aku takut pada perempuan yang memulai pembicaraan. Karena apabila terjadi, awal dialog itu seakan menjadi pembuka sebuah film romantis dengan aku sebagai karakter utamanya. Lalu di setiap akhir film romantis, si pemeran utama akan mendapatkan perempuannya. Aku tidak mau menjadi pemeran utama.

Bukan berarti aku tidak suka perempuan. Setiap perempuan bagiku adalah hadiah utama. Masalahnya, ketika sang perempuan memulai pembicaraan, aku takut mulai berkhayal layaknya film. Bukan hidup. Kita semua tahu film dan hidup berbeda. Dan ketahuilah berkhayal itu tidak baik. Berhenti sebelum ia menyakiti

“Hey… kamu yang kemarin pidato kan?” kata seorang perempuan padaku.

Ini dia.

Aku takut.

Pare dalam Siomay

Jika diibaratkan kami ini sepanci siomay, maka sudah pasti dia jadi pare. Pahit, tak punya tekstur, dilaknat hampir semua orang. Orang lain bisa jadi siomay si protagonis. Atau mungkin kol yang walaupun hanya figuran namun jika absen siomay jadi tampil tidak maksimal. Dan dia adalah pare

Bagiku pare selalu menjadi antagonis dalam siomay. Antagonis demi maksud baik. Seperti dalam cerita pahlawan, yang membuat pahlawan menjadi pahlawan adalah penjahat. Tak ada penjahat, pahlawan alih profesi jadi rakyat sipil. Mungkin pare juga begitu. Pahitnya pare membuat siomay relatif lebih enak. Namun pahit adalah pahit. Tidak enak. Cuih.

Anehnya, aku suka pare

Menggaruk Kayu

Baru 2 malam berjalan, Tono sudah ingin pindah kamar di asrama barunya. Ia tidak betah. Alasannya? Ada suara-suara aneh muncul ketika malam. Seperti suara kayu yang digaruk-garuk.

“Alah, kirain masalahnya apaan. Masa’ gara-gara suara nggak jelas gitu kamu minta pindah”, remeh Toni merespon. Untuk melepaskan keresahannya Tono curhat pada temannya Toni yang selalu logis. Sebelumnya Tono sudah mencari “10 alasan manusia diganggu jin” di internet namun tak ada jawaban memuaskan. Barangkali Toni dapat memberikan jawaban masuk akal yang menenangkan hatinya

“Belum tentu jin bro. Jin nggak mungkin iseng gitu. Paling juga kucing”

“Siluman kucing maksudnya…” Wajah Toni jauh menerawang.

Perokok Aktif versus Perokok Pasif

Orang pertama:

“Lu pernah denger kalo jadi perokok pasif itu jauh lebih berbahaya daripada perokok aktif? Karena perokok pasif menghirup sisaan asap yang mengandung jutaan racun setelah dibakar. Mendingan gue jadi perokok aktif daripada ngisep racun kayak gitu mah”

Orang kedua:

“Lu pikir mentang-mentang ngisep langsung dari tuh batang lu nggak bisa ngisep asap dari perokok lain? Sini gua kasih tau ya. Gara-gara lu merokok aktif, lu jadi ngisep 2 macam asap rokok. Dari pantat rokok dan mulut rokok. Keduanya sama-sama racun dan lu ngisep keduanya! Mending yang pasif dong”

Orang ketiga (dalam hati):

Gua di sini perokok wasit. Harus netral

 

Celana Panjang

Pemakai celana pendek kedatangan tamu menginap. Tamu itu adalah sahabatnya sendiri, pemakai celana panjang. Karena susah bilangnya, panggil saja mereka Celpen dan Celpan

Waktu tidur menjelang. Celpen menanyakan pertanyaan trivial yang biasa ditanyakan seorang teman sesaat sebelum tidur..

“Pan, lu kalau tidur lampunya harus dimatiin atau nggak?”

“Terserah sebenarnya. Tetapi biasanya saya matiin”

Celpen mematikan lampu. Kini suasana gelap gulita.

“Lu mau minjem celana gue gak? Nggak gerah apa pakai celana panjang terus?”

“Ah udah biasa. Saya cuma nggak mau kalau saya mati dalam tidur nanti, saya mati dengan aurat terbuka”

Celpen bangkit, membuka lemari, lalu mengganti celananya. Celana panjang

 

Manajemen Marah

Perempuan itu memang super. Ia seakan tak memiliki rasa segan dan takut. Minggu lalu bosnya terdiam diserang makinya. Nasib anak buahnya jangan ditanya

Belakangan temperamennya berkembang. Ia menjadi ringan tangan sekarang. Untung saja ada teman yang menasehatinya kalau marah-marah itu tidak baik. Sang teman kemudian menyarankan untuk mencari tips meredakan amarah di internet

Tetapi naas. Yang ia temukan di hasil pencarian teratas untuk manajemen marah terbaik:

When you get angry, take a deep breath, and count to ten. Punch him/her at the neck when you get eight. Nobody expects that

“Sekarang tak ada yang bisa menangkis…” batinnya berkata