Pertanyaan-pertanyaan yang (Mungkin) Sering Muncul Kala Ramadhan Datang

Bukankah di setiap Ramadhan selalu muncul pertanyaan terkait hal-hal seperti ini? Ajakan bukber (yang punya kemungkinan nggak jadi-jadi), seputar ibadah puasa, dan banyak persoalan lain yang dapat dikatakan hanya muncul di kala bulan suci ini datang. Rasanya lucu saja kita kita hanya mendengar pertanyaan-pertanyaan seperti ini di bulan Ramadhan. Kalau sedang gabut tiada obat, bolehlah baca ini… Semoga dapat menikmati. Ya… Semoga…

1. Kapan bukber?

Satu! Nah ini. Semakin kita dewasa, akan ada semakin banyak orang/kelompok yang kita kenali. Dan hampir dapat dipastikan orang-orang itu mengadakan kegiatan yang dinamakan buka bersama. Alasannya mudah. Untuk mempererat silaturahim serta untuk memfasilitasi semangat nongkrong orang Indonesia.

Masalahnya, niat untuk bukber itu seringkali hanya sebatas niat yang menggebu-gebu. Tidak ada eksekusi. Nah, biasanya yang kemudian dijadikan kambing hitam adalah karena tidak ditemukannya waktu yang cocok untuk bukber. Sebenarnya waktu untuk berbuka yang pas itu sudah ada, yaitu saat azan maghrib berkumandang. Tetapi selalu ada kesibukan masing-masing yang bersinggungan, sehingga orang tidak dapat untuk mendengar azan maghrib di tempat yang sama. Akhirnya terjadilah percakapan seperti pada gambar (more…)

Bom, Kampung Melayu, dan Sebaran WA yang Terlewat

Hi. Kebijakan tidak tertulis saya, hari-hari melelahkan diakhiri dengan tidur lebih cepat. Langsung tidur selepas isya misalnya. Begitu pula yang terjadi kemarin. Rasanya melelahkan sekali. Belum lama jarum pendek melewati angka 8 saya sudah tertidur pulas. Tugas kelompok bersama Laura dan Meri untuk mencari data ekspor-impor Indonesia ke Jepang pun luput tak terkerjakan (maaf banget la, mer). Tetapi ternyata ada hal besar lain yang ikut terluput tadi malam

Pukul 21.00, telah terjadi ledakan bom cukup besar di wilayah Kampung Melayu, tepat di sekitar halte buswaynya. Diduga kuat merupakan bom bunuh diri. Berikut disertakan broadcast WA yang digayakan layaknya berita… (more…)

Sebuah Pertunangan Tidak Bisa Lagi Lebih Pedih daripada Pertunangan yang Ini

Tanggal 21 Mei 1998 dulu, rakyat kita pernah digoncang dengan salah satu peristiwa terbesar dalam sejarah Indonesia, yaitu ketika Presiden Soeharto mundur dari jabatan presidennya setelah 32 tahun memerintah.

Lalu tanggal 21 Mei 2017, rakyat (terkhusus jomblo) kembali diluluhlantakkan dengan terjadinya tragedi paling memilukan nan menyayat hati sedekade belakang, yaitu bertunangannya Raisa dan Hamish. Hari Patah Hati Nasional pun lahir

Maka kemudian resmilah 21 Mei identik dengan tanggal kepedihan…

“Pada akhirnya aku tidak masalah jika akhirnya tidak menikah dengan seorang Raisa. Akan tetapi jika aku tidak bisa menikahinya, maka tidak ada seorang pun yang bisa. Tidak Keenan. Tidak juga Hamish.”

Benar kata seorang teman. Harusnya begitu. Tidak juga Hamish. Untungnya ini baru tunangan. Masih ada jalan yang dapat ditempuh untuk menggagalkan itu. Ada usul dari pihak yang tidak setuju untuk merobohkan tendanya nanti saat resepsi supaya batal nikahannya. Namun ada juga yang mendukung penuh keputusan Raisa, dengan menyampaikan pesan ikhlas “jagain doi ya bro” kepada Hamish. Yang jelas, bagi laki-laki biasa untuk bersaing secara sehat dengan si Hamish itu sudah tidak mungkin lagi. Ini Hamish Daud. Ha-mish Da-ud. Sekurang-kurangnya dengan ilmu hitamlah baru bisa tertikung.

Apapun itu, semoga para jomblo tidak menggila dan melakukan pemberontakan seperti pada Mei 1998. Marilah kita berpikir jernih. Selama bukan “doi” yang tunangan duluan, semua tidak jadi masalah. Iya kan. Atau jangan-jangan tidak. Kzl.

Kopdar Bersama Umi Sholikha alias umisholikhah7410.wordpress.com

Hi. Hari minggu minggu (duh basinya -_-) yang lalu, pada jam-jam begini, sarapan terasa sangat berbeda. Di atas meja terhidang pisang goreng dengan tepung kualitas langit, ketan, juga obang-abing. Kombinasi makanan yang jelas tak akan pernah saya makan di kos sendiri. Sarapan dengan menu seperti itu tak hanya lebih mengenyangkan, namun juga beberapa kkal lebih bergizi dibanding sarapan biasa saya.

Akhirnya, pagi ini, sarapan kembali normal atau lebih tepatnya kembali menyedihkan. Orek tahu kembali mengucapkan “selamat pagi”-nya pada saya. Lalu sembari mengunyah, saya ingat lagi kalau sarapan minggu lalu tidak hanya berbeda dari segi menu melainkan juga visi-misi sarapannya. Pagi ini saya cuma mengisi perut agar perut tak lagi meraung-raung buas. Sedangkan minggu lalu, sarapan saya niatkan agar saya punya cukup energi untuk kopdaran bareng Kak Ikha. Yay.

Oh ya karena saking sudah basinya, Kak Ikha sudah menulis duluan cerita versinya. Ada di sini. Versi yang ini murni sudut pandang saya.

Kopdar2 yang saya lakukan sebelumnya saya lakoni sebagai status turis alias status “mau dibawa ke mana aja bodo amat”. Kali ini berbeda. Kak Ikha, yang aslinya blasteran Ngawi-Surabaya, main ke ibukota. Dan situasi ini membuat teman blognya yang berada di Jakarta (dan yang menulis ini) keringat dingin. Mengapa? Karena ia tak tahu harus dibawa ke mana anak gadis satu itu. (more…)

Orang Pintar vs Orang Bejo

Laki-laki kelas kami selalu punya hal-hal konyol untuk diperdebatkan. Mulai dari tema legendaris (namun juga sangat unfadeah) seperti lebih dulu ayam atau telur sampai bumi itu bulat atau datar. Setiap perdebatan itu terjadi, keadaan kelas menjadi heboh. Heboh sampai-sampai setiap telinga mendengar apa yang mereka perdebatkan. Namun aku kira tak ada yang lebih menghebohkan selain perdebatan episode “apakah sebenarnya wanita bisa kentut?” Aku lupa bagaimana kesimpulan akhirnya. Yang jelas para wanita di kelas langsung segera keluar saat perdebatan menjadi semakin intens

Episode perdebatan terakhir mengambil tema “lebih sukses mana, orang pinter atau orang bejo?” Sama seperti perdebatan-perdebatan sebelumnya, perdebatan ini memakan waktu lama. Dan ya, tetap kaya akan unfaedahness (more…)

Amanat untuk Rice Cooker

Kesalahan paling amatir di dunia masak-memasak nasi adalah lupa ‘nyetekin’ rice cooker. Dan baru saja saya melakukannya -_-

Jarang-jarang bisa lupa hal sepenting ini di waktu segenting lapar-terkapar-menggelepar-gelepar. Mau salahin orang ya gimana, mau nyalahin diri sendiri juga nggak tega. Di saat seperti ini sulit untuk berpikir jernih karena efek lapar membuat kita menjadi orang yang berbeda.

Yah, sebenarnya menunggu beras menjadi nanak hanya butuh waktu 45-60 menit. Namun durasi waktu itu serasa berlipat ganda dalam kondisi lapar-terkapar-menggelepar-gelepar. Disarankan mencari kegiatan sampingan sambil menunggu agar emosi dapat terus ditekan. Dan untuk saya, kegiatan sampingan itu adalah menulis tulisan ini. Haduh. Lapar.

Saya membayangkan situasi suatu keluarga di bulan Ramadhan nanti. Saat Ibu baru menyuruh si Adik memasak nasi pada jam 5 sore. Lalu 10 menit sebelum buka puasa, saat membuka rice cooker, terlihat pemandangan menyakitkan. Nasi-nasi yang ada di dalamnya masih prematur alias masih bernama beras. Si Adik kemudian merasa bersalah. Rice cooker hanya terdiam seribu bahasa. Maka ibu rumah tangga mana yang tidak menangis?

Meidioxide

Oke. Jadi saya pernah mendengar ada yang bilang “Ah, zaman sekarang mau jadi artis gampang. Siapa aja bisa. Nggak perlu bakat dan yang penting modal nggak tau malu aja. Beda dengan dulu. Kalau dulu cuma orang punya skill yang bisa terkenal. Jadi bukan orang sembarangan.”

Sebenarnya tak persis seperti itu. Perkataan di atas lebih mirip ke nyinyiran ibu rumah tangga sepertinya ya, tetapi dapatlah sekiranya digambarkan seperti itu. Ada orang-orang yang beranggapan bahwa menjadi terkenal sekarang bisa hanya dengan modal dengkul. Hmm… bagaimana ya. Namanya juga perkembangan zaman. Pertukaran informasi sekarang jauh lebih intens dan mudah ketimbang dua dekade lalu. Semuanya berterima kasih pada internet. Nah kembali ke tadi, menurut saya adanya internet ini tidak berarti menjadikan orang-orang yang bermodal dengkul dapat serta merta terkenal. Saya lebih beranggapan internet membuka pintu lebih lebar dalam menemukan orang-orang dengan berbakat, yang zaman dulu hanya dapat ditemukan lewat TV atau radio

Salah satu orang yang ditemukan internet itu adalah teman saya sendiri. Meidioxide

(more…)

Indomie Seleraku

Saya memiliki beberapa agenda yang hanya dilakukan seminggu sekali. Misalnya seperti makan nasi padang, pergi ke pasar, update blog sekalian blogwalking, dan lain sebagainya. Kebanyakan memang kegiatan remeh temeh dan tidak penting. Karena itu, beberapa kegiatan seminggu sekali yang saya jadwal pernah sekali-dua kali tidak terlaksana. Efeknya tidak terlalu signifikan. Paling cuma membatin,”Kok perasaan ada yang kurang ya?” dan ketika ingat kegiatan itu terlupa, semua saya anggap angin lalu

Namun dari beberapa kegiatan seminggu sekali saya, ada satu yang tak pernah terlupa. Itu adalah makan indomie. Dengan atau tanpa telor. Yap.

Entah mengapa, ritual seminggu sekali makan indomie tak pernah terlupa. Tak bisa. Tak dapat. Seakan makan indomie itu sudah terfatwa fardu ain, yang terjadinya dinanti dan kalau telat sedikit rasanya gelisah. Hmm.. sebenarnya berlebihan. Tak pernah saya gelisah karena lupa makan indomie. Hanya saja rasa lezat indomie dihafal mati oleh lidah. Dan lidah suka kangen dengan makanan-makanan yang enak. Kalau tidak dipertemukan, dia bakal mengadu ke otak, lalu otak akan berusaha menjadi sebaik-baik mak comblang agar lidah bertemu dengan si makanan yang dimaksud. Kalau gagal, lidah akan menangis, menghasilkan ngences

Pasti pernah mendengar perkataan seperti ini, “Semua yang bernyawa pasti akan makan indomie.” (more…)

Komplikasi

Kata orang cinta itu buta.

Huuuu… Betapa basinya opini itu. Terlebih itu terlalu sederhana untuk sekedar dideskripsikan dengan “buta”. Kita tambah sedikit gimana?

Seperti, “Cinta itu buta. Cinta juga punya gangguan pendengaran (rada budek), gagu, gagap, cacat fisik maupun mental, hipertensi, stroke kambuhan, tidak mampu berpikir rasional, sedikit gila, emosinya tidak stabil, suka senyum-senyum sendiri, memiliki denyut nadi tak terkendali, serta beberapa riwayat tidak sehat lain yang sayangnya tidak dapat dibantu rumah sakit.”

Yak. Dan segala komplikasi itupun masih belum cukup untuk menjelaskan cinta.

Lagi, Tentang STIS Mengajar

Hi. Awal bulan ini saya bercerita sedikit tentang STIS Mengajar, tempat saya berbagi ilmu dan kebahagiaan kepada anak-anak di sekitar kampus saya. Seru juga menulis yang itu. Benar dugaan saya, ternyata satu tulisan saja tidak cukup hmm.

Bagi yang sampai kalimat ini masih bingung apa yang saya maksud, tak mengapa. Itu cuma sedikit racauan saya tentang satu komunitas mengajar kampus yang sifatnya serupa dengan bakti sosial, yaitu berfokus mengajari anak-anak di bidang akademik dan non-akademik. Namanya STIS Mengajar. Meskipun namanya begitu, sayalah yang merasa lebih banyak diajarkan anak-anak itu. Tentang mengatasi anak-anak (yak, mengatasi… udah kayak ketombe aja), menghargai kepolosan dan kejujuran, serta sedikit-sedikit mempersiapkan diri menjadi ayah-ibu yang baik. Aih, malunya mengatakan itu…

Sepanjang yang bisa saya ingat, kehidupan saya sebagai anak-anak tergolong biasa saja. Kerjanya cuma main keluar sepanjang hari, membuat anak orang menangis, dan memanen buah kersen (saya bilangnya ceri). Abah dan Umi pun cenderung membiarkan anak-anaknya bebas bermain, membuat kami dapat merayakan masa-masa keemasan kami sebagai anak-anak. Kebijakan orang tua seperti itu adalah sesuatu yang patut saya syukuri karena saya sadar tidak semua anak diberikan kesempatan seperti saya dulu. Saya rasa walaupun dilepas begitu saja, diam-diam tiap orang tua tetap mengawas anaknya dengan rahasia

(more…)