Amanat untuk Rice Cooker

Kesalahan paling amatir di dunia masak-memasak nasi adalah lupa ‘nyetekin’ rice cooker. Dan baru saja saya melakukannya -_-

Jarang-jarang bisa lupa hal sepenting ini di waktu segenting lapar-terkapar-menggelepar-gelepar. Mau salahin orang ya gimana, mau nyalahin diri sendiri juga nggak tega. Di saat seperti ini sulit untuk berpikir jernih karena efek lapar membuat kita menjadi orang yang berbeda.

Yah, sebenarnya menunggu beras menjadi nanak hanya butuh waktu 45-60 menit. Namun durasi waktu itu serasa berlipat ganda dalam kondisi lapar-terkapar-menggelepar-gelepar. Disarankan mencari kegiatan sampingan sambil menunggu agar emosi dapat terus ditekan. Dan untuk saya, kegiatan sampingan itu adalah menulis tulisan ini. Haduh. Lapar.

Saya membayangkan situasi suatu keluarga di bulan Ramadhan nanti. Saat Ibu baru menyuruh si Adik memasak nasi pada jam 5 sore. Lalu 10 menit sebelum buka puasa, saat membuka rice cooker, terlihat pemandangan menyakitkan. Nasi-nasi yang ada di dalamnya masih prematur alias masih bernama beras. Si Adik kemudian merasa bersalah. Rice cooker hanya terdiam seribu bahasa. Maka ibu rumah tangga mana yang tidak menangis?

Meidioxide

Oke. Jadi saya pernah mendengar ada yang bilang “Ah, zaman sekarang mau jadi artis gampang. Siapa aja bisa. Nggak perlu bakat dan yang penting modal nggak tau malu aja. Beda dengan dulu. Kalau dulu cuma orang punya skill yang bisa terkenal. Jadi bukan orang sembarangan.”

Sebenarnya tak persis seperti itu. Perkataan di atas lebih mirip ke nyinyiran ibu rumah tangga sepertinya ya, tetapi dapatlah sekiranya digambarkan seperti itu. Ada orang-orang yang beranggapan bahwa menjadi terkenal sekarang bisa hanya dengan modal dengkul. Hmm… bagaimana ya. Namanya juga perkembangan zaman. Pertukaran informasi sekarang jauh lebih intens dan mudah ketimbang dua dekade lalu. Semuanya berterima kasih pada internet. Nah kembali ke tadi, menurut saya adanya internet ini tidak berarti menjadikan orang-orang yang bermodal dengkul dapat serta merta terkenal. Saya lebih beranggapan internet membuka pintu lebih lebar dalam menemukan orang-orang dengan berbakat, yang zaman dulu hanya dapat ditemukan lewat TV atau radio

Salah satu orang yang ditemukan internet itu adalah teman saya sendiri. Meidioxide

(more…)

Indomie Seleraku

Saya memiliki beberapa agenda yang hanya dilakukan seminggu sekali. Misalnya seperti makan nasi padang, pergi ke pasar, update blog sekalian blogwalking, dan lain sebagainya. Kebanyakan memang kegiatan remeh temeh dan tidak penting. Karena itu, beberapa kegiatan seminggu sekali yang saya jadwal pernah sekali-dua kali tidak terlaksana. Efeknya tidak terlalu signifikan. Paling cuma membatin,”Kok perasaan ada yang kurang ya?” dan ketika ingat kegiatan itu terlupa, semua saya anggap angin lalu

Namun dari beberapa kegiatan seminggu sekali saya, ada satu yang tak pernah terlupa. Itu adalah makan indomie. Dengan atau tanpa telor. Yap.

Entah mengapa, ritual seminggu sekali makan indomie tak pernah terlupa. Tak bisa. Tak dapat. Seakan makan indomie itu sudah terfatwa fardu ain, yang terjadinya dinanti dan kalau telat sedikit rasanya gelisah. Hmm.. sebenarnya berlebihan. Tak pernah saya gelisah karena lupa makan indomie. Hanya saja rasa lezat indomie dihafal mati oleh lidah. Dan lidah suka kangen dengan makanan-makanan yang enak. Kalau tidak dipertemukan, dia bakal mengadu ke otak, lalu otak akan berusaha menjadi sebaik-baik mak comblang agar lidah bertemu dengan si makanan yang dimaksud. Kalau gagal, lidah akan menangis, menghasilkan ngences

Pasti pernah mendengar perkataan seperti ini, “Semua yang bernyawa pasti akan makan indomie.” (more…)

Komplikasi

Kata orang cinta itu buta.

Huuuu… Betapa basinya opini itu. Terlebih itu terlalu sederhana untuk sekedar dideskripsikan dengan “buta”. Kita tambah sedikit gimana?

Seperti, “Cinta itu buta. Cinta juga punya gangguan pendengaran (rada budek), gagu, gagap, cacat fisik maupun mental, hipertensi, stroke kambuhan, tidak mampu berpikir rasional, sedikit gila, emosinya tidak stabil, suka senyum-senyum sendiri, memiliki denyut nadi tak terkendali, serta beberapa riwayat tidak sehat lain yang sayangnya tidak dapat dibantu rumah sakit.”

Yak. Dan segala komplikasi itupun masih belum cukup untuk menjelaskan cinta.

Lagi, Tentang STIS Mengajar

Hi. Awal bulan ini saya bercerita sedikit tentang STIS Mengajar, tempat saya berbagi ilmu dan kebahagiaan kepada anak-anak di sekitar kampus saya. Seru juga menulis yang itu. Benar dugaan saya, ternyata satu tulisan saja tidak cukup hmm.

Bagi yang sampai kalimat ini masih bingung apa yang saya maksud, tak mengapa. Itu cuma sedikit racauan saya tentang satu komunitas mengajar kampus yang sifatnya serupa dengan bakti sosial, yaitu berfokus mengajari anak-anak di bidang akademik dan non-akademik. Namanya STIS Mengajar. Meskipun namanya begitu, sayalah yang merasa lebih banyak diajarkan anak-anak itu. Tentang mengatasi anak-anak (yak, mengatasi… udah kayak ketombe aja), menghargai kepolosan dan kejujuran, serta sedikit-sedikit mempersiapkan diri menjadi ayah-ibu yang baik. Aih, malunya mengatakan itu…

Sepanjang yang bisa saya ingat, kehidupan saya sebagai anak-anak tergolong biasa saja. Kerjanya cuma main keluar sepanjang hari, membuat anak orang menangis, dan memanen buah kersen (saya bilangnya ceri). Abah dan Umi pun cenderung membiarkan anak-anaknya bebas bermain, membuat kami dapat merayakan masa-masa keemasan kami sebagai anak-anak. Kebijakan orang tua seperti itu adalah sesuatu yang patut saya syukuri karena saya sadar tidak semua anak diberikan kesempatan seperti saya dulu. Saya rasa walaupun dilepas begitu saja, diam-diam tiap orang tua tetap mengawas anaknya dengan rahasia

(more…)

Keramahan

Saya cukup sering dikecewakan dengan perkataan “orang Indonesia adalah orang yang ramah.” Meh. Itu sih dulu. Saat orbit saya masih di sekitar satu pulau kecil beratus-ratus kilo di sanaa. Sekarang setelah bepergian jauh di rumah, boleh dikatakan saya setuju kalau orang Indonesia memang ramah-ramah 🙂

Barangkali alasan mengapa saya yang lebih muda waktu itu bersikap skeptis dengan keramahan orang kita adalah karena lingkungan saya yang cukup keras. Tentu saja ini hanya opini. Bahkan saya sendiri tak tahu apa orang lain menggolongkan saya sebagai orang yang keras/ramah. Tergantung adat, kebiasaan, juga perspektif. Syukurlah saya masih diberi kesempatan untuk pergi keluar, mengintip sedikit dunia, sehingga dapat mengenal banyak perspektif berbagai macam orang

Saya ketemu tulisan ini, di blognya Mbak Ira, tentang pengalamannya bertemu orang bule yang ramah. Mbak Ira bertemu dengan seorang bule di atas pesawa dan ia disapa terlebih dahulu. Sederhana sebenarnya. Cuma disapa lebih dulu. Namun sepertinya tindakan seperti itu bisa menimbulkan kesan cukup dalam sehingga dituangkan ke dalam tulisan. Keramahan seperti ini yang saya maksud. Ketika ada orang yang belum lagi kenal, namun sudah berbuat baik. Keramahan yang dapat kita rasakan sejak menit pertama berinteraksi dengan orang baru.

Kesimpulannya, perilaku baik nan sederhana seperti senyum saja dapat begitu bermakna bagi orang-orang, dan tentu saja ini dapat dilakukan oleh siapa saja. Kita, bule, orang kampung, orang kota, dan siapapun jua. Pun termasuk kedua orang ini dalam video.

Aih, lupakan paragraf2 di atas 😂

Yang ingin saya tunjukkan cuma video ini, yang mencerahkan hari ini. Isinya tentang “keramahan” antar dua pria dalam toilet. Katanya mereka orang Kanada. Terlepas dari palsu atau tidaknya adegan ini, video ini sungguh menghangatkan. JKeramahan dapat terjadi kapan dan dimana saja. Bahkan sambil ngeden juga bisa. Jadi ragu kalau keramahan orang Indonesia dan orang Kanada diadu. Siapa yang lebih ramah ya?

Oh ya, semoga hari ini cerah untukmu…

Ssstttt… Rahasia…

Rasanya sulit membayangkan orang yang tidak memiliki rahasia. Kalau diartikan secara kasar, rahasia adalah sesuatu yang hanya diketahui satu manusia, beberapa makhluk gaib, dan Yang Maha Satu. Dan umumnya si satu manusia itu berupaya menutup kebocoran informasi rahasianya itu agar tidak diketahui manusia lainnya. Ada pula rahasia yang hanya diketahui oleh dua atau sekelompok manusia, beberapa makhluk gaib, dan Yang Maha Satu tentunya. Aih.  Sepertinya pengertian ini terlalu mistis ya. Kalau begitu mari kita intip ke definisi ‘rahasia’ menurut KBBI Online.

‘Rahasia’ memiliki beberapa pengertian menurut KBBI Online, di antaranya:
  1. sesuatu yang sengaja disembunyikan supaya tidak diketahui orang lain
  2. sesuatu yang belum dapat atau sukar diketahui dan dipahami orang (rahasia kalbu, rahasia alam)
  3. sesuatu yang tersembunyi (lubang rahasia, toilet rahasia)
  4. cara yang setepat-tepatnya, biasanya tersembunyi atau sukar diketahui; kiat (buku ‘rahasia bisa membaca dalam 5 menit tanpa bantuan orang lain’)
  5. sesuatu yang dipercayakan kepada seseorang agar tidak diceritakan kepada orang lain yang tidak berwenang mengetahuinya
  6. secara diam, sembunyi-sembunyi; tidak secara terangterangan (tentang perkumpulan)

(more…)

Hush… Rahasia!

Sebenarnya sudah bukan rahasia lagi kalau bagian terbaik dari rahasia adalah ketika membocorkan rahasia tersebut secara rahasia, lalu menambahkan rahasia lain ke dalam rahasia itu secara rahasia pula, hingga akhirnya sebuah rahasia menjadi sekumpulan rahasia umum

Sisi gelap dari rahasianya rahasia

Pagi Cerah yang Didoakan Terus Cerah, Setidaknya Sampai Hari Ini

Hari ini cuaca cerah. Tidur tadi malam terasa sangat cukup sampai-sampai saya yang membangunkan alarm. Kuliah hari ini pun ditiadakan, suatu kelegaan bagi tiap mahasiswa yang malas. Maka apalagi yang tidak bisa disyukuri?

Saya amat mencintai pagi yang cerah. Tak ada cara yang lebih menyenangkan untuk memulai hari selain menghirup udara subuh dan merasakan sengatan matahari pagi yang hangat.

Terlebih, ini april. Saya senang hari ini masih april. Layaknya april tahun lalu dan april tahun lalunya lagi, matahari di sini begitu sopan mencurahkan sinarnya. Ia tak mau terlalu kegirangan bersinar hingga kucing-kucing menjadi gelisah atau menjadi terlalu redup sampai membuat ibu rumah tangga kebingungan. Hujan pun seperti bersepakat dengan matahari. Ia juga mengambil sikap hati-hati agar tak terlalu senang turun berlama-lama dan tetap sesekali turun demi memberi minum dedaunan.

Dan yah, ada satu hal lain yang layak disyukuri apabila sepanjang hari ini cerah, yaitu karena hari ini berlangsung Pilkada DKI 2017 putaran kedua. Apabila hari cerah, sedikit banyak itu akan memudahkan para pemilih untuk keluar rumah dan menuangkan pemikirannya akan pemimpin Jakarta yang ideal. Hari yang menentukan untuk beberapa tahun ke depan.

(more…)

Gunung dan Sawah dan Sedikit Tambahan Burung-burung

Entah siapa yang memulai tradisi menggambar pemandangan alam pegunungan di kalangan anak SD. Saya yakin hampir semua dari kita pernah melakukannya di pelajaran KTK dulu. Melukis gunung, apakah itu satu, dua, atau banyak puncak, lalu di tanahnya dipenuhi sawah yang luas bagaikan karpet hijau menutupi tanah. Hebatnya lagi, setidaknya 90% anak di kelas saya menggambar tema legendaris ini. Termasuk saya tentu saja. Padahal di tempat saya tinggal (atau lebih tepatnya pulau) tidak ada gunung atau sawah sama sekali. Gunung terlalu berat dan padi terlalu sombong untuk tumbuh di tanah gersang pulau kami

Alasan kami bisa menggambar seperti itu tentu saja karena peran guru seni dan orang tua. Ada pengajaran dari mereka yang kurang lebih menitahkan kalau menggambar itu adalah menggambar gunung. Contoh-contoh gambar yang diberikan menyangkut gunung, lengkap dengan matahari yang menyembul keluar di celah antar dua gunung. Saya yang tidak ingin sama dengan 90% golongan di kelas hanya mampu menambah aksen burung2 yang terbang mencari makan di atas gunung2 itu. Yah, pada akhirnya tema gunung juga yang saya gambar. Lambat laun ketidakkreatifan (kosakata apa ini -_-) ini dapat menumbuhkan perasaan takut menjadi berbeda.

(more…)