Pengalaman Mengurus Migrasi Rekening menjadi Rekening Bank Syariah Indonesia (BSI)

Mumpung saya sedang ada di Batam, saatnya migrasi rekening Bank Syariah Indonesia! Bulan Mei lalu saya dengan nekat datang ke BNI Syariah untuk mengaktifkan ebanking. Tapi kata customer servicenya:

“Lebih baik nanti setelah 14 Juni 2021 datang lagi ke sini ya pak. Kita ada mutasi atau pemindahan rekening dari BNI Syariah menjadi Bank Syariah Indonesia. Sudah pernah mendengar BSI, pak?”

Maka dari itu pada kesempatan ke Batam yang berikutnya, yang artinya kemarin (28 Juni 2021), saya datang menuju Kantor Cabang Bank Syariah Indonesia Batam di Jalan Raden Patah (Nagoya), sederet dengan bioskop 21 lama. KC itu dulunya punya BNI Syariah.

Tampak depan KC BSI di Batam

Sewaktu saya datang, sudah ada petugas yang stand by untuk mengarahkan nasabah untuk berganti rekening. Juga ada tenda dan banyak kursi yang khusus disediakan mengantisipasi banyaknya nasabah yang ingin migrasi rekening. Saya sendiri langsung diberi tahu petugas untuk mengisi form migrasi rekening serta melengkapi dokumen:

  • KTP asli
  • Buku rekening bank syariah yang ingin dimutasikan (punya saya BNI Syariah)
  • Kartu ATM rekening yang ingin dimutasikan

Kelengkapan itu nantinya akan diklip dengan form mutasi rekenkng yang kita isi

Form mutasi rekening

Apabila sudah diisi lengkap dan diterima pegawainya, tinggal menunggu nomor antrean kita dipanggil. Oleh petugasnya kita disuruh membawa KTP, buku rekening, dan kartu ATM yang tadi diperiksa menuju customer service.

Di customer service, kita akan dijelaskan soal teknis pemindahan rekeningnya. Ada biaya sebesar Rp50.000 yang diblok pada rekening lama. Sehingga nominal pada rekening BSI nanti lebih sedikit Rp50.000 dari rekening lama karena tidak bisa dipindahkan. Kemudian, untuk nomor rekeningnya sendiri berubah hanya sedikit. Yang awalnya angka ‘0’ berada di depan nomor rekening lama, sekarang adanya di paling belakang. Sebagai informasi: kode bank rekening BSI adalah 451

Ketika ttd beberapa kali, maka siaplah buku rekening BSI saya. Namun tidak berhenti di sana, saya juga mengurus net banking BSI. Aplikasi untuk memudahkan bertransaksi kapan saja di mana saja

Kita diminta download terlebih dahulu aplikasinya di App Store (ios) atau Play Store (android). Di ios kapasitas aplikasinya tidak besar-besar amat, cuma 89mb kalau tidak salah. Setelah download, kita diminta untuk menyiapkan

  • Nomor pin. Terdiri dari 6 digit dan hanya terdiri dari angka. Diperlukan saat ingin bertransaksi di dalam aplikasi
  • Password/Kata Sandi. Terdiri dari maksimal 8 digit, huruf dan angka. Diperlukan saat ingin masuk ke aplikasi

Mendaftar net banking BSI juga memerlukan pulsa untuk mendapat sms konfirmasi pengaktifan akun. Jadi pastikan handphonemu ada pulsanya ya ;))

Tadaa, sudah jadi~

Selesai. Saya pun akhirnya diserahkan buku rekening dan kartu ATM baru BSI. Yang dilakukan selanjutnya tinggal mengaktifkan kartu ATMnya dengan petugas lain di bank. Jangan lupa dengan nomor pin ATM yang tadi dibuat ya! Saya hampir lupa soalnya wkwk.

Mbak Customer Service tadi menjelaskan di mana saja lokasi BSI di Batam. Ternyata sudah lumayan banyak. Misalnya di Botania dan juga Winsor.

Oh ya, satu lagi catatan penting untuk penggunaam ATM. Untuk saat ini penarikan uang tunai ATM rekening BSI hanya gratis di ATM BSI dan Mandiri. Untuk ATM lainnya dikenakan biaya (Rp6.500 kalau nggak salah). Di ATM Mandiri pun walau tarik tunai gratis, untuk cek saldo dan lain2 tetap dikenakan biaya.

Nah cukup sekian pengalaman saya kemarin. Semoga yang membaca sudah dapat pencerahan ya bagaimana cara migrasi rekening ke BSI. Selamat bermigrasi rekening!

Omurice with Bolognese Lava Sauce

Menyambung tulisan sebelumnya, kacang panjang yang tersisa akhirnya saya buat Spaghetti Burjo with Del Monte Sauce and Long Bean lagi sampai habis. Itu artinya saya makan spaghetti tiga hari berturut-turut. Siang dan malam hingga akhirnya kacang panjang tidak panjang lagi, tidak bersisa lagi.

Namun ternyata tak berhenti di situ. Kacang panjang habis, masih ada saus spaghetti yang perlu dihabiskan mengingat kulkas saya di-non job-kan selama beberapa bukan ke depan. Daripada basi, lebih baik saus spaghetti itu saya kawinkan dengan telur dadar menjadi Omurice with Bolognese Lava Sauce

Continue reading “Omurice with Bolognese Lava Sauce”

Spaghetti Burjo with Del Monte Sauce and Long Bean

Untuk episode jarang-masak kali ini, saya membuat spaghetti ala burjo with long bean. Alias spaghetti yang dimasak layaknya mie dog dog di burjo dicampur kacang panjang. Gara-gara melihat saos spaghetti instan Del Monte dan mie lidi di minimarket kemarin, terpikirlah untuk bikin spaghetti. Tetapi ya apa daya. Dengan skill masak dan niat seadanya, bukannya jadi bolognese, malah dimasak dog dog.

Persoalan bagi saya ketika memasak untuk diri sendiri adalah sulitnya memasak untuk satu porsi saja. Seringkali berlebihan. Karena ketika membeli bahan masak, tidak bisa membeli hanya untuk makan 1 orang saja. Itu adalah masalah bagi saya yang jarang-jarang masak. Mau beli stok banyak, nanti keburu busuk.

Contohnya untuk spaghetti dog dog hari ini. Kacang panjangnya sisa banyak. Lebih dari setengah yang saya beli untuk bikin spaghetti ini. Entah akan saya apakan kacang panjang ini ke depannya. Yang jelas saya tidak ingin ia membusuk sia-sia.

Catatan: kacang panjang ternyata cocok lho untuk bahan masak nasi/mie goreng. Apalagi kalau kacang panjangnya dipotong kecil-kecil seperti instastory selebgram. Hmmm~

Lahir

Kedua orang tua saya sudah ada di rumah sakit di jum’at pagi itu demi menanti kelahiran anak pertamanya. Entahlah detailnya bagaimana. Saya belum lahir untuk menyaksikan kronologis kelahiran itu. Yang saya ingat dari cerita mereka: Keberangkatan mereka ke rumah sakit pada jumat itu sedikit tak terduga. Hasil estimasi dari seorang dokter kandungan menyatakan saya akan lahir bulan depan, atau bulan ke-9 pasca positif hamil. Namun nyatanya ‘bukaan’ terjadi pada jumat sebulan sebelum perkiraan. Maka mereka berdua pun berangkat ke rumah sakit terdekat.

Abah gelisah. Sudah sejak pagi ia berada di rumah sakit, namun belum ada panggilan dari balik ruang kelahiran tempat Umi berada. Katanya, Abah dulu mondar-mandir di depan pintu kaca rumah sakit yang serba putih. Klise sekali. Tapi kurang lebih saya mengerti perasaannya. Perasaan gelisah dan deg2an itu. Semua pasti berasa amat cepat baginya. Tak sampai setahun pernikahannya berlangsung, ia akan menjadi ayah. Continue reading “Lahir”

Pedagang Buah

Ketika masih kecil, saya tak pernah ingin menjadi pedagang buah. “Pasti itu pekerjaan paling tidak enak di muka bumi”, pikir saya waktu itu. Bayangkan saja buah sebanyak itu dipajang untuk dijual. Tentu tidak semua terjual. Pasti ada yang busuk. Mengeluarkan aroma tidak sedap mematahkan selera. Belum lagi tampilan visual buah busuk yang berlubang, menjadi sarang lalat ataupun serangga lainnya bertelur. Sebagai pembeli saja saya tidak betah. Apalagi menjadi pedagangnya. Membayangkan saya ketika dewasa nanti berkutat dengan aroma busuk dan ulat-ulat buah itu adalah masa depan yang tidak ingin saya lihat.

Kemudian, saya dewasa.

Satu hal yang saya pikirkan setiap mampir ke toko buah adalah, “Pasti enak jadi pedagang buah, tiap hari BAB lancarr…”

Dapat Bola, Buang Jauh ke Depan

Kami bertujuh, budak-budak statistik, mendadak menjadi pandit sepak bola malam ini. Sekonyong-konyong berubah menjadi komentator bola negara, setelah bosan mengomentari politiknya. Bagaimana tidak mengkritik kalau menonton bola negara seperti malam ini…

Indonesia vs Vietnam. 0-4. Kebobolan empat gol tanpa balas. Dengan membaca skor ini saja sudah ketahuan kita kalah telak dibanding negara tetangga kita itu, yang makin ke sini semakin digdaya dalam urusan sepak bola ASEAN. Tetapi masalahnya bukan cuma Vietnam yang semakin piawai. Indonesia yang ‘gitu-gitu aja’ tentu saja menjadi sorotan di tengah serentetan hasil buruknya.

Continue reading “Dapat Bola, Buang Jauh ke Depan”

Gramedia

Lama sudah tidak ke Gramedia. Ketika saya kembali, satu yang disadari, semua terasa mahal. Yah, tapi mereka tidak dapat disalahkan.

Gramedia Batam

Amat sedikit toko buku lain yang pantas disebut kompetitor sepadan. Harga menjadi lebih leluasa untuk ditentukan sepihak. Industri percetakan buku sendiri kian tergerus dengan apa-apa yang semakin digital, sehingga harus ada penyesuaian nilai agar mendapat keuntungan yang bagus. Semua seakan mengaminkan harga buku cetak yang semakin meroket seiring jalannya inflasi.

Hmm… intinya, saya cuma mau bilang kalau harga komik One Piece sekarang Rp28.000. Jauh di atas harga Rp13.000 sepuluh tahun yang lalu. Ngeluh aja repot…

Jauh

Di sini kami jauh dan jauh.

Jauh dari bising. Jauh dari rasa takut. Jauh dari waktu yang berjalan cepat.

Di sini kami jauh.

Jauh lebih jauh dari apapun yang kami bayangkan dulu.

Di sini kami jauh dan jauh.

Tetapi dengan kata kami, bagiku lebih jauh pun artinya masih dekat.

Sebelas Tamu

Kami baru saja mencatat rekor “jumlah orang terbanyak yang datang bertamu ke rumah” kemarin. Tercatat ada 11 orang yang masuk. Di hari lebaran ke-3. Masih dalam suasana pandemi, anti mudik mudik club.

Rumah kami yang remang dan hangat berubah menjadi gelap dan panas seiring bertambahnya orang di dalamnya
Continue reading “Sebelas Tamu”

“Siapa sih yang Kepikiran Menciptakan Ketupat?”

Pertanyaan itu keluar dari mulut Ziza setelah 5 menit mencoba memasukkan beras ke dalam ketupat.

Ini lebaran pertama kami dengan ketupat. Tahun lalu kami terlalu kaget mesti berlebaran di Daik sampai-sampai tidak menyiapkan ketupat. Hanya memakai lontong. Itu pun keburu basi karena telat menghabiskan. Tahun ini karena sudah ikhlas berlebaran di rantau (lagi), tentu saja kami memesan daun ketupat. Tetapi, ternyata ketupat membawa polemik tersendiri. Kami sama-sama amatir dalam hal mengolah ketupat.

Okelah kami belum khatam cara membuat daun ketupat. Daun ketupat bisa dibeli di sini seharga Rp600 satunya. Namun masih ada persoalan lain seperti cara menyimpan daun ketupat, cara efisien memasukkan beras, sampai cara memasaknya.

Pertanyaan Ziza di judul muncul saat kami mencoba memasukkan beras ke dalam ketupat. Kami suntuk. Mengapa orang zaman dulu iseng? Sambil tangan bekerja, saya pun jadi benar-benar bertanya bagaimana orang zaman dulu bisa terpikir untuk membuat wajik 3D dari daun kelapa. Mungkin karena orang zaman dulu punya banyak waktu luang. Mungkin pula karena pada zaman dulu belum ada smartphone sehingga waktu mereka menjadi lebih produktif berkarya tratakdungcessss

Pada akhirnya, kami mendapat arahan dan bimbingan dari Umi. Tentang menyimpan daun ketupat dalam ember yang kemudian ditutup kain lembab agar tidak cepat layu dan menguning. Tentang mengisi beras dalam ketupat cukup setengah ketupatnya saja karena kalau terlalu banyak ketupatnya akan keras. Tentang memasak ketupat selama 3-4 jam dan tidak mengikuti cara 30 menit-30 menit yang beredar karena cara itu bisa membuat ketupat lebih cepat basi. Semua teknik ketupatlogi yang kami praktekkan lebaran ini baru kami ketahui. Sifatnya ekperimental.

Yah, di luar itu semua, ketupat kami jadi juga. Eksperimen kami berhasil. Saya yakin lebaran kami akan baik-baik saja.

Oh ya, taqabbalallahu minna wa minkum 🙏🏼