Gramedia

Lama sudah tidak ke Gramedia. Ketika saya kembali, satu yang disadari, semua terasa mahal. Yah, tapi mereka tidak dapat disalahkan.

Gramedia Batam

Amat sedikit toko buku lain yang pantas disebut kompetitor sepadan. Harga menjadi lebih leluasa untuk ditentukan sepihak. Industri percetakan buku sendiri kian tergerus dengan apa-apa yang semakin digital, sehingga harus ada penyesuaian nilai agar mendapat keuntungan yang bagus. Semua seakan mengaminkan harga buku cetak yang semakin meroket seiring jalannya inflasi.

Hmm… intinya, saya cuma mau bilang kalau harga komik One Piece sekarang Rp28.000. Jauh di atas harga Rp13.000 sepuluh tahun yang lalu. Ngeluh aja repot…

Beberapa dari Kita Selalu Aman, Sedangkan yang Lain Ingin Lari Darinya

Rekan sejawat saya di ibukota me-retweet amukan massa yang menyerang stasiun MRT ini tahun lalu. Terlepas dari motif apa yang membuat manusia-manusia-berakal-dangkal ini menyerang stasiun MRT (yang jelas tidak ada sangkut pautnya dengan pengesahan RUU Ciptaker), gambaran itu menyiratkan ketidakamanan yang dirasakan teman saya di Jakarta

Lalu beralih lagi ke Daik, tanah lengang nan damai tempat saya berpijak sekarang. Obrolan Jakarta yang ‘kacau’ mengisi kekosongan saya dan Mas-mas Telur Gulung sembari menunggu telur gulung saya matang. Saya bertanya padanya apa ia pernah mencoba peruntungan di Jakarta. Katanya tidak. Ia malas hidup di ibukota. Terlalu padat, terlalu mainstream. Tak cocok untuknya. Sebelumnya ia juga pernah berjualan di Jambi dan Pekanbaru yang ternyata tak seia sekata dengannya. Katanya, baru di Daik ia merasa nyaman. Nyaman karena sekuritasnya. Nyaman karena ia merasa aman.

“Nggak ada preman di sini. Aman. Berjualan juga enak”

Kata “aman” tidak pernah terlintas di benak saya bila itu menyangkut pilihan untuk menetap. Daik memang aman. Jauh dari kekacauan, amit-amit kriminalitas. Sayangnya faktor aman itu tiada saya agungkan. Keinginan untuk berhijrah dari Daik belakangan semakin menggeliat lantaran sudah sekian tahun saya tinggal di Daik. Selama ini saya masih berpegang pada kerlap-kerlip dan kompletnya fitut kehidupan di kota

Tetapi, mungkin kini saya dan Ziza harus mempertimbangkannya. Rasa aman. Damai.

2021

Saya yakin saya tidak sendiri yang berdoa agar tahun 2021 ini menjadi tahun yang baik. Setidaknya lebih baik dari tahun lalu. Dengan segala situasi pandemi, bencana alam, bahkan kematian orang yang kita cintai, mengulang segala kejadian di 2020 bukanlah sesuatu yang saya (dan mungkin juga banyak orang lain) inginkan.

Tetapi sayang, jauh panggang dari api.

Tepat tanggal 1 Januari 2021, hujan turun tidak berhenti dua hari berturut-turut di tempat kami. Menyebabkan rumah-rumah terendam banjir bahkan sampai hanyut terseret air laut dan angin kencang. Tiga hari kemudian, atasan saya meninggal dunia. Si bapak pemimpin yang pendiam, tapi suka keramaian. Kematian almarhum begitu mendadak. Sehari sebelum meninggal beliau masih sempat berkomunikasi dengan saya menanyakan pekerjaan.

Lalu ada insiden SJ-182, banjir Kalsel, pandemi yang menjadi-jadi, dan lain-lainnya yang mengisi 17 hari kita di 2021. Telinga dan mata yang pesimis mungkin mencerna semua kejadian ini hanyalah pengantar untuk tahun ini menjadi 2020 yang kedua. Beberapa yang lainnya masih memegang harap pada keadaan baik terjadi di minggu depan atau minggu depannya lagi. Dan sisanya selalu ada mereka yang tidak berekspektasi. Yang terjadi, terjadilah.

Semua akan terlewati juga akhirnya. Baik maupun buruk. Selama waktu terus berjalan.

Perspektif Luar dari Youtube

Belakangan saya suka menonton (atau lebih tepatnya mendengar) vlog youtube. Hmm… apa pantas disebut vlog ya? Yah maksud saya video di youtube yang biasanya menampilkan satu orang bercerita mengenai satu atau beberapa hal. Sebuah monolog lewat video. Contoh paling terkenalnya mungkin videonya Agung Hapsah atau Gita Savitri. Tentu banyak lagi contoh lainnya. Kok bisa ya mereka bicara sendiri panjang lebar depan kamera hmm.

Nah, untuk saya saat ini, saya sedang menyukai channelnya Chanee Kalaweit dan Ivy Phan. Ada yang juga menontonnya?

Chanee adalah orang Perancis pelindung satwa alam yang kini tinggal di tengah belantara Kalimantan. Saya rasa ia sudah cukup terkenal sejak kurang lebih 10 tahun yang lalu karena jasanya. Bayangkan, bule jauh-jauh dari Perancis sengaja datang ke hutan Kalimantan untuk melindungi primata. Dan ia sudah tinggal bertahun-tahun di hutan sana!

Ini salah satu episode yang bagus. Mengenai bagaimana caranya punya rumah di tengah hutan tapi jarang digigit nyamuk. Coba perhatikan bagaimana rupa anak mereka atau bagaimana cara Chanee mengucapkan huruf nun sukun

Satu lagi, Ivy, adalah seorang dokter gigi berkebangsaan Malaysia yang baru saja lulus dari kuliahnya di FKG UGM. Yap, UGM yang Universitas Gajah Mada di Yogyakarta. Orang Malaysia yang bercerita tentang masa kuliahnya di tanah Jawa tentu saja menarik. Malaysia yang dianggap serumpun ternyata memiliki banyak-banyak perbedaan dengan Indonesia. Bahkan dari kata ‘beda’ nya saja sudah berbeda/berbeza. Belum lagi dengan cerita kehidupan sehari-hari. Culture shock inilah yang menurut saya menjadi nilai jual videonya Ivy.

Yah, baru tau dia keagungan tangan kanan di Indonesia. Mau dengar orang cina malaysia ngomong sedikit jowo? Temukan di sini!

Saya pertama kali mengetahui Chanee ketika menonton Kick Andy bertahun-tahun yang lalu, namun baru seminggu yang lalu mengetahui channel youtubenya. Sedangkan untuk Ivy baru kenal channelnya juga semingguan yang lalu. Keduanya menurut saya amat menarik untuk diikuti. Orang luar yang bicara Indonesia? Please! Baik Ivy yang bicara bahasa indonesia logat cina malaysia atau Chanee yang sengau-sengau nun sukun khas Perancis bahkan ketika ngomong bahasa indonesia kurang menggemaskan apa lagi coba.

Terlebih topik yang mereka angkat selalu personal, atau dalam kata lain sangat ‘mereka’. Mereka tidak perlu bersusah payah membuat ceritanya menarik, karena menurut saya, cerita mereka yang jujur itulah yang membuatnya menarik. Sudut pandang yang mungkin takkan pernah kita tahu sebelum menonton video mereka. Setidaknya dengan menontonnya, kita menjadi sedikit (memeragakan pose ‘sedikit banget’ dengan tangan) lebih bijak dengan mengetahui perspektif mereka.

Hmm… iya ya, barangkali karena mereka berdua orang luar Indonesia menceritakan pengalaman Indonesianya yang membuat menonton mereka menarik bagi saya. Suatu perspektif luar yang patut dilihat untuk lebih mengenal ke dalam.

Burger dalam Kotak Kue

Aku tak ingat kapan terakhir kali sesenang ini saat melihat “paket” makananku datang. Burger, yang ditaruh dalam kotak kue.

Burger jelas bukan makanan yang bisa sering ditemui di sini. Bahkan namanya pun terdengar asing, tidak cocok disebutkan di pulau seperti ini. Tapi kini ia di mejaku. Dan sebentar lagi akan sampai ke tangan istriku. Kuharap ia bisa senang. Atau setidaknya sedikit senang, melihat barang langka ini.

Ia selalu menyebutkan “Mister Burger” saat memakan burger apapun. Mister Burger-lah standar burger yang enak baginya. Burger lain hanya bisa mencapai standar “enaknya sama kayak Mister Burger”. Tanpa bisa melewati rasa lezat franchise itu

Aku sendiri tak terlalu bisa membedakan garis batas enak-tidak enaknya burger. Asal ia kelihatan berisi dan bukan burger McD, kemungkinan label enak akan dicap oleh standar lidahku. Burger tipis adalah suatu dosa dan burger McD tak pernah seindah gambarnya, yang menumbuhan sedikit rasa kecewa saat melihat aslinya. Hal yang terakhir ini disetujui istriku. Ia yang bermakmum pada Mister Burger

Mengenai preferensinya dalam memilih burger, ia selalu memilih tanpa keju, lebih memilih daging sapi daripada ayam (mungkin kalau ada burger kambing, ia akan memfavoritkan itu di atas semuanya), tanpa keju, hanya sedikit mayonnaise, dan sekali lagi, tanpa keju

Padahal keju enak. Tapi untuk urusan satu itu, kami tidak sepakat. Satu hal yang terkadang SANGAT kusyukuri

Pulang Sore Kemarin

Kemarin sore saya memutuskan untuk main ke rumah semasa saya SMA setelah sekian lama. Jaraknya tidak dekat, kira-kira 18 km. Itu jarak yang terbilang jauh untuk tempat sekecil Batam. Sempat ragu, akhirnya saya putuskan untuk pergi saja ke rumah tersebut. Saya pikir waktu saya tak banyak di Batam. Kalau tidak pergi kemarin, entah kapan lagi akan terwujud

Waktu sudah menunjukkan jam 5 lewat waktu itu. Dan meski sudah memprediksi jalanan akan dipadati jiwa-jiwa kelelahan sehabis kerja, tapi tak menyangka akan seramai kemarin. Jalanan macet setidaknya untuk 2 km. Suatu pemandangan langka bagi saya yang sekarang. Mungkin karena kelamaan di pulau, untuk sesaat saya merasa senang merasakan macet. Menyedihkan memang.

Perasaan senang tersebut tak bertahan lama. Saya sadar langit sudah semakin gelap, tanda tak lama lagi azan. Rencana saya pada mulanya adalah shalat maghrib di tempat tujuan. Rencana yang semakin sulit diwujudkan karena macet ini. Sepeda motor pun saya paksa meliuk-liuk di antara cahaya merah lampu mobil demi melangkahi macet yang ada, menanti lampu hijau, hingga akhirnya melaju mulus di bawah langit yang semakin gelap.

Batam tetap sama sekaligus berbeda setelah lama tidak saya tinggali. Ia masihlah panas. Orang-orangnya pun masih sangat beragam suku, dengan cara bicara yang mungkin akan dikatakan kasar bagi pendatang. Tetapi di luar itu, Batam terus menjadi berbeda. Ia terus membangun. Di atas tanah gersang ini kian bermunculan pabrik-pabrik, perumahan, dan aspal-aspal yang terus melebar-memanjang. Aspal tersebut bahkan tak lagi memijak tanah, seiring dibangunnya flyover besar kebanggaan orang kota.

Ada rasa nostalgia seiring saya melaju dengan sepeda motor. Saya rasa, masing-masing dari kita memiliki kota yang hanya di kota itu kita merasa di rumah. Dan rumah, layaknya rumah, tak pernah salah untuk kembali pulang ke rumah.

Sepi

Belakangan saya cenderung menghindari komunikasi dengan orang banyak, online-offline. Entah apa alasan persisnya.

Dengan posisi saya yang sekarang, menyendiri itu mudah. Ada rasa nyaman yang kemudian menyelimuti saat sendiri. Cukup mengamati. Tanpa berkomentar. Pelan-pelan terabaikan dan sama sekali tak masalah karenanya. Saya melihat menjadi seorang penyendiri bukanlah hal buruk.

Namun saat kini memahami nyamannya rasa sepi, muncul pula rasa khawatir: bagaimana jika saya terlalu nyaman dalam hening? Akankah nanti kehilangan kemampuan berkomunikasi? Kalau benar, tentu akan menyulitkan. Karena untuk tidak bersinggungan dengan kehidupan manusia lain adalah kefanaan. Ada waktunya berhubungan dengan orang lain mesti dilakukan. Ada waktunya sendirinya kita nanti adalah ketika harus bersama-sama.

Kepada sepi, renggutlah segala resah dan kesah. Tapi jangan tanamkan rasa betah. Ramai kelak akan menjemput. Kelak akan ada yang menyambut

Fase

Kau tahu aku merinduimu

Tetapi

Rindu hari ini terasa berbeda

Seolah

Seluruh langit dan semesta menunduk ke arahku

Mengingatkan

Bahwa aku tidak bersamamu

Dan perasaan seperti ini akan terus terulang

Layaknya fase

Kedip

Malam di mana aku kesulitan tertidur akan selalu ada. Oleh karenanya, malam di mana aku teringat pesanmu agar cepat tertidur juga selalu ada. Faktanya, aku bahkan mengingatnya sekarang. Mendengarkan bunyi detik jam katamu dapat membantu kita tidur

Menurutku itu lucu, karena aku semakin tidak bisa tidur saat mendengar tik-tok jam dinding. Tetapi aku menyadari sesuatu saat mendengar jarum detik jam dinding. Bahwa waktu selalu berjalan tak terhentikan. Tak peduli apa yang kita lakukan.

Oleh sebab itu, ia akan datang.

Waktu kita akan datang.

(Kedip)

Menurutmu Aku Akan Melewatkanmu Begitu Saja?

Semakin aku dewasa, semakin aku mengerti bahwa kita tak dapat berteman dengan siapa saja. Entah sekeras apapun kita berusaha untuk disukai semua orang. Pelan tapi pasti, beberapa orang akan menyingkir dengan sendirinya seiring berjalannya waktu. Sama halnya dengan kita, yang sadar tak sadar menyeleksi mana yang sefrekuensi dan tidak.

Pada akhirnya, hanya yang selaras yang bertahan. Mengerucut lagi untuk soal dipertahankan. Dan bisa jadi, menemukannya tidak mudah.

Lalu,

kau hadir.