Jingle Blogging: Ngebloglah Selalu

Intro:
Hmm
Hmmm
Hmmmm
Hmmmmm… hmmmm… uhuk

Manfaat ngeblog ya hmm
Gue sadar gue nggak bertambah kaya serupiah pun karena ngeblog. Gue juga tau gue nggak bertambah ganteng meski sudah ngeblog sekian lama. Lantas mengapa gue tetap ngeblog?

Karena elu! YEAH!

Ngeblog nggak bikin slim singset layaknya Kohzui Slimming Suit. Ngeblog juga nggak bikin kembung seperti Luwak White Coffee. Lantas mengapa gue keukeuh ngeblog?

Karena eluuu~
Uuu… uwuwuw… mumumu… muah

Reff:
Kenapa why selalu always?
Karena because tak pernah never
Mamapapa nggak maksa pake wordpress
Gue pake coz elu nongol di reader

Because like father, like son
Suka bokapnya, suka anaknya
Same like blog
Suka blognya, suka orangnya~

Manfaat ngeblog ya hmm
Gue belum nemu huruf “N” dari permen Yosan, tapi karena ngeblog gue udah ketemu elu. Gue belum tau Lucinta Luna laki ato perempuan, tapi berkat kopdar gue tau elu laki apa perempuan. Jadi kenapa ngeblog bermanfaat?

Karena elu!
Syululululu… aauuuwwww

Ngeblog bisa bikin produktif, aktif-reaktif, pasif-agresif, dan kalo nggak bisa bilang huruf “F”, jadinya produktip, aktip-reaktip, pasip-agresip. Jadi ngeblog bermanfaat karena?

Karena eluuuuuuuuuuuuuuuu…

[Back to Reff 2X]

Outro:
Karena elu…
Karena apa yang gue tulis, dan apa yang gue baca, adalah tentang elu, blogger dan netizen nyasar

Ngebloglah selalu~
Uuu… uwuwuw… mumumu… muah

#ObrolinGiveaway #1TahunObrolin

Hadiah untuk Obrolin. Hanya lirik. Terbuka bagi siapapun yang ingin mengaransemen. Salam semut ;))

Advertisements

Menaruh

“Nah. Benar ada nanasnya. Terus nasi kebuli makannya pakai daging kan tuh. Biasanya pakai daging ayam atau sapi hayoo…”

Jawabannya daging kambing. Sengaja tidak kuberikan pilihannya. Toh sudah niatku ingin menjebakmu. Anggaplah ini satu permainan kita.

Permainan. Lucu juga mengatakannya.

Aku sama sekali tak menyangka bahwa akan menjadi begini akhirnya. Bagaimana tiap harinya langitku membiru karena tuturmu. Bagaimana secuil perhatian yang kau sumbang begitu berdampaknya, melontarkanku ke angkasa euforia. Bagaimana juntaian doa yang kuharap adalah untukmu, bersama dengan harapanku akan terijabahnya tiap doa dan mimpi milikmu

“Pertanyaannya ngajak bercanda atau gimana sih? Jelas jelas daging sapi kok. Hahaha”

Sementara kau terlihat amat yakin dengan jawabanmu (yang ternyata salah dengan penuh gaya), aku semakin yakin untuk menaruhkan apa yang kupunya padamu. Mau bagaimana lagi? Aku telanjur mengagumimu

Mari berharap yang terbaik.
Biarlah masa depan datang dengan sendirinya.

Aduan

Bersama dengan waktu yang berjalan tak terhentikan
Bersama dengan ledakan tawa yang menepikan rasa takut
Bersama dengan hari-hari penuh pengharapan yang digantungkan

Malam ini, kuadukan kau pada Tuhanku

Harap

Aku tak ingat kapan terakhir kali aku betul-betul berharap.

Bukan karena pengharapan menyakitkan (walau sebenarnya memang) atau takut dihanyutkan angan. Hanya saja, ‘hidup seperti air mengalir’ adalah ungkapan udik nan kuno yang hingga kini senantiasa kuimani, yang karenanya tak perlu aku menaruh harap menghamba merayu

Namun kini, ketika aku tahu apa yang kumau, iblis bernama asa menggerogoti leher, menjelma jadi angan, terejawantahkan nafsu memburu, hingga akhirnya mengaburkan peluang dan mimpi

Mari kita mengintip harap dari Yang Maha Memiliki

Nyanyian Hujan

Banyak alasan untuk mencintai hujan. Orang boleh senang dengan bau hujan, yang bercampur dengan tanah dan dedaunan, memberikan bau basah menyejukkan. Atau ada juga yang mencintai udara dingin yang datang bersama rintik-rintik air, yang menelisir kulit, yang meraba-raba tiap jengkal tubuh, memberi rasa nyaman untuk meringkik dalam balutan selimut

Bagiku, bagian terbaik hujan adalah bunyi-bunyian merdu benturan air beradu. Dengan genangan air, dengan dedaunan, juga genting. Sang nyanyian hujan. Kerap aku bertanya sihir apa yang dirapalkan nyanyian hujan itu sehingga mampu melingkupi rasa hangat saat mendengarnya. Semacam sedatif yang menenangkan. Tetapi satu hal yang ku tahu tentang nyanyian hujan. Bila kau memasang telinga baik-baik, kau dapat mendengar suara malaikat-malaikat sedang berdoa syahdu di baliknya. Cobalah sesekali menguping. Barangkali namamu juga tersebut di dalamnya

Allahumma shayyiban nafi’an

Lamar (Pantun Mode)

Tulisan Bold: Calon Mertua
Tulisan Biasa: Laki

Bubur sumsum rasanya enak
Masak panaskan jangan berkerak
Assalamualakum pak
Saya ingin melamar anak bapak

Kepulauan Seribu banyak kelapa
Kelapa dipanjat sedaya upaya
Kenalkan dulu kamu siapa
Dan mengapa harus anak saya?

Bubur sumsum beli di kota
Mampir sebentar beli mentega
Saya bujang tertawan cinta
Karna pada anak bapak terlihat surga

Ke Pasar Senen membeli jamu
Jangan lupa kasih manisannya
Anak muda, manis nian mulutmu
Kalau begitu apa yang kamu punya?

Bubur sumsum kesukaan mertua
Dikasih dua, mintanya tiga
Jangan bapak pusingkan itu semua
Saya mahasiswa kaya cinta

Nona manis duduk termenung
Ke Ancol bujang menjemput nona
Kamu membuat saya bingung
Maksud kamu, kamu mahasiswa durjana?

Bubur sumsum begitu dicita
Sumsum tak ada, ketanpun tak apa
Mungkin mahasiswa miskin harta
Tapi tenang, saya bisa nafkahi dengan cinta

Kota Tua ramai di akhir pekan
Mata dimanja bangunan kuno
Sayangnya cinta nggak bisa dimakan
Tentu jawabannya…

Iyo?

NOOOOO!!!

Mengingat

Bentuk cinta paling dasar adalah mengingat.

Pun sama dengan pasifnya. Diingat berarti dicinta.

Aku senang ketika suatu pagi aku hidup, mengingat, dan mengeja Tuhanku,

aku lalu sadar akan hidupnya kau dalam ingatanku

 

Aku mengingatmu meski kau tak ingatkan

Tapi kalau memang kau ingatkan,

aku tahu kau mengingatku

dan aku pun akan terus menunjukkan bahwa aku mengingatmu

sampai Tuhan mengatakan cukup

Ya