Aduan

Bersama dengan waktu yang berjalan tak terhentikan
Bersama dengan ledakan tawa yang menepikan rasa takut
Bersama dengan hari-hari penuh pengharapan yang digantungkan

Malam ini, kuadukan kau pada Tuhanku

Advertisements

Harap

Aku tak ingat kapan terakhir kali aku betul-betul berharap.

Bukan karena pengharapan menyakitkan (walau sebenarnya memang) atau takut dihanyutkan angan. Hanya saja, ‘hidup seperti air mengalir’ adalah ungkapan udik nan kuno yang hingga kini senantiasa kuimani, yang karenanya tak perlu aku menaruh harap menghamba merayu

Namun kini, ketika aku tahu apa yang kumau, iblis bernama asa menggerogoti leher, menjelma jadi angan, terejawantahkan nafsu memburu, hingga akhirnya mengaburkan peluang dan mimpi

Mari kita mengintip harap dari Yang Maha Memiliki

Nyanyian Hujan

Banyak alasan untuk mencintai hujan. Orang boleh senang dengan bau hujan, yang bercampur dengan tanah dan dedaunan, memberikan bau basah menyejukkan. Atau ada juga yang mencintai udara dingin yang datang bersama rintik-rintik air, yang menelisir kulit, yang meraba-raba tiap jengkal tubuh, memberi rasa nyaman untuk meringkik dalam balutan selimut

Bagiku, bagian terbaik hujan adalah bunyi-bunyian merdu benturan air beradu. Dengan genangan air, dengan dedaunan, juga genting. Sang nyanyian hujan. Kerap aku bertanya sihir apa yang dirapalkan nyanyian hujan itu sehingga mampu melingkupi rasa hangat saat mendengarnya. Semacam sedatif yang menenangkan. Tetapi satu hal yang ku tahu tentang nyanyian hujan. Bila kau memasang telinga baik-baik, kau dapat mendengar suara malaikat-malaikat sedang berdoa syahdu di baliknya. Cobalah sesekali menguping. Barangkali namamu juga tersebut di dalamnya

Allahumma shayyiban nafi’an

Lamar (Pantun Mode)

Tulisan Bold: Calon Mertua
Tulisan Biasa: Laki

Bubur sumsum rasanya enak
Masak panaskan jangan berkerak
Assalamualakum pak
Saya ingin melamar anak bapak

Kepulauan Seribu banyak kelapa
Kelapa dipanjat sedaya upaya
Kenalkan dulu kamu siapa
Dan mengapa harus anak saya?

Bubur sumsum beli di kota
Mampir sebentar beli mentega
Saya bujang tertawan cinta
Karna pada anak bapak terlihat surga

Ke Pasar Senen membeli jamu
Jangan lupa kasih manisannya
Anak muda, manis nian mulutmu
Kalau begitu apa yang kamu punya?

Bubur sumsum kesukaan mertua
Dikasih dua, mintanya tiga
Jangan bapak pusingkan itu semua
Saya mahasiswa kaya cinta

Nona manis duduk termenung
Ke Ancol bujang menjemput nona
Kamu membuat saya bingung
Maksud kamu, kamu mahasiswa durjana?

Bubur sumsum begitu dicita
Sumsum tak ada, ketanpun tak apa
Mungkin mahasiswa miskin harta
Tapi tenang, saya bisa nafkahi dengan cinta

Kota Tua ramai di akhir pekan
Mata dimanja bangunan kuno
Sayangnya cinta nggak bisa dimakan
Tentu jawabannya…

Iyo?

NOOOOO!!!

Mengingat

Bentuk cinta paling dasar adalah mengingat.

Pun sama dengan pasifnya. Diingat berarti dicinta.

Aku senang ketika suatu pagi aku hidup, mengingat, dan mengeja Tuhanku,

aku lalu sadar akan hidupnya kau dalam ingatanku

 

Aku mengingatmu meski kau tak ingatkan

Tapi kalau memang kau ingatkan,

aku tahu kau mengingatku

dan aku pun akan terus menunjukkan bahwa aku mengingatmu

sampai Tuhan mengatakan cukup

Ya

 

Mungkin Begini

Ketika itu temanku berkata kalau dalam cinta, tidak ada pertanyaan mengapa. Yang ada pertanyaan bagaimana. Ini juga berlaku juga dengan kita.

Jadi pertanyaannya bukan ‘mengapa aku mencintaimu?’, melainkan bagaimana aku mencintaimu?

Mungkin begini…
Jika aku dan kau jalan-jalan naik motor tetapi kita hanya punya satu helm, helmnya akan kupakaikan ke kepalamu.

Mungkin pula begini…
Kalaupun aku tahu ternyata kau tidur mendengkur bagai guntur, aku tetap akan mau tidur di sampingmu, sekalipun itu artinya aku tidak akan tidur.

Atau begini…
Saat rumah kita nanti hanya punya satu toilet dan kita sama-sama sedang sembelit, aku akan berakting biasa saja. Agar kau dapat menggunakan toilet itu semaumu atau selama apapun tanpa rasa bersalah. Biarlah aku lari ke masjid dulu

Sungguh aku percaya kalau cinta itu sederhana. Barangkali itu yang membuat tidak ada tanya mengapa. Karena jawabannya sangat amat sederhana sampai-sampai ia wujud dalam setiap tindakan kita yang juga sederhana. Tak perlulah tersebut kata-kata.

Sekali lagi, bukan tentang mengapa aku mencintaimu. Tetapi tentang bagaimana aku mencintaimu.

Mungkin begini…

Euforia

Pukul 00.00 dan aku masih diayun euforia. Heran juga

Pukul 00.08 dan lampu kereta berteriak menyala. Betul, memejampun tak bisa. Tapi biarlah. Kalau aku tidur aku lupa

Pukul 00.17 dan ribuan kata bercerita. Tak ada satu hari yang begitu lama. Tak ada bait teronggok menua

Pukul 00.31 dan jempolku menari manja. Kekallah. Euforia