Opini

Maaf, Saya Belum Siap Menikah…

Satu jawaban menakutkan yang bisa didengar dari seorang laki-laki saat melamar perempuannya, “Maaf, saya belum siap menikah…”

Sebenarnya jawaban ini terdengar manis. Demi terdengar lebih manis, barangkali akan ada laki-laki yang berteriak, “BAIKLAH. AKAN KUTUNGGU SAMPAI KAU SIAP. KALA ITU, AKU AKAN JAUH LEBIH SIAP DARIPADA KESIAPANKU SAAT INI.”

Tetapi kemudian disadari sesuatu. Yang diajak komunikasi adalah perempuan. Selalu ada misteri di balik perkataan mereka. Misteri dalam bentuk kode rahasia. Misteri yang tak akan pernah terbuka pintu jawabannya bagi laki-laki.

Salah satu misteri menakutkan itu misalnya kalau ternyata kata-kata dari sang perempuan tadi ada sambungannya, namun tidak terucap (atau memang sengaja tidak diucap). “Maaf, saya belum siap menikah… dengan ANDA. Kalau dengan laki-laki lain, saya SANGAT siap.”

Ahh.. menakutkan sekali. Rasanya ingin cepat-cepat belajar memahami kode perempuan agar cepat sadar kalau kata-kata yang mereka sampaikan sebenarnya pahit. Tak menutup kemungkinan juga kalau jawaban sebenarnya jauh lebih manis dari itu. Yahh, seperti yang dikatakan. Perempuan adalah suatu misteri yang berbicara dengan kode.

Kembali ke jawaban tadi, perkataan “Maaf, saya belum siap menikah…” seharusnya memang memiliki sambungan jawabannya. Tuh. Coba lihat. Di akhir jawaban itu ada titik 3 nya kan? Mendingan langsung tanya aja deh. Nggak capek apa dipusingin kode?

Advertisements

Sebuah Pertunangan Tidak Bisa Lagi Lebih Pedih daripada Pertunangan yang Ini

Tanggal 21 Mei 1998 dulu, rakyat kita pernah digoncang dengan salah satu peristiwa terbesar dalam sejarah Indonesia, yaitu ketika Presiden Soeharto mundur dari jabatan presidennya setelah 32 tahun memerintah.

Lalu tanggal 21 Mei 2017, rakyat (terkhusus jomblo) kembali diluluhlantakkan dengan terjadinya tragedi paling memilukan nan menyayat hati sedekade belakang, yaitu bertunangannya Raisa dan Hamish. Hari Patah Hati Nasional pun lahir

Maka kemudian resmilah 21 Mei identik dengan tanggal kepedihan…

“Pada akhirnya aku tidak masalah jika akhirnya tidak menikah dengan seorang Raisa. Akan tetapi jika aku tidak bisa menikahinya, maka tidak ada seorang pun yang bisa. Tidak Keenan. Tidak juga Hamish.”

Benar kata seorang teman. Harusnya begitu. Tidak juga Hamish. Untungnya ini baru tunangan. Masih ada jalan yang dapat ditempuh untuk menggagalkan itu. Ada usul dari pihak yang tidak setuju untuk merobohkan tendanya nanti saat resepsi supaya batal nikahannya. Namun ada juga yang mendukung penuh keputusan Raisa, dengan menyampaikan pesan ikhlas “jagain doi ya bro” kepada Hamish. Yang jelas, bagi laki-laki biasa untuk bersaing secara sehat dengan si Hamish itu sudah tidak mungkin lagi. Ini Hamish Daud. Ha-mish Da-ud. Sekurang-kurangnya dengan ilmu hitamlah baru bisa tertikung.

Apapun itu, semoga para jomblo tidak menggila dan melakukan pemberontakan seperti pada Mei 1998. Marilah kita berpikir jernih. Selama bukan “doi” yang tunangan duluan, semua tidak jadi masalah. Iya kan. Atau jangan-jangan tidak. Kzl.

Indomie Seleraku

Saya memiliki beberapa agenda yang hanya dilakukan seminggu sekali. Misalnya seperti makan nasi padang, pergi ke pasar, update blog sekalian blogwalking, dan lain sebagainya. Kebanyakan memang kegiatan remeh temeh dan tidak penting. Karena itu, beberapa kegiatan seminggu sekali yang saya jadwal pernah sekali-dua kali tidak terlaksana. Efeknya tidak terlalu signifikan. Paling cuma membatin,”Kok perasaan ada yang kurang ya?” dan ketika ingat kegiatan itu terlupa, semua saya anggap angin lalu

Namun dari beberapa kegiatan seminggu sekali saya, ada satu yang tak pernah terlupa. Itu adalah makan indomie. Dengan atau tanpa telor. Yap.

Entah mengapa, ritual seminggu sekali makan indomie tak pernah terlupa. Tak bisa. Tak dapat. Seakan makan indomie itu sudah terfatwa fardu ain, yang terjadinya dinanti dan kalau telat sedikit rasanya gelisah. Hmm.. sebenarnya berlebihan. Tak pernah saya gelisah karena lupa makan indomie. Hanya saja rasa lezat indomie dihafal mati oleh lidah. Dan lidah suka kangen dengan makanan-makanan yang enak. Kalau tidak dipertemukan, dia bakal mengadu ke otak, lalu otak akan berusaha menjadi sebaik-baik mak comblang agar lidah bertemu dengan si makanan yang dimaksud. Kalau gagal, lidah akan menangis, menghasilkan ngences

Pasti pernah mendengar perkataan seperti ini, “Semua yang bernyawa pasti akan makan indomie.” (more…)

Komplikasi

Kata orang cinta itu buta.

Huuuu… Betapa basinya opini itu. Terlebih itu terlalu sederhana untuk sekedar dideskripsikan dengan “buta”. Kita tambah sedikit gimana?

Seperti, “Cinta itu buta. Cinta juga punya gangguan pendengaran (rada budek), gagu, gagap, cacat fisik maupun mental, hipertensi, stroke kambuhan, tidak mampu berpikir rasional, sedikit gila, emosinya tidak stabil, suka senyum-senyum sendiri, memiliki denyut nadi tak terkendali, serta beberapa riwayat tidak sehat lain yang sayangnya tidak dapat dibantu rumah sakit.”

Yak. Dan segala komplikasi itupun masih belum cukup untuk menjelaskan cinta.

Keramahan

Saya cukup sering dikecewakan dengan perkataan “orang Indonesia adalah orang yang ramah.” Meh. Itu sih dulu. Saat orbit saya masih di sekitar satu pulau kecil beratus-ratus kilo di sanaa. Sekarang setelah bepergian jauh di rumah, boleh dikatakan saya setuju kalau orang Indonesia memang ramah-ramah 🙂

Barangkali alasan mengapa saya yang lebih muda waktu itu bersikap skeptis dengan keramahan orang kita adalah karena lingkungan saya yang cukup keras. Tentu saja ini hanya opini. Bahkan saya sendiri tak tahu apa orang lain menggolongkan saya sebagai orang yang keras/ramah. Tergantung adat, kebiasaan, juga perspektif. Syukurlah saya masih diberi kesempatan untuk pergi keluar, mengintip sedikit dunia, sehingga dapat mengenal banyak perspektif berbagai macam orang

Saya ketemu tulisan ini, di blognya Mbak Ira, tentang pengalamannya bertemu orang bule yang ramah. Mbak Ira bertemu dengan seorang bule di atas pesawa dan ia disapa terlebih dahulu. Sederhana sebenarnya. Cuma disapa lebih dulu. Namun sepertinya tindakan seperti itu bisa menimbulkan kesan cukup dalam sehingga dituangkan ke dalam tulisan. Keramahan seperti ini yang saya maksud. Ketika ada orang yang belum lagi kenal, namun sudah berbuat baik. Keramahan yang dapat kita rasakan sejak menit pertama berinteraksi dengan orang baru.

Kesimpulannya, perilaku baik nan sederhana seperti senyum saja dapat begitu bermakna bagi orang-orang, dan tentu saja ini dapat dilakukan oleh siapa saja. Kita, bule, orang kampung, orang kota, dan siapapun jua. Pun termasuk kedua orang ini dalam video.

Aih, lupakan paragraf2 di atas 😂

Yang ingin saya tunjukkan cuma video ini, yang mencerahkan hari ini. Isinya tentang “keramahan” antar dua pria dalam toilet. Katanya mereka orang Kanada. Terlepas dari palsu atau tidaknya adegan ini, video ini sungguh menghangatkan. JKeramahan dapat terjadi kapan dan dimana saja. Bahkan sambil ngeden juga bisa. Jadi ragu kalau keramahan orang Indonesia dan orang Kanada diadu. Siapa yang lebih ramah ya?

Oh ya, semoga hari ini cerah untukmu…

Ssstttt… Rahasia…

Rasanya sulit membayangkan orang yang tidak memiliki rahasia. Kalau diartikan secara kasar, rahasia adalah sesuatu yang hanya diketahui satu manusia, beberapa makhluk gaib, dan Yang Maha Satu. Dan umumnya si satu manusia itu berupaya menutup kebocoran informasi rahasianya itu agar tidak diketahui manusia lainnya. Ada pula rahasia yang hanya diketahui oleh dua atau sekelompok manusia, beberapa makhluk gaib, dan Yang Maha Satu tentunya. Aih.  Sepertinya pengertian ini terlalu mistis ya. Kalau begitu mari kita intip ke definisi ‘rahasia’ menurut KBBI Online.

‘Rahasia’ memiliki beberapa pengertian menurut KBBI Online, di antaranya:
  1. sesuatu yang sengaja disembunyikan supaya tidak diketahui orang lain
  2. sesuatu yang belum dapat atau sukar diketahui dan dipahami orang (rahasia kalbu, rahasia alam)
  3. sesuatu yang tersembunyi (lubang rahasia, toilet rahasia)
  4. cara yang setepat-tepatnya, biasanya tersembunyi atau sukar diketahui; kiat (buku ‘rahasia bisa membaca dalam 5 menit tanpa bantuan orang lain’)
  5. sesuatu yang dipercayakan kepada seseorang agar tidak diceritakan kepada orang lain yang tidak berwenang mengetahuinya
  6. secara diam, sembunyi-sembunyi; tidak secara terangterangan (tentang perkumpulan)

(more…)

Hush… Rahasia!

Sebenarnya sudah bukan rahasia lagi kalau bagian terbaik dari rahasia adalah ketika membocorkan rahasia tersebut secara rahasia, lalu menambahkan rahasia lain ke dalam rahasia itu secara rahasia pula, hingga akhirnya sebuah rahasia menjadi sekumpulan rahasia umum

Sisi gelap dari rahasianya rahasia

Gunung dan Sawah dan Sedikit Tambahan Burung-burung

Entah siapa yang memulai tradisi menggambar pemandangan alam pegunungan di kalangan anak SD. Saya yakin hampir semua dari kita pernah melakukannya di pelajaran KTK dulu. Melukis gunung, apakah itu satu, dua, atau banyak puncak, lalu di tanahnya dipenuhi sawah yang luas bagaikan karpet hijau menutupi tanah. Hebatnya lagi, setidaknya 90% anak di kelas saya menggambar tema legendaris ini. Termasuk saya tentu saja. Padahal di tempat saya tinggal (atau lebih tepatnya pulau) tidak ada gunung atau sawah sama sekali. Gunung terlalu berat dan padi terlalu sombong untuk tumbuh di tanah gersang pulau kami

Alasan kami bisa menggambar seperti itu tentu saja karena peran guru seni dan orang tua. Ada pengajaran dari mereka yang kurang lebih menitahkan kalau menggambar itu adalah menggambar gunung. Contoh-contoh gambar yang diberikan menyangkut gunung, lengkap dengan matahari yang menyembul keluar di celah antar dua gunung. Saya yang tidak ingin sama dengan 90% golongan di kelas hanya mampu menambah aksen burung2 yang terbang mencari makan di atas gunung2 itu. Yah, pada akhirnya tema gunung juga yang saya gambar. Lambat laun ketidakkreatifan (kosakata apa ini -_-) ini dapat menumbuhkan perasaan takut menjadi berbeda.

(more…)

Bisa Jadi

Memahami perempuan sama seperti bermain Indonesia Pintar lah, cuma ditambah modifikasi dikit yang menjadikannya sedikit lebih sulit dan sedikit lebih seru. Semisal laki-laki bertanya dengan perempuannya. Jawaban yang mungkin diberikan perempuan: iya, nggak, bisa jadi

Iya berarti nggak atau bisa jadi.
Nggak bisa jadi iya atau bisa jadi.
Bisa jadi bisa jadi iya atau nggak, namun karena membingungkan, anggaplah tetap bisa jadi

Nah. Di situ bagian serunya. Terlalu banyak bisa jadi yang mesti ditafsirkan