Kos with Kamar Mandi Dalam Installed

Sepanjang perjalanan hidup saya, tak sekalipun saya pernah merasakan tinggal di kamar kos dengan kamar mandi sendiri. Minimal harus berbagi kamar mandi berdua. Tetapi kini, kemegahan bernama kamar mandi dalam dapat saya rasakan di kos sendiri. Dan jujur saja saya menikmatinya

Punya kamar mandi sendiri berarti hak kepemilikan kamar mandi sepenuhnya diserahkan padamu. Tak ada kompetitor mendapatkan pole position kamar mandi. Tak ada intrik jahat (misal dengan pura-pura sakit perut) bagaimana caranya bisa masuk kamar mandi duluan. Tak ada pukul-pukul tembok atau lantai kalau gagal masuk duluan. Dan yang paling penting, sekalipun bangun telat dan butuh mandi cepet (atau saat harus buang air saat itu juga, di tempat itu juga), kita bisa langsung masuk tanpa ba bi bu

Punya kamar mandi sendiri berarti timeline mandi atau buang air dapat dikendalikan sesukamu. Kapan mau mandi, kapan mau buang air, semua dapat terjadwal dengan baik dan benar. Plus tak perlu takut durasi waktu selama di kamar mandi. Mau selama apapun di kamar mandi, tak ada yang dapat melarang. Tak ada pintu kamar mandi yang digedor. Tak ada yang tiba-tiba mematikan lampu kamar mandi saat sedang buang air dan belum cebok. Tak ada makhluk-makhluk yang berteriak, “del, cepet del…” atau teriakan penuh sandiwara “kebelet nih, sakit peruut…”

Punya kamar mandi sendiri artinya mempersilakan bibit keegoisan tumbuh membabi buta. Menjadi diktator di kamar mandi sendiri. Satu-satunya penguasa. Pemerintah tunggal. Kekuatan adidaya. Dulu saya tak pernah terlalu peduli dengan fitur kamar mandi dalam. Namun ketika terinstal dan merasakannya sendiri, kamar mandi pribadi bukanlah sekadar kamar mandi. Ia adalah manifestasi kebebasan

Wahai kalian, makhluk-makhluk yang mesti berbagi kamar mandi, bersabarlah…

Advertisements

Review: Sixteen Candles (1984)

Hi. Adakah di sini yang suka menonton film lama? Yo ngacung yo!

Kalau memang ada, tos dulu dongs. Karena saya juga suka.

Menonton film lama sama rasanya seperti memasuki mesin waktu. Seperti kita kembali ke masa lalu dan melihat bagaimana keadaan yang ada waktu itu. Polemik sosial, gaya berpakaian, teknologi zaman itu, dan lain sebagainya yang jelas berbeda dengan sekarang. Memang kualitasnya akan terlihat sangat jadul. Secara visual bisa jadi jauh kalah memukau dengan yang ada sekarang. Namun, bila itu semua dikesampingkan, sejujurnya menonton film lama bisa sangat menyenangkan. Lagipula secara alur dan karakter, orang zaman dulu adalah pencerita yang dahsyat. Beberapa bahkan menganggap film-film dulu punya kualitas penyutradaraan dan akting jauh di atas sekarang. Bolehlah dicoba sekali-sekali menonton film lama ūüôā

Film lama yang baru saja saya tonton adalah Sixteen Candles keluaran tahun 1984.

sixteen-candles
Kiri-Kanan: Farmer Ted/Geek, Samantha, Jake Ryan. Btw si Jake ini punya aura-aura Zac Efron. Minus bisep sama sixpacknya doang yang nggak keliatan. Untung aja ehe

Continue reading “Review: Sixteen Candles (1984)”

M.E – Inikah Cinta

Entah mengapa youtube merekomendasikan video musik Inikah Cinta milik M.E ke halaman depan youtube.com yang saya akses. Entahlah. Memang terkadang youtube memberikan rekomendasi yang kita tidak tahu apa juntrungannya ke kita. Karena rekomendasi-rekomendasi tak beralasan itu, kadang saya merasa terganggu, kadang pula merasa bersyukur. Nah, untuk rekomendasi Inikah Cinta, sepertinya saya harus bersyukur menontonnya

Mari kita bernostalgia. Tahun itu 1998. Tahun yang “bergejolak” untuk sebagian dari kita. Di tengah-tengah sibuknya tahun itu, muncullah M.E (eMbung Eleh) dengan lagu terbarunya Inikah Cinta¬†yang berhasil mewarnai blantika musik Indonesia. Lagu tersebut sukses menjadi hits tanah air. Terbukti dengan seringnya ia diputar di banyak stasiun radio saat itu. Memang harus saya akui ia punya vibe easy-listening. Irama pop yang mudah disukai. Liriknya pun tidak macam-macam dan terasa dekat bagi siapapun yang pernah merasakan jatuh cinta

Lalu muncullah video klip lagunya. Ia punya semua atribut pada masa itu. Boyband asli Indonesia dengan wajah sangat pribumi. Rambut belah tengah. Celana cutbray. Warna fashion yang norak menyala-nyala. Koreografi turunan Westlife-Nsync. Video musik yang seakan dishoot dengan filter sephia. Penari latar yang suka asyik sendiri. Elemen 90an apa lagi yang tidak ada dalam video klip ini?

giphy5 Continue reading “M.E – Inikah Cinta”

Mujigae dan Topokki

Beberapa hari yang lalu, saya dan beberapa teman pergi ke restoran Korea bernama Mujigae…

Itu adalah restoran kekinian yang saya rasa sudah memiliki cabang cukup banyak. Desain interiornya mewah. Saya bisa merasakan atmosfer-atmosfer Korea sejak pertama kali masuk. Bagaimana tidak? Saat pertama kali masuk, kita disambut dengan pelayan yang menggunakan hanbok (entah benar atau salah namanya). Pelayan tersebut kemudian berteriak “Annyeong Haseyo!!!” setiap kali ada pelanggan yang masuk dan tentu saja ia juga berteriak ke kami saat kami masuk. Terkejut saya dibuat mereka

Di dalamnya terdapat banyak poster oppa-oppa Korea dalam ukuran besar yang jujur saja membuat perasaan saya tak enak. Belum lagi kalau menghitung LCD raksasa di tengah ruangan restoran yang menampilkan tontonan video clip dari K-pop yang sebelumnya di-request oleh pengunjung. Tak heran kalau restoran ini ramai pengunjung perempuannya. Lumayan banyak juga sih laki-lakinya. Tetapi saya rasa alasan mereka hadir adalah karena terseret perempuan yang lain hmm

Mujigae benar-benar memanfaatkan kecanggihan teknologi. Tidak hanya LCD raksasa dengan video memabukkan yang dapat di-request, mereka juga punya cara memesan menu yang futuristik. Di setiap meja disediakan suatu tablet (semacam ipad maksudnya ya, jangan bayangkan panadol). Dari tablet tersebutlah kita dapat memesan menu yang kita inginkan. Namun ternyata apa yang ada dalam tablet tersebut tidak hanya menu makanan. Juga terdapat games, kamera buat selfie lengkap dengan stiker ala-ala Korea, dan list video clip yang ingin diputar. Hasil selfie yang diambil dari tablet tersebut dapat dikirim ke e-mail kita. Lalu mengenai video yang dipilih, video tersebut akan dimasukkan ke dalam antrian untuk ditampikan via LCD raksasa. Rasanya sulit abai dari video tersebut. Sulit pula bagi saya untuk tidak merasa pusing -_-

untitled-1
sumber: thehungrydoctor

Oke. Ini pengalaman langka bagi saya berkenalan dengan makanan kokoreaan. Sejauh ini pengalaman saya dengan makanan korea adalah dengan Samyang Instant yang bisa dibeli di Alfaapril dengan harga belasan ribu dan tentunya itu tak sebanding dengan apa yang disajikan di Mujigae. Selain samyang (saya bahkan nggak tau tulisan samyang-nya udah bener apa belum -_-), makanan Korea yang saya tau itu kimchi walaupun belum pernah merasa. Udah. Itu aja yang saya tau tentang makanan Korea.

Jadi saya nggak bisa berharap banyak saat datang ke Mujigae ini. Menyebutkan menu-menunya saja saya masih gagap. Jajangmyeon, ramyun, bibimbab, bokumbab, topokki, dan bulgogi adalah sedikit dari sekian menu yang dapat saya sebutkan di Mujigae ini. Beberapa menu tersebut terdengar familier karena kadang saya nggak bisa menghindar kalau ada teman perempuan yang cerita-cerita tentang drama Korea. Meski begitu, tetap saja bingung ingin memesan apa. Untungnya, presentasi menu yang ada cukup membantu. Dengan bantuan guide Riva-ya, pecinta Korea yang sudah datang ke Mujigae 3 kali, akhirnya pilihan saya jatuh ke Topokki.

140745d77e0e47f1ce78985eb2c75c0c
Nih penampilan topokki

Melihat dari menu, kelihatannya memang enak. Potongan sosis, daging, bawang bombay, dan rice cake disirami baluran saus pedas nan creamy asli Korea. Hmmm…

dscf3192
sumber: anakjajan.com

Topokki yang saya pesan mirip dengan apa yang disajikan dalam menu. Porsinya pun kurang lebih sama banyaknya. Topokki tersebut disajikan di atas teflon yang masih hangat bersama sepiring kecil kimchi. Aahh… kimchi. Kimchi itulah yang pertama kali saya cicip. Rasanya asem. Mirip-mirip makan asinan bang sodri (asinan betawi maksudnya). Udah. Gitu aja.

Lalu untuk topokkinya. Riva-ya bilang yang dimaksud topokki itu adalah buntalan putih sebesar jempol yang berbahan dasar beras. Jadi rasanya mirip-mirip nasi. Teksturnya saja yang berbeda, kenyal-kenyal sedikit. Topokki tersebut disirami saus pedas dan creamy yang ternyata rasanya juga asam. Mirip-mirip saus tomat. Menurut saya, hampir tidak ada rasa pedasnya. Dominan asam. Rasa sedikit pedas yang terasa sepertinya hanya berasal dari menu topokki yang disajikan masih hangat. Untungnya, ada sosis di situ, sebagai potongan paling nikmat

Yah, secara keseluruhan saya biasa saja dengan topokki itu. Seandainya rasa asamnya sedikit dikurangi dan ditambahkan rasa pedas dan gurih, saya rasa saya akan lebih suka. Beruntung kami semua memesan menu-menu yang berbeda. Bermodalkan kemurahan hati kami, kami saling menukar sajian yang ada di piring kami. Rasanya berat sih merelakan potongan sosis saya (yang paling enak) untuk diambil mereka. Harusnya mereka ambil topokki-nya saja -,-

Riva-ya memesan ramyun (semacam ramen), Meidio memesan bokumbab (semacam nasi goreng/risotto yang dimakan di atas kompor), dan Jo memesan BBQ (ini taulah ya apa, harganya paling mahal di menu). Saya tak tertarik dengan ramyun. Terlalu mirip indomie, melihatnya saja saya enggan. Tetapi makanan milik Meidio dan Jo sejujurnya bikin ngiri. Mereka makan lengkap dengan kompor di atasnya, sedangkan topokki saya hanya dikasih teflonnya saja. Alhamdulillah saya mendapat selembar-dua lembar daging dari BBQ Jo. Lumayan enak sih

Oh ya, untuk minum saya memesan Matcha Milk Tea with Asuka Bean. Bodo amat dengan namanya -_-. Saya cuma memesan karena ada nama matchanya dan harus saya akui rasanya enak banget. Jauh lebih enak dari Korean Lemonade yang dipesan di meja sebelah, yang rasanya sama saja dengan yakult. Memang ya materi marketing bisa jadi membahayakan hmm

Entahlah. Saya mengecap cukup banyak rasa asam dalam petualangan kuliner korea ini, yaitu dalam kimchi dan topokki. Apa orang Korea sana suka dengan yang asam-asam ya? Yang jelas, pengalaman kali ini bisa jadi pelajaran berharga bagi saya. Jadi bisa lebih taulah makan-makanan korea yang enak meski nyebutnya masih agak susah.

Saya bukanlah orang yang sering main ke restoran. Tetapi untuk Mujigae, cobalah sesekali mampir ke. Untuk pengalaman kuliner Korea, saya cukup yakin Mujigae menyajikan atmosfer yang cocok. Asal tidak alergi saja dengan k-pop, k-drama, dan sebangsanya hmm

Paprika (2006) – Batas Antara Mimpi dan Realita yang Kabur beserta Kegilaan di Dalamnya

Sepertinya masih cukup banyak orang di luar sana yang menganggap bahwa kartun/anime hanyalah konsumsi anak-anak. Sebenarnya tidak juga. Sudah cukup banyak film animasi (khususnya produksi Jepang) yang menyoroti sisi dunia dewasa sebagai fokus utama cerita. Animasi hanyalah kanvas bagi insan perfilman untuk menumpahruahkan ekspresi mereka. Sama seperti lensa kamera film ataupun lainnya. Jadi, animasi tidak melulu untuk anak-anak karena hampir seluruh animator adalah orang dewasa dengan pikiran dan imajinasi yang dewasa pula. Mereka hanya memilih animasi sebagai wadah kreasi. Contoh terbaik dari animasi-animasi ini adalah film anime produksi Ghibli. Tak terbatas hanya di Ghibli, satu film animasi ini, Paprika, sekali lagi menjadi bukti bahwa film animasi juga bisa memiliki ide cerita yang brilian, alur yang kompleks, serta memerlukan nalar berat untuk sekedar mencerna jalan ceritanya secara umum

Ah. Entah harus dari mana untuk mengopinikan Paprika. Dalam satu kalimat, Paprika adalah anime yang penuh dengan kegilaan. Kegilaan dalam arti yang positif.

paprika_poster
Continue reading “Paprika (2006) – Batas Antara Mimpi dan Realita yang Kabur beserta Kegilaan di Dalamnya”

Pulang dari Tere Liye

Saya sadar sudah sangat terlambat untuk memberikan sedikit pandangan untuk novel ini. Yah, bisa bilang apa. Toh ini seri ‘beberapa yang belum tercatat’.

Bab III. Pulang

Seandainya masing-masing dari kita diminta untuk membuat daftar 10 novelis terbaik yang dimiliki Indonesia saat ini, besar kemungkinan akan selalu ada nama Tere Liye di dalamnya. Sulit sekali mengabaikan beliau. Bang Darwis tak hanya produktif, namun juga konsisten menelurkan karya-karya laris. Ah, entah apalagi target yang ingin beliau capai sebagai novelis. Meski begitu, saya tak begitu mengenal karya-karyanya. Sedih sekali ya

Yak. Terima kasih berkat skripsi yang sudah selesai (HAHA! Mamam noh yang masih ngerjain!) dan liburan singkat yang mau tak mau mesti dijalani, saya berkesempatan untuk membaca karya beliau dengan sungguh-sungguh. Pilihan saya jatuh ke Pulang. Kenapa? Karena itulah yang paling murah di antara rak-rak karya Tere Liye waktu itu. Sedih sekali memang Continue reading “Pulang dari Tere Liye”

Maaf, Saya Belum Siap Menikah…

Satu jawaban menakutkan yang bisa didengar dari seorang laki-laki saat melamar perempuannya, “Maaf, saya belum siap menikah…”

Sebenarnya jawaban ini terdengar manis. Demi terdengar lebih manis, barangkali akan ada laki-laki yang berteriak, “BAIKLAH. AKAN KUTUNGGU SAMPAI KAU SIAP. KALA ITU, AKU AKAN JAUH LEBIH SIAP DARIPADA KESIAPANKU SAAT INI.”

Tetapi kemudian disadari sesuatu. Yang diajak komunikasi adalah perempuan. Selalu ada misteri di balik perkataan mereka. Misteri dalam bentuk kode rahasia. Misteri yang tak akan pernah terbuka pintu jawabannya bagi laki-laki.

Salah satu misteri menakutkan itu misalnya kalau ternyata kata-kata dari sang perempuan tadi ada sambungannya, namun tidak terucap (atau memang sengaja tidak diucap). “Maaf, saya belum siap menikah… dengan ANDA. Kalau dengan laki-laki lain, saya SANGAT¬†siap.”

Ahh.. menakutkan sekali. Rasanya ingin cepat-cepat belajar memahami kode perempuan agar cepat sadar kalau kata-kata yang mereka sampaikan sebenarnya pahit. Tak menutup kemungkinan juga kalau jawaban sebenarnya jauh lebih manis dari itu. Yahh, seperti yang dikatakan. Perempuan adalah suatu misteri yang berbicara dengan kode.

Kembali ke jawaban tadi, perkataan “Maaf, saya belum siap menikah…” seharusnya memang memiliki sambungan jawabannya. Tuh. Coba lihat. Di akhir jawaban itu ada titik 3 nya kan? Mendingan langsung tanya aja deh. Nggak capek apa dipusingin kode?