Sendiri

Saya selalu merasa kalau saya tak pernah berubah dari diri saya semasa SMA. Bukan dari yang terlihat di luar, tapi dari dalam. Mental, moral, perasaan, tak ada perbedaannya antara saya yang sekarang dan saya versi 10 tahun yang lalu. Terkadang saya merasa tak pernah mendewasa.

Akibatnya, saya amat menghargai teman-teman masa kecil saya. Mereka yang membersamai ketika dulu membekas dalam benak. Bersama mereka yang juga ‘belum dewasa’ membuat saya merasa berkawan. Bersosialisasi. Tidak sendiri

Masalahnya, ternyata mereka semua tumbuh. Berkembang secara lahiriah dan mental. Meninggalkan saya sendiri yang menetap 10 tahun di belakang.

Membuat saya merasa sendiri…

Pedagang Buah

Ketika masih kecil, saya tak pernah ingin menjadi pedagang buah. “Pasti itu pekerjaan paling tidak enak di muka bumi”, pikir saya waktu itu. Bayangkan saja buah sebanyak itu dipajang untuk dijual. Tentu tidak semua terjual. Pasti ada yang busuk. Mengeluarkan aroma tidak sedap mematahkan selera. Belum lagi tampilan visual buah busuk yang berlubang, menjadi sarang lalat ataupun serangga lainnya bertelur. Sebagai pembeli saja saya tidak betah. Apalagi menjadi pedagangnya. Membayangkan saya ketika dewasa nanti berkutat dengan aroma busuk dan ulat-ulat buah itu adalah masa depan yang tidak ingin saya lihat.

Kemudian, saya dewasa.

Satu hal yang saya pikirkan setiap mampir ke toko buah adalah, “Pasti enak jadi pedagang buah, tiap hari BAB lancarr…”

Dapat Bola, Buang Jauh ke Depan

Kami bertujuh, budak-budak statistik, mendadak menjadi pandit sepak bola malam ini. Sekonyong-konyong berubah menjadi komentator bola negara, setelah bosan mengomentari politiknya. Bagaimana tidak mengkritik kalau menonton bola negara seperti malam ini…

Indonesia vs Vietnam. 0-4. Kebobolan empat gol tanpa balas. Dengan membaca skor ini saja sudah ketahuan kita kalah telak dibanding negara tetangga kita itu, yang makin ke sini semakin digdaya dalam urusan sepak bola ASEAN. Tetapi masalahnya bukan cuma Vietnam yang semakin piawai. Indonesia yang ‘gitu-gitu aja’ tentu saja menjadi sorotan di tengah serentetan hasil buruknya.

Continue reading “Dapat Bola, Buang Jauh ke Depan”

Stand-Up Comedy di Depan dan Belakang Kamera

Saya dan Ziza sama-sama penikmat hiburan stand-up comedy. Kami sama-sama menonton SUCI IX dari minggu ke minggu. Bedanya dengan Ziza, kesukaan saya dengan stand-up comedy lebih akut (sepertinya). Keakutan itu terwujud dalam beranda akun Youtube saya, yang sekarang dipenuhi oleh video berbau stand-up comedy atau figur mahsyur/komika dalam dunia tersebut. Lebih jauh, saat ini saya sudah menonton banyak video yang menyingkap bagaimana kehidupan pribadi komika-komika tersebut. Entah mengapa ada rasa kepo untuk mengenal lebih dalam latar belakang dan kehidupan belakang kamera mereka. Dan setelah mengetahuinya, ada sedikit rasa kaget.

Ternyata ada komika yang memiliki hubungan suami-istri yang sudah di ujung tanduk. Ada yang bermasalah terlibat dalam skandal perselingkuhan. Ada yang ternyata bermulut ‘sampah’, berbanding terbalik dengan apa yang disajikan di depan kamera. Ada yang ketagihan judi. Dan tak sedikit pula yang suka menenggak minuman keras.

Di luar itu semua, komika adalah komika. Lengkap dengan skill mereka untuk menghibur penonton lewat diksi cerdas, premis, dan juga kelucuan yang tak diduga ternyata lucu. Saya penikmat stand-up comedy. Tetapi satu hal yang saya sadari, hanya mereka versi “di atas panggung” saja yang saya kagumi.

Beberapa dari Kita Selalu Aman, Sedangkan yang Lain Ingin Lari Darinya

Rekan sejawat saya di ibukota me-retweet amukan massa yang menyerang stasiun MRT ini tahun lalu. Terlepas dari motif apa yang membuat manusia-manusia-berakal-dangkal ini menyerang stasiun MRT (yang jelas tidak ada sangkut pautnya dengan pengesahan RUU Ciptaker), gambaran itu menyiratkan ketidakamanan yang dirasakan teman saya di Jakarta

Lalu beralih lagi ke Daik, tanah lengang nan damai tempat saya berpijak sekarang. Obrolan Jakarta yang ‘kacau’ mengisi kekosongan saya dan Mas-mas Telur Gulung sembari menunggu telur gulung saya matang. Saya bertanya padanya apa ia pernah mencoba peruntungan di Jakarta. Katanya tidak. Ia malas hidup di ibukota. Terlalu padat, terlalu mainstream. Tak cocok untuknya. Sebelumnya ia juga pernah berjualan di Jambi dan Pekanbaru yang ternyata tak seia sekata dengannya. Katanya, baru di Daik ia merasa nyaman. Nyaman karena sekuritasnya. Nyaman karena ia merasa aman.

“Nggak ada preman di sini. Aman. Berjualan juga enak”

Kata “aman” tidak pernah terlintas di benak saya bila itu menyangkut pilihan untuk menetap. Daik memang aman. Jauh dari kekacauan, amit-amit kriminalitas. Sayangnya faktor aman itu tiada saya agungkan. Keinginan untuk berhijrah dari Daik belakangan semakin menggeliat lantaran sudah sekian tahun saya tinggal di Daik. Selama ini saya masih berpegang pada kerlap-kerlip dan kompletnya fitut kehidupan di kota

Tetapi, mungkin kini saya dan Ziza harus mempertimbangkannya. Rasa aman. Damai.

The Art of War dari Sun Tzi

Entah karena paparan dari film apa, sejak dulu saya menganggap buku The Art of War dari Sun Tzu adalah buku paling elite yang pernah ada. Lebih elite (tahukah kalian kalau kata bakunya itu ‘elite’ dan bukan ‘elit’?) daripada kamus oxford. Buku yang hanya dibaca oleh CEO tingkat adiluhung dan hanya dibincangkan oleh kalangan elite dan teman-temannya yang juga elite. Bukan sekali dua kali saya melihat tokoh bijak dalam film mereferensikan The Art of War sebagai sumber segala kearifannya.

Wajar saya versi lebih muda tentu ingin tahu bagaimana isi dan esensi dari buku tersebut. Keinginan itu baru terwujudkan akhir-akhir ini. Saat saya mengetahui, ternyata The Art of War termasuk koleksi gratis yang dapat diunduh dari Apple Books, aplikasi untuk membaca ebooks di Ios.

Bagaimana petikan halaman buku di atas? Luar biasa bijak bukan? Katanya, “Dasar dari segala peperangan adalah tipu muslihat”.

Mungkin beberapa dari kita bisa bilang “ah gitu doang, siapa juga tauk”. Tetapi untuk bisa membuat satu kesimpulan yang representatif dari suatu tema tidaklah mudah. Apalagi dengan kalimat seperti itu. Butuh pemahaman dan pengalaman yang nyata tentang peperangan.

Memang buku ini diciptakan dalam konteks memenangkan perang. Tetapi banyak petuah yang saya rasa dapat dijadikan pelajaran hidup

Meski buku ini bagus, saya tidak yakin akan menghabiskan buku ini sekalipun cuma berjumlah 316 halaman. Belakangan minat membaca saya turun drastis. Hmm… mohon doanya saja ya

Mati Air

Tempat kami sedang kesusahan air. Parah parah sekali. Satu kelurahan pontang-panting mencari air.

Memang di sini sedang kemarau. Matahari selalu terik dan pernah berhari-hari tidak turun hujan. Tetapi tempat kami berada di dekat kaki gunung, yang notabenenya merupakan sumber datangnya air bersih. Walaupun alirannya kecil, air sungai masih mengalir. Entah bagaimana air tidak mau mengalir ke rumah-rumah. Sebagian pihak menuding PDAM yang kerjanya kurang bagus, sementara yang lain memilih bersabar. Toh ini bukan pertama kalinya terjadi katanya

Kesusahan air adalah penyiksaan. Saya makin mengerti betapa megahnya kalimat “sekarang air su dekat” oleh saudara-saudara kita di NTT. Tidak seperti listrik, air tidak ada penggantinya. Listrik PLN bisa diganti dengan beberapa energi lain. Sedangkan air? Air putih tidak bisa diganti Sunco, sekalipun beningnya Sunco seperti air. Air untuk cebok pun tidak bisa diganti dengan dengan tayamum.

Banyak orang mengeluh ketika hujan. Sepertinya ini adalah cara Tuhan dalam menyadarkan kita, bahwa hujan adalah sesungguh-sungguh rahmat

Liebster Award – Discover New Blog

Saya pertama kali melihat postingan award2an saat dulu memulai blogwalking. Dulunya saya suka main ke blognya bule. Sudahlah sosoan akrab sama orang nggak dikenal, sosoan bahasa inggris pula. Nah di antara sekian banyak blog bule tersebut, postingan award-award-an sedang marak. Tentu saya sosoan SKSD juga di postingan award itu mesti tak terlalu mengerti apa maksudnya. Baru setelah bermain ke blog tanah air saya mengerti.

Dulunya saya sempat berpikir award-award itu keren. Ya jelas lah ya. Namanya saja ‘award’. Penghargaan. Tak penting pemberinya siapa, mendapat apresiasi menurut saya bukanlah hal buruk. Wa bil khusus dalam Liebster Award ini. Pemberinya teman blog sendiri, tidak ada reward atau hadiah materi. Prestisius pun tidak. Murni sebuah apresiasi dari satu bloger ke bloger lainnya karena sudah ngeblog. Simpel. Sederhana. Dan karena alasan sesimpel itu, praktis Liebster Award bagi saya adalah sarana menyambung silaturahim sesama bloger. Atau bisa juga pemicu bagi bloger yang lagi kena sindrom males luar biasa :”

Oh ya, sebelumnya saya mesti berterima kasih kepada kawanku, sobatku yang harusnya berumur 22 tahun sebentar lagi (semoga nggak salah HAHA), Dika Sukma. Satu hal yang saya ingat tentang blognya adalah tulisan saat-saat doi jatuh cinta dengan seorang perempuan waktu itu. Tulisannya begitu tulus dan jujur dalam melukiskan afeksinya ke si perempuan. Apapun yang terjadi sejak saat itu, semoga cita dan cintamu berjalan baik ya, Dik!

Peraturan:

  1. ucapkan terima kasih pada bloger yang menominasikan anda.
  2. bagikanlah 11 fakta tentang dirimu & pajang 3 link ke artikel blogmu.
  3. jawablah 11 pertanyaan yang diajukan (para) narablog kepadamu.
  4. nominasikan 11 narablog dan bikin mereka senang!
  5. buatlah 11 pertanyaan untuk dijawab oleh para nominator.
  6. beritahukan 11 nominatormu.
Continue reading “Liebster Award – Discover New Blog”

Ketika Sudah Meninggal Nanti

Bapak pernah bilang:

Kalau mau tau orang itu baik atau nggak, coba liat ketika dia sudah meninggal nanti. Sebanyak apa orang yang datang ke pemakamannya. Sebanyak apa orang yang mengenang kematiannya

dan sekarang kita sudah sama-sama melihat, ketika kita kehilangan satu putra terbaik bangsa. Selamat jalan Pak Habibie.

Twitter

Yak. Oke. Jadi saya bermain twitter. Info yang sangat penting bukan?

Saya ingat pertama kali mengetahui twitter pada tahun 2007-2008. Friendster masih menjadi komoditas panas saat itu. Bersama Facebook, ketiga nama tersebut menjadi starter pack anak gahoel yang hukumnya fardhu ain untuk dimiliki.

Tetapi bagi saya, ketiga benda itu trivial. Dan khusus Twitter, saya baru membuat akunnya sekaligus ‘mencuit’ pada 2017. Selang 10 tahun sejak pertama kali mengenal.

Lalu apa yang bisa saya katakan ketika bergabung? Twitter mengasyikkan

Tak lama sejak bermain Twitter, mudah sekali mengerti mengapa ada banyak sekali yang menggandrungi Twitter. Saya sendiri menyukai Twitter karena ia adalah media sosial hasil perkawinan kata “ringkas” dan “fleksibel.” Satu, ia hanya terdiri dari 280 karakter per tweetnya. Dan dua, retweet dan mention yang memanjakan, yang saking manjanya, segala macam orang bisa kumpul dalam satu forum buat sekadar sambat atau sumpah serapah. Hmm.

Entah bagaimana, Twitter menjadi tempat yang nyaman bagi banyak orang mencurahkan seluruh sambatnya. Saya pun tak mengerti mengapa. Ada macam-macam sambat bisa ditemui di Twitter.

Pertama, sambat indoor. Ini adalah jenis sambat yang hanya si pembuat tweet saja lah yang betul-betul mengerti maksudnya apa. Ia mengeluh, tapi hal yang ia keluhkan hanya ia sendirilah yang tau. Untuk sambat indoor, alangkah baiknya kalau sambatannya dibawa ke doa dan dzikir sehabis shalat. Siapa tau malaikat ikut nge-retweet.

Kedua, sambat outdoor. Sambat jenis ini dapat diidentifikasi dari jumlah retweet dan likes yang relatif banyak. Artinya, sambatan si pembuat tweet ini sudah bermanfaat bagi banyak orang. Entah itu karena menghibur, atau sekadar mewakili perasaan penyambat-penyambat lainnya. Ada kecurigaan bahwa orang yang menyambat outdoor sebenarnya tidak menyambat, tetapi suatu metode agar si pembuat tweet dinotice banyak orang/orang tertentu. Alangkah indahnya jika sambatan outdoor ini juga dibawa selepas shalat. Sambat dan keluhan kita belum tentu dinotice oleh orang-orang, tapi Allah pasti notice

Terakhir, sambat door-to-door. Sambat jenis ini adalah jenis sambat yang dilakukan sembunyi-sembunyi dan terkadang tweet sambatnya disampaikan lewat akun anonim. Biasanya si penyambat melakukan sambat door-to-door dikarenakan ia tidak ingin sisi lain dari dirinya diketahui orang yang ia kenal, tapi di satu sisi ia juga ingin eksis di kalangan orang-orang yang tidak ia kenal. Umumnya si penyambat sudah cukup senang bila sambatannya mengudara di alam Twitter sekalipun dilakukan diam-diam. Alangkah damainya jika prinsip sambat door-to-door ini diikutkan pula dalam shalat. Agar tidak riya dalam beribadah.

Entah apa yang telah saya tulis ini. Terima kasih telah membaca. Wassalam