Fiksi

Karenanya

Pagi itu aku bangun dengan perasaan baik. Amat baik. Entah mengapa rasanya ringan sekali. Aku sendiri tak mengerti. Mungkin sisa tawa tadi malam. Mungkin aku bermimpi sesuatu yang menyenangkan tetapi melupakannya. Atau mungkin aku mulai gila, tersenyum sendiri tanpa alasan. Entahlah. Apapun kemungkinan itu, ini semua pasti karenanya.

Aku sama sekali tak menyesali fakta selalu hadirnya ia, bahkan ketika aku tak ingin sadar ia ada. Dan tak pernahnya aku bosan mengenang ia kupikir menjadi satu bukti bahwa aku telah dibodohkannya. Yah. Aku sama sekali tak keberatan bodoh karenanya

Kemudian aku awas hidupku harus berjalan. Aku ingat betul apa-apa saja yang harus kulaksanakan hari itu dan energi meluap-luap dari euforia pagi selayaknya kujadikan baterai hingga akhir hari nanti. Dan percaya atau tidak, tak ada sama sekali rasa takut meski sebenarnya aku harus menempuh banyak hal. Aku menyenangi hal itu. Lalu kesenangan pagi itu turut aku tularkan ke semuanya. Ke matahari yang bersinar cerah dan awan-awan yang menari-nari, ke selasa dan hari libur yang semu, dan tentunya kepadanya. Aku sama sekali tak malu meneriakkan kata-kata syukurku kepadanya dan sama sekali tak malu sekalipun ia tak mengerti mengapa. Mungkin kalau aku sudah memiliki cara untuk mengatakannya dengan lebih baik, aku cukup menambahkan “karenanya” karena ini memang karenanya.

Karena seseungguhnya aku amat berterimakasih atas keberadaannya. Menyadari bahwa dia ada sungguh membuatku bahagia. Andai ia tau. Andai ia tau ini ada karenanya.

 

19.11
yang seharusnya menjadi sebuah kejutan

Advertisements

Kisah Hidup Perempuan yang Tak Bisa Tertawa

Satu hari, hiduplah seorang perempuan cantik yang tidak bisa tertawa. Sebenarnya bukan tidak bisa. Namun apabila ia terkekeh sedikit saja, ia merasakan sakit di jantungnya. Oleh karena itu ia selalu menjaga agar tidak tertawa. Meski awalnya berat, ia akhirnya berhasil meniadakan hasrat tawanya. Jadilah ia dikenal sebagai perempuan tanpa tawa.

Tetapi semua berakhir saat ia makan pisang sambil berjalan. Selesai makan, kulitnya ia lempar begitu saja di jalan, mengakibatkan orang di belakangnya terkangkang terpeleset. Si perempuan melihatnya. Ia kemudian tertawa terbahak-bahak, tersedak, lalu mati. Tamat.

Moral: jangan makan pisang sambil berjalan. Jangan buang kulit pisang di jalan

 


Kadang malu bisa berimajinasi sejauh ini hanya karena melihat kulit pisang tergeletak tak berdaya di atas aspal. Mungkin imajinatif. Mungkin delusif. Atau mungkin aku terlalu banyak nonton Spongebob

Selamat libur lebaran

Orang Pintar vs Orang Bejo

Laki-laki kelas kami selalu punya hal-hal konyol untuk diperdebatkan. Mulai dari tema legendaris (namun juga sangat unfadeah) seperti lebih dulu ayam atau telur sampai bumi itu bulat atau datar. Setiap perdebatan itu terjadi, keadaan kelas menjadi heboh. Heboh sampai-sampai setiap telinga mendengar apa yang mereka perdebatkan. Namun aku kira tak ada yang lebih menghebohkan selain perdebatan episode “apakah sebenarnya wanita bisa kentut?” Aku lupa bagaimana kesimpulan akhirnya. Yang jelas para wanita di kelas langsung segera keluar saat perdebatan menjadi semakin intens

Episode perdebatan terakhir mengambil tema “lebih sukses mana, orang pinter atau orang bejo?” Sama seperti perdebatan-perdebatan sebelumnya, perdebatan ini memakan waktu lama. Dan ya, tetap kaya akan unfaedahness (more…)

Patungan

Hey, aku dapat ilmu baru sewaktu menonton akad nikah kakak tingkatku kemarin. Tentang buku nikah misalnya. Si suami megang buku nikah warna merah, sedangkan istri warna ijo. Entah apa filosofi dari warna itu.

Tetapi yang paling penting, tahu tidak, ternyata buku nikah itu nggak bisa dibikin sendirian lho. Kamu nggak bisa bikin yang warna ijo doang atau nggak bisa juga bikinin yang merah doang. Harus sepaket. Makanya harganya jadi mahal karena yang kita bayar dobel…

Ogah bayar mahal? Tenang. Aku punya solusinya. Buku nikah bisa dibayar patungan kok. Jadi, daripada susah kalau sendiri, mending patungan aja bareng aku. Gimana?

Di Suatu Resepsi

Sang Suami, menatap kosong ke arah luar. Tidak jelas apa yang dipandangnya. Yang pasti wajahnya menyiratkan sendu. Raut yang sama sekali tak cocok dengan kemeriahan resepsi pernikahan anak perempuannya. Sebenarnya ia merasa malu karena merasa sedih di hari pernikahan Si Putri. Sebab itu, setelah lelah sekian lama memaksakan senyum di depan pelaminan, ia pergi menjauh. Sejauh mungkin dari putrinya hingga raut wajahnya tak terlihat dari kursi pelaminan.

Sang Istri, yang setahun lebih muda dari Sang Suami namun dengan sikap sepuluh tahun lebih bijak sadar akan kondisi suaminya. Perlahan ia berjalan ke arah lelaki yang bersamanya sudah dirasakan luluh lantak membangun keluarga. Pernikahan ini sendiri menandakan masuknya babak akhir cerita keluarga mereka. Tentu Sang Istri paham hal itu. Ia pun paham kalau suaminya juga paham dan bersedih karenanya. Tetapi sebagai istri yang baik, sudah menjadi kewajibannya untuk menanyakan kabar suami, sebaik atau seburuk apapun itu, meskipun ia sudah tahu jawaban sebenarnya.

“Tidak, tidak ada apa-apa.” jawab Sang Suami. Ia sadar meskipun ia jago berbohong, istrinya adalah satu-satunya orang yang tidak mampu ia bohongi. Namun entah kenapa ia tetap berbohong. Ia hanya merasa harus, untuk saat ini.

“Gadisku dicuri orang. Itu saja…”, kata Sang Suami, menyerah pada istrinya…

Lalu seperti yang diduga Sang Suami, Sang Istri tahu suaminya berbohong. Tetapi tidak seperti biasanya. Kali ini ia sengaja diam menunggu Sang Suami mengatakan sebenarnya. Dan benar akhirnya ia mengatakannya. Gadis mereka dicuri orang. Lalu mereka diam memandang jauh ke depan. Tirai baru hidup mereka resmi dibuka

Es Krim

Dua perjaka itu masih berdiri di dekat tembok itu meski sudah lama ditinggal perempuan berpipi jambu. Seakan menunggu seseorang, mereka melihat ke sudut tikungan kiri mereka. Sorot mata mereka sepakat untuk merencanakan suatu hal yang sama.

Lalu benarlah, datang perempuan yang berikutnya, dengan bibir tipis mengkilat. Tatapannya dingin. Jalannya lurus ke depan. Keberadaan kedua perjaka sepertinya tak dianggapnya ada dan memang tak disadarinya. Kedua perjaka pun sadar kalau mereka diabaikan, namun tak peduli. Mata mereka awas menyapu langkah perempuan itu. Ada aura beku mewarnai jejaknya yang perlahan hilang di balik tikungan berikutnya.

“Nah. Itu tadi yang kunamakan gadis jutek. Lihat ekspresinya tadi? Dingin sekali”

“Ya aku lihat. Dan kau memang betul. Ia jutek…”

“Ohh.. yang barusan kau juga kenal?”

Perjaka yang ditanya mengangguk elok. Sebentar kemudian ia menggumam

“Dia itu layaknya es krim. Dingin sih, tapi manis…”

Rasa Penasaran Ibu

Pernah suatu kali aku pergi keluar dari malam hari dan terus keluyuran hingga jam 2 pagi. Saat pulang, aku kaget karena ibu masih belum tidur. Ia kemudian bertanya darimana saja aku dan kenapa baru pulang. Aku yang merasa lelah dengan malas menjawab sekenanya. Suatu tindakan yang aku sesali hingga kini. Waktu itu aku tidak sadar, namun sekarang aku tahu kalau seorang ibu tidak akan tidur sebelum ia memastikan kalau anaknya pulang dengan selamat, dalam keadaan hidup, sama seperti terakhir kali terlihat.

Akan lebih mudah jika ibu tahu selalu keadaan kita. Percayalah. Rasa penasaran ibu adalah hal pertama yang kelak kita rindukan

Beruang, Kecoak, dan Gagak

Tersebutlah Beruang yang tidak bisa bahasa beruang. Ia hidup menyendiri, jauh, jauh, jauh di dalam hutan karena ketakbisaan itu. Kawanan beruang lain mengacuhkannya. Sebenarnya Beruang mengerti apa yang beruang lain katakan, hanya saja ia tidak bisa berbicara bahasa beruang. Akibatnya, ia tak pernah melakukan komunikasi sesama beruang. Kawanan beruang lain pun menganggap Beruang cacat mental. Tak ada beruang yang mau berkawan dengan Beruang.

Meski begitu, Beruang memiliki satu teman yang tinggal serumah dengannya. Namanya Kecoak, seekor kecoak. Kecoak adalah kecoak jantan. Diam-diam ia jatuh cinta pada Beruang karena sudah terlalu lama tinggal serumah dengannya dan mengira Beruang adalah betina. Kecoak tidak tahu bahwa sebenarnya Beruang itu jantan. Sama seperti yang lain, meskipun mengerti bahasa beruang, Kecoak tidak mengerti apa yang Beruang katakan. Tetapi cinta menafsirkan segalanya bagi Kecoak

(more…)

Memulai Pembicaraan

Aku takut pada perempuan yang memulai pembicaraan. Karena apabila terjadi, awal dialog itu seakan menjadi pembuka sebuah film romantis dengan aku sebagai karakter utamanya. Lalu di setiap akhir film romantis, si pemeran utama akan mendapatkan perempuannya. Aku tidak mau menjadi pemeran utama.

Bukan berarti aku tidak suka perempuan. Setiap perempuan bagiku adalah hadiah utama. Masalahnya, ketika sang perempuan memulai pembicaraan, aku takut mulai berkhayal layaknya film. Bukan hidup. Kita semua tahu film dan hidup berbeda. Dan ketahuilah berkhayal itu tidak baik. Berhenti sebelum ia menyakiti

“Hey… kamu yang kemarin pidato kan?” kata seorang perempuan padaku.

Ini dia.

Aku takut.

Santa Claus

Sewaktu libur natal, entah dari mana ia mendapatkan lowongan pekerjaan itu. Aah. aku tak begitu yakin apa ini dihitung lowongan pekerjaan atau tidak. Menjadi Santa Claus katanya. Membayangkannya saja sulit

Katanya upah menjadi Santa Claus lumayan besar. Dengan memakai kostum serba merah, janggut putih ikal palsu nan tebal, plus sumpelan pakaian di perut untuk menjadi lebih buncit, kita akan diganjar 500 ribu. “Apa susahnya? Tahan panas sedikit tak apalah. Lagipula aku cukup akrab dengan anak-anak. Ini pekerjaan yang mudah”

Suatu hari aku memutuskan untuk mengunjunginya. Namun ketika kudatangi tempat duduk Santa Claus, tak ada siapa-siapa di sana. Yang ada cuma pohon cemara yang meski sudah didandani tetap saja tampil tidak percaya diri. Mungkin sedih karena ditinggal tuannya. Kurasa yang bertanya-tanya di mana Santa Claus jejadian alias temanku berada tidak hanya aku. Kulihat banyak anak-anak bergerombol di pelataran rumah Santa ini. Tanda tanya jelas tertulis di jidat mereka. Akhirnya satu anak memberanikan diri bertanya ke satpam yang berjaga di dekat rumah Santa itu. Jawaban satpam itu sangat mencengangkan.

“Santa nya lagi shalat Ashar”

 


 

Ide diceritakan teman, sepertinya dari facebooknya. Oh Santa yang shalat ashar 😀