Horror Malam Ini

“Setelah sekian lama, gue akhirnya bisa satu grup whatsapp sama dia. Ya gue save dong nomornya. Kapan lagi coba. Langsung aja tuh gue stalking status dan info whatsapp doi. Pas nyecroll, eh kepencet video call…

GIMANA NEEEEEH!!!”


.

.

.

SEREM BANGET GA SEEEEH!!!

Advertisements

Ringan

Hal yang membuat hati terasa sempit saat mendengarkan sebuah kajian:

Saat dalam kajian, ada ustadz melafalkan hadis riwayat Ath-Thabrani,

Sebaik-baik wanita adalah yang paling ringan mas kawinnya

Lalu ada suara wanita berceletuk, “Jadi daripada saya minta beras 10 kg, lebih baik saya minta emas 100 gram ya hahaha”

Bebas dalam Kesendirian, Sendiri dalam Kebebasan

Satu hal yang saya syukuri, saya punya teman yang selalu ada baik ketika kami sedang membujang, maupun ketika kami sedang menjomblo. Dan ini membuat saya merasa lebih kuat.

Tetapi belakangan, selain perasaan yang semakin tahan banting, saya sedikit merasa takut dengan teman yang saya maksud. Sebut saja ia Upan. Upan kini sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kebebasan dalam kesendirian. Mungkin karena terlalu lama sendiri, ia mulai menerima keadaan, lalu penerimaan itu bertransformasi jadi rasa bangga yang menggebu-gebu. Bahkan saking bangganya, terkadang ia merendahkan orang yang sudah berpasangan.

Suatu hari kami mencoba mengajak teman yang sudah menikah untuk menonton bioskop. Namanya juga sudah berkeluarga. Agak sungkan mengajaknya. Toh kita sama-sama tahu, polemik perizinan kongkow bersama teman lama mungkin bisa lebih rumit ketika kita sudah menikah. Namun akhirnya kami tetap mengajaknya dan ia mengiyakan dengan satu permintaan: istrinya ikut.

“Enak ya sudah menikah. Bisa mesra-mesraan sama cewek…”, kata saya ke Upan. Sengaja saya mengatakan itu demi memancing reaksinya

“Nggak enak bro. Nggak bebas”

Lanjutnya, “kalau mereka bisa enak-enakan sama cewek, kita bisa enak-enakan sama cewek cewek…”

Oh iya juga ya. Bangsa jomblo belum mengikat komitmen kepada siapapun. Bangsa yang bebas. Bangsa yang merdeka. Tak ada yang bisa menghentikan kami kecuali cerocosan emak akibat membujang terlalu lama atau mungkin jodoh pemberian bapak

“Ngerti kan enaknya? Nggak cuma cewek lho. Cewek-cewek. Cewek-cewekan juga bisa kalau mau”

Pada akhirnya, si istri teman kami tidak bisa ikut. Si suami kemudian ikut-ikutan tidak ikut karena istrinya tidak ikut. Mendengar itu, si Upan mencak-mencak. Rasa kesalnya terhadap orang yang berpasangan semakin menjadi-jadi. Saya sendiri mencoba menghiburnya sebisa mungkin

“Namanya juga baru menikah. Pengennya berdua ke mana-mana. Atau mungkin dia cuma mau menghargai perasaan kita pan. Kan canggung juga kalau perasaan kita tersakiti karena bahas kemesraan mereka…”

“Bodo ah. Terserah. Pokoknya kita harus jadi nontonnya. Siapa bilang kita bakal tersakiti? Kita bisa gonta-ganti main bareng cewek-cewek. Cewek-cewekan sekalian!”

“Astaghfirullah…”

Lalat

Suatu layar menampilkan kata “DELAYED” di samping nama pesawatku

“Alhamdulillah…”

Oh ya, bolehkah kita mengucapkan hamdalah dengan nada (juga niat) sarkas? Kurasa tak boleh. Lebih baik kuubah saja niat sarkasku tadi menjadi rasa syukur, sedalam-dalamnya syukur atas pesawatku yang datang terlambat. Pasti ada hikmah yang menanti tersingkap dibalik terlambatnya pesawatku

Lagipula, aku tak berkeberatan menunggu. Bukankah hidup adalah tentang menunggu? Seperti yang Bapak dan Amak katakan dulu, hidup cuma untuk menunggu azan ke azan, wudhu ke wudhu, dan sujud ke sujud. Manis nian perkataan mereka. Atau kata Kakek, hidup hanya untuk menunggu mati. Terkesan lebih pesimis memang. Tetapi perkataan beliau barangkali benar. Apapun itu, hidup memang tentang menunggu. Dan kini giliranku menunggu di tempat duduk bandara ini. Menunggu keterlambatan pesawatku yang entah kapan akan datang

Kemudian ada binatang kecil yang terbang menarik perhatianku. Seekor lalat. Hmm seekor lalat yang aneh lebih tepatnya, karena ia terbang sempoyongan tak menentu. Badannya pun lebih besar daripada lalat biasa. Tak lama kuperhatikan, ternyata itu bukanlah seekor lalat, tetapi dua ekor lalat, yang sedang bercumbu begitu mesranya hingga terbang memusing. Pantas saja

Entah bagaimana mereka bisa masuk ke ruang tunggu bandara ini. Kupikir ruangan ini cukup dingin untuk tidak disukai serangga (termasuk lalat). Barangkali mereka saling bercumbu terlalu ganasnya, hingga lupa daratan, dan akhirnya tak sengaja masuk bandara. Atau percumbuan mereka yang terlalu panas, sehingga mereka mencari tempat yang lebih dingin sekaligus meneruskan percumbuan mereka. Yang manapun itu, mereka terlihat amat mengganggu

Mereka terbang memutar di atas kepalaku. Berisik sekali. Ingin rasanya mengusir mereka jauh-jauh, atau menepuk mereka mati. Tetapi niat itu urung kulakukan. Aku pernah menonton acara “Dunia Binatang” yang dipandu Otan. Katanya rata-rata lalat hanya hidup selama 2 hari. Dua hari, lalu mati. Dua hari, mati. Terus begitu sampai generasi-generasi lalat berikutnya. Singkat sekali usianya

Kalau dua lalat yang sedang bercumbu mesra ini kumatikan, tentu jahat sekali. Bisa jadi ini adalah hari terakhir mereka dan mereka maksimalkan dengan bercinta. Namun karena keegoisan pribadi, kisah hidup mereka yang sudah singkat, kupersingkat. Saat mereka tengah bercumbu pula. Lalat manapun yang melihatnya pasti sedih.

Oleh karena itu, lebih baik aku diam saja melihat mereka bercumbu (mau mengusir, takut dosa). Biarlah mereka bercumbu sepuasnya, seakan ini hari terakhir mereka hidup, dan mungkin saja memang begitu. Seandainya aku menjadi lalat, mungkin itu pula yang akan kulakukan. Melakukan sesuatu yang berguna semaksimal mungkin, dalam jangka waktu minimal.

Barangkali, jika manusia diberikan waktu hidup yang singkat, tidak ada lagi yang namanya tindakan sia-sia, nirproduktif, ataupun kegiatan bodoh. Masing-masing berusaha seoptimal mungkin memanfaatkan waktu yang ada demi memaknai hidup. Terlebih apabila agama sudah terpegang. Hidup yang singkat ini hanyalah episode pendek untuk mempersiapkan bekal sebelum menghadapi episode maha panjang nantinya. Maka manfaatkan.

Karena bisa jadi, hidup kita sesingkat lalat.

“Fai! Mau melamun sampai kapan? Pesawat delaynya udah datang!”

Oh, cepat sekali. Atau hanya aku yang melamun terlalu lama?

Bermula dari Fakhri

Tubuh Algifari yang tinggi menjulang perlahan merendah seiring ia mengambil kursi untuk duduk. Sementara aku sudah duduk di samping kursi yang diambilnya tadi, memelototi layar handphone yang berisi sedikit catatan mengenai pembahasan kajian pra nikah tempo hari.

“Ngeliat apa?”

“Nggak ri. Ini ada sedikit catatan tentang kajian pra nikah kemarin. Dateng kemarin?”

“Nggak dateng. Nggak bisa. Kalau kamu nggak heranlah ya dateng hahaha”, Algifari tertawa lepas

“Apanya yang nggak heran…”

Sebagai satu2nya teman magang laki-laki di ruangan, Algifari seringkali menjelma menjadi satu teman diskusi untukku. Tema bahasannya selalu yang ringan, seperti bagaimana ia menjelaskan kenapa Klaue dibunuh oleh Killmonger dalam Black Panther. Atau sekadar perdebatan nirfaedah tentang mana yang lebih banyak, perempuan yang makan bubur ayam diaduk atau nggak sekaligus menganalisis kepribadian mereka berdasarkan pilihan itu. Namun kali ini, bahasan kami setingkat lebih penting. Tentang kawin.

“Nikah…”, Algifari mengoreksi

“Iya. Nikah ri. Makasih”

“Sama-sama. Karena nikah dan kawin beda banget.”

Pandanganku kembali teralihkan ke handphone kecil milikku, ke catatan-catatan kecil kajian kemarin. Setelah kubaca ulang, bisa dibilang apa yang kucatat tidak ada isinya. Racauan semata.

“Coba dengar ri,” kataku membacakan apa yang kutulis, “nikah itu bukan perihal cepet-cepetan, tapi lama-lamaan. Lama-lamaan langgengnya maksudnya”

“Hahaha. Mantap. Ingat banget kemarin dibilang gini. Apa lagi apa lagi?

“Mencintai itu lebih ke ‘walaupun’, bukan ‘karena'”

“Dalem men… Terus?”

“Bentar…. nih ada nih. Ternyata ri, dari sisi perempuan pun sebenarnya boleh meminta agar ia dilamar oleh si laki-laki. Jadi ternyata sah-sah aja si Chelsea Islan teriak, ‘nikahi aku, Fakhri’ ke Fedi Nuril. Baru tau aku. Kukira perempuan nggak boleh minta dilamar. Mungkin kalimat ‘nikahi aku~’ bakal diucapin sebagai senjata terakhir kali ya. Kalau kode-kode yang dikirimkan tak tertangkap sinyal laki-laki.”

“Ah itu mah aku udah tau. Permasalahannya bukan di situ…”

“Terus?”

“Permasalahannya,” lanjut Algifari serius, “Bagaimana kita bisa membuat kaum perempuan mengucapkan kalimat itu ke kita, tanpa harus kita lamar duluan. Kalimat sejenis, ‘nikahi aku algifari!’ “

“Mana mungkin ri. Kita bukan Aa Fakhri. HAHAHAHA!”

“Iya juga ya. HAHAHAHA!”

“HAHAHA!”

“HAHAHA”

“HAHA…”

“HA….”

Seiring helaan napas panjang kami, kami lalu sama-sama termenung lama, merenungi, meresapi pahitnya kenyataan.

“Yuk sadar yuk!”, ajakku

Goodbye

Kak. Kenapa ‘goodbye’ dibilang ‘goodbye’?

Maksudnya?

Iya. Kan kalau orang berpisah suka bilang ‘goodbye’. Apanya yang ‘good’ kalau mesti berpisah? Bukannya sedih ya kalau pisah?

Hmm… sulit juga pertanyaanmu

Jadi Kakak nggak bisa jawab?

Mungkin begini. Perpisahan adalah takdir. Siapapun yang bertemu, kelak akan berpisah. Kakak ketemu kamu sekarang. Tetapi pasti nanti ada saatnya kita berpisah. Barangkali akan bertemu lagi di lain waktu, atau bahkan selama-lamanya tak akan pernah bertemu lagi.

Tuh kan. Bagian mananya yang ‘good’?

Sabar dulu. Karena perpisahan itu takdir, dan ikhlas menerima takdir adalah hal yang baik, mungkin karena itu disebut ‘good’. Penerimaan akan ketentuan Allah, good.

Atau mungkin goodbye adalah semacam doa agar kedua belah pihak saling melepas kepergian dengan ‘good’. Tak ada lagi dendam, tak ada lagi utang. Semua beres setelah goodbye

Kalau tidak begitu, mungkin karena goodbye adalah ‘good’ ditambah ‘bye’. Good artinya baik, bye artinya babay atau dadah. Jadi sebelum perpisahan mereka, mereka harus memberikan babay terbaiknya sambil senyum dadah-dadah, supaya kenangannya indah. Makanya disebut goodbye. Dadah-dadahnya nggak boleh sambil nangis lho ya. Kalau nangis jadinya badbye

Dari tadi mungkin mungkin terus hmm. Nggak ada jawaban yang pasti apa?

Kamu nanya yang aneh-aneh sih. Lagian kenapa tiba-tiba nanya begitu? Bukannya kita masih bakal sering ketemu. Waktu perpisahan kita masih belum keliatan

Belum keliatan kayak jodoh kakak?

Iya betul. Kayak jodoh kakak. Kamu minta disate?

Bermula dari Bu Dendy

Kini, rutinitas senin-jumat pagi untukku tak pernah terlalu berbeda. Setiba di kantor, segerakan mengucapkan salam kepada siapapun yang sudah sampai, tersenyum, berjalan (dengan sedikit irama melompat jika sedang bergembira) ke meja milikku, menaruh tas, lalu lekas berpindah ke tempat cemilan, dan membawa sedikit cemilan tersebut menuju ke meja dekat Desi Rizki yang berada nun jauh di depan sana. Kalau memang cemilannya tersedia, kutawarkan sedikit pada Desi Rizki. Atau kalau tidak ada, aku hanya membawa segelas air putih, tanpa menawarkan padanya.

Dan seperti biasa, Desi Rizki yang selalu datang paling awal sedang memakan bubur ayam sambil menonton drama Korea saat kuhampiri. Selalu begitu. Selalu dengan headset terpasang mantap, bibir merah yang sesekali melukis senyum, dan balasan “selamat pagi juga del” ketika kusampaikan salam pagi.

Bukannya tanpa alasan aku menyebrang jauh ke meja depan. Di meja depan, dekat Desi Rizki, terdapat televisi. Sudah menjadi kebiasaanku sejak berkantor untuk menonton acara pagi televisi. Sekadar untuk mengetahui perkembangan berita yang kini tengah hangat, atau cuma menonton highlight kemenangan Liverpool (atau klub lain) tadi malam. Pun begitu yang kulakukan pagi ini. Televisi yang awalnya mati kuhidupkan, kemudian dengan angkuh aku menjadi penguasa remote. Setidaknya sampai sebelum acara gosip pagi dimulai.

Karena tidak punya televisi di kos, menonton berita pagi terasa begitu berharganya. Setiap berita bagaikan emas. Dan emas pagi ini yang kudapatkan adalah berita mengenai video viral tentang ibu yang menyumpah serapah sambil menyemburkan lembaran uang merah ke perempuan yang duduk tak berdaya di atas sofa. Video yang rasanya benar namun juga terasa salah. Continue reading “Bermula dari Bu Dendy”