Catatan

Beberapa yang Belum Tertulis: Dramaga dan Adik Saya

Cuss.. masih berlanjut dari postingan kemarin nich. Membayar sedikit utang atas keabsenan saya dalam dunia blog. Kali ini saya membahas sedikit tentang adik saya…

Bab II. Filza

Itu nama adik saya. Tahun ini ia mulai berkuliah di IPB. Tentu saja saya senang bukan kepalang. Setidaknya jarak kami hanya menjadi puluhan kilo. Tak lagi menyebrangi lautan untuk bertemu.

Berhubung abangnya (yang secara fisik tidak mirip sama sekali) ada di Jakarta, sudah pasti kedua orang tua Filza memanfaatkan abangnya itu untuk mengurus segala keperluan Filza. Mulai dari pendaftaran ulang mahasiswa, masuk asrama, perlengkapan kamar, sampai pakaian untuk kuliah. Dan sungguh itu sesuatu yang menyenangkan. Banyak hal baru yang dilihat dan dipelajari abangnya itu.

Yang paling pertama mungkin tentang Dramaga dan kampus IPB. Meski sudah beberapa kali mendengar, saya belum pernah merasakan sendiri perjalanan yang harus ditempuh dari Jakarta ke Dramaga. Yang saya tahu kalau tempatnya lumayan jauh. Ternyata benar. Hanya saja perlu ditekankan kata “lumayan” di situ, menjadi LUMAYAN jauh. Untuk saya, sekali jalan dari kos menuju ke IPB dengan angkutan umum (kombinasi angkot-kereta-ojek) butuh waktu kurang lebih 2 jam. Itupun dengan asumsi macet yang normal. Jalanan dari Stasiun Bogor menuju Dramaga itu yang parah benar-benar. Tidak seperti Jakarta yang punya jalan raya cukup besar, jalan di sana cukup kecil. Hanya mampu menampung satu kendaraan di satu jalur. Ditambah lagi dengan ramainya Bogor, lengkaplah sudah untuk resep macet berkepanjangan (yay!)

Namun macet tak selalu menjadi masalah bagi saya. Hidup di Jakarta membuat saya beradaptasi dengan macet. Sudah biasa. Saya hanya baru tau kalau menuju jalan Dramaga-stasiun seramai itu. Yang saya pikirkan adik saya. Tak lama lagi Filza akan menjadi perempuan tangguh yang kebas macet.

IPB sendiri ternyata kampus yang cukup asri. Hijaunya mirip-mirip UI lah. Hanya saja luasnya lebih kecil. Walaupun saya bilang lebih kecil, tetap saja IPB kampus yang luas. Saya belum khatam jalan-jalan di sana karena Filza malas membawa saya jalan-jalan karena menurutnya itu terlalu luas untuk dibawa “jalan-jalan”. Lalu seperti kawasan-kawasan PTN lainnya, di sana banyak sekali mahasiswa berseliweran. Dan coba tebak, mereka tidak memakai seragam! Wow! Berbeda sekali dengan kampus saya.

Sebelum persiapan sidang, saya rutin tiap minggunya main ke IPB. Lumayan. Hitung-hitung rekreasi sambil melihat Filza. Adik saya itu selalu punya cerita baru untuk disampaikan. Seperti bagaimana ia mencoba meniru temannya yang teramat hemat dengan hanya mengeluarkan Rp 5000 untuk makan tiap harinya atau bagaimana teman-temannya yang berdomisili Jabodetabek bisa pulang setiap minggunya sedangkan ia mesti pindah ke kamar temannya agar tak kesepian. Saya selalu suka mendengar ceritanya pun bahagia melihat sosoknya yang tak berubah.

tenor

Kalau dari luar, Filza kelihatannya seperti orang kena tipes. Lemes banget asli. Orang yang tidak mengenalnya mungkin akan mengira ia introvert pemurung yang sering sakit-sakitan. Yah, itu salah besar. Saya telah mengenalinya sejak ia lahir dan ia jauh dari kata introvert ataupun pemurung yang sakit-sakitan. Memang ia tak lagi sama seperti dulu, seorang anak kecil perempuan yang ekspresif dan humoris. Sekarang entah bagaimana sifat ekspresifnya itu menghilang. Tetapi tidak selera humornya yang unik (yang saya sukai) dan pribadi ramahnya. Percaya atau tidak, setiap kali saya jalan bersamanya, ia selalu menyapa senyum semua orang yang ia lewati baik kenal ataupun tidak. Sebagai balasan, banyak juga yang menyapanya lebih dulu, bertanya siapa lelaki besar yang berjalan di sampingnya, lalu seperti biasa lawan bicaranya itu seakan tak percaya bahwa kami adalah kakak-adik. Kemudian seperti biasa pula, senyum ramahnya itu kembali ia antarkan ke tiap lawan bicaranya sewaktu berpisah.

Dan yang paling saya senangi, ia kelihatan sehat dan baik-baik saja. Ia masih cuek dalam berpakaian, cara tertawanya masih seperti orang kena asma, dan masih saja suka bercerita tentang sesuatu yang sebenarnya tak penting. Itu, beserta kualitas-kualitas lain dalam dirinya, sungguh menandakan betapa spesial dirinya pun membuat saya bahagia ketika bertemu. Bertemu dengannya selalu menjadi tanggal merah dalam kalender saya

Advertisements

Beberapa yang Belum Tertulis: Skripsi

Hi. Saya pernah bilang kalau Semut Hitam ini adalah blog pribadi. Jadi jangan heran kalau di dalamnya ketemu dengan tulisan anarsis (anarkis+narsis). Pada mulanya tidak seperti itu. Dulu kebijakannya tidak ingin memosting tulisan yang eksplisit membahas pribadi. Yah kalau dibias-biaskan sedikit sih pernah. Yang pasti diusahakan tidak anarsis. Namun lambat laun, jiwa narsis ini memberontak dan menuliskannya di blog pun menjadi tak terhindarkan. Beginilah jadinya Semut Hitam. Jadi jangan heran kalau ketemu hal-hal nggak penting di sini. Ah, memang dominannya nggak penting sih -_-

Oke. Bisa dibilang ini tulisan pertama yang dibuat murni dalam ruang lingkup ‘blogging’ setelah sekian lama. Banyak-banyak-banyak yang terjadi ke dalam hidup saya selama tidak nangkring di Semut Hitam ini. Mungkin baiknya saya rangkum menjadi beberapa postingan ya. Hitung-hitung memperbanyak postingan juga (peace) (more…)

Kopdar Bersama Winda Bungahahihuheho dan Halipiani

Hi. Kurang lebih seminggu yang lalu, saya melakukan kopdar lagi lho. Kopdar yang ke-5 bersama Semut Hitam. Dan seperti biasanya, saya selalu menjadi yang paling belakang menuliskannya di blog hmm. Kondisi biasa saja nulis tulisan kopdar basi, gimana dalam kondisi dihantui skrips* gini -_-. Yah, karena ini tentang kopdar, ini jadi wajib untuk dituliskan.

Kopdar terakhir ini amat berbeda dengan yang sebelum-sebelumnya. Di mana letak berbedanya? Jawabannya adalah di (1) ini adalah kopdar pertama yang terlaksana karena adanya grup Obrolin. Karena bloger yang ikutan kopdar ini murni saya kenal dari grup itu. Tidak dari readers atau kolom komentar seperti sebelum-sebelumnya. Jadi, terima kasih untuk Obrolin telah memberikan kami jalan! (hmm.. mudah dimisinterpretasikan ya).

Lalu, (2) kopdar ini adalah yang pertama kalinya dilaksanakan dengan bloger yang juga tinggal di Jakarta. Yah, sedih aja sih kalau punya niat ketemu bloger ini dan itu tapi yang dekat malah tidak dijamah. Karena tinggal berdekatan, saya yakin kami bisa saling berbagi tentang macet, tentang polusi, tentang transjakarta, tentang KRL, dan tentang semuanya yang kalau disebutkan terbayang dengan kata “Jakarta”. Di samping itu, saya sendiri cukup excited akan mendapatkan teman di Jakarta, di luar teman area kampus-warteg.

(3) kopdar ini yang pertama kalinya dilakukan dengan 2 bloger sekaligus. Harusnya lebih dari dua malahan -_-. Jujur awalnya agak bingung mau ngapain aja bertiga ngumpul. Mau main catur orangnya kelebihan. Mau main bulutangkis ganda campuran orangnya kekurangan. Hmm.. gimana ya. Sepertinya apapun nggak enak dilakuin kalau ada orang ketiga (eh?). Namun, semua kebingungan saya tentang agenda kopdar menghilang ketika saya bertemu dengan mereka. Ah, saya lupa ini kopdar! Ngelakuin apa aja rasanya pas (dengan asumsi canggung udah ilang, malu sudah dibuang, kompak sampai pulang)

Jadi siapa kedua orang beruntung itu yang berkesempatan kopdar bareng saya (hoek)? Beri sambutan meriah pada Winda dan Halipiani! Yay! (Prok prok prok)

Winda dan Halipiani adalah perempuan. Suatu fakta yang sebenarnya sudah bisa diketahui dari namanya namun entah kenapa tetap saya ceritakan. Kurang lebih mereka seumuran lah dengan saya. Beda hitungan bulan saja. Baiknya saya beri deskripsi sedikit tentang mereka. (more…)

Skripsi dan Blog

Sudah sangat lama sejak terakhir kali saya berkunjung ke blog. Hitungannya sudah masuk bulan. Selama kekosongan itu, alhamdulillah masih ada saja orang yang kesasar ke Semut Hitam. Lewat pencarian tak lazim di google atau teman-teman koloni wordpress yang tetap datang silaturahim walaupun orangnya nggak ada. Saya sendiri sangat mensyukuri teman-teman yang tetap berkunjung ke sini walaupun penghuninya sedang melipir entah ke mana. Itu sangat berarti. Ah ya, mohon maaf juga karena tiba-tiba absen dari peredaran blog teman-teman ūüė¶

Tentu ada alasan mengapa waktu-waktu belakangan ini jadi makin jarang main ke blog. Alasan tersebut berhubungan dengan status saya sebagai mahasiswa tingkat akhir. Mahasiswa basi.¬†Selama menjadi mahasiswa yang lebih ‘seger’ (yah meski dulu nggak seger-seger amat sih), rutinitas kampus jelas lebih padat. Lebih padat ketimbang saat ini. Ada kesibukan organisasi, kuliah dengan SKS yang lebih banyak, juga kesibukan mengejar perempuan. Meski begitu, menjadi mahasiswa basi memiliki tingkat kesulitannya sendiri. Pertama mungkin karena masalah motivasi. Tau sendiri gimana “rajinnya” mahasiswa-mahasiswa tingkat akhir. Absen bisa makin sering, tugas syukur2 dikerjain. Masalah motivasi ini krusial. Dan masalah itu menjadi kombinasi hebat bersama masalah kedua. SKRIPSI. Yak. (more…)

Lumpia Semarang

Bertahun yang lalu, saya bertemu dengan pedagang Lumpia Semarang seperti pada gambar. Lokasinya di depan Gelanggang Remaja Jakarta Timur. Pertemuan itu pun jadi perkenalan pertama saya dengan Lumpia Semarang. Sebenarnya, sebelumnya saya sudah pernah makan Lumpia Semarang. Hanya saja waktu itu Lumpia Semarangnya langsung saya makan tanpa sempat berkenalan.

Oke. Jadi ceritanya waktu itu sedang lelah dan lapar seusai macet-macetan dalam transjakarta (transportasi kita semua…).¬†Kebetulan, pedagang Lumpia Semarang ini adalah pedagang makanan pertama yang terlihat begitu keluar dari halte busway. “Lumpia Semarang? Tapi ini kan Jakarta…” Kurang lebih begitu kata batin mengomentari apa yang dilihat. Berhubung lapar, saya pikir tak ada salahnya untuk mencoba membelinya. Toh bagi saya tidak ada makanan yang tidak enak. Yang ada hanya “enak” dan “enak banget”. (more…)

Pada Bulan Ramadhan di Jakarta

Pada bulan Ramadhan di Jakarta, sulit membedakan antara orang yang membangunkan sahur dan orang yang ngajak berantem. Mereka teriak sama lancangnya, membawa perlengkapan yang kurang lebih sama, pun datang dengan kru tawuran yang sama. Ini mengakibatkan pekerjaan mereka sangat efektif. Sukses membangkitkan kesadaran plus membangkitkan amarah orang yang tidur. Mungkin ini cuma balasan untuk diri ini, yang dulu juga kesetanan membangunkan orang sahur. Mungkin cuma karma

Pada bulan Ramadhan di Jakarta, pedagang kembang api, petasan, mercon, dan semua sanak keluarganya dapat ditemui hampir di setiap persimpangan. Mereka dengan mulia memfasilitasi kebutuhan anak-anak Jakarta yang sudah kecanduan suara ledakan petasan. Suara mengagetkan pun dapat terdengar di mana-mana dan kapan saja. Di mana-mana dan kapan saja pula pekik kaget terdengar. Bermain petasan menyenangkan karena kita sudah siap akan ledakannya. Namun bagi yang tidak, petasan ialah celaka. Mungkin ini cuma balasan untuk diri ini, yang dulu juga menyalakan puluhan petasan kala Ramadhan tanpa memedulikan telinga dan jantung makhluk lain. Mungkin cuma karma.

Tapi setelah diingat lagi, pada bulan Ramadhan, diri ini tak pernah terlibat tawuran pasca tarawih maupun pra sahur, tak pernah menyebabkan orang terjebak macet menahun kala maghrib, serta tak pernah pula makan terang-terangan siang hari di pinggir jalan. Mungkin ini bukan karma. Ini cuma Ramadhan di Jakarta

Pra Lahir

Sejujurnya enggan menulis ini. Hm.. tapi yasudahlah. Sudah terlanjur. Hitung-hitung membuat mesin waktu. Baca jika ada waktu. Baca jika tak ada lagi kegiatan yang berguna. Dan terkhusus untuk saya, baca ini ketika ingin berjalan kembali ke masa lalu.¬†Semoga saja 10 tahun sampai 15 tahun yang akan datang wordpress tetap ada, supaya mudah berkunjung ke sini lagi. (more…)

Masakan Abah

Apakah masih ada yang menganggap  laki-laki yang memasak itu tabu? Kalau mungkin masih ada, perlu diingat. Restoran-restoran di luar sana memiliki tukang masak yang mayoritas laki-laki. Sekarang malah terkesan aneh jika head chef dari satu dapur adalah seorang perempuan. Dalam kehidupan sehari-hari pun kemampuan memasak bagi laki-laki semakin dielu-elukan. Ia juga jadi salah satu nilai jual yang mahal. Terlebih kemampuan memasak ini menjadikan seorang laki-laki jadi lebih bernilai suamiable. Istri mana yang tidak melayang dapat memakan masakan enak dari suaminya?

Istri mana ya hmm… Mungkin salah satu jawabannya adalah istri dari Abah. Aih. Umi saya.

Bukannya mau bilang tak bisa memasak. Abah cuma punya kreativitas yang tak lazim di dapur. Ia jarang memasak, tetapi sekali memasak, satu rumah bisa heboh. (more…)

Bom, Kampung Melayu, dan Sebaran WA yang Terlewat

Hi. Kebijakan tidak tertulis saya, hari-hari melelahkan diakhiri dengan tidur lebih cepat. Langsung tidur selepas isya misalnya. Begitu pula yang terjadi kemarin. Rasanya melelahkan sekali. Belum lama jarum pendek melewati angka 8 saya sudah tertidur pulas. Tugas kelompok bersama Laura dan Meri untuk mencari data ekspor-impor Indonesia ke Jepang pun luput tak terkerjakan (maaf banget la, mer). Tetapi ternyata ada hal besar lain yang ikut terluput tadi malam

Pukul 21.00, telah terjadi ledakan bom cukup besar di wilayah Kampung Melayu, tepat di sekitar halte buswaynya. Diduga kuat merupakan bom bunuh diri. Berikut disertakan broadcast WA yang digayakan layaknya berita… (more…)

Kopdar Bersama Umi Sholikha alias umisholikhah7410.wordpress.com

Hi. Hari minggu minggu (duh basinya -_-) yang lalu, pada jam-jam begini, sarapan terasa sangat berbeda. Di atas meja terhidang pisang goreng dengan tepung kualitas langit, ketan, juga obang-abing. Kombinasi makanan yang jelas tak akan pernah saya makan di kos sendiri. Sarapan dengan menu seperti itu tak hanya lebih mengenyangkan, namun juga beberapa kkal lebih bergizi dibanding sarapan biasa saya.

Akhirnya, pagi ini, sarapan kembali normal atau lebih tepatnya kembali menyedihkan. Orek tahu kembali mengucapkan “selamat pagi”-nya pada saya. Lalu sembari mengunyah, saya ingat lagi kalau sarapan minggu lalu tidak hanya berbeda dari segi menu melainkan juga visi-misi sarapannya. Pagi ini saya cuma¬†mengisi perut agar perut tak lagi meraung-raung buas. Sedangkan minggu lalu, sarapan saya niatkan agar saya punya cukup energi untuk kopdaran bareng Kak Ikha. Yay.

Oh ya karena saking sudah basinya, Kak Ikha sudah menulis duluan cerita versinya. Ada di sini. Versi yang ini murni sudut pandang saya.

Kopdar2 yang saya lakukan sebelumnya saya lakoni sebagai status turis alias¬†status “mau dibawa ke mana aja bodo amat”. Kali ini berbeda. Kak Ikha, yang aslinya¬†blasteran Ngawi-Surabaya, main ke ibukota. Dan situasi ini membuat teman blognya yang berada di Jakarta (dan yang menulis ini) keringat dingin. Mengapa? Karena ia tak tahu harus dibawa ke mana anak gadis satu itu. (more…)