Lebaran FAQ

1. Apa kabar?
2. Kapan nikah?
3. Kapan wisuda?
4. Anak udah berapa?
5. Kelas/semester berapa sekarang?
6. Libur berapa lama?
7. Bapak/ibu sehat?
8. Kerja masih di sana sekarang?
9. Habis ini mau ke rumah siapa lagi?
10. Kamu mau sama anak tante?*

Hmm… begitulah. Itu tadi rangkaian pertanyaan yang kerap kali terdengar selama lebaran ini. Saya yakin masih banyak lagi pertanyaan yang biasanya ditanyakan ke sobat (ceileeeh, sobat) semua. Pertanyaan yang seakan wajib, karena saking seringnya ditanyakan pada saat lebaran. Mungkin kita kesal ditanyakan pertanyaan seperti itu. Kalau nggak kesal, jengkel. Atau jenuh. Atau sebal. Atau dongkol. Atau memendam ungkapan hati lainnya yang seandainya masuk TV, pasti nggak lulus sensor.

Tetapi sabar. Kalau memang bosan, bersabarlah. Coba pikirkan lagi. Tak sering kita ditanyakan pertanyaan seperti itu. Paling-paling hanya setahun sekali. Ditambah lagi, orang yang bertanya umumnya adalah orang yang jarang sekali bertemu dengan kita dan hanya pada momen lebaran inilah kita bisa dipertemukan dengan orang tersebut. Masa’ iya sudah lama nggak bertemu, sekalinya bertemu mau diem-diem aja kayak lagi musuhin mantan. Pasti setidaknya bertegur sapa. Dan ketika ngobrol, yang dibahas bakalan seputar social updates. Toh kita sendiri pernah terbersit untuk menanyakan hal yang sama ke mereka kan? Atas nama silaturahim, pertanyaan-pertanyaan itulah yang bisa memperkuat kembali hubungan sesama

Oke. Jadi ini agak terlambat, tapi…

Selamat hari raya idulfitri!
Taqabbalallahu minna wa minkum!
Mohon maaf lahir batin!
Maafkan segala kesalahan online/offline, sengaja/taksengaja yaaa!

Advertisements

Mini Market

Sudah sejak dahulu, jauh sebelum Indoapril dan Betamart menyentuh tanah gersang Batam, berbelanja di mini market milik orang Cina sudah menjadi suatu kebiasaan bagi saya. Bukannya apa-apa. Di lingkungan saya besar, memang menjamur mini market milik etnis Tionghoa.

Dan sebetulnya ini sama sekali bukan masalah. Saya tak berkeberatan. Barangkali karena memang sudah terbiasa, rasanya nyaman-nyaman saja ketika berbelanja di sana. Lagipula barang yang dijual pun sama jenisnya, sama kualitasnya. Oh, bahkan untuk jenisnya, beberapa mini market cina menjual barang-barang unik yang seakan tidak dijual di tempat lainnya. Tau gimbot zaman jebot? Atau lampu yang cara menghidupkannya dengan menepuk tangan? Di mini market dekat rumah pernah menjual barang seperti itu tak lama ini.

Di mini market cina yang cukup besar, biasanya mereka punya wahana mesin kuda-kudaan/mobil-mobilan robot. Tau kan? Yang mirip odong-odong itu. Suara lagu anak-anak yang bernada sumbang tetap saja jadi daya tarik bagi balita untuk merengek minta duit koin ke sang emak dan karena murah, biasanya si emak menuruti. Ciri khas lainnya adalah lampu yang remang-remang, rak-rak serta barang yang disusun bak labirin. Ke semua ciri itu membuat mini market cina punya tempat sendiri di dalam hati saya

Sebenarnya apa yang memicu saya menulis ini adalah karena sebelum berangkat tarawih tempo hari, saya berbelanja di mini market milik orang Cina dan terjadi hal yang cukup menarik. Biasanya mini market itu memutar lagu untuk memanjakan pembeli yang sedang berbelanja. Dan coba tebak lagu apa yang sedang diputar waktu itu? Lagu shalawatan cuy. Ternyata mereka juga ikut memeriahkan Ramadan. Bahkan cici kasir terlihat khidmat mendengarnya.

Satu catatan penting ketika berbelanja di mini market milik orang cina: kita bisa menikmati keindahan oriental dalam diri cici-cici pemilik toko atau cici-cici kasir yang manis semanis jeruk mandarin. Butuh alasan apa lagi untuk tidak berbelanja di sana?

Welcome to University of Life

Saya percaya tak ada yang namanya mahasiswa abadi. Seabadi-abadinya mahasiswa, kelak pasti akan wisuda (atau DO) juga. Dalam kasus saya, wisuda itu telah berlangsung berbulan-bulan yang lalu dan kini, saya tengah menikmati dunia kerja. Hahaha. Menikmati. Apa kata itu terkesan berlebihan?

Mungkin iya, mungkin tidak. Di banyak waktu, menikmati pekerjaan ini tidaklah sulit. Pernah saya mendengar kalau kerja kantoran adalah kerja yang membosankan lagi melelahkan. Namun untuk saat ini saya belum merasakan stigma itu. Terdengar naif mungkin. Apalagi diucapkan oleh seorang karyawan amatir berusia 2 bulanan. Tetapi tentu saya memiliki alasan untuk mengatakan ketidakbosanan itu. (Hmm… baru juga dua bulanan…) Continue reading “Welcome to University of Life”

Kopdar Bersama Dea Rahma, DiPtra, dan Hendra

Eh, tulisan kopdar lagi. Hahaha!
Sepertinya ini adalah rapot kopdar yang paling sulit ditulis di Semut Hitam. Sudah ada 3 tulisan yang membahas materi ini dan keduanya super bagus. Khas dengan sudut pandang dan gaya menulis mereka sendiri.

Mau dari sudut pandang:
yang kalem, jujur apa adanya, ngenes, silakan klik Hendra
duta sampo lain kekinian Bekasi, silakan klik Dea Rahma
ninja, acekiwir, slengean, silakan klik DiPtra
wong Semarangan yang lagi jadi turis di Bekasi, silakan klik Azizatoen

Pasti sedikit banyak tulisan saya akan terpengaruh oleh mereka. Entah tulisan yang seperti apa yang mesti dibuat supaya terlihat berbeda -______-

Yah, sama atau beda, saya akan tetap menuliskannya. Bagi saya tulisan kopdar adalah bentuk hadiah terima kasih paling personal yang bisa saya berikan kepada teman-teman kopdar. Hukumnya wajib. Jadi tak peduli setelat apapun atau sebasi apapun materinya, bodo amat. Tetap akan ada tulisan kopdar di blog ini. Jadi, maafkan saya teman-teman jagat blog. Tulisan tentang kopdar di Bekasi kemarin akan bertambah 1 lagi

IMG_20180210_200847480
Foto-foto yang ada di sini berasal dari hape Bang DiPtra

Continue reading “Kopdar Bersama Dea Rahma, DiPtra, dan Hendra”

Payung Teduh di Big Bang Jakarta 2017

“Oh ini lagu barunya ya? Di atas meja”

“Yoi brader. Emang lu suka payung teduh juga del?”

“Nggak. Biasa aja. Cuma, karena banyak perempuan yang suka, jadi mau dipaksain suka sedikit. BAHAHA”

Bahahaha. Percakapan itu nyata-nyata terjadi. Siapa sangka apresiasi saya terhadap musikalitas Payung Teduh hanya karena kaum perempuan semata hmm. Percakapan itu sendiri terjadi di mobil, saat saya tanpa rencana dan niat sebelumnya, ngikut sepupu-sepupu untuk menonton konser payung teduh di Big Bang 2017. Kami pergi berlima. Selain saya, juga ada Ikam (yang selalu memanggil “brader”), Kak Nunu, Kak Rhara, dan Nanda. Kecuali Nanda, mereka semua adalah sepupu. Nanda adalah tetangga dari sepupu-sepupu itu.

Big Bang Jakarta 2017 adalah event semacam Pekan Raya Jakarta (PRJ). Di dalamnya digelar bazaar dari banyak brand dan food stall. Katakanlah Electronic City, Samsung, Lego, deretan food truck, The Body Shop, bahkan sampai sprei My Love. Lalu serupa dengan PRJ, Big Bang Jakarta 2017 juga diselenggarakan JIExpo Kemayoran. Kesamaan lain? Ada panggung musik yang menghadirkan band-band serta artis yang kalau namanya disebut, pasti langsung ngeh.

Nah, kemarin malam yang datang Payung Teduh. Saya yang sama sekali tak tahu menahu tentang info itu sedang berkunjung ke rumah keluarga dan langsung diajak ikut cuy (HAHA!). Rezeki nomplok. Lumayan bisa nonton konser Payung Teduh dengan modal Rp 30.000 saja (tiket masuk Big Bang). Itupun saya masuknya gratis karena dibayarin.

Sepanjang perjalanan, Ikam memutar album Ruang Tunggu dengan volume keras. Lalu keempat orang di mobil nyanyi bareng dengan sungguh-sungguh menghayati sampai merem melek. Ternyata mereka semua fans berat Payung Teduh. Sebisa mungkin saya membaur dengan mencoba merem melek juga

Rasa- rasa Payung Teduh kental terasa ketika sampai di JIExpo. Lagu-lagu dari band itu nyaring terdengar mulai dari parkiran sampai ke pintu masuk. Meski begitu, pada waktu itu (sekitar pukul 20.00) Payung Teduh belum tampil. Panggung utama masih diisi oleh band-band indie lain yang menghibur

Nama Payung Teduh baru benar-benar dipanggil jam 10an. Orang-orang segera merapat ke panggung utama dan seketika suasana menjadi padat akan lautan manusia. Lalu datanglah mereka, PAYUNG TEDUH! Continue reading “Payung Teduh di Big Bang Jakarta 2017”

Help Needed

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamualaikum. Kurang lebih 2 hari yang lalu saya mendengar kabar buruk yang datang dari teman saya, Haidar. Dari yang saya dengar, ibunya mengalami kecelakaan di jalan raya dan saat itu tengah dirawat di rumah sakit dalam keadaan koma. Tentu itu bukan cobaan ringan untuk Haidar sekeluarga. Hanya dengan mengetahui itu kami turut mendoakan agar sang ibu lekas disembuhkan dan beban masalah yang ada diangkat dengan mudahnya.

Namun ternyata, situasinya lebih parah dari yang saya duga


Assalamualaikum wr wb, salam sejahtera semua;

Saya Haidar Afanin Shiba, calon pegawai pemerintah di Badan Pusat Statistik Kabupaten Buru, Provinsi Maluku. Ayah saya, Untung Widodo, seorang pegawai pemerintah di Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kota Salatiga yang sedang berproses untuk pensiun/purna tugas. Kakak pertama saya, Aida Aisyatuz Zahro bekerja di Rumah Sakit Pendidikan UI Depok; dan kakak kedua saya, Salma Nusaiba bekerja di Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Jakarta Pusat.

Pada tanggal 21 Desember 2017 sekitar pukul 18.30 WIB, ibu kami Sri Sujiati, mengalami kecelakaan tunggal saat hendak berangkat melayat, dengan dibonceng sepeda motor oleh tetangga. Pakaian ibu kami (rok panjang) terlilit jeruji roda belakang, sehingga ibu terjatuh ke belakang dan kepala ibu kami membentur aspal jalan. Ibu mengalami perdarahan otak dan segera dilarikan ke Puskesmas Kecamatan Bringin, yang kemudian dirujuk ke IGD RSUD Salatiga, dan pada akhirnya ibu harus dioperasi di kepala kanan dan kiri untuk mengambil gumpalan-gumpalan darah, di Rumah Sakit Columbia Asia Semarang.

Diagnosa dari dokter adalah Cedera Kepala Berat (CKB), dan ibu mengalami memar di bagian otak kanan sehingga kesadaran ibu menurun dan ibu saat ini dalam kondisi koma (perlu diketahui bahwa angka kesadaran ibu masih 3, sedangkan manusia normal kesadaran penuh adalah 15).

Dikarenakan otak ibu masih bengkak dan menyebabkan terdesaknya batang otak (batang otak adalah bagian otak yang penting karena merupakan letak sebagian besar syaraf-syaraf otak), maka dokter melakukan tindakan Kraniektomi atau pengangkatan sebagian tulang tempurung sebelah kanan supaya otak yang bengkak segera pulih dan tidak mendesak batang otak. Proses pemulihan otak ibu kami membutuhkan waktu yang belum bisa diprediksi dan bisa jadi membutuhkan waktu yang cukup lama (sekitar 1 – 2 bulan).

Sedangkan, hingga saat ini ketersediaan Bed ICU di rumah sakit pemerintah yang bekerja sama dengan BPJS masih penuh, dan ibu kami saat ini dirawat di Rumah Sakit Columbia Asia Semarang yang belum bekerja sama dengan BPJS karena hanya di rumah sakit tersebut yang masih tersedia Bed ICU. Biaya untuk pengobatan sampai saat ini masih full menggunakan biaya pribadi yang setiap harinya sebesar 9-10 juta rupiah, dan kondisi keuangan kami saat ini sudah mulai menipis (ibu kami tidak memiliki polis asuransi selain BPJS).

Oleh karena itu, melalui kitabisa.com, kami berharap rekan-rekan semua berkenan untuk memberikan donasi demi kesembuhan ibu kami. Setiap donasi yang terkumpul sepenuhnya akan kami gunakan untuk biaya pengobatan ibu kami di ICU RS Columbia Asia Semarang, hingga kondisi ibu kami stabil dan bisa dipindahkan ke rumah sakit pemerintah yang bekerja sama dengan BPJS. Apabila ada kelebihan dana nanti ketika ibu kami sudah sembuh, maka akan kami donasikan ulang kepada semua pihak yang membutuhkan.

Terima kasih untuk semua bantuan dari rekan-rekan semua. Semoga Allah SWT membalas dengan kebaikan yang berlipat ganda, dan melapangkan rezeki rekan-rekan semua.

Wassalamualaikum wr.wb.

Hormat kami,

Haidar Afanin Shiba
HP (SMS dan WA): 085640403889
IG: haidarafanins
FB: Haidar Afanin Shiba
email: afanin.shiba@gmail.com

Salma Nusaiba
HP: 081393596689
FB: Salma Nusaiba

Atas nama keluarga ibu Sri Sujiati, kami mengucapkan terima kasih.


Itu adalah kopian tulisan dari Haidar yang ia tulis di kitabisa.com. Silakan klik jika ingin melihat tulisan aslinya di sana. Saya sendiri baru membacanya beberapa menit yang lalu ketika saya menulis ini.

Mungkin sia-sia saja saya menyebarkan tulisannya di sini. Bukannya saya punya teman yang teramat banyak di blog pun saya ragu ada yang mengenal Haidar di sini. Tetapi jika memang bisa, sekiranya teman-teman sekalian berkenan membantu berdonasi. Walaupun sedikit, walaupun remeh, sedikit banyak tiap bantuan itu akan berangsur meringankan tanggungan mereka. Estimasi biaya untuk pengobatan dan rumah sakit sekitar 500 juta rupiah atau lebih

Donasi dapat diberikan lewat sini atau dapat dengan transfer ke rekening:

Bank Mandiri
1350013780695
a.n. Aida AisyatuzZahro
Konfirmasi ke 085770244284 (Aida)

Mungkin kita bisa bilang, “namanya juga musibah, bisa terjadi ke siapa saja.” Namun jujur saja. Berat membayangkan apabila kita bertukar posisi ke Haidar yang dalam keadaan seperti sekarang. Tidak semua orang diberikan ujian seberat itu dan tidak pada sembarang orang pula ujian semacam itu disematkan. Dan apabila memang disampaikan ke kita cobaan tertentu, itu bermakna kita sanggup melaluinya.

Allah tahu mana hamba-Nya yang buntu
Allah tahu mana hamba-Nya yang mampu

Sekali lagi, semoga diberikan kesembuhan untuk sang ibunda dan dimudahkan segala urusan yang dihadapi Haidar dan sekeluarga. Terima kasih kepada teman-teman yang membaca. Terima kasih kepada yang berkenan dan membantu. Semoga Yang Maha Memiliki membalas kebaikan yang telah dilakukan dengan kebaikan-kebaikan lain, dianugerahkan kepadanya kelapangan rezeki.

Wassalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh

Kopdar Bersama Bang Ical alias bangicalmu.wordpress.com

Hi. Karena ini lebih basi, maka semakin ingin mengucapkan ini: “Kalau kalian (re: Bang Ical+Kunudhani) sempat berpikir tidak akan pernah ada tulisan mengenai kopdar waktu itu, tepis jauh-jauh pemikiran itu karena kalian salah. Ini dia,”

Kopdar Bersama Bang Ical!
Jeeeeng, jeng, jeng-jeng-jeng-jeeeeeng, jeng~
(backsound: Star Wars Theme)

Bang Ical
Pujangga unik, sedikit nakal
Nggak nakal ding, cuma banyak akal
Mampir ke blognya, maka tau ia berilmu tebal
Pandangannya luas, bak samudra tak berpangkal
Saking luasnya, kadang jadi mikir ini orang janggal
Lalu muncul rasa penasaran ke orangnya yang katanya vokal
Bagaimana rupanya? Apa ia normal? Atau jangan-jangan binal?

OW YEAHH!!! Jadi juga (kibas poni)
Yak. Cukuplah rima di atas mewakili awal kopdar bersama Bang Ical kali ini. Persona yang setelah sekian lama akhirnya bertemu juga. Saya pikir untuk Bang Ical, sudah cukup banyak yang mengenalnya hingga kemungkinan banyak juga yang penasaran. Tak terkecuali saya. Continue reading “Kopdar Bersama Bang Ical alias bangicalmu.wordpress.com”

Jomblo Pengabdi Setan

Kamis malam. Dua jomblo berdiri mematung di tengah lobi bioskop. Mereka tampak bingung. Tiket film yang ingin mereka tonton, Pengabdi Setan (yang waktu itu tengah ngehits sengehits-ngehitsnya), sudah habis terbeli. Bahkan hingga jadwal penayangan yang berikutnya. Alhasil, mereka terpaku sambil memandangi poster-poster film yang dipajang. Ada beberapa film lain yang tak kalah menarik dimainkan hari itu. Sebut saja The Foreigner dengan Jackie Chan-nya yang makin tua makin jadi, juga film Indonesia yang amat merepresentasikan dua insan yang sedang bingung itu, Jomblo. Selang beberapa detik, Jomblo 1 berkata ke Jomblo 2…

“Jomblo yuk…”

“Ayuk”, kata Jomblo 2, yang dengan ringan mengiyakan. Seolah yakin betul takkan ada penyesalan.

Continue reading “Jomblo Pengabdi Setan”

Kopdar Bersama Zapufaa alias zapufaa.wordpress.com dan Rika

Kalau kalian (re: Zapufaa dkk) sempat berpikir tidak akan pernah ada tulisan mengenai kopdar waktu itu, tepis jauh-jauh pemikiran itu karena kalian salah. Ini dia:

Kopdar Bersama Zapufaa dan Rika
Jeng-jeng-jeng jeng, jeng-jeng-jeng jeng-jeng~
(backsound: Final Countdown)

Yuhuuu! YEAH! GUE LEBAY BANGET NGGAK SEEEH??
Ehemm.. Oke. Lebih baik menenangkan diri sedikit. Bisa-bisa kesurupan nanti. Yah, untuk memulai tulisan kopdar kali ini, memang baiknya diawali dengan berapi-api.

Semarang sedang tidak terlalu panas saat saya ke sana waktu itu. Hm.. Namun se-tidakpanas-nya Semarang, hitungannya masih panas juga. Saya heran kenapa teman-teman saya yang berasal dari Semarang dan juga banyak orang Semarang lainnya yang saya jumpai tidak berkulit hitam. Padahal di sana panas. Saking panasnya, matahari di sana berasa ada 2 sodara-sodara! Walaupun begitu, tetap saja mereka berkulit sawo matang dan bahkan sirsak matang (iyakan sajalah perumpamaan ini)

Apa kebanyakan dari mereka tidak suka main di luar dan cuma suka main warnet? Rasanya tidak mungkin. Perlu warnet sebanyak apa untuk menampung anak satu kota. Atau jangan-jangan gen yang ada dalam sel orang Semarang secara alami mengandung penangkal sinar UV-a dan UV-b yang ramai ditakuti kaum hawa itu? Ah mana mungkin. Yang jelas, kondisinya berbeda sekali dengan Batam, my lovely barren land. Batam panas. Makanya saya tak heran anak-anak di sana (termasuk si penulis mirisnya) banyak yang hitam, kucel, alay, dan gampang tersinggung. Errr… mungkin hitam berlebihan. Kalau ibarat sawo, maka warna kulitnya sawo bakar. Coklat tua gelap. Very very dark brown. Continue reading “Kopdar Bersama Zapufaa alias zapufaa.wordpress.com dan Rika”