Catatan

Pada Bulan Ramadhan di Jakarta

Pada bulan Ramadhan di Jakarta, sulit membedakan antara orang yang membangunkan sahur dan orang yang ngajak berantem. Mereka teriak sama lancangnya, membawa perlengkapan yang kurang lebih sama, pun datang dengan kru tawuran yang sama. Ini mengakibatkan pekerjaan mereka sangat efektif. Sukses membangkitkan kesadaran plus membangkitkan amarah orang yang tidur. Mungkin ini cuma balasan untuk diri ini, yang dulu juga kesetanan membangunkan orang sahur. Mungkin cuma karma

Pada bulan Ramadhan di Jakarta, pedagang kembang api, petasan, mercon, dan semua sanak keluarganya dapat ditemui hampir di setiap persimpangan. Mereka dengan mulia memfasilitasi kebutuhan anak-anak Jakarta yang sudah kecanduan suara ledakan petasan. Suara mengagetkan pun dapat terdengar di mana-mana dan kapan saja. Di mana-mana dan kapan saja pula pekik kaget terdengar. Bermain petasan menyenangkan karena kita sudah siap akan ledakannya. Namun bagi yang tidak, petasan ialah celaka. Mungkin ini cuma balasan untuk diri ini, yang dulu juga menyalakan puluhan petasan kala Ramadhan tanpa memedulikan telinga dan jantung makhluk lain. Mungkin cuma karma.

Tapi setelah diingat lagi, pada bulan Ramadhan, diri ini tak pernah terlibat tawuran pasca tarawih maupun pra sahur, tak pernah menyebabkan orang terjebak macet menahun kala maghrib, serta tak pernah pula makan terang-terangan siang hari di pinggir jalan. Mungkin ini bukan karma. Ini cuma Ramadhan di Jakarta

Pra Lahir

Sejujurnya enggan menulis ini. Hm.. tapi yasudahlah. Sudah terlanjur. Hitung-hitung membuat mesin waktu. Baca jika ada waktu. Baca jika tak ada lagi kegiatan yang berguna. Dan terkhusus untuk saya, baca ini ketika ingin berjalan kembali ke masa lalu. Semoga saja 10 tahun sampai 15 tahun yang akan datang wordpress tetap ada, supaya mudah berkunjung ke sini lagi. (more…)

Masakan Abah

Apakah masih ada yang menganggap  laki-laki yang memasak itu tabu? Kalau mungkin masih ada, perlu diingat. Restoran-restoran di luar sana memiliki tukang masak yang mayoritas laki-laki. Sekarang malah terkesan aneh jika head chef dari satu dapur adalah seorang perempuan. Dalam kehidupan sehari-hari pun kemampuan memasak bagi laki-laki semakin dielu-elukan. Ia juga jadi salah satu nilai jual yang mahal. Terlebih kemampuan memasak ini menjadikan seorang laki-laki jadi lebih bernilai suamiable. Istri mana yang tidak melayang dapat memakan masakan enak dari suaminya?

Istri mana ya hmm… Mungkin salah satu jawabannya adalah istri dari Abah. Aih. Umi saya.

Bukannya mau bilang tak bisa memasak. Abah cuma punya kreativitas yang tak lazim di dapur. Ia jarang memasak, tetapi sekali memasak, satu rumah bisa heboh. (more…)

Bom, Kampung Melayu, dan Sebaran WA yang Terlewat

Hi. Kebijakan tidak tertulis saya, hari-hari melelahkan diakhiri dengan tidur lebih cepat. Langsung tidur selepas isya misalnya. Begitu pula yang terjadi kemarin. Rasanya melelahkan sekali. Belum lama jarum pendek melewati angka 8 saya sudah tertidur pulas. Tugas kelompok bersama Laura dan Meri untuk mencari data ekspor-impor Indonesia ke Jepang pun luput tak terkerjakan (maaf banget la, mer). Tetapi ternyata ada hal besar lain yang ikut terluput tadi malam

Pukul 21.00, telah terjadi ledakan bom cukup besar di wilayah Kampung Melayu, tepat di sekitar halte buswaynya. Diduga kuat merupakan bom bunuh diri. Berikut disertakan broadcast WA yang digayakan layaknya berita… (more…)

Kopdar Bersama Umi Sholikha alias umisholikhah7410.wordpress.com

Hi. Hari minggu minggu (duh basinya -_-) yang lalu, pada jam-jam begini, sarapan terasa sangat berbeda. Di atas meja terhidang pisang goreng dengan tepung kualitas langit, ketan, juga obang-abing. Kombinasi makanan yang jelas tak akan pernah saya makan di kos sendiri. Sarapan dengan menu seperti itu tak hanya lebih mengenyangkan, namun juga beberapa kkal lebih bergizi dibanding sarapan biasa saya.

Akhirnya, pagi ini, sarapan kembali normal atau lebih tepatnya kembali menyedihkan. Orek tahu kembali mengucapkan “selamat pagi”-nya pada saya. Lalu sembari mengunyah, saya ingat lagi kalau sarapan minggu lalu tidak hanya berbeda dari segi menu melainkan juga visi-misi sarapannya. Pagi ini saya cuma mengisi perut agar perut tak lagi meraung-raung buas. Sedangkan minggu lalu, sarapan saya niatkan agar saya punya cukup energi untuk kopdaran bareng Kak Ikha. Yay.

Oh ya karena saking sudah basinya, Kak Ikha sudah menulis duluan cerita versinya. Ada di sini. Versi yang ini murni sudut pandang saya.

Kopdar2 yang saya lakukan sebelumnya saya lakoni sebagai status turis alias status “mau dibawa ke mana aja bodo amat”. Kali ini berbeda. Kak Ikha, yang aslinya blasteran Ngawi-Surabaya, main ke ibukota. Dan situasi ini membuat teman blognya yang berada di Jakarta (dan yang menulis ini) keringat dingin. Mengapa? Karena ia tak tahu harus dibawa ke mana anak gadis satu itu. (more…)

Amanat untuk Rice Cooker

Kesalahan paling amatir di dunia masak-memasak nasi adalah lupa ‘nyetekin’ rice cooker. Dan baru saja saya melakukannya -_-

Jarang-jarang bisa lupa hal sepenting ini di waktu segenting lapar-terkapar-menggelepar-gelepar. Mau salahin orang ya gimana, mau nyalahin diri sendiri juga nggak tega. Di saat seperti ini sulit untuk berpikir jernih karena efek lapar membuat kita menjadi orang yang berbeda.

Yah, sebenarnya menunggu beras menjadi nanak hanya butuh waktu 45-60 menit. Namun durasi waktu itu serasa berlipat ganda dalam kondisi lapar-terkapar-menggelepar-gelepar. Disarankan mencari kegiatan sampingan sambil menunggu agar emosi dapat terus ditekan. Dan untuk saya, kegiatan sampingan itu adalah menulis tulisan ini. Haduh. Lapar.

Saya membayangkan situasi suatu keluarga di bulan Ramadhan nanti. Saat Ibu baru menyuruh si Adik memasak nasi pada jam 5 sore. Lalu 10 menit sebelum buka puasa, saat membuka rice cooker, terlihat pemandangan menyakitkan. Nasi-nasi yang ada di dalamnya masih prematur alias masih bernama beras. Si Adik kemudian merasa bersalah. Rice cooker hanya terdiam seribu bahasa. Maka ibu rumah tangga mana yang tidak menangis?

Lagi, Tentang STIS Mengajar

Hi. Awal bulan ini saya bercerita sedikit tentang STIS Mengajar, tempat saya berbagi ilmu dan kebahagiaan kepada anak-anak di sekitar kampus saya. Seru juga menulis yang itu. Benar dugaan saya, ternyata satu tulisan saja tidak cukup hmm.

Bagi yang sampai kalimat ini masih bingung apa yang saya maksud, tak mengapa. Itu cuma sedikit racauan saya tentang satu komunitas mengajar kampus yang sifatnya serupa dengan bakti sosial, yaitu berfokus mengajari anak-anak di bidang akademik dan non-akademik. Namanya STIS Mengajar. Meskipun namanya begitu, sayalah yang merasa lebih banyak diajarkan anak-anak itu. Tentang mengatasi anak-anak (yak, mengatasi… udah kayak ketombe aja), menghargai kepolosan dan kejujuran, serta sedikit-sedikit mempersiapkan diri menjadi ayah-ibu yang baik. Aih, malunya mengatakan itu…

Sepanjang yang bisa saya ingat, kehidupan saya sebagai anak-anak tergolong biasa saja. Kerjanya cuma main keluar sepanjang hari, membuat anak orang menangis, dan memanen buah kersen (saya bilangnya ceri). Abah dan Umi pun cenderung membiarkan anak-anaknya bebas bermain, membuat kami dapat merayakan masa-masa keemasan kami sebagai anak-anak. Kebijakan orang tua seperti itu adalah sesuatu yang patut saya syukuri karena saya sadar tidak semua anak diberikan kesempatan seperti saya dulu. Saya rasa walaupun dilepas begitu saja, diam-diam tiap orang tua tetap mengawas anaknya dengan rahasia

(more…)

Pagi Cerah yang Didoakan Terus Cerah, Setidaknya Sampai Hari Ini

Hari ini cuaca cerah. Tidur tadi malam terasa sangat cukup sampai-sampai saya yang membangunkan alarm. Kuliah hari ini pun ditiadakan, suatu kelegaan bagi tiap mahasiswa yang malas. Maka apalagi yang tidak bisa disyukuri?

Saya amat mencintai pagi yang cerah. Tak ada cara yang lebih menyenangkan untuk memulai hari selain menghirup udara subuh dan merasakan sengatan matahari pagi yang hangat.

Terlebih, ini april. Saya senang hari ini masih april. Layaknya april tahun lalu dan april tahun lalunya lagi, matahari di sini begitu sopan mencurahkan sinarnya. Ia tak mau terlalu kegirangan bersinar hingga kucing-kucing menjadi gelisah atau menjadi terlalu redup sampai membuat ibu rumah tangga kebingungan. Hujan pun seperti bersepakat dengan matahari. Ia juga mengambil sikap hati-hati agar tak terlalu senang turun berlama-lama dan tetap sesekali turun demi memberi minum dedaunan.

Dan yah, ada satu hal lain yang layak disyukuri apabila sepanjang hari ini cerah, yaitu karena hari ini berlangsung Pilkada DKI 2017 putaran kedua. Apabila hari cerah, sedikit banyak itu akan memudahkan para pemilih untuk keluar rumah dan menuangkan pemikirannya akan pemimpin Jakarta yang ideal. Hari yang menentukan untuk beberapa tahun ke depan.

(more…)

STIS Mengajar

Oh April. Satu bulan tercinta. Bersama cuacanya yang pancaroba, bersama Hari Kartininya yang walau tidak libur tetap membekas bergelora. Yah, biar sudah telat, selamat datang april. Yay

Jadi bakal ada cerita sedikit tentang saya di sini. Sejak akhir tahun lalu, saya tergabung ke dalam komunitas mengajar sukarela STIS, yang berfokus melakukan pengajaran dan bimbingan akademik-non akademik ke anak-anak yang tinggal di sekitar kampus. Bayangkanlah kami sama dengan gerakan Indonesia Mengajar cetusan Anies Baswedan. Hanya saja ruang lingkup kami jauh-jauh lebih kecil, yaitu hanya menyentuh tingkat RW di satu keping Jakarta. Kegiatannya pun kurang lebih sama. Kami membantu menyediakan bimbingan akademik juga non-akademik yang diselingi dengan permainan dan lagu memabukkan bagi anak-anak.

(more…)

Kopdar Bersama Kunudhani alias kunudhani.wordpress.com

Yow. Cerita kopdar lagi nih. Kali ini bloger yang saya jumpai adalah…(drumroll)…

KUNUDHANI! (yay)

kunudhanihome

Kalau ditanya blog mana yang memiliki banyak tulisan hidup nyeremin, kemungkinan sebagian orang akan sulit menjawabnya. Terkhusus apalagi kalau sebagian orang yang dimaksud tidak kenal sama blog yang satu ini, Kunudhani. Mungkin sekarang sudah sedikit mereda, tetapi tulisan pengalaman mistis itu bocah banyak benerr. Kunu sudah beberapa kali berinteraksi dengan orang kesurupan, orang yang iseng nelfon yang sebenarnya diragukan itu orang apa bukan, bahkan punya adik tuyul yang suka nyembunyiin barang. Bayangkan. ADIK TUYUL men. Berapa banyak dari kita yang punya adik seorang/seekor/sesosok tuyul? Kalau memang ada yang namanya panti tuyul, mengadopsi satu saja ogah, tapi Kunu punya. Luar biasa sekali kan. Saya pikir teman-teman Kunu beruntung sekali punya teman seperti Kunu, yang punya ‘orang dalam’ di dunia mistis. Tetapi sepertinya teman2 Kunu tidak berpikir seperti itu :”)

Oleh karena itu, dapat dikira bagaimana bergejolaknya pikiran saya saat detik-detik bertemu dengan Kunudhani tempo yang lalu. Entah akan bagaimana orangnya. Membaca blognya, saya jadi sedikit meraba-raba bagaimana kesan pertama saat bertemu dengannya. Mungkin ia dikelilingi aura-aura dingin menggetarkan roma dan juga punya dandanan gothic yang dipengaruhi oleh nuansa mistis lokal. Atau yang lebih seru, ia turut mengajak adik beda alamnya itu (Si Bona namanya) ikut kopdar. Hmm… yang terakhir ini ini sedikit saya khawatirkan, lantaran saya tidak punya adik atau kakak tuyul sebagai tandem main Si Bona. Kan gawat kalau Si Bona bosan terus ngerengek minta pulang. Btw dunia tuyul punya jenis permainan yang seperti apa ya?

Yah.. itu semua berlebihan. Memikirkan hal seperti itu sudah terlampau jauh. Paranoid istilahnya. Saya sudah didoktrin untuk tidak takut kepada hal mistis seperti itu. Seandainya memang Si Bona diajak jalan naik motor Kunu, saya sama sekali tidak keberatan. Terserah dia nanti mau duduk di belakang atau depan. Kalau perlu saya tanya Kunu sebelumnya tentang makanan kesukaan tuyul biar Si Bona senang kala ikut. Selama tak berhubungan dengan darah dan sesajen,  pasti saya usahakan. Hmm.. ya. Entah kenapa saya lebih fokus ke Bona daripada Kunu sendiri

(more…)