Catatan

Jomblo Pengabdi Setan

Kamis malam. Dua jomblo berdiri mematung di tengah lobi bioskop. Mereka tampak bingung. Tiket film yang ingin mereka tonton, Pengabdi Setan (yang waktu itu tengah ngehits sengehits-ngehitsnya), sudah habis terbeli. Bahkan hingga jadwal penayangan yang berikutnya. Alhasil, mereka terpaku sambil memandangi poster-poster film yang dipajang. Ada beberapa film lain yang tak kalah menarik dimainkan hari itu. Sebut saja The Foreigner dengan Jackie Chan-nya yang makin tua makin jadi, juga film Indonesia yang amat merepresentasikan dua insan yang sedang bingung itu, Jomblo. Selang beberapa detik, Jomblo 1 berkata ke Jomblo 2…

“Jomblo yuk…”

“Ayuk”, kata Jomblo 2, yang dengan ringan mengiyakan. Seolah yakin betul takkan ada penyesalan.

(more…)

Advertisements

Kopdar Bersama Zapufaa alias zapufaa.wordpress.com dan Rika

Kalau kalian (re: Zapufaa dkk) sempat berpikir tidak akan pernah ada tulisan mengenai kopdar waktu itu, tepis jauh-jauh pemikiran itu karena kalian salah. Ini dia:

Kopdar Bersama Zapufaa dan Rika
Jeng-jeng-jeng jeng, jeng-jeng-jeng jeng-jeng~
(backsound: Final Countdown)

Yuhuuu! YEAH! GUE LEBAY BANGET NGGAK SEEEH??
Ehemm.. Oke. Lebih baik menenangkan diri sedikit. Bisa-bisa kesurupan nanti. Yah, untuk memulai tulisan kopdar kali ini, memang baiknya diawali dengan berapi-api.

Semarang sedang tidak terlalu panas saat saya ke sana waktu itu. Hm.. Namun se-tidakpanas-nya Semarang, hitungannya masih panas juga. Saya heran kenapa teman-teman saya yang berasal dari Semarang dan juga banyak orang Semarang lainnya yang saya jumpai tidak berkulit hitam. Padahal di sana panas. Saking panasnya, matahari di sana berasa ada 2 sodara-sodara! Walaupun begitu, tetap saja mereka berkulit sawo matang dan bahkan sirsak matang (iyakan sajalah perumpamaan ini)

Apa kebanyakan dari mereka tidak suka main di luar dan cuma suka main warnet? Rasanya tidak mungkin. Perlu warnet sebanyak apa untuk menampung anak satu kota. Atau jangan-jangan gen yang ada dalam sel orang Semarang secara alami mengandung penangkal sinar UV-a dan UV-b yang ramai ditakuti kaum hawa itu? Ah mana mungkin. Yang jelas, kondisinya berbeda sekali dengan Batam, my lovely barren land. Batam panas. Makanya saya tak heran anak-anak di sana (termasuk si penulis mirisnya) banyak yang hitam, kucel, alay, dan gampang tersinggung. Errr… mungkin hitam berlebihan. Kalau ibarat sawo, maka warna kulitnya sawo bakar. Coklat tua gelap. Very very dark brown. (more…)

Beberapa yang Belum Tertulis: Final

Hohoho… sampai juga ke bagian terakhir. Awalnya nggak pengen memecahnya menjadi 5 bagian. Makasih untuk Bang Desfortin yang sengaja atau tidak memberikan ide untuk membuatnya seperti bab-bab dalam skripsi. Pada akhirnya yang dibikin mirip cuma jumlah bab nya yang sama-sama 5. Hmm…

Oke. Yang terakhir ini yang paling tidak penting. Sebelum-sebelumnya juga tidak penting. Tetapi bahkan yang ini masih kalah penting dari bacaan-bacaan tidak penting itu.


(more…)

Dulu Wibelum, Sekarang Wisuda

Yo. Masih dalam seri ‘beberapa yang belum tertulis’. Kali ini bahas wisuda. Mohon maaf judulnya terlalu receh. Hasrat kerecehan ini tak tertahankan lagi

Selamat menikmati…

Bab IV. Wisuda

Waktu-waktu yang lalu, saya mendatangi tiga wisuda berbeda di tiga kota berbeda, hanya dalam waktu seminggu. Keren kan? Dan coba tebak kesimpulan apa yang didapat setelah mendatangi wisuda-wisuda itu. Wisuda itu rumit, kacau, liar, nakal, brutal, dan membuat semua orang menjadi gempar. Yah, begitulah.

Mungkin mirip-mirip kondangan kali ya. Sang wisudawan/wati adalah mempelainya. Mereka memakai jas/kebaya berbalut toga lengkap dengan riasan berat. Yang bukan wisudawan/wati otomatis menjadi tamu. Nah bedanya kondangan dan wisuda, di wisuda mempelainya ada banyak. Berapa banyak? Ratusan! (irama Tango~). Jadi, masuk akal kalau ramenya bikin sesak nafas.

Nah, tahun-tahun sebelumnya, wisuda bukanlah sesuatu spesial. Bukan berarti tidak spesial, hanya saja kadar spesialnya biasa. ‘Spesial biasa’ ya hmm. Entahlah spesial yang bagaimana itu. Namun tahun ini, spesialnya spesial banget. Kespesialan wisuda tahun ini pasti berhubungan dengan banyaknya teman seangkatan yang juga wisuda. Wajar saja. Bersama teman seangakatan, ada perasaan solidaritas yang berbeda.

Makanya saya cukup antusias dengan wisuda tahun ini. Banyak teman dekat yang menyelesaikan kuliahnya. Tentu saja terpikir untuk mendatangi wisuda mereka selama syarat waktu-kesempatan memenuhi dan untungnya masih sempat mengunjungi beberapa wisuda.

wisuda3
Lalu bagian mana dari wisuda yang membuatnya rumit, kacau, liar, nakal, brutal, dan membuat semua orang menjadi gempar? Adalah kerumunan orang-orang itu. Percayalah, kumpulan berbagai jenis manusia berbeda yang datang dengan niat berbeda sedikit banyak memengaruhi visi misi kita datang ke wisuda. Misalnya, arah jalan ke gedung wisuda yang sebenarnya lurus-lurus saja mendadak berubah menjadi labirin karena terlalu ramai. Atau kita yang awalnya tidak ingin membeli apa-apa jadi terpaksa membeli dagangan wisuda karena pedagangnya kelewat cantik. Semua terasa sulit.,.

Di antara fenomena-fenomena yang umumnya terjadi pada wisuda, saya menyoroti beberapa hal yang (mungkin) menarik. Fenomena-fenomena ini selalu saya temukan selama bertualang di tiga wisuda kemarin (more…)

Ketoprak

Di dekat kos saya di Jakarta, ada abang ketoprak yang punya dagangan enak luar biasa. Karena kenikmatan ketopraknya, gerobak ketopraknya selalu ramai pembeli. Orang-orang mesti mengantri cukup lama hanya untuk membeli sebungkus. Seandainya kita baru datang ba’da maghrib, biasanya baru dapat tuh ketoprak deket-deket azan isya’. Luar biasa banget.

Kemudian saya ke Semarang. Di sana saya kedapatan warung ketoprak yang di depan gerobaknya tertulis tulisan besar “KETOPRAK KHAS JAKARTA”. Dahi saya berkerut. Baru kali itu saya mendengar ketoprak khas Jakarta. Karena penasaran dan punya uang (ini penting diberitahu), tak ada salahnya mencoba. Ternyata yang dinamakan ketoprak khas Jakarta ini tak begitu berbeda dengan yang biasa saya makan di dekat kos. Ia masih sama-sama ketoprak. Ada lontong, toge, tahu, dan bawang putih halus bermandikan kuah kacang creamy nan gurih.

Masalahnya cuma satu. Abang ketoprak yang biasanya saya datangi berdagang “KETOPRAK KHAS CIREBON”. Dan sepertinya cukup banyak pedagang ketoprak lain di Jakarta yang memasang label ‘Cirebon’ di gerobaknya

Jadi kalau “KETOPRAK KHAS JAKARTA” yang ada di Semarang merujuk pada “KETOPRAK KHAS CIREBON” yang ada di Jakarta, berarti bukannya pedagang ketoprak di Semarang itu menjual “KETOPRAK KHAS CIREBON” juga? Lalu bagaimana dengan Cirebon? Apa ketoprak yang dijual di sana adalah “KETOPRAK KHAS JAKARTA”? Atau malah muncul nama “KETOPRAK KHAS SEMARANG”? Hati dan pikiran berkecamuk.

Sembari mengunyah ketoprak yang tadi (yang saya makan di Semarang), saya menatap curiga ke arah seporsi ketoprak tak berdaya di atas meja. Ia tak lagi kelihatan pede sejak saya mempertanyakan asal-usulnya. Sebenarnya ia tak bersalah. Ia cuma sepiring ketoprak. Hanya saja, ada sedikit hal yang mesti diklarifikasi. Dari mana datangnya kamu? Dan entah dari mana sebutan khas yang tersemat padamu, wahai ketoprak?

Filza dan Semesta Dramaga

Cuss.. masih berlanjut dari postingan kemarin nich. Membayar sedikit utang atas keabsenan saya dalam dunia blog. Kali ini saya membahas sedikit tentang adik saya…

Bab II. Filza

Itu nama adik saya. Tahun ini ia mulai berkuliah di IPB. Tentu saja saya senang bukan kepalang. Setidaknya jarak kami hanya menjadi puluhan kilo. Tak lagi menyebrangi lautan untuk bertemu.

Berhubung abangnya (yang secara fisik tidak mirip sama sekali) ada di Jakarta, sudah pasti kedua orang tua Filza memanfaatkan abangnya itu untuk mengurus segala keperluan Filza. Mulai dari pendaftaran ulang mahasiswa, masuk asrama, perlengkapan kamar, sampai pakaian untuk kuliah. Dan sungguh itu sesuatu yang menyenangkan. Banyak hal baru yang dilihat dan dipelajari abangnya itu.

Yang paling pertama mungkin tentang Dramaga dan kampus IPB. Meski sudah beberapa kali mendengar, saya belum pernah merasakan sendiri perjalanan yang harus ditempuh dari Jakarta ke Dramaga. Yang saya tahu kalau tempatnya lumayan jauh. Ternyata benar. Hanya saja perlu ditekankan kata “lumayan” di situ, menjadi LUMAYAN jauh. Untuk saya, sekali jalan dari kos menuju ke IPB dengan angkutan umum (kombinasi angkot-kereta-ojek) butuh waktu kurang lebih 2 jam. Itupun dengan asumsi macet yang normal. Jalanan dari Stasiun Bogor menuju Dramaga itu yang parah benar-benar. Tidak seperti Jakarta yang punya jalan raya cukup besar, jalan di sana cukup kecil. Hanya mampu menampung satu kendaraan di satu jalur. Ditambah lagi dengan ramainya Bogor, lengkaplah sudah untuk resep macet berkepanjangan (yay!)

Namun macet tak selalu menjadi masalah bagi saya. Hidup di Jakarta membuat saya beradaptasi dengan macet. Sudah biasa. Saya hanya baru tau kalau menuju jalan Dramaga-stasiun seramai itu. Yang saya pikirkan adik saya. Tak lama lagi Filza akan menjadi perempuan tangguh yang kebas macet.

IPB sendiri ternyata kampus yang cukup asri. Hijaunya mirip-mirip UI lah. Hanya saja luasnya lebih kecil. Walaupun saya bilang lebih kecil, tetap saja IPB kampus yang luas. Saya belum khatam jalan-jalan di sana karena Filza malas membawa saya jalan-jalan karena menurutnya itu terlalu luas untuk dibawa “jalan-jalan”. Lalu seperti kawasan-kawasan PTN lainnya, di sana banyak sekali mahasiswa berseliweran. Dan coba tebak, mereka tidak memakai seragam! Wow! Berbeda sekali dengan kampus saya.

Sebelum persiapan sidang, saya rutin tiap minggunya main ke IPB. Lumayan. Hitung-hitung rekreasi sambil melihat Filza. Adik saya itu selalu punya cerita baru untuk disampaikan. Seperti bagaimana ia mencoba meniru temannya yang teramat hemat dengan hanya mengeluarkan Rp 5000 untuk makan tiap harinya atau bagaimana teman-temannya yang berdomisili Jabodetabek bisa pulang setiap minggunya sedangkan ia mesti pindah ke kamar temannya agar tak kesepian. Saya selalu suka mendengar ceritanya pun bahagia melihat sosoknya yang tak berubah.

tenor

Kalau dari luar, Filza kelihatannya seperti orang kena tipes. Lemes banget asli. Orang yang tidak mengenalnya mungkin akan mengira ia introvert pemurung yang sering sakit-sakitan. Yah, itu salah besar. Saya telah mengenalinya sejak ia lahir dan ia jauh dari kata introvert ataupun pemurung yang sakit-sakitan. Memang ia tak lagi sama seperti dulu, seorang anak kecil perempuan yang ekspresif dan humoris. Sekarang entah bagaimana sifat ekspresifnya itu menghilang. Tetapi tidak selera humornya yang unik (yang saya sukai) dan pribadi ramahnya. Percaya atau tidak, setiap kali saya jalan bersamanya, ia selalu menyapa senyum semua orang yang ia lewati baik kenal ataupun tidak. Sebagai balasan, banyak juga yang menyapanya lebih dulu, bertanya siapa lelaki besar yang berjalan di sampingnya, lalu seperti biasa lawan bicaranya itu seakan tak percaya bahwa kami adalah kakak-adik. Kemudian seperti biasa pula, senyum ramahnya itu kembali ia antarkan ke tiap lawan bicaranya sewaktu berpisah.

Dan yang paling saya senangi, ia kelihatan sehat dan baik-baik saja. Ia masih cuek dalam berpakaian, cara tertawanya masih seperti orang kena asma, dan masih saja suka bercerita tentang sesuatu yang sebenarnya tak penting. Itu, beserta kualitas-kualitas lain dalam dirinya, sungguh menandakan betapa spesial dirinya pun membuat saya bahagia ketika bertemu. Bertemu dengannya selalu menjadi tanggal merah dalam kalender saya

Skripsitis

Hi. Saya pernah bilang kalau Semut Hitam ini adalah blog pribadi. Jadi jangan heran kalau di dalamnya ketemu dengan tulisan anarsis (anarkis+narsis). Pada mulanya tidak seperti itu. Dulu kebijakannya tidak ingin memosting tulisan yang eksplisit membahas pribadi. Yah kalau dibias-biaskan sedikit sih pernah. Yang pasti diusahakan tidak anarsis. Namun lambat laun, jiwa narsis ini memberontak dan menuliskannya di blog pun menjadi tak terhindarkan. Beginilah jadinya Semut Hitam. Jadi jangan heran kalau ketemu hal-hal nggak penting di sini. Ah, memang dominannya nggak penting sih -_-

Oke. Bisa dibilang ini tulisan pertama yang dibuat murni dalam ruang lingkup ‘blogging’ setelah sekian lama. Banyak-banyak-banyak yang terjadi ke dalam hidup saya selama tidak nangkring di Semut Hitam ini. Mungkin baiknya saya rangkum menjadi beberapa postingan ya. Hitung-hitung memperbanyak postingan juga (peace). Beberapa seri postingan ini bernama ‘beberapa yang belum tertulis’ (more…)

Kopdar Bersama Winda Bungahahihuheho dan Halipiani

Hi. Kurang lebih seminggu yang lalu, saya melakukan kopdar lagi lho. Kopdar yang ke-5 bersama Semut Hitam. Dan seperti biasanya, saya selalu menjadi yang paling belakang menuliskannya di blog hmm. Kondisi biasa saja nulis tulisan kopdar basi, gimana dalam kondisi dihantui skrips* gini -_-. Yah, karena ini tentang kopdar, ini jadi wajib untuk dituliskan.

Kopdar terakhir ini amat berbeda dengan yang sebelum-sebelumnya. Di mana letak berbedanya? Jawabannya adalah di (1) ini adalah kopdar pertama yang terlaksana karena adanya grup Obrolin. Karena bloger yang ikutan kopdar ini murni saya kenal dari grup itu. Tidak dari readers atau kolom komentar seperti sebelum-sebelumnya. Jadi, terima kasih untuk Obrolin telah memberikan kami jalan! (hmm.. mudah dimisinterpretasikan ya).

Lalu, (2) kopdar ini adalah yang pertama kalinya dilaksanakan dengan bloger yang juga tinggal di Jakarta. Yah, sedih aja sih kalau punya niat ketemu bloger ini dan itu tapi yang dekat malah tidak dijamah. Karena tinggal berdekatan, saya yakin kami bisa saling berbagi tentang macet, tentang polusi, tentang transjakarta, tentang KRL, dan tentang semuanya yang kalau disebutkan terbayang dengan kata “Jakarta”. Di samping itu, saya sendiri cukup excited akan mendapatkan teman di Jakarta, di luar teman area kampus-warteg.

(3) kopdar ini yang pertama kalinya dilakukan dengan 2 bloger sekaligus. Harusnya lebih dari dua malahan -_-. Jujur awalnya agak bingung mau ngapain aja bertiga ngumpul. Mau main catur orangnya kelebihan. Mau main bulutangkis ganda campuran orangnya kekurangan. Hmm.. gimana ya. Sepertinya apapun nggak enak dilakuin kalau ada orang ketiga (eh?). Namun, semua kebingungan saya tentang agenda kopdar menghilang ketika saya bertemu dengan mereka. Ah, saya lupa ini kopdar! Ngelakuin apa aja rasanya pas (dengan asumsi canggung udah ilang, malu sudah dibuang, kompak sampai pulang)

Jadi siapa kedua orang beruntung itu yang berkesempatan kopdar bareng saya (hoek)? Beri sambutan meriah pada Winda dan Halipiani! Yay! (Prok prok prok)

Winda dan Halipiani adalah perempuan. Suatu fakta yang sebenarnya sudah bisa diketahui dari namanya namun entah kenapa tetap saya ceritakan. Kurang lebih mereka seumuran lah dengan saya. Beda hitungan bulan saja. Baiknya saya beri deskripsi sedikit tentang mereka. (more…)

Skripsi dan Blog

Sudah sangat lama sejak terakhir kali saya berkunjung ke blog. Hitungannya sudah masuk bulan. Selama kekosongan itu, alhamdulillah masih ada saja orang yang kesasar ke Semut Hitam. Lewat pencarian tak lazim di google atau teman-teman koloni wordpress yang tetap datang silaturahim walaupun orangnya nggak ada. Saya sendiri sangat mensyukuri teman-teman yang tetap berkunjung ke sini walaupun penghuninya sedang melipir entah ke mana. Itu sangat berarti. Ah ya, mohon maaf juga karena tiba-tiba absen dari peredaran blog teman-teman 😦

Tentu ada alasan mengapa waktu-waktu belakangan ini jadi makin jarang main ke blog. Alasan tersebut berhubungan dengan status saya sebagai mahasiswa tingkat akhir. Mahasiswa basi. Selama menjadi mahasiswa yang lebih ‘seger’ (yah meski dulu nggak seger-seger amat sih), rutinitas kampus jelas lebih padat. Lebih padat ketimbang saat ini. Ada kesibukan organisasi, kuliah dengan SKS yang lebih banyak, juga kesibukan mengejar perempuan. Meski begitu, menjadi mahasiswa basi memiliki tingkat kesulitannya sendiri. Pertama mungkin karena masalah motivasi. Tau sendiri gimana “rajinnya” mahasiswa-mahasiswa tingkat akhir. Absen bisa makin sering, tugas syukur2 dikerjain. Masalah motivasi ini krusial. Dan masalah itu menjadi kombinasi hebat bersama masalah kedua. SKRIPSI. Yak. (more…)

Lumpia Semarang

Bertahun yang lalu, saya bertemu dengan pedagang Lumpia Semarang seperti pada gambar. Lokasinya di depan Gelanggang Remaja Jakarta Timur. Pertemuan itu pun jadi perkenalan pertama saya dengan Lumpia Semarang. Sebenarnya, sebelumnya saya sudah pernah makan Lumpia Semarang. Hanya saja waktu itu Lumpia Semarangnya langsung saya makan tanpa sempat berkenalan.

Oke. Jadi ceritanya waktu itu sedang lelah dan lapar seusai macet-macetan dalam transjakarta (transportasi kita semua…). Kebetulan, pedagang Lumpia Semarang ini adalah pedagang makanan pertama yang terlihat begitu keluar dari halte busway. “Lumpia Semarang? Tapi ini kan Jakarta…” Kurang lebih begitu kata batin mengomentari apa yang dilihat. Berhubung lapar, saya pikir tak ada salahnya untuk mencoba membelinya. Toh bagi saya tidak ada makanan yang tidak enak. Yang ada hanya “enak” dan “enak banget”. (more…)