Artikel

KITA Berbagi: 1000 Paket Ramadhan

Enaknya tinggal di Jakarta, banyak tempat dapat diakses mesti tidak ada transportasi pribadi. Semua itu berterima kasih kepada mode transportasi umum ibukota. Berkat mereka, saya dapat berkeliling melihat Jakarta. Mulai dari gedung pencakar langitnya (maaf langit), mal-mal besar, tempat makan ngehitz, sampai jalan raya 8 ruas, semua dapat dilihat dengan bermodal sedikit uang (Rp 3.500 doang kalau mengandalkan Transjakarta, transportasi kita semua…)

Namun selain tempat-tempat bagus seperti yang disebutkan sebelumnya, mata saya turut melihat mirisnya kehidupan golongan bawah. Dan sesungguhnya mereka berada dekat. Contohnya bisa jadi di belakang mal-mal besar tadi terdapat pemukiman kumuh. Atau tak jauh dari gedung pencakar langit itu, hidup orang-orang yang masih mesti mencakar-cakar tempat sampah demi menyulapnya menjadi beberapa lembar uang. Jakarta adalah tempat di mana si golongan atas dan golongan bawah hidup berdampingan, namun tak sekalipun mereka bersinggungan.

Lalu hiduplah kita, yang bisa saja berada di golongan atas atau bawah atau mungkin pula bukan keduanya. Jika dimisalkan golongan atas dan bawah itu pisahkan oleh garis lurus panjang melintang, maka yang tidak termasuk kedua golongan ini berada tepat di tengah garis. Mereka sadar betul diapit oleh dua kubu. Mereka menonton. Mereka spektator sejati.

Pernahkah tersadar kalau kita dapat melakukan sesuatu yang lebih? Tidak sekadar menonton maksudnya. Baik jauh atau dekat, selama kita tahu, saya percaya kita selalu dapat melakukan hal lebih banyak. Kepada orang-orang yang posisinya lebih bawah, kita dapat mengulurkan tangan untuk sedikit meninggikan mereka. Kepada orang-orang yang berada lebih atas, kita dapat menolehkan pandangan mereka ke arah bawah. Banyak. Banyak yang dapat kita lakukan untuk membantu. Dan di sini, saya ingin memperkenalkan satu program mulia milik teman seperjuangan. Milik KITA Berbagi

kitaberbagi3.JPG (more…)

Advertisements

Pertanyaan-pertanyaan yang (Mungkin) Sering Muncul Kala Ramadhan Datang

Bukankah di setiap Ramadhan selalu muncul pertanyaan terkait hal-hal seperti ini? Ajakan bukber (yang punya kemungkinan nggak jadi-jadi), seputar ibadah puasa, dan banyak persoalan lain yang dapat dikatakan hanya muncul di kala bulan suci ini datang. Rasanya lucu saja kita kita hanya mendengar pertanyaan-pertanyaan seperti ini di bulan Ramadhan. Kalau sedang gabut tiada obat, bolehlah baca ini… Semoga dapat menikmati. Ya… Semoga…

1. Kapan bukber?

Satu! Nah ini. Semakin kita dewasa, akan ada semakin banyak orang/kelompok yang kita kenali. Dan hampir dapat dipastikan orang-orang itu mengadakan kegiatan yang dinamakan buka bersama. Alasannya mudah. Untuk mempererat silaturahim serta untuk memfasilitasi semangat nongkrong orang Indonesia.

Masalahnya, niat untuk bukber itu seringkali hanya sebatas niat yang menggebu-gebu. Tidak ada eksekusi. Nah, biasanya yang kemudian dijadikan kambing hitam adalah karena tidak ditemukannya waktu yang cocok untuk bukber. Sebenarnya waktu untuk berbuka yang pas itu sudah ada, yaitu saat azan maghrib berkumandang. Tetapi selalu ada kesibukan masing-masing yang bersinggungan, sehingga orang tidak dapat untuk mendengar azan maghrib di tempat yang sama. Akhirnya terjadilah percakapan seperti pada gambar (more…)

Meidioxide

Oke. Jadi saya pernah mendengar ada yang bilang “Ah, zaman sekarang mau jadi artis gampang. Siapa aja bisa. Nggak perlu bakat dan yang penting modal nggak tau malu aja. Beda dengan dulu. Kalau dulu cuma orang punya skill yang bisa terkenal. Jadi bukan orang sembarangan.”

Sebenarnya tak persis seperti itu. Perkataan di atas lebih mirip ke nyinyiran ibu rumah tangga sepertinya ya, tetapi dapatlah sekiranya digambarkan seperti itu. Ada orang-orang yang beranggapan bahwa menjadi terkenal sekarang bisa hanya dengan modal dengkul. Hmm… bagaimana ya. Namanya juga perkembangan zaman. Pertukaran informasi sekarang jauh lebih intens dan mudah ketimbang dua dekade lalu. Semuanya berterima kasih pada internet. Nah kembali ke tadi, menurut saya adanya internet ini tidak berarti menjadikan orang-orang yang bermodal dengkul dapat serta merta terkenal. Saya lebih beranggapan internet membuka pintu lebih lebar dalam menemukan orang-orang dengan berbakat, yang zaman dulu hanya dapat ditemukan lewat TV atau radio

Salah satu orang yang ditemukan internet itu adalah teman saya sendiri. Meidioxide

(more…)

Anger-Bending: Tips Mengendalikan Marah

Apa memang ada manusia yang tidak pernah marah? Entahlah. Mungkin harus segera periksa ke dokter karena tidak pernah marah. Nggg.. sebenarnya bahkan orang yang sakit masih bisa marah. Dokter belum tentu bisa menyembuhkannya. Jadi ke mana harus memeriksakan diri? Mungkin ke sini jawabannya! *tssaaaahh*

Marah itu normal. Wajar. Lazim. Sudah fitrah ada di dalam diri manusia. Ia juga salah satu bentuk dari emosi kita. Sebagaimana yang umum ketahui, emosi adalah luapan ekspresi yang kita rasakan. Biasanya hanya kita yang paling tahu emosi sebenarnya diri kita. Tetapi tidak selamanya begitu, karena emosi juga tercermin dari tindak-tanduk perilaku kita sehingga seseorang sedikit banyak mampu membaca apa yang kita rasakan. Misal ketika seseorang terkadang berpikir tidak senonoh, ia akan tersenyum mesum. Atau ketika seorang istri termakan gombalan dari suami, ia akan memukul-mukul manja sang suami. Tentu masih banyak contoh lainnya.

Nah marah juga seperti itu. Ia juga tercermin dalam perilaku kita, walaupun tidak di semua individu seperti itu. Ada orang yang ketika marah tiba-tiba suka menyebut nama-nama binatang (kebanyakan berkaki 4), alur napas memburu tidak beratur, hingga mengepal tinju sana-sini. Orang begini bisa jadi jauh lebih aktif saat marah. Menjadi lebih verbal dan pecicilan.

Tetapi ada juga yang ketika marah, ia menjadi semakin inaktif. Ia akan diam seribu bahasa. Terkadang menyilangkan tangan. Raut wajahnya beku. Kalaupun kita memberanikan diri bertanya, jawaban yang akan ia berikan akan selalu “Terserah…”. Dengan akhiran ‘ah’ yang amat tipis mematikan. Alternatif jawaban lain adalah “Coba pikir aja sendiri…”

(more…)

Flatulensi Insidental

Langsung saja, flatulensi adalah bahasa ilmiah dari buang angin. Inilah salah satu kehebatan bahasa ilmiah. Bahkan buang angin pun dapat terdengar cerdas. Yang ingin saya katakan, bisa jadi tulisan ini dirasa sangat jorok. Jadi, segera cari tombol ‘back’ sebelum membaca lebih jauh bagi Anda yang menyumpah kejorokan. Sudah diperingatkan…

Flatulensi/buang angin/kentut adalah hal wajar. Tak kentut, maka tak patut. Permasalahannya adalah flatulensi ini semacam sampah, yang harus dibuang pada tempatnya. Karena kalau dibuang sembarangan, kita akan mencemari lingkungan. Mungkin bukan alam yang kita cemari, tetapi nama baik sendiri. Oleh karena itu diperlukan tindakan yang bijak dalam menghadapi flatulensi ini.

(more…)

Rich Chigga adalah

Del, muka lo mirip Rich Chigga!

Saat pertama kali dibilang seperti itu oleh teman, tak muncul sama sekali tebakan siapa yang ia maksud sebagai Rich Chigga ini. Pun tak tahu sama sekali apa itu artinya positif atau negatif. Cuma karena sudah dikatain saya jadi terlajur penasaran. berangkat dari rasa penasaran itulah saya memulai petualangan mencari siapa Rich Chigga ini

rich-chigga

(more…)

Pariwisata Berkelanjutan: Untuk Saat Ini dan Seterusnya bagi Lombok

Tentu sudah menjadi fakta bahwa Pulau Lombok adalah destinasi impian bagi para pelancong dan wisatawan, baik itu nasional ataupun internasional. Fakta ini tidak mengherankan mengingat Lombok memiliki magnet kepariwisataan kuat yang berasal dari keanggunan alam juga nilai-nilai kebudayaan yang kuat mengakar. Secara statistik, jumlah wisatawan nusantara dan mancanegara yang datang berkunjung ke Provinsi Nusa Tenggara Barat terus meningkat sejak tahun 2012 hingga 2014. Pertumbuhan ini adalah kabar yang amat menggembirakan bagi pariwisata NTB karena di saat yang bersamaan jumlah kunjungan pariwisata di Bali, yang lebih dulu dikenal sebagai pariwisata, malah mengalami penurunan. Kurang lebih ini dapat diinterpretasikan wisatawan tak hanya mulai melirik NTB sebagai destinasi wisata jempolan melainkan sudah menjadikan NTB alternatif wisata yang menjanjikan. Seperti perkataan yang sering terdengar di kalangan wisatawan terkait rivalitas Bali-Lombok, “kalau ke Bali tidak dapat Lombok. Tetapi kalau ke Lombok sudah pasti dapat Bali”

Namun pariwisata NTB atau lebih spesifik lagi Lombok, terbentur beberapa masalah yang mengakibatkan fasilitas dan kualitas kepariwisataan di Lombok masih kalah dibanding Bali. Katakanlah dari segi pelayanan dan pelestarian daerah wisata alam yang dapat dibilang hanya mendapat nilai rendah dalam rapot pariwisata Lombok. Isu-isu seperti ini jika tidak ditanggapi secara serius akan menyebabkan segala keuntungan dari sektor pariwisata hanya dapat  berlangsung sesaat. Jangan kaget jika 10 atau 15 tahun lagi pariwisata Lombok hanya menjadi kenangan indah di masa lalu dikarenakan tidak adanya perencanaan masa depan yang matang

(more…)

Beberapa Hal yang Harus Diketahui tentang Sistem Ganjil Genap

Bermula dengan perbincangan dengan supir taksi yang mengeluh karena adanya penerapan regulasi baru terkait penggunaan jalan, saya mulai mencari tahu alasan keluhan tersebut. Ia berkata jadwal kerjanya selama diberlakukannya sistem ini perlu dirombak. Ia pun perlu menerapkan strategi khusus agar tak terkena sanksi regulasi baru itu. Regulasi tersebut tak lain bukan adalah Sistem ganjil Genap. Lalu apa sebenarnya Sistem Ganjil Genap itu?

Ganjil Genap merupakan salah satu upaya pengurangan kemacetan Jakarta yang sebelumnya peran tersebut dilakukan oleh Sistem 3-in-1.

Sistem Ganjil Genap bekerja dengan mengatur kendaraan mana saja yang boleh melewati jalan utama di waktu tertentu. Penentuan kendaraan tersebut didasarkan oleh digit terakhir plat kendaraan dan tanggal hari bersangkutan. Kendaraan dengan digit terakhir ganjil hanya dapat beroperasi di hari bertanggal ganjil dan kendaraan berdigit terakhir genap hanya di tanggal genap.

Sampai tanggal 26 Agustus 2016 nanti, sistem pengaturan jalan ini masih dalam tahap percobaan dan akan dilakukan secara permanen mulai tanggal 30 Agustus 2016 jika dinilai berhasil.

(more…)

Tiga Alasan Jakarta Macet

Ngomong Jakarta ya berari ngomong tentang macet. Sudah pasti. Saya yakin setiap yang pernah ke Jakarta pasti pernah terjebak macet mughallazah yang sudah nggak ketolong lagi. Hmm.. mungkin…

Akibat status kota Jakarta dan sebagai pusat perekonomian, banyak orang berbondong-bondong datang untuk mencari penghidupan. Alhasil Jakarta overloaded. Penuh, padat, dan sesak. Tiga deskripsi di atas jelas tergambar di jalan raya Jakarta khususon saat jam pergi dan pulang kerja. Duh, itu yang namanya kendaraan nggak tau lagi mau ngomong apa. Saking penuhnya pejalan kaki saja nggak dikasih tempat buat jalan karena jatahnya diserobot sepeda motor

Jadi kalau ada kasus perjalanan yang aturannya cuma setengah jam malah jadi dua jam, saya pikir itu sudah biasa di Jakarta. Dongkol? Jelas. Sayangnya nggak banyak yang bisa kita lakukan. Ya habis kita mau gimana lagi.

Sejatinya, persoalan transportasi Jakarta sudah menjadi permasalahan sedari dulu . Tak berlebihan kalau saya katakan kemacetan parah sekarang sedikit banyak berasal dari sumbangsih keadaan masa lalu. Para pendiri Kota Jakarta menjadikan tata ruang dan kota yang kompleks. Satu lokasi dan lainnya saling tumpang tindih. Ditambah lagi perizinan pembangunan lahan yang kurang ketat yang berakibat munculnya bangunan-bangunan yang tak strategis serta menimbulkan macet.

Berangkat dari situ, saya coba merangkum opini dari kenyataan yang ada, kira-kira mengapa di Jakarta bisa macet parah. Lantas, apa yang harus dibenahi agar masalah kemacetan ini mereda?

(more…)

Bumi Ternyata Datar?

Ujug-ujug apa yang selama ini kami percayai sebagai common sense mendadak buram oleh pernyataan dosen kami. Beliau berkata bahwa di luar sana, ada sekumpulan orang yang percaya (dan mengimani sepenuh hati) pernyataan bahwa bumi ini sebenarnya berbentuk datar. Datar layaknya karpet. Sama sekali bukan berbentuk bulat pepat seperti apa yang kita pelajari dalam buku IPA semenjak SD.

Dalam konteks biasa, jika ada orang yang datang bilang kalau bumi ini sebenarnya datar, pasti kita anggap orang itu sedang bercanda. Tetapi sayangnya orang yang mendeklarasikan berbentuk datar itu sangat serius. Orang-orang ini berkumpul ke dalam suatu komunitas bernama The Flat Earth Society, yang sepertinya semua anggotannya sangat berkomitmen. Tanpa lelah mereka menyatakan teori-teori dan bukti2 kuat dari perkataan mereka. Dan terus terang, penjelasan mereka cukup meyakinkan. Banyak sudah yang menjadi ‘pengikut’ setelah melihat argumen mereka.

flat-earth-society

Saya pikir perdebatan bumi itu bulat vs bumi itu datar sudah lama usai ketika penemuan Benua Amerika oleh Colombus pada 1492. Tapi ternyata tidak. Bahkan setelah manusia pertama yang keluar angkasa, Yuri Gagarin, mengorbit bumi pada 1961. Perdebatan masih terus berlangsung. Pihak flat-earth punya sejuta alasan untuk membantah itu semua mulai dari konspirasi dari NASA dan ketidaktepatan sejarah masa lalu. Intinya, sampai sekarang belum ada yang bisa benar-benar meyakinkan orang lain tentang bentuk bumi ini. Mungkin agar benar-benar percaya seluruh manusia harus diangkut keluar angkasa agar dapat melihat dengan mata kepalanya sendiri.

(more…)