Soal Sarapan pun Berbeda

Saya pergi mencari sarapan untuk keluarga kecil kami pagi ini di Semarang. Baru menoleh sedikit keluar rumah, teringatlah saya betapa berbedanya kota ini dibandingkan tempat tinggal saya. Tak heran saya dan Ziza memiliki latar belakang yang berbeda. Bahkan berbeda sampai ke hal-hal kecil seperti menu sarapan.

Tujuan pertama saya dalam mencari sarapan adalag tempat makan Nasi Ayam “Goyang Lidah”. Lokasinya bisa dilihat sendiri ya, di Jalan Pusponjolo. Ziza yang mau makan nasi ayam di sini. Menurutnya enak.

Di Batam (atau Kepri), yang namanya nasi ayam adalah nasi ayam hainan. Nasi yang dimasak gurih ditambahkan dengan daging ayam yang dimasak dengan bumbu khusus. Biasanya nasi ayam hainan juga disertai kuah bening kaldu ayam+bawang putih dalam mangkok kecil. Gambaran yang sangat berbeda dengan nasi ayam di sini.

Nasi ayam di Semarang sangat-sangat berbeda. Nasinya mungkin beda tipis dengan nasi ayam hainan, sama-sama ada gurihnya. Namun selain nasinya itu tidak ada kesamaannya sama sekali. Nasi ayam Semarang adalah hasil percampuran nasi gurih tadi dengan kuah santan seperti sayur lodeh. Oh ya, ada dua jenis kuah sebenarnya. Kuah santan yang warnanya merah dan putih. Ketika dicampur ke atas nasi menurut saya tak jauh beda dengan kuah sayur lodeh, bahkan ada potongan labu siam juga. Lalu terakhir yang membuatnya dinamakan nasi ayam, ditambahkanlah suwiran daging ayam. Suwiran ayamnya seperti yang biasanya ada di soto ya. Ayam hasil rebusan.

Menurut saya nasi ayam Semarang ini sangat rumahan. Saya dapat menemukan rasa yang serupa dalam sayur lodeh ataupun sayur nangka yang biasanya ada di rumah. Rasa yang tidak spesial menurut saya. Tetapi melihat ramenya tempat makan ini, sepertinya rasa santan seperti di nasi ayam ini tidak begitu umum dijumpai di rumah-rumah Semarang. Sehingga membuatnya digemari. Yah, kalau di Sumatera sendiri, sayur atau makanan bersantan sudah sangat umum

Lanjut ke pesanan makan di tempat berikutnya, pecel. Biasanya kalau saya beli pecel, cukup bilang “pecelnya satu, bu”. Si ibu kemudian langsung menyiapkan segala sesuatunya, lalu ligat mengulek kuah kacang dengan mantap. Namun, di sini tidak begitu. Selesai bilang “pecelnya satu, bu”, disodorilah saya pertanyaan berikutnya, “pakai apa mas?”

Pakai apa? Pecel yang saya tahu cukuplah dedaunan serta kacang panjang dan timun dilumuri dengan saus kacang creamy (uuh… saya suka kuah kacang). Tidak ada pilihan pakai apa lagi. Oh, atau jangan-jangan maksud si ibu saya makannya pakai tangan atau sendok? Tapi saya kan beli bungkus. Buat apa ditanya begitu?

Ternyata pecel yang ini juga memberikan pilihan topping selain sayur dan kuah kacang. Ada sate telur, sate ayam, ayam suwir, jeroan, ikan, bakso, dan banyak lagi pilihan lain yang tidak sempat saya potret dengan mata. Pengalaman saya membeli pecel masih sangat minim sehingga terkaget-kaget kalau beli pecel bisa memilih topping. Sudah semacam pizza saja. Tak pernah saya ketemu penjual pecel seperti ini. Inikah pedagang pecel yang terlalu berani bereksperimen sehingga kelewat batas? Sepertinya tidak. Mungkin memang seperti ini pecel ponorogo yang dijual di Semarang. Hmmm….

Jujur saja, pilihan topping yang luar biasa banyak itu membingungkan. Terutama untuk pembeli pula seperti saya. Tidak tahu rasanya cocok atau tidak, pun tidak tau harganya. Membeli pecel di sini rasanya seperti main quiz. Pada akhirnya saya memilih jeroan saja sambil berharap dapat cepat pulang membawa pesanan saya

“Jeroannya apa aja mas? Ada paru, babat, kikil, iso… ” Gubraaakkk. Pertanyaannya beranak kalau pilih jeroan.

Saya keluar membeli makan sarapan pagi ini. Namun ketika pulang, bukan hanya makanan sarapan yang dibawa. Juga ada pembelajaran budaya sarapan di Semarang yang jelas jauh berbeda dengan tempat tinggal saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s