Iftina Haura 14 Hari: Aqiqah

Saya dan ketiga adik saya tidak pernah diaqiqah. Alasannya klasik: dana. Membeli satu atau dua kambing tidak masuk ke prioritas sebagian keluarga, termasuk keluarga saya di Batam. Lagipula, aqiqah hukumnya sunnah, sehingga pada akhirnya tidak pernah ada agenda aqiqah di keluarga kami. Hal ini membuat saya bersemangat untuk mengadakan aqiqah untuk anak Haura. Aqiqah pertama di keluarga kami.

Haura dengan foto andalan yang suka dipamerin kedua orang tuanya karena terlihat jelas kedua lesung pipinya yang gemashh ulu-uluu cihuyy

Saya dan Ziza sudah menabung untuk aqiqah ini. Perkiraan saya pribadi, apabila laki-laki, butuh 5-6 juta untuk dua kambing. Belum dengan ongkos masaknya. Perempuan tentu lebih murah karena hanya butuh 1 kambing. Perkiraan saya tak jauh dari 4 juta sebelum ongkos masak.

Alhamdulillah anak kami perempuan. Hal yang bisa disyukuri dari segi aqiqah karena lebih hemat (HAHAHAHA, silakan panggil aku orang tua perhitungan). Tetapi ternyata, jauh panggang dari api. Niat saya untuk berhemat dan stay-on-budget dalam aqiqah Haura sirna seketika ketika Haura sudah lahir. Ada keinginan untuk memberikan yang terbaik untuk si kecil, termasuk untuk aqiqah.

Aqiqah itu terlaksana pada 27 Juli kemarin. Total pengeluaran aqiqah kami Rp6.350.000. Surplus yang lumayan bila dibandingkan dengan estimasi biaya saya untuk aqiqah anak perempuan. Tetapi ini tentu ada sebab musababnya. Dan seperti kata pepatah, ada rupa, ada harga. Saya sangat puas dengan kuantitas dan kualitas aqiqahnya Haura.

Kambing yang kami beli adalah kambing kualitas premium berbadan binaragawan. Ia gagah dan terlihat sangat kuat, mengingatkan saya pada Iko Uwais. Saking kuat dan besarnya, ia dibanderol seharga 5 juta rupiah. Jumlah yang tidak murah bukan? Namun sayang karena harga yang dipasang itu, si kambing tak menemukan pembeli sewaktu qurban. Ia tak laku. Saya sendiri merasa kasihan sebelum membelinya. Siapa suruh terlalu berotot. Jadi nggak laku kan. Si penjual kambing akhirnya rela menurunkan harga menjadi 4 juta rupiah agar berjodoh dengan pembeli. Tentu saya lah jodoh si kambing itu. Sayang untuk melepas Iko Uwais versi kambing dengan harga kortingan. Kambing 4 juta, deal!

Tukang jagal kambingnya tidak gratis lho. Untuk biaya potong dan antar sampai tempat pengolahan kena biaya 100 ribu. Jasa potong kambing 100 ribu, deal!

Iko Uwais

Lalu untuk pengolahannya, kami memutuskan untuk menggunakan jasa catering. Mudah dan praktis. Memang jadi lebih mahal, namun kami tidak perlu repot mengurus daging kambing yang riweuhnya minta ampun plus memasak penghuni nasi kotak lainnya. Tinggal terima jadi. Kami memesan paket kebuli yang berisi seporsi nasi kebuli, sambal goreng ati, telur rebus kecap, acar masak, dan juga kerupuk. Semua menu ini nantinya akan bergabung dengan gule kambing dan juga bistik kambing kecap dalam kotak/dus ukuran 22. Biayanya dibedakan untuk nasi kebuli dan olahan daging kambingnya.

Karena kambingnya gede banget, daging kambing yang bisa dibagikan membludak menjadi 130 dus nasi kotak. Itu pun dengan dua macam lauk dengan porsi banyak (gule dan bistik tadi). Biasanya kambing ukuran sedang hanya untuk 60-80 porsi nasi kotak katanya, sedangkan kambing kami 130. Memang banyak banget kan jatuhnya? Hal ini berimbas pada ongkos masak yang juga naik menjadi 650 ribu huhuhu. Biaya masak 650 ribu, deal!

Abah berbaik hati dengan ikut mensponsori kami. Dari total 130 porsi tadi, kami cukup membayar 80nya. Ini karena dari awal perkiraan saya maksimal 80 porsi saja nasi kotaknya wkwk. Baiknya Abah mau membantu bayar. Oh ya, selain sponsor nasi kebuli, Abah juga membelikan kue dan buah lho untuk 130 porsi. Entah berapa banyak yang beliau keluarkan. Kami sendiri, dengan harga seporsinya Rp20.000, maka catering nasi kebulinya keluar uang 1.6 juta. Catering kebuli 1.6 juta, deal!

Yak begitulah kurang lebih penjabaran biaya yang kami keluarkan untuk aqiqah Haura. Tidak sedikit memang biaya yang dikeluarkan. Tetapi setidaknya ada lebih banyak orang yang bisa merasakannya. Moga bisa dinilai amal baik di akhirat kelak aamiin

Biksu magang Sam Poo Kong

Sebagai bonus, di atas ada foto Haura pasca dicukur gundul. Susah men. Sudahlah rambutnya tipis, kepalanya lembut. Sangat riskan ketika saya mencukurnya. Saya yang cukur, Ziza yang pegang Haura. Kami pun mencukur hanya dengan gunting dan gilette 3 turbo. Haura sering menggeliat ketika dicukur, meski dalam keadaan tidur sekalipun, yang membuat segalanya makin sulit. Pada akhirnya, kami berhasil mencukur habis (sebisanyaa ahahaaa) dalam waktu 2 hari.

Pasca digundul, Haura seakan berubah drastis. Ia semakin mirip bapak-bapak. Baik secara penampilan, maupun batiniah. Bangun tidur langsung mengeluh. Hhhhh… di luar itu, selalu ada doa baik dari orang tuanya di tiap jejak hidupnya

4 thoughts on “Iftina Haura 14 Hari: Aqiqah

  1. 🤣🤣🤣 autongakak, foto kambing keterangannya iko uwais.

    uuuu ucuuunyaa emeshiiinnn..
    sini sini Haura… ditoel-toel pipinya.. ntar tante qure jadiin menantu yaa 🤭🤭

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s