Dapat Bola, Buang Jauh ke Depan

Kami bertujuh, budak-budak statistik, mendadak menjadi pandit sepak bola malam ini. Sekonyong-konyong berubah menjadi komentator bola negara, setelah bosan mengomentari politiknya. Bagaimana tidak mengkritik kalau menonton bola negara seperti malam ini…

Indonesia vs Vietnam. 0-4. Kebobolan empat gol tanpa balas. Dengan membaca skor ini saja sudah ketahuan kita kalah telak dibanding negara tetangga kita itu, yang makin ke sini semakin digdaya dalam urusan sepak bola ASEAN. Tetapi masalahnya bukan cuma Vietnam yang semakin piawai. Indonesia yang ‘gitu-gitu aja’ tentu saja menjadi sorotan di tengah serentetan hasil buruknya.

Dari segi fisik sebenarnya Indonesia tidak keok dibanding Vietnam. Meski kalah tinggi dan berisi sedikit (kalau dibandingkan dari layar rasanya pemain Indonesia mungil-mungil), nyatanya sering pemain Vietnam tersungkur ditackling. Dilihat dari kecepatan lari pun demikian. Masih bahu sama bahu kalau disuruh pacu lari. Jadi seharusnya perbedaan fisik tidak jadi persoalan.

Mungkin dari taktik? Bisa jadi. Sepertinya Indonesia diinstruksikan untuk bermain reaktif mengingat Vietnam punya serangan yang baik. Pemain Indonesia minim sekali terlihat menguasai bola. Lebih mengandalkan serangan balik. Itu pun jarang. Begitu dapat bola dari serangan Vietnam yang patah, langsung oper jauh ke depan. Yang wallahualam bisa didapat pemain depan atau tidak saking asal-asalannya. Ditambah lagi dengan teknik yang lebih tinggi secara kasat mata milik pemain Vietnam, maka semakin terbenamlah kita. Hanya pada babak pertama Indonesia bisa bertahan 0-0. Apa iya Om Shin Tae Yong menginstruksikan sesederhana dapat bola langsung buang ke depan?

Saya rasa taktiknya tidak terlalu salah. Merespons serangan maut Vietnam dengan bertahan lebih dulu (pertahanan yang baik tentunya) adalah opsi yang masuk akal. Masalahnya bagaimana taktik ini diterjemahkan pemain di lapangan.

Bagaimana untuk menjaga pemain atau wilayah pertahanan. Bagaimana untuk menentukan kapan untuk menyerang dan bagaimana cara menyerangnya. Bagaimana untuk melakukan transisi dalam bertahan dan menyerang. Semestinya semua ‘bagaimana’ ini sudah dibahas oleh pelatih kepada pemainnya. Tetapi prakteknya? Kalah 0-4 bisa jadi bukti

Intelegensia pemain Indonesia yang saya rasa masih jauh di bawah untuk memainkan sepak bola yang diinginkan pelatih. Karena untuk menggulingkan bola antar 11 orang di atas lapangan sesuai taktik, tidak cukup dengan stamina dan daya juang. Perlu koordinasi. Perlu pemahaman. Perlu kemampuan untuk membaca permainan. Hal-hal itu amat jarang tampak di pemain Indonesia

Saya rasa selama Indonesia memiliki banyak pemain yang kurang bisa mengerti bagaimana taktik berjalan dan memiliki koordinasi buruk, sepak bola kita akan begini terus. Vietnam, Thailand, Malaysia, bahkan kini Myanmar, akan semakin tinggi terbang di atas Garuda.

4 thoughts on “Dapat Bola, Buang Jauh ke Depan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s