Sebelas Tamu

Kami baru saja mencatat rekor “jumlah orang terbanyak yang datang bertamu ke rumah” kemarin. Tercatat ada 11 orang yang masuk. Di hari lebaran ke-3. Masih dalam suasana pandemi, anti mudik mudik club.

Rumah kami yang remang dan hangat berubah menjadi gelap dan panas seiring bertambahnya orang di dalamnya

Bagi kami yang hanya tinggal berdua dan amat jarang kedatangan manusia lain dalam setahun penuh, kedatangan tamu manusia adalah sesuatu yang spesial. Satu tamu saja rasanya sudah ingin merapikan rumah serapi-rapinya. Nah ini sebelas!

Saya sudah bosan dengan tamu nyamuk, cicak, atau kucing, yang semuanya masuk tanpa assalamualaikum dulu. Tentu saja kesebelas tamu kemarin berbeda. Mereka beradab. Mereka tau sopan santun. Mereka tidak mengisap darah atau mencuri ikan kami saat masuk rumah. Mereka manusia yang mengucapkan salam, dan sebagai gantinya kami balas salamnya dengan suka cita sepenuh hati, sebagai bentuk kami menghormati tamu.

Karena baru kali ini bertamu, bahan obrolan diawali dengan bahasan rumah kontrak kami. Lalu berpindah ke obrolan jenis-jenis kue, tentang kesukuan Batak (tentu saja di-hostkan oleh Pak Tunggul), dan tentang Batam. Obrolan mengalir dan mengalir dengan sesekali disela oleh tangan-tangan yang mengambil kudapan. Tak lupa senjata utama kami, salad buah, turut kami hidangkan. Salad buah yang kami prediksi tidak akan ditemukan di rumah lain, ternyata paling banyak disajikan. Tetapi tidak mungkin buah-buah yang kami kumpulkan susah payah tidak jadi kami olah.

“Mii, kucingnya minum minyak…”, kata anak bungsu Pak Bos kepada ibunya

Sedari tadi bungsu Pak Bos mulai berlarian di teras. Ternyata ia bermain dengan kucing. Kucing yang kami kenal karena sering mondar mandir depan rumah. Tentu saja kucing itu tak kami beri izin masuk kali ini, yang kemudian mencecap minyak sebagai pelampiasan. Mungkin karena stres tak bisa masuk, kucing di luar meminum minyak jelantah bekas kami bakar-bakar sate beberapa hari yang lalu.

Matahari semakin meninggi. Cuaca semakin panas. Kipas angin kami tak mampu menjauh sudut terjauh rumah, sementara angin dari luar enggan masuk menyelip jendela dan pintu. Salad buah kami menuai puji. Katanya lebih enak dibanding dua salad lain. Lalu 5-10 menit kemudian, obrolan berakhir. Tanda tamu-tamu kami mau pulang. Kami pun menawarkan sisa salad buah untuk dibungkus dan dibawa pulang.

Ada perasaan lega dan senang ketika tamu-tamu itu pulang. Senang karena pada akhirnya persiapan kami menjamu tamu sudah terbayar. Senang karena banyak orang di rumah kami berbincang. Senang layaknya kotak infaq kemasukan uang, akhirnya rumah kami kemasukan tamu.

2 thoughts on “Sebelas Tamu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s