Honeymoon Backpacking: Jogja

Halo

Sudah lama sejak terakhir kali saya membuka blog (Tapi istri saya tetap lebih lama! HAHAHA!). Maaf ya apabila komen-komen yang tersampaikan pada postingan sebelumnya belum/tidak terbalas. Percayalah, baru menjadi suami-istri artinya mengesampingkan hal-hal keduniaan kecuali pasangan kita. Yap. Jangankan blog, sosmed dan kerjaan kantor pun dengan senang hati diduakan demi pasangan. Saya mulai mengerti arti “dunia milik berdua, yang lain ngontrak.” Karena ketika baru menikah, dunia saya hanya tentang saya dan Hajar Azizatun. Dan saya tidak keberatan karenanya.

Hmm… saya pikir setiap nyawa yang sedang jatuh cinta dapat mengerti.

Nah, cerita ngebucin kami belum selesai. Mumpung ada kesempatan saya mau berbagi sedikit cerita pasca “SAH!”. Ada banyak hal yang terjadi sebulanan pasca menikah yang ingin saya abadikan dalam bentuk tulisan. Misalnya cerita jalan-jalan bulan madu atau kehidupan pasca nikah. Hmm… berbicara kehidupan pasca menikah adalah satu hal yang tak akan ada habisnya untuk dibahas. Tetapi untuk bulan madunya saja, saya pikir masih bisa dirangkum dalam beberapa postingan postingan blog. Tenang. Tentu saja postingan ini Safe For Work *kedip

Honeymoon Backpacking

Kalaulah ada istilah “honeymoon backpacking”, saya rasa istilah itu dapat digunakan dalam perjalanan bulan madu saya dan Ziza. Kami mengunjungi banyak kota dengan transportasi umum sambil tetap memegang prinsip “semurah-murahnya”. Maklumlah ya. Kami tak mengalokasikan banyak dana untuk bulan madu. Tapi apa daya hasrat jalan-jalan ingin terpuaskan, akhirnya ngebolang jadi pilihan.

Sekurang-kurangnya ada 9 kota yang kami kunjungi selama fase bulan madu yang manis itu. Sebagian besar dari kota itu kami datangi karena ada keluarga atau teman yang ingin dikunjungi. Dan ini dia Honeymoon Backpacking edisi Jogja

Ziza tidak minta yang neko-neko untuk berbulan madu. Ia hanya meminta Jogja. Jogja dan sudah itu saja. Belakangan saya curiga jangan-jangan ia meminta Jogja lantaran merasa kasihan pada saya :”)

Tapi toh ini Jogja. Tempat dengan sejuta romantisme yang membuat banyak hati jatuh padanya. Saya yakin ada banyak hal baik bagi kami jika mengunjunginya. Oh ya, tempat kami pacaran full-time pertama kali juga di Jogja ahaha. Jadi sama sekali tak ada ruginya pergi ke sana. Akhirnya pada H+3 pernikahan, kami berangkat ke Kota Gudeg itu.

Saya punya tante yang tinggal di Jogja. Sudah sewajarnya kami mengunjunginya, itung-itung perkenalan sebagai pengantin baru ehehe. Selain ke rumah beliau, kami juga pergi ke:

Sate Klathak Pak Pong

Menu satu ini adalah menu juara satu dari urutan “Makanan terenak yang paling sering diceritakan Ziza selama LDR”. Tiap kali ke Jogja, Ziza dan keluarga pasti makan ke RM Sate Klathak Pak Pong (mengapa rumah makan di Jawa sering kali diikuti nama penciptanya?) Deskripsi cita rasa yang lezat sampai ke ubun-ubun plus kondisinya yang tak pernah sepi pengunjung membuat saya semakin penasaran. Seenak apa sih emangnya sampai begitu dielu-elukan Ziza?img_6535Dan ternyata memang enak gila! Sampai merem melek dibuatnya. Bahkan bagi saya yang tak pernah terlalu suka kambing.

Oh ya bagi yang belum tahu, sate klathak adalah sate kambing yang biasanya ditusuk menggunakan jeruji sepeda. Kalau biasanya tusuk sate terbuat dari kayu atau buluh bambu, ini dari besi. Hmm. Walau sudah berulang ke Jogja, belum pernah saya memakan yang namanya sate klathak. Dan kesan pertama saya saat memakannya luar biasa. Termasuk sate terenak yang pernah saya makan. Gurihnya lemak kambing ketemu sama manis kecap bener-bener pasangan yang serasi. Nggak tau dah dikasih bumbu apa lagi yang membuat nagih nggak ketolongan.

Saya rasa sesiapa yang ke Jogja kudu nyobain nih sate.

Kunudhani

Ya! Kami sempat kopdar bareng Kunudhani selama main di Jogja! Honeymoon yang sangat bloger bukan? HAHAHA!IMG_20191202_224507Entah kebetulan atau apa, kedatangan kami ke Jogja berpapasan dengan kunjungan seminar Kunudhani.  Saya pun lupa bagaimana ceritanya kami bertukar kabar seperti itu. Yang jelas, ketika sadar, kami sudah berada di Alun-alun Kidul Jogja, sambil ngobrol plus ngudud sate bakso

Di kancah per-blog-an, ini kali ketiga saya kopdar dengan Kunu. Ziza sudah dua kali. Baik saya maupun Ziza memiliki kesan yang sama terkait Kunudhani: 1) asyik diajak ngobrol, 2) dari penampilannya tidak ketauan punya adik tuyul, 3) sangat Suroboyoan. Dan Kunudhani tidak berbeda se-milimeter pun sejak terakhir kali bertemu.

“Aku sudah bisa nebak, sudah ketebak dari dulu, dari pertama kali ketemu” kata Kunu berulang kali ketika mengomentari kami yang sudah menikah. Memang harus diakui Kunu adalah sedikit dari teman bloger yang mengenal kami berdua sejak lama. Toh ia orang kedua yang saya kopdar-i setelah Ziza. Tapi untuk bisa tahu dua orang bloger akan berlanjut sejauh pernikahan adalah suatu tebakan yang ajaib. Rada kesel juga Kunu bisa meramal dengan benar -_-

Walau Jogja sedang dingin, suasana obrolan kami cukup hangat larut malam itu. Saya dan Ziza tentu mengisahkan bagaimana pernikahan kami tempo lalu dan kejadian di belakang layar pernikahan tersebut. Kunu sendiri bercerita kesibukannya sekarang. Tentang hidupnya yang berubah selepas wisuda, tentang seminar apa yang membawanya ke Jogja, dan tentang pacar dan mantan-mantannya (ini sudah pasti). Entah bagaimana kisah asmaranya yang lalu hingga sekarang bisa menjadi seseru itu ketika diceritakan.

Namun begitulah Kunu. Kunudhani si dokter cinta. Pengalamannya mengarungi asmara harus diakui sudah berada di level veteran. Meski ketika saya dan Ziza bertemu dengannya dalam status sudah menikah, dari segi pengalaman percintaan kami si pasutri kalah telak.

Gunungkidul

Bukan sekali-dua kali saya berwisata ke Gunungkidul. Saya rasa banyak yang setuju kalau saya bilang Gunungkidul punya banyak tempat wisata alam jempolan. Dataran tingginya, dataran rendahnya. Gunungnya, pantainya. Ada banyak spot wisata yang dapat memanjakan batin, memanjakan mata. Alasan itu juga yang membuat kami berdua memutuskan untuk menyambangi Gunungkidul.IMG_20191129_110611Dari Jogja Kota, kami memutuskan pergi ke Gunkid menggunakan motor rental saja karena moda transportasi satu itu sangatlah classy. Bukan karena murah. Kurang lebih satu jam mengendarai motor, akhirnya sampailah kami di Wonosari (Gunungkidul). Saya ingat cuacanya sedang panas waktu itu. Perjalanan kami dengan transportasi classy mesti menghadapi terpaan panas matahari dari atas dan pantulannya dari bawah. Satu hal lain yang saya ingat, muka Ziza memerah (atau mencoklat?) ketika ia turun dari motor. Mungkin karena berlamaan panas-panas naik motor. Rada ngos-ngosan juga. Melihatnya seperti itu, perasaan saya campur aduk: antara ngakak melihat perubahan instan Ziza dan sedih karena bulan madunya berjalan seperti ini. Tapi saya rasa ngakaknya lebih dominan sih.

Tujuan utama kami di Gunungkidul adalah Goa Pindul. Goa Pindul di Gunungkidul. Yes.Okeh. Jadi yang berikutnya terjadi di pintu masuk Goa Pindul:

  1. Parkir motor
  2. Mengetahui harga paket wisata Goa Pindul
  3. Kaget (sedikit)
  4. Meraba dompet, melihat isinya, merasa sedih (sedikit)
  5. Melihat wajah Ziza
  6. Merasa lebih termotivasi untuk all-out secara finansial dalam honeymoon ini
  7. Melakukan perhitungan gaib dalam kepala untuk memastikan kami masih punya uang untuk bensin pulang, makan, dan juga penginapan.
  8. Melihat wajah Ziza lagi
  9. Merasa lebih termotivasi lagi
  10. All-out beneran, sambi menyerahkan rupiah ke mbok-mbok kasir, tanpa senyuman
  11. Melihat wajah Ziza lagi dan lagi, kali ini dengan senyum menenangkan
  12. Lalu setelahnya kami mengganti pakaian untuk basah-basahan, memakai pelampung, berkenalan dengan guide kami (Mbah Miatno namanya), foto sedikit (ckrek!), dan berangkatlah kami menggunakan pick-up wisata menuju gerbang masuk Goa Pindul yang dimaksud.

Pada 2016 kemarin saya dan teman kuliah sempat jalan ke Goa Pindul ini juga. Perbedaannya dengan waktu itu, kali ini saya dan Ziza memilih paket wisata TERBAIK dengan mengunjungi 3 tempat sekaligus dalam Goa Pindul Universe. Tempat-tempat itu adalah Goa Pindul, Sungai Oyo, dan Goa Sriti.

Bagi yang belum tahu, Goa Pindul adalah gua yang dialiri sungai. Sungai Oyo adalah sungai yang dialiri air sungai. Dan goa baru adalah gua yang saya kira dialiri sungai padahal tidak. Karena ada banyak kata sungai, sudah sewajarnya mayoritas wisata di Goa Pindul Universe berhubungan dengan air. Yang kami lakukan di sana pun sama dengan orang-orang pada umumnya. Kami ber-cave tubing (mengapung di atas ban, bannya jalan sendiri, menyusuri stalaktit dan stalagmite, terpukau) di Goa Pindul. Kemudian di Sungai Oyo kami kembali mengapung di atas ban, namun kali ini tidak dalam gua, melainkan udara terbuka (jelas tidak ada stalaktit dan stalagmitnya). Terakhir di Goa Baru, kami caving (kegiatan masuk gua, guanya gelap banget, basah-basahan di genangan airnya, memegang batu perkasa yang katanya bisa bikin perkasa tapi saya tidak merasa apa-apa ketika menyentuhnya, merasa tersasar di dalam gua, lalu terpukau). Yah, kurang lebih itu saja yang kami lakukan di Goa Pindul Universe.

Okelah ya, selanjutnya biarkan gambar berbicara

Sudah lewat tengah hari ketika kami memutuskan pulang dari Gunungkidul. Matahari makin terik. Jalanan semakin silau. Motor rental kami yang classy pun menari dengan cantiknya, membelah Gunungkidul untuk kembali ke Kota. Beberapa kali kami temui penjaja snack belalang tersenyum manja. Ketika Ziza ditawari belala crispy, ia tidak mau.

Selesai.

32 thoughts on “Honeymoon Backpacking: Jogja

    1. Iyaa kak ikha, akhirnya bisa mosting lagi, untung nggak lupa password wp nya :”

      Baik sehat alhamdulillah. Ziza pun sama. Udah dibaptis jadi orang pulau dia wkwk

      Like

      1. eh, raja kopdar masak segampang itu lupa sama password 😎
        ini Ziza ga terdorong buat mosting juga yaa. 😅

        wkwkwk. selamat buat ziza sudah resmi jadi orang pulau 😂

        Liked by 1 person

  1. Zizaaaaah, fadeeeeel, lama kali ga bersuara kalian.. eh satenya ada bau-bau kambing gak? Dri crtamu jadi pgn mampir k sana, cuma aku ga trllu suka kambing. 😢

    Liked by 1 person

  2. Kenapaaaa pipikuuuu tembeeeem sekaliiii, kenapaaaa dipostiiiiing fotoooo selfieeee ituuuu abaaaaang 😤

    Oke, kalo imamnya udah ngeblog kan jadi semangat nih buat istrinya untuk lanjutin ngeblog 😏

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s