Saya Akan Menikah

Langsung aja ya.

Insyaallah saya akan menikah dengan Hajar Azizatun, atau pemilik blog Unknown Person, atau yang biasa dipanggil Ziza di dunia perblogan. Hahaha.

hal 1

Hmm… lagi-lagi saya disalip Ziza untuk menulis tulisan yang serupa. Yah mau gimana lagi. Mungkin yang akan saya tulis selain sebuah pengumuman, ada sedikit jejak rekam kami dari awal bertemu. Hitung-hitung melengkapi tulisannya Ziza. Nggak papa ya dek ditambah dan dilengkapin dikit tulisannya. Nanti gantian deh biar kamu yang ngelengkapin aku dan agamaku.

Saya rasa, baik saya dan Ziza (atau Hajar) sama-sama telah menunggu tanggal 24 November nanti sejak lama. Yak, sejak lama. Kami pertama kali saling mengenal sejak Januari 2016. Dan sejak saat itu, tanpa sadar kami semakin dekat hingga akhirnya sampai ke titik ini. Kurang dari sebulan sebelum pernikahan.

Meski sama-sama bermain blog, saya dan Ziza mencoba setertutup mungkin akan hubungan kami (kayaknya sih hmm). Bagaimana tidak, kami hanyalah teman blog pada awalnya. Hanya orang yang saling mengenal secara online alias bukan siapa-siapa. Siapa sangka hubungan kami menjadi lebih serius seserius sekarang. Saya rasa masing-masing dari kami mencoba untuk biasa saja pada mulanya, tidak terlalu dekat dalam menjalani hubungan. Tidak untuk diseriusi. Toh cuma “teman blog” atau “teman chat”. Tapi kemudian lama-lama akhirnya bablas juga. Yang namanya perasaan susah banget ya dikontrol. Sama orang yang jauhan dan nggak pernah ketemu aja bisa suka hm

Tulisan kali ini saya dedikasikan khususnya untuk saya di masa depan. Sebagai catatan dan pengingat bagaimana perjalanan saya dan Ziza yang bermula dari salam kenal di blog hingga saat ini, atau dengan kata lain dari Januari 2016 sampai Oktober 2019. Sebagaimana yang pernah saya katakan dulu di blog ini, blog adalah catatan perjalanan hidup. Dan karena seorang Hajar Azizatun penting, bahkan bakal menjadi semakin penting dalam hidup-mati saya, alangkah baiknya dia ikut tertulis.

Yah, mungkin juga tulisan ini bisa diartikan sebagai ungkapan rasa syukur, bahwa betapa bersyukurnya saya dapat dipertemukan dengannya lewat cara paling tak terduga. Bahwa seperti ungkapan rasa syukur saya yang sebelum-sebelumnya, seorang Hajar Azizatun kembali tertulis di blog ini, untuk yang kesekian kalinya. Bahwa setelah mengetahui baik dan buruknya ia, saya semakin bersyukur telah mengenalnya. Yang entah ia sadar atau tidak, telah saya jadikan plan A dalam hidup saya sejak lama. Masih tanpa plan B (*kedip)

6 Januari 2016: Sebuah Salam Kenal

Januari 2016. Hampir setahun sudah blog saya ada. Tetapi baru sejak Desember 2015 kemarinnya saya baru membuka diri, yang artinya belum ada sebulan saya mencoba menjelajah dunia blog dengan blogwalking. Teman blog saya waktu itu baru satu atau dua, di antaranya yang paling saya ingat adalah Mbak Pradita Maulia dan Mas Slamet Parmanto. Mereka berdua saat itu diam-diam saya jadikan panutan dalam ngeblog hehe. Sayangnya, keduanya sudah jarang ngeblog kini. Saya pun juga sama HAHAHA.

Saya tengah giat-giatnya mencari follow-an blog saat itu. Mencari follow-an dan follower lebih tepatnya wkwk. Lalu entah bagaimana persisnya, sampailah saya di blognya Ziza. Pada waktu itu, kultur blog yang ada adalah dengan mengunjungi halaman About/Tentang, meninggalkan jejak yang biasanya diakhiri “salam kenal”, kemudian mengomentari salah satu postingan blog yang ada. Kebiasaan itu sepertinya lenyap kini. Memang kurang praktis untuk dilakukan di smartphone sih, jadi wajar kultur tersebut ditinggalkan.

Di bawah ada percakapan pertama saya dan Ziza di dunia blog. Tentu saja keluar jurus SKSDnya hahaha. Entah apa yang ada di pikiran Ziza waktu itu saat membacanya hmm

1 2016 komentar1

Saya yang pertama kali mengunjungi blognya Ziza. Ia gantian berkunjung tak lama kemudian. Sama sekali tak ada dugaan waktu itu kalau percakapan pertama kali di blog waktu itu menjadi awal mula dari kisah yang panjang.

1 2016 komentar2

“Semoga bisa terus silaturahim ya!”

Agustus 2016: Sebuah Komentar di Blog dan Balasan-balasannya

Selepas perkenalan itu, saya dan Ziza tak memiliki momen-momen khusus. Saya melihat dia sebagai teman blog yang hanya sesekali muncul, yaitu ketika dia patah hati. Rasanya dulu memang begitu. Ziza tak begitu sering muncul di blog, namun sekalinya muncul, tulisannya galau merana. Saya menduga ia pernah patah hati hebat sampai ke tulang-tulang yang mengakibatkannya sulit move on. Yah, kurang lebih begitulah impresi pertama saya terhadap Ziza di blog

Anehnya, Ziza di kolom komentar seolah menjadi sosok berbeda dengan tulisan blog nya waktu itu. Di kolom komentar ia cenderung lebih ceria. Hal itulah yang membuat impresi pertama saya ke dia (tentang galau-galau itu) runtuh perlahan.

Saya kembali membuka halaman-halaman lama di blog untuk memastikan kembali bagaimana kondisi saya dan dia pada kurun waktu ini, dan ternyata memang benar begitu. Ziza dengan beberapa tulisan galaunya efek patah hati yang saya kira kronis, dan saya dengan tulisan singkat nan gaje nya. Yang membuat cukup kaget adalah meski kami sudah berkenalan sejak Januari, baru pada Juli-Agustus saling bertukar komentar di antara kami menjadi lebih intens. Baru di bulan-bulan ini kami mulai rutin mengisi komentar di blog bersangkutan. Setidaknya hal ini membuat saya sadar, untuk benar-benar yakin kita nyaman berkomunikasi dengan orang itu butuh waktu. Termasuk kepada calon ibu negara sekalipun.

1 November 2016: Sebuah Kontak Line

Rutinitas saling bertukar komentar kami terus berlanjut seiring kami memosting tulisan blog. Ziza sendiri masih menulis beberapa tulisan galau dan saya semakin yakin patah hatinya perempuan sulit untuk disembuhkan. Akhirnya rasa penasaran akan Ziza muncul. Sampai berapa lama tulisan galaunya berlanjut? Saya mereservasi tempat di blognya untuk menjadi pengunjung tetap.

Kemudian di suatu postingan, ia menulis tentang tugas UAS nya tentang membuat blog dan bahwa ia membutuhkan β€œbantuan” penduduk blog sekalian. Tentu tulisan kali itu pun saya komentari. Satu hal yang berbeda di tulisan kali itu adalah saya mencoba mencari tahu latar belakangnya Ziza. Eh ternyata Ziza juga balik bertanya. Mungkin penasaran juga dia (HAHAHA!)

Komentar saling berbalas makin panjang hingga akhirnya Ziza berinisiatif untuk meminta kontak Line. Hmm… rasanya agak terbalik ya. Masa’ perempuan yang duluan meminta. Sayangnya, baru ketika ia minta saya berpikir harusnya saya duluan.

92 2019 mintaline.jpg

Jujur geli sendiri membaca gaya komen waktu itu. Lepas dan nggak tau malu. Untunglah Ziza tahan-tahan saja dengan komentarnya. Dan benar, percakapan kami berlanjut di Line. Saya dan Ziza terhubung dengan teman SMA nya Ziza yang waktu itu satu kampus dengan saya. Kemudian kami mulai saling mencari tahu latar belakang lebih dalam kami. Tentang kuliah, keluarga,dan  hal-hal kecil tentang diri masing-masing. 

Saya merasa ada kecocokan gaya chat dengan Ziza. Tentu menyenangkan menemukan teman chat seperti itu. Walau begitu, saya tetap berhati-hati ketika ngechat. Hanya membahas tentang bahasan yang “aman” dan di waktu yang “aman” pula. Kebetulan saya dan Ziza menyukai gambar meme. Tiap minggu saya selalu menyiapkan meme untuk dipamerkan ke dia. Memang pengalaman saya berkomunikasi dengan perempuan tidak banyak. Meme-meme itu sungguh membantu. Oh, gaya chatnya Ziza juga. Andaikata dia tidak responsif, terstruktur, dan masif, tentu saya sudah berhenti ngechat dia sejak lama. Karena jujur saja, sebelumnya saya tidak terlalu betah chat berlama-lama. Berbulan-bulan kemudian saya sadar ada terdapat esuatu dalam gaya chat dan komunikasinya yang perlahan membuat saya berubah.

Kami hanya saling chat seminggu sekali waktu itu. Dan tanpa ia ketahui, saya selalu menunggu waktu seminggu sekali itu.

15 Desember 2016: Sebuah Kabar untuk Main ke Semarang

Kamis. Hari itu saya baru menyelesaikan rangkaian UTS. Lalu sekitar seminggu-dua minggu sebelumnya, saya merencanakan untuk main ke Semarang tanggal 16 Desember. Biasanya saya memang menghabiskan waktu liburan UTS dengan melancong ke kota-kota besar di Jawa dan kebetulan saya belum pernah ke kota lumpia itu. Kebetulannya lagi, ada teman SMA di sana yang bisa ditumpangi bermalam hehe. Toh sudah lama juga tidak berjumpa dengan teman itu dan ada event khusus terkait dirinya

Selain si teman saya itu, tentu saya teringat dengan teman saya satu lagi. Teman blog lebih tepatnya, yang dalam beberapa minggu ke belakang naik pangkat menjadi teman chat. Tentu saya mengabarkan Ziza akan keinginan saya ke Semarang. Sambil berharap ia punya waktu kosong. Bohong kalau saya tak ingin bertemu setelah berkali-kali komunikasi via chat. Ziza, seperti chat-chatnya yang lain yang menyenangkan, menyambut ramah kabar kedatangan saya ke Semarang (meskipun sepertinya ia agak kaget HAHAHA!). Harapan saya terkabul mengetahui ia akan memiliki waktu luang untuk sekadar bertemu esok hari

16 Desember 2019: Sebuah Pertemuan

Jum’at. Saya sudah beberapa kali mendengar bahwa Semarang itu panas. Itu benar. Jam baru menunjukkan angka 6 pagi ketika saya keluar stasiun dan tak perlu waktu lama untuk mengonfirmasi kebenaran panasnya Semarang. Sembari menyapu keringat, kembali saya mengabarkan Ziza akan kedatangan saya. Kami pun membuat janji untuk bertemu di suatu tempat.

Ada banyak hal yang terjadi berikutnya sehingga waktu dan tempat yang sudah dijanjikan terus berubah-ubah. Pada akhirnya kami menentukan Halte BRT di Jalan Pemuda sebagai titik temu kami. Hmm yah, sebenarnya kejadian ini sudah pernah ditulis di sini. Tanggal ini adalah kopdar pertama kami sebagai bloger. Tentu sudah ada postingan tulisannya hahaha. Sila dibaca bagi yang berminat *kedip *kelilipan

Jadi, mungkin saya hanya akan sedikit menambah isi dari postingan itu. Menambah sesuatu yang mungkin Ziza belum tau (HAHA!).

  1. Di chat Ziza tidak pernah bilang kalau ia cantik. Makanya saya sedikit terkejut saat bertemu sosok aslinya. Tapi sekarang mah nggak ada hujan nggak ada angin pun dia bisa dengan pedenya bilang “kurang cantik apa lagi sih aq?” Hmm…
  2. Sejak satu jam pertama pertama bertemu, saya sudah menilai kalau Ziza anak “baik-baik” yang dididik dalam lingkungan islami. Artinya: untuk jalan bersama lelaki berdua saja saat itu bukanlah tindakan yang akan dibenarkan orang tuanya. Terlepas dari salah atau benar penilaian saya, ada perasaan sedikit was-was, takut Ziza tertangkap basah oleh keluarganya kemudian ia merasa tidak nyaman. Perasaan was-was itu perlahan menghilang seiring obrolan kami berlanjut. Dan jadilah kami dua insan berdosa yang berdua-duaan sampai malam.
  3. Salah satu yang membuat saya salut padanya pada kopdar kali itu adalah keluwesannya saat berkomunikasi dengan orang yang baru dikenalnya pertama kali. Saya tahu ia sedikit grogi sewaktu pertama kami bertemu siangnya. Namun seiring jalannya waktu, malu dan groginya kian tidak kelihatan. Dan menurut saya bisa dengan luwes beirnteraksi seperti itu keren sih. Apa karena Ziza anak Ilmu Komunikasi ya hmm
  4. Saya cuma pura-pura teriak takut waktu lari melewati dahan yang banyak monyetnya di Goa Kreo
  5. Pada kopdar pertama saya merasa Ziza di chat dan aslinya sedikit berbeda. Rasanya Ziza lebih ekspresif ketika masuk dalam mode chat dengan segala emotikon dan luapan ekspresinya. Tetapi setelah kopdar-kopdar berikutnya, saya makin mengerti Ziza memang seperti itu. Tidak berbeda. Tidak aneh sama sekali. Belakangan saya pun pernah dikomentari Ziza bahwa di chat saya lebih ekspresif daripada ketemu aslinya! HAHAHA!

Hmmm. Begitulah. Sudah pasti saya masih ingat saat pertama kali melihat Ziza dan momen-momen lain di pertemuan hari itu yang masih saya ingat.

Kembali lagi. Pertemuan hari itu masihlah berjudul kopdar dengan bloger. Saya masih sangat sadar bahwa meskipun merasakan senang di dua hari kopdar bersama Ziza, kami hanya teman blog. Bukan pada taraf dekat yang sudah saling memahami satu sama lain. Meskipun pahit, seketika saya sudah kembali ke Jakarta waktu itu, pertemuan dengan Ziza kemarinnya hanyalah sedikit selingan dari rutinitas. Setidaknya itu yang ada di pikiran saya waktu itu.

Tetapi saya salah. Ada makna makna lebih besar di balik pertemuan kami hari itu. Siapa sangka pertemuan hari itu lagi-lagi menjadi permulaan dari kisah yang lebih panjang? Semoga saya dapat terus mengingat kejadian-kejadian yang tertulis di sini :))

Percaya atau tidak, masih ada banyak-banyak-banyak yang ingin saya tulis. Tulisan ini barulah mencakup perjalanan kami di tahun 2016, sementara untuk menuju ke 2019 ini ada kisah lain yang hendak ditulis (HAHA!). Apa daya. Bahkan ini sudah terlalu panjang saya rasa. Terima kasih bagi yang bertahan membaca sampai ke sini. Semoga diberikan kesempatan untuk menulis perjalanan yang berikutnya~

hal 2

Sekali lagi saya dan Ziza mengundang bloger ataupun sesiapa yang membaca undangan ini pada pernikahan kami nanti. Jikalau kebetulan sedang ada di Semarang pada 24 November nanti, silakan singgah ke resepsi kami. Lumayan bisa makan siang gratis hitung-hitung kopdar dengan dua bloger sekaligus ;))

 

29 thoughts on “Saya Akan Menikah

      1. Ah masa’ mbak sama? Kalau diinget lagi emang mbak ira juga salah satu temen blog yang udah lama banget sih πŸ˜‚

        IPB ya kalau nggak salah, nggak mbak wkwk

        Like

  1. Wah keren ya. Jodoh itu entah dr mana datangnya kadang dr hal2 gk terduga kayak gini. Semoga lancar dan berkah kak. Ditunggu kisah2 sejarah cintanya segera. Hehe

    Like

  2. Nah tho nah tho, aku udah curiga sejak kalian kalian kopdar di semarang. Ternyata beneran. Yeay selamat ya… semoga lancar hingga hari H, berjaya bersama hingga ke surga buat kalian berdua.

    Kalau ada acara di Jakarta, jangan lupa undang2 ya…

    Liked by 1 person

    1. Hahahaha.. sudah terduga sejak dulu. Aamiin aamiin mas, makasih doanya
      Sampai sekarang belum ada acara di Jakarta sih buat nanti, yang penting udah seneng mas nyebar undangan ini πŸ˜„

      Like

  3. Waaa selamat yaaa. Fadel x Ziza. Barakallah. Makin asyik dan langgeng. πŸ˜‰ Baru kemarin saya juga baca semacam kronologi pertemuan hingga pelaminan, ehh nemu artikel ini. Sekali lagi selamat. πŸŽ‰πŸŽ‰ Cie prikitiew. πŸ˜„

    Liked by 1 person

  4. wah…. barokallah Fadel dan calon istri (Ziza), semoga dilancarkan sampai hari H. Menjadi keluarga sakinah mawaddah wa rohmah till jannah aaamiin. Emang jodoh tuh rahasia ilahi ya, ketemunya kadang lewat jalan yang tak pernah terpikirkan sama sekali.

    NB: Aku seneng banget lho liat namaku dimention di tulisanmu, wkwkwk.

    Liked by 1 person

    1. Jazakillah mbak, makasih banyak πŸ˜„πŸ™πŸΌ
      Aamiiin aaamiin. Ini beneran nggak terduga sih kalau ketemu dari blog wkwk

      Hehehe.. beneran panutanq lho mbak, dari segi tulisan dan tampilan blog *kedip

      Liked by 1 person

  5. kak fadeeel barokallahhhhhβ€πŸ’™
    Seneng bangettt gilak inimah tak terkira aku bener2 seneng yaampun huhuhuhu pen nangis baca ini tu jadinyaaaa :”)
    gasabar kak fadel tiap tahun ke semarang wqwq

    Liked by 1 person

  6. Terima kasih bang fadel sudah memberikan cerita yang seperti air segalon ini untuk menyembuhkan dahaga netizen yang penasaran sama kisah cinta kaliaaaan.aaaaaaakkk bahagyaaa. Jaga kesehatan kalian berdua. Bismillah semoga lancar dan sehidup sesurga.Aamiin ❀

    Liked by 1 person

    1. Komentar ter-hiperbol abad inii, sukaaak πŸ˜‚πŸ˜‚
      Aamiin Audhina makasiiih. Makasih atas bahagianya, makasih atas doanya

      Audhina juga didoakan semoga mendapat kebaikan yang samaa, lancar skripsi dan kehidupan cita-cintanya ✨

      Like

  7. Sianjir, jagoan banget ya kalian πŸ˜€ wgwgw

    Kayak tidak begitu nampak pacaran, ujug-ujug, nyebar undangan.

    Sayaaaaaaa nulis cerita mulu diblog bareng pacaran, nyebar undangannyaaaaaaaaaa nanti dulu dah. Ngalir bentar gwggw

    Selamat ya btw πŸ˜€ hormat sehormat-hormatnyaaaa

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s