Lemah

Bukankah menyenangkan menemukan seseorang yang kepadanya kita bisa mengakui segala kelemahan kita?

Seseorang yang bersamanya kita melepas segala baju zirah dan tameng yang telah dikenakan seharian.

Seseorang yang kepadanya diperlihatkan sosok kita yang penuh celah, seakan memintanya untuk mengisi bagian kosong di antara celah tersebut.

Seseorang yang mengatakan pada kita bahwa tak mengapa bila terlihat lemah, dan adalah wajar untuk memiliki kelemahan, dan sesungguhnya segala perasaan ketakberdayaan yang kita rasa sekarang hanyalah sementara.

Bukankah menyenangkan menemukan seseorang yang seperti itu?

27 thoughts on “Lemah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s