Sepasang Ayam Kate

Siang ini ketika jam istirahat kantor, bapak-bapak kantor kami sedang berkumpul di parkiran. Mereka memang senang berkumpul. Sekadar saling bertukar pikiran mengenai politik ataupun kabar berita terkini di daerah kami. Biasanya saya ikut nimbrung untuk mengetahui informasi baru apa yang sedang hangat. Pun sama dengan tadi siang. Ketika hendak bergabung, topik yang sedang dibahas/dipertanyakan adalah: “Nggak masalah kalau ditaruh 2 betina dan 1 jantan? Betinanya nggak cakar-cakaran?” Saya segera mengerti apa yang sedang dibahas.

Ayam Kate. Ya.

Sejak beberapa hari yang lalu, kantor kami kedatangan anggota baru. Sepasang ayam kate. Ayam kate itu adalah peliharaan Pak Mono. Mungkin karena Bapak lebih sering di kantor daripada di rumah, lebih baik dipelihara di kantor saja. Baru kemarin, kandang dari kayu dan kawat dibangun. Posisinya dekat dengan parkiran kantor. Sejak kandangnya dibangun, topik ‘ayam kate’ jadi semakin sering dibahas oleh kami kaum lelaki.

“Nggak masalah pak 1 jantan 2 betina satu kandang. Betina sama betina nggak akan berkelahi berebut jantan. Asal jantannya ngejelasin baik-baik, mereka akur-akur aja”

Tentu saja ini cuma selorohan. Poligami, baik itu pada ayam atau manusia, selalu menjadi topik yang ‘menyenangkan’ bagi kaum lelaki. Tak terkecuali di kantor kami.

Oke. Balik ke ayam. Sepasang ayam kate baru ini adalah ayam muda. Katanya umurnya masih kurang dari satu tahun. Baik yang betina maupun jantan, sama-sama masih belajar bagaimana menjadi ayam dewasa sesungguhnya. Dalam proses pembelajaran ini, saya tertarik dengan si jantan. Sepertinya ia berusaha keras sekali. Si jantan ini belum bisa berkokok. Suara kokoknya lirih cenderung falset. Ujung kokoknya selalu terdengar seperti kehabisan napas. Sehingga untuk ukuran ayam, ia kurang ‘laki’. Tapi saya memakluminya.

Sedangkan si betina, ia lebih pendiam. Saya tak tahu kenapa ia begitu kalem. Setahu saya, ayam adalah salah satu unggas yang paling berisik, sedangkan wanita adalah spesies manusia yang relatif lebih heboh (katanya lhoo… katanya…) dalam rumah tangga. Jadi, ayam wanita saya pikir akan lebih cerewet. Tapi tidak. Meskipun katanya masih muda, sepertinya ayam kate betina kami secara psikologis sudah dewasa. Ia mungkin lebih bijak. Lebih memilah-milih mana yang pantas untuk di’petok’kan, dan mana yang lebih baik diam. Mungkin baiknya banyak warganet belajar pada ayam betina pendiam ini agar jagat internet lebih damai… #tratakdungcess #moralstory

Yah, pantas saja bapak-bapak ini memilih nongkrong di parkiran. Ini supaya mereka bisa ngomongin ayamnya sambil melihat langsung ayam kates (pake ‘s’ karena jamak) dan kandangnya dari parkiran. Barangkali ada yang belum mengerti, ayam kate adalah spesies ayam yang berukuran kecil. Beberapa menyebutnya dengan ayam bontot atau ayam mini. Saya tak tahu kenapa dinamakan ayam kate dan berhubung saya malas mencarinya, silakan cari sendiri. Yang jelas, biasanya orang memelihara ayam kate karena gemes. Ya. Percaya saja.

Sembari ngobrol, sesekali saya memerhatikan sepasang ayam kate itu. Mereka terlihat seperti ayam. Itu benar. Karena mereka memang ayam. Hanya saja ukurannya saja yang kecil. Karena mereka ayam kate. Ya. Itu benar.

Tiba-tiba momen seru nan menggemparkan terjadi. Si jantan mau belajar kawin. Ia sengaja mengambil langkah sedikit-sedikit mendekati si betina. Sedikit. Sedikit. Sedikit. Hingga akhirnya bulu si jantan menyentuh bulu si betina. Si betina kelihatan menyadari gerakan si jantan, namun sepertinya ia sengaja diam. Ia pura-pura mengunyah makan tapi dalam atinya (ya betul, ati ayam) saya yakin ia menunggu gerakan berikutnya dari si jantan.

Lalu tiba-tiba si jantan bergelut. Ia memepetkan tubuhnya ke sayap kiri si betina sambil berusaha mengambil alih kendali. Gerakannya cepat. Tetapi sayangnya tidak cukup cepat untuk menaklukkan si betina. Ia menangkis sayap kiri jantan, lalu bergerak menyamping ke kiri dengan cepat. Betina dengan mudahnya lolos dari gelutan si jantan. Baginya, manuver si jantan terlalu mudah. Si betina kemudian mengambil jarak lagi dari si jantan. Jarak yang cukup jauh, yang membuat jantan berhenti mencoba.

Saya tidak dapat melihat wajah si jantan. Namun saya rasa wajah ayam kate itu sedih. Para bapak tertawa berseloroh menonton kegagalan si jantan. Sesekali mereka menyemangati si jantan untuk mencoba lagi. Tetapi apa daya. Si betina tidak kooperatif. Tidak ada lagi percobaan. Betina, setelah kegagalan si jantan, bersikap biasa saja seolah tidak ada yang terjadi. Ia kembali mematuk makanan dengan anggun, meninggalkan si jantan salah tingkah. Di tengah kegamangannya, suara kokokan falset nan lirih si jantan kembali terdengar…

Saya rasa, ayam pun kesulitan belajar menjadi dewasa.

15 thoughts on “Sepasang Ayam Kate

  1. Aku jd ingat ayam jantannya Tok Dalang, si Rembo. Ketika dia ditolak sama ayam betina incarannya.

    Kuterbayang wajahnya si ayam kate ini. Pasti sedih dikit. (Dikit aja jangan banyak2), mudah2an dia nemu strategi tepat buat menarik hati si betina.

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s