Dalam Do’aku

Dalam do’aku
oleh: Sapardi Djoko Damono

Dalam do’aku subuh ini kau menjelma langit yang
semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening
siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening
karena akan menerima suara-suara

Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala,
dalam do’aku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang
hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya
mengajukan pertanyaan muskil kepada angin
yang mendesau entah dari mana

Dalam do’aku sore ini kau menjelma seekor burung
gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis,
yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu
bunga jambu, yang tiba-tiba gelisah dan
terbang lalu hinggap di dahan mangga itu

Maghrib ini dalam do’aku kau menjelma angin yang
turun sangat perlahan dari nun di sana, bersijingkat
di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya
di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku

Dalam do’a malamku kau menjelma denyut jantungku,
yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit
yang entah batasnya, yang setia mengusut rahasia
demi rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi
bagi kehidupanku

Aku mencintaimu.
Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendo’akan
keselamatanmu


Okeh! Jadi itu dia satu maha karya dari Eyang.
Ada banyak yang bisa dibicarakan dari puisi di atas. Mulai dari latar waktu yang bagaikan waktu dalam shalat, keberadaan tanda titik pada kalimat “aku mencintaimu.”, serta bagaimana ia bisa menyentuh banyak hati mereka yang pernah merasa cinta. Saya setuju do’a sebagai wujud terbaik dalam mencinta. Pun saya memahami bagaimana do’a tersebut ada akibat manifestasi hadirnya ia yang dicinta dalam benak. Dan yang membuat ini lebih manis, (hampir) semua orang pernah berdoa. (Hampir) semua orang pernah jatuh cinta. Hal yang membuat kita mudah merasa nyawa dari puisi ini.

21 thoughts on “Dalam Do’aku

  1. jd ingat mix puisi lagu kemarin…q pke kalimat dalam puisi ini

    Aku mencintaimu.
    Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendo’akan
    keselamatanmu

    Itu daleeem banget memang. 😢❤❤❤

    Liked by 1 person

  2. kadang” aku bertanya”
    itu bacanya puisinya gimana ya
    wong titik komanya tidak mesti ada akhir baris
    kadang di awal, kadang juga di tengah…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s