Bermula dari Bu Dendy

Kini, rutinitas senin-jumat pagi untukku tak pernah terlalu berbeda. Setiba di kantor, segerakan mengucapkan salam kepada siapapun yang sudah sampai, tersenyum, berjalan (dengan sedikit irama melompat jika sedang bergembira) ke meja milikku, menaruh tas, lalu lekas berpindah ke tempat cemilan, dan membawa sedikit cemilan tersebut menuju ke meja dekat Desi Rizki yang berada nun jauh di depan sana. Kalau memang cemilannya tersedia, kutawarkan sedikit pada Desi Rizki. Atau kalau tidak ada, aku hanya membawa segelas air putih, tanpa menawarkan padanya.

Dan seperti biasa, Desi Rizki yang selalu datang paling awal sedang memakan bubur ayam sambil menonton drama Korea saat kuhampiri. Selalu begitu. Selalu dengan headset terpasang mantap, bibir merah yang sesekali melukis senyum, dan balasan “selamat pagi juga del” ketika kusampaikan salam pagi.

Bukannya tanpa alasan aku menyebrang jauh ke meja depan. Di meja depan, dekat Desi Rizki, terdapat televisi. Sudah menjadi kebiasaanku sejak berkantor untuk menonton acara pagi televisi. Sekadar untuk mengetahui perkembangan berita yang kini tengah hangat, atau cuma menonton highlight kemenangan Liverpool (atau klub lain) tadi malam. Pun begitu yang kulakukan pagi ini. Televisi yang awalnya mati kuhidupkan, kemudian dengan angkuh aku menjadi penguasa remote. Setidaknya sampai sebelum acara gosip pagi dimulai.

Karena tidak punya televisi di kos, menonton berita pagi terasa begitu berharganya. Setiap berita bagaikan emas. Dan emas pagi ini yang kudapatkan adalah berita mengenai video viral tentang ibu yang menyumpah serapah sambil menyemburkan lembaran uang merah ke perempuan yang duduk tak berdaya di atas sofa. Video yang rasanya benar namun juga terasa salah.

Pembawa berita bersiap untuk istirahat iklan ketika tajuk “sesaat lagi” muncul. Sebelum itu, ia sempat menyuarakan bahwa setelah iklan akan ditampilkan video ibu-ibu viral itu. Mau tak mau aku kembali mengingat video tersebut yang telah kutonton kemarin sore.

“Udah tau ini des?”, kataku sambil menoleh ke Desi Rizki. Bersama dengan itu kusodorkan handphone milikku yang menampilkan video.

“Apa?”

“Ini. Lagi viral nih. Ibu-ibu nyemprot cewek yang kayaknya dianggap selingkuhan suaminya. Ngomongnya pakai bahasa Jawa.”

Desi Rizki kemudian menontonnya sebentar. Sambil mengernyitkan dahi, ia mengembalikan handphoneku

“Mereka ngomong apa aja des?”

“Intinya ibu itu marah karena si perempuan jilbab merah suka ngedeketin suaminya buat minta duit. Emang ini bener?”

“Entah. Kayaknya sih beneran. Tuh bentar lagi muncul beritanya di tv”

Meskipun bertanya, sebenarnya aku sudah mengerti setidaknya 80% dari dialog video tersebut dan bermaksud mengonfirmasi ke Desi Rizki (yang orang Jawa). Sepertinya memang benar. Video itu berbicara tentang aib rumah tangga

“Nih, nih. Beritanya mulai…”, kataku sambil memutar badan ke depan ke arah televisi

Apa yang diberitakan si pembawa acara sama dengan apa yang kupersepsikan. Setidaknya ada 4 frasa kunci yang perlu diperhatikan: Dendy, Nylla Nyllala, pelakor, dan duit (yang dilafalkan ‘duek’)

Miris rasanya menonton video tersebut. Bu Dendy, istrinya Pak Dendy, mencerca mbak Nylla Nyllala karena mbak Nylla diduga suka meminta uang ke Pak Dendy. Atmosfernya panas. Bu Dendy terus menyudutkan Nylla dengan pertanyaan dan sumpah serapah bernada tinggi. Mbak Nylla sendiri hanya diam pasrah, hingga akhirnya ia disawer/disembur (atau mungkin dilecehkan) dengan banyak lembaran uang Rp 100.000

“Nggak heran video begini bisa viral. Orang ketahuan selingkuh aja bisa banyak yang nonton. Apalagi masalah selingkuh terus dihambur duit jutaan gini.”

“Hahaha. Iya ya…”

“Ngomong-ngomong pelakor apaan des? Dari tadi nggak ngerti sama istilah itu.”

“Nggak tau juga. Mungkin ada hubungannya dengan peselingkuh”

Pelakor adalah satu istilah mengganggu yang tak kuketahui maksudnya. Sempat kucari di KBBI namun tak ada definisi ditemukan. Jawaban baru didapat ketika menelusuri internet, yang ternyata pelakor adalah sebuah akronim. Pelakor = perebut laki orang.

Ini bermakna Nylla Nyllala (yang namanya seperti penyanyi dangdut masa kini) disebut sebagai pelakor keluarga Pak Dendy. Dan Bu Dendy yang tengah dalam amarah melabrak mbak Nylla sekaligus merekamnya. Maka tersebarlah peristiwa itu

“Sedih nggak sih des nonton ini?”, tanyaku sambil tetap menghadap televisi. Sementara itu Desi Rizki menonton dari belakang.

“Maksudku,” kataku lagi, “Kejadian seperti ini hitungannya aib keluarga kan? Kok kepikiran sama Bu Dendy untuk merekam, terlebih memasukkannya di media sosial. Memang sih kita nggak akan pernah ngerti gimana perasaannya Bu Dendy kalau nggak pernah mengalaminya sendiri. Kita cuma bisa membayangkan betapa sakitnya kalau ada perempuan atau orang lain yang jadi sebab perselingkuhan keluarga kita. Tapi ya sampai segitunya ingin mempermalukan orang.

“Ditambah lagi orang kita kayaknya suka banget dengan masalah gini. Suka nonton hal-hal berbau kontroversial, dan pastinya selingkuh-menyelingkuhi termasuk. Pelan tapi pasti video ini tersebar ke mana-mana, lalu siapa saja dapat menontonnya. Lalu bagaimana jika banyak anak-anak yang menonton? Bagaimana kita menjelaskan kepada mereka kalau ada anak-anak yang bertanya apa maksud video itu? Mending kalau punya kesempatan untuk menjelaskan. Bagaimana kalau anak-anak yang menonton itu diam saja? Bukankah perkembangan moralnya bisa jadi terpengaruhi?”

“Dan jangan salah paham. Bukan berarti aku memihak para pelakor atau mbak Nylla di sini. Kurang kerjaan banget mereka mengganggu pasangan orang lain. Apa pelakor-pelakor itu tidak pernah membayangkan jika keluarga mereka sendiri tertimpa masalah seperti ini?”

“Maksudku, harusnya ada solusi yang lebih baik daripada apa yang dilakukan Bu Dendy di video. Seakan-akan dengan ngelemparin si pelakor pakai duit kayak lempar jumroh akan menyelesaikan masalah mereka. Kurasa tidak. Apalagi dengan menyebarkannya di media sosial, seolah dunia harus tau kalau keluarga mereka sedang dirundung masalah, dan semua mesti tau kalau si Nylla di sini adalah pelakor nakal bin mata duitan. Hanya akan menambah masalah baru menurutku.”

“Kudengar Mbak Nylla sudah membuat video klarifikasi atas kejadian kemarin. Tak menutup kemungkinan Bu Dendy akan membuat lagi video baru demi membalas video Mbak Nylla, dan akhirnya terus berbalas-balasan membangun argumen demi menarik simpati atau sekadar membela diri. Sementara itu, selalu ada warganet iseng nan kurang kerjaan yang senang sekali menonton pertikaian dan perselingkuhan kontroversial.”

“Rasanya bersalah menonton ini. Seperti mengetahui persoalan rumah tangga orang lain yang tak harusnya kita ketahui, dan sayangnya akan ada lebih banyak orang yang tau sementara kita mengobrol seperti ini.

“Ah sudahlah. Kadang ngerasa emosi sendiri kalau melihat perilaku warganet saat ini. Panas sedikit, upload, share. Nyinyir sedikit, upload, share. Mestinya ranah nyinyir begitu juga kena ‘internet positf’ tuh.”

“Entah apa yang harus dilakukan untuk mengedukasi kita supaya pintar/positif berinternet. Tau mana yang pantas di-upload, tau mana yang pantas dan layak di-share, dan tau komentar yang pantas, layak, dan relevan diberikan. Gimana menurutmu des?”

Tak ada jawaban dari yang ditanya. Saat aku berbalik ke belakang menunggu jawaban, Desi Rizki ternyata sedang larut dalam drama korea yang tadi ditontonnya. Ia yang kukira sama-sama menonton ternyata tak melihat televisi sedari tadi, dan aku yang merasa keren berdialog dengannya ternyata malah bermonolog sebatang kara dari awal. Peanuted.

“Kamu ngomong apa del?”, katanya sambil melepas headset.

Yah, setidaknya aku mendapat pelajaran lain selain dari berita Bu Dendy barusan: jangan pernah mengajak ngobrol pelakor (penggila drama korea) yang sedang menonton dramanya.

“Gwenchana noona… gwenchanaaaa”

“apasih…”

Advertisements

35 thoughts on “Bermula dari Bu Dendy

  1. Terkadang apa yang kita lihat di dunia maya itu tidak sama persis dengan dunia nyata (mereka). Untuk masalah pelakor2an (amit2 nulisnya aja geleuh ini) entah kenapa makin kesini makin banyak yg gatau maluπŸ˜‚

    Peanuted >> when peanut become a verb(2) -______-

    Liked by 2 people

  2. agak kocak jg sih liat itu. soalnya, si ibu apa ga malu marah2 kayak gitu? kayak ngejatohin gengsi diri jg kan ngamuk2 lgsg main tuduh begitu. teriak2 ga jelas emosi ga kekontrol diliat umum. pun, di mana2 kalau pasangan selingkuh yang salah pasangan nya kan. nggak dengan yang sekarang pun bisa aja sama orang lain lagi. terlebih ga ada bukti kuat kalau memang ada zina, kalau ga salah tuduhan kayak gitu minimal ada 2-3 saksi kan bahkan kalau emang udah jelas2 begitu tetep perlu saksi :/

    Liked by 1 person

    1. Wkwk… kalau bicara dari segi syariat bakal lebih banyak lagi nyerempetnya jayq πŸ˜‚πŸ˜‚

      Mungkin ada benarnya juga. Seperti mempermalukan diri sendiri dengan bertindak seperti itu, apalagi kalau sejagat internet tau

      Liked by 1 person

      1. Wkwkwk iya seperti itulah… Saya juga sering digituin, misal saya nanya ” hmmm A kamu mau ikut ke kantin gg? ” , Trus si A pakai headset, trus saya d peanutin, jadi saya jawab aja lagi sendiri “oh enggak, okedeh” wkwk

        Like

  3. Media sosial jaman now. Semua serba mudah untuk bisa jadi pusat perhatian. Bikin aja video kontroversi, upload, viralkan. Parahnya lagi kalau yg nonton nak nak kecil usia sd-smp yg udah ahli buka fb dan youtube. Ngeri deh ngeriiii. Masih kecil kosakata ‘pelakor’ sudah masuk dalam kehidupan mereka. 😱
    .
    .
    .
    Btw aku gagal fokus gara-gara ada kata ‘peanuted’ ya ampun aku sampai ketawa nih Del. Jadi ini kata lain dari ‘dikacangin’ gitu? Kreatif.

    Liked by 1 person

  4. Oh jadi ditulis juga ya ternyata di blog wkwkwk . Padahal aku udah pernah kasih tau arti pelakor lho, mungkin pas itu sinyalnya putus2 πŸ˜‚

    Yang jelas waktu nonton video itu ingin rasanya memungut duit2 yang berhamburan itu barang selembar dua lembar :((
    Btw itu keknya sok2an paham ya bahasa jawa di videonya kan? Ya kan yayaya

    Liked by 1 person

    1. Wkwkwk
      Iya. Rasanya pengen ambil pungut terus kembaliin lagi ke bu dendy. Penasaran nggak sih itu duit ditaruh di mana sebelum dihamburin? Nggak muat masuk dompet kan kalau sebanyak itu haha

      Masih nggak percaya aja nih sama level kemampuan berbahasa Jawa ku 😏

      Like

      1. Kenapa dikembaliin ke bu Dendy, mending dimasukin ke kantong pribadi *ehh
        Ditaruh di kantong ajaibnya mungkin? Saking kayanya bu Dendy sampai beli kantong ajaibnya Doraemon πŸ˜‚

        Iyalah, susah dipercaya πŸ˜‚

        Like

    1. Hahaha. Nggak inget nulis itu
      Ini fiksi bang. Sebenarnya peristiwa dan dialog di atas tidak benar2 terjadi. Tapi terima kasih karena telah membaca sekaligus berkomentar. Dapat dijadikan bahan introspeksi

      Liked by 1 person

  5. Wkwkwk kocak banget…nanya begitu ke mbak desi, πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

    Iya nih, harusnya malah gausah diberitain ya, biar gak menyebar ke mana mana.

    Sama persis kayak kasus “vokalis peter pan dan bintang iklan Lux dan presenter insert”, yang dulu tiap hari hampir diberitakan terus, dan justru bikin orang penasaran untuk tau kronologinya.

    Btw, temen seruanganku ada yg sampe hafal omongannya bu dendy, di luar kepala, πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚
    Lama-lama dibikin jarkoman nih πŸ˜‚

    Liked by 1 person

    1. Ini fiktif. Nggak benar2 terjadi kok wkwk

      Tapu aku kagum dari sekian banyak kejadian kontroversial dari waktu itu hingga kini, kasus β€œvokalis peter pan dan bintang iklan Lux dan presenter insert” itu yang kamu jadiin contoh πŸ˜‚

      Jarkom gimana maksudnya wkwk. Ntar ya kalau2 ketemu minta coba praktekin lagi bu dendynya ✨

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s