Kopdar Bersama Dea Rahma, DiPtra, dan Hendra

Eh, tulisan kopdar lagi. Hahaha!
Sepertinya ini adalah rapot kopdar yang paling sulit ditulis di Semut Hitam. Sudah ada 3 tulisan yang membahas materi ini dan keduanya super bagus. Khas dengan sudut pandang dan gaya menulis mereka sendiri.

Mau dari sudut pandang:
yang kalem, jujur apa adanya, ngenes, silakan klik Hendra
duta sampo lain kekinian Bekasi, silakan klik Dea Rahma
ninja, acekiwir, slengean, silakan klik DiPtra
wong Semarangan yang lagi jadi turis di Bekasi, silakan klikΒ Azizatoen

Pasti sedikit banyak tulisan saya akan terpengaruh oleh mereka. Entah tulisan yang seperti apa yang mesti dibuat supaya terlihat berbeda -______-

Yah, sama atau beda, saya akan tetap menuliskannya. Bagi saya tulisan kopdar adalah bentuk hadiah terima kasih paling personal yang bisa saya berikan kepada teman-teman kopdar. Hukumnya wajib. Jadi tak peduli setelat apapun atau sebasi apapun materinya, bodo amat. Tetap akan ada tulisan kopdar di blog ini. Jadi, maafkan saya teman-teman jagat blog. Tulisan tentang kopdar di Bekasi kemarin akan bertambah 1 lagi

IMG_20180210_200847480
Foto-foto yang ada di sini berasal dari hape Bang DiPtra


Bisa dibilang ini adalah kopdar anggota Obrolin residen Jabodetabek. Rasanya agak sayang kalau kita yang tinggalnya relatif dekat tidak pernah bertemu satu sama lain. Dan percaya atau tidak, seharusnya kopdar Jabodetabek ini sudah berlangsung sejak Juli/Agustus tahun kemarin! Agenda kopdar waktu itu mesti tertunda karena sulitnya mencari jadwal dan tempat yang cocok. Saking lamanya menunggu kopdar Jabodetabek terlaksana, saya sampai wisuda duluan.

Saya sudah pasrah mengingat kopdar Jabodetabek tak akan pernah terlaksana. Eh, ternyata akhirnya jadi juga sodara-sodara! Apa yang mampu menyatukan kami sehingga akhirnya bisa kopdar? Ada dua tokoh yang berjasa. Yang pertama Dilan, tokoh fiktif idaman sejuta perempuan yang membuat saya bergetar geram, dan yang kedua Azizatoen.

Azizatoen, mahasiswi tingkat akhir yang tengah berdarah-darah karena skripsi, ingin memulihkan lukanya dengan ‘refreshing’ ke ibukota. Meskipun senang luar biasa, awalnya saya sedikit heran mengapa ia memilih main ke Jakarta. Mengingat kota yang padat ini adalah sumber stres bagi sebagian besar pendatang lainnya. Niatnya mau refreshing bisa-bisa malah restressing. Tapi setelah saya pikir ulang, saya pun begitu menikmati tinggal di Jakarta ini. Terlebih jika mengingat lagi waktu pertama kali ke Jakarta. Rasanya girang minta ampun. Jakarta punya daya tarik sendiri. Saya yakin Azizatoen melihat daya tarik itu.

Pastinya, ia menghubungi beberapa temannya yang ada di Jakarta, yang semuanya bloger (mungkin). Anggaplah sebuah ajakan kopdar. Nah, mumpung ia ngajak banyak, kenapa tidak bangkitkan kembali wacana kopdar Jabodetabek tempo baheula? Syukurlah walaupun dalam waktu singkat, beberapa bloger masih dapat meluangkan waktunya untuk kongkow-kongkow chanteeq ala ningrat ibukota.

IMG_20180210_182200119_HDR
Kiri-kanan: Dea Rahma (Princess), Aziatoen, Afifah. Yang tidak kelihatan itu namanya DiPtra

Lalu di mana jasanya Dilan? Pemuda yang dikutuk untuk ngegombal seumur hidup itu mulanya menjadi daya tarik utama kopdar ini. Meski akhirnya nggak jadi, tetap karena Dilan kami jadi lebih bersemangat kopdaran

Oh ya, Azizatoen tidak datang sendiri dari Semarang. Ia datang bersama sahabat karibnya (yang supel, terbuka, dan no shy shy cat) bernama Afifah atau biasa dipanggil Afi. Sempat mengira bakal canggung main sama ini anak, karena saya sama sekali tak mengenalnya. Nyatanya tidak juga. Mungkin karena ia mahasiswi hukum, yang dituntut berpengetahuan luas, dan juga fakta kalau ia banyak tau hal-hal berbau showbiz

Oke! Karena secara gamblang sudah dibahas tiga tulisan, kronologis kopdar kami tidak akan saya tulis lagi. Yang jelas kemarin kami ketemuan, makan, main uno stacko, nyoret tangan BangDip pakai lipstik warna pink nude, shalat, ngobrol, ngeliat Virgoun salimin banyak anak kecil pas naik panggung, ngeliat Virgoun nyanyi sambil gendong anak, ngeliat Virgoun turun panggung, dan akhirnya pulang. Semua terjadi di Summarecon Mall Bekasi pada kurun waktu 16.00-21.30 (kurang lebihlah)

Fokus saya ada pada impresi terhadap teman kopdar kemarin. Itung-itung biar yang membaca berasa kenal dengan bloger-bloger yang muncul.

Di bawah ada bagian ekspektasi-realita. Apa yang tertulis di ekspektasi tidak selalu salah atau benar. Ekspektasi adalah yang saya perkirakan sebelum bertemu, sedangkan realita adalah yang saya rasakan sesudah bertemu. Jadi misalkan kalau saya tulis di ekspektasi ‘orangnya suka ngemut mengkudu’ bukan berarti realitanya ‘orangnya tidak suka mengkudu’. Ah, sulit juga menjelaskannya. Baca sajalah -_-

dea'sspace

Dea Rahma

Ekspektasi: tipe perempuan yang nggak suka sayur, tipe perempuan yang kalau makan suka nggak habis, tipe perempuan yang berprinsip ‘as long as it is pink’ alias so pinky
Realita: kecil, ekspresif, verbal, so fashionable, ternyata makannya habis, ternyata pas datang pakai baju ungu, nggak tau deh suka makan sayur apa nggak

Awal pertama kali melihatnya, saya kira ia datang bersama patjarnya. Ternyata, laki-laki yang kebetulan berdiri di dekat Kak Dea waktu itu bukan siapa-siapa. Hampir saja saya ngajak salaman

Dea Rahma sedikit di luar dugaan saya. Ia lebih kecil dari yang saya bayangkan, ia tidak berpakaian serba pink, dan suaranya nggak serak serak beser. Bila diringkas dalam bahasa saya, Dea Rahma adalah tipe perempuan yang biasanya jadi protagonis dalam film romance barat. Hmmm…

Di antara kami semua, ia yang sepertinya paling 1) bersemangat mengikuti kopdar ini, 2) berhasrat digombal Dilan di bioskop, dan 3) sering terlihat baper. Beberapa kali menyinggung perihal nikah-dinikahkan, pasangan, dan juga anaknya Bang Diptra.

Yak. Bagi yang sudah membaca tulisan Bang DiPtra, pasti tau kalau Kak Dea ini ternyata orang Jawa (Purwokerto). Ada momen di mana ia mencoba ngomong boso Jowo yang ternyata nggak kena sama sekali. Sepertinya ia memang lebih cocok menjadi ‘nyai’ atau ‘mpok’ dibandingkan ‘mbak’. Bahkan saya merasa saya bisa lebih medhok daripada ia. BAHAHA.

Tapi tetep. Orangnya asyik banget diajak ngobrol. Tau bahan apa yang cocok buat dijadikan obrolan, punya selera humor bagus, dan ekspresinya nggak pernah datar-datar aja pas ngobrol.

Kak Dea juga mantan mahasiswa Statistika. Ia lulusan IPB, yang sudah terkenal sebagai penghasil statistikawan jempolan se-Nusantara dan saya rasa Kak Dea juga salah satunya. Saya selalu senang saat bertemu mantan mahasiswa statistik lainnya, karena itu artinya kami dapat saling berbagi kepedihan yang mesti kami jalani semasa kuliah. Saat kopdar kemarin, kami sempat saling curhat tentang statistik dan rasanya saya agak bersalah juga. Berani-beraninya ngomong jorok di tengah kopdar yang suci

Memorable quote: “berarti aku masih ada waktu satu tahun lagi ya…”, saat mengomentari bloger perempuan lainnya yang sudah menikah dan punya anak 1 di umur yang relatif dekat, dan “kamu harus hati-hati del sama anak MTK dan Ilkom!”

diptra

DiPtra
Ekspektasi: kecil, suaranya enak khas vokalis band indie, auranya adem ustadz, family man
Realita: kecil, bijak, YOLO, a genuine family man, tidak mudah lapar, doyan begadang, nyeleneh, tawanya menular, serius tapi santai, penyuka kopi, sangat Pidi Baiq

Seperti yang ia tulis di blognya, kami berlima memang pertama kali bertemu di depan panggung festival Doraemon. Kebetulan hari itu ada Doraemon dan Nobita manggung. Anak-anak terlihat sangat terhibur atas kehadiran mereka. Sayang, anak-anak pasti belum mengetahui fakta pahit kalau Doraemon dan Nobita yang ada di atas panggung itu sebenarnya palsu. Mereka hanya manusia yang memakai kostum

Hingga akhirnya Doraemon dan Nobita buru-buru turun panggung (mungkin karena belum shalat asar), kami tak kunjung bertemu. Kebingungan kami berhenti ketika Bang Diptra memberanikan diri menyapa saya dulu.

DiPtra adalah sesosok manusia berpostur Jusuf Kalla, bermata Pidi Baiq, dan berpenampilan Bill Gates muda.

Tata bahasa dan cara bicaranya enak. Tipe-tipe yang kalau di dalam diskusi, suaranya pasti didengar plus bawaannya mau setuju aja. Lalu dari segi suara, seperti yang pernah di-vn-kan di grup, memang punya karakter kuat khas vokalis. Nggak terlalu berat, nggak ringan juga. Oh ya, ngomong2 tentang vokalis, doi ini emang pernah jadi vokalis band beneran. Katanya semasa SMA hingga awal kuliah. Band favoritnya: Incubus, Dream Theater (semoga bener ehe)

Bang Diptra asli Ngalam. Ia sampai sekarang masih sering bolak-balik Jakarta-Malang. Meski sudah tau ia orang Jawa, tak kelihatan oleh saya kejawaannya. Barangkali karena sudah lama ditempa Jakarta kali ya. Sempat ia memamerkan kemahirannya berbahasa Jawa ke Azizatoen, yang saya rasa memicu seorang Dea Rahma ikut berbahasa Jawa juga (iya, yang ternyata nggak kena intonasinya itu)

Pengetahuannya luas, pengalaman hidupnya ganas. Bang Diptra punya banyak aspek untuk dikagumi kaum lelaki muda. Bisa bertindak serius dan santai di waktu yang sama, sudah berkeluarga, mapan, dan yang paling penting, ia memiliki brewok gagah impian lelaki sejuta umat. Tipis-tipis geli gitu.

Oh ya, berkat banyak cerita tentang Pidi Baiq, rasanya saya terpengaruh untuk kepoin segala tentang doi. Pidi Baiq yang diceritakan Bang Diptra sangat menarik, mulai dari ketiga seri ‘Drunken’nya, cerita betapa eksenteriknya Pidi Baiq, juga bagaimana Bang Diptra pernah meet-up dengannya tempo hari. Ah, saya sampai merasa Bang Diptra adalah si Pidi Baiq itu sendiri.

Seandainya ada waktu lebih lama, saya ingin lebih banyak belajar pengalaman hidup darinya. Tentang kerasnya dunia perkantoran (atau perburuhan) dan juga tentang perempuan. Khususnya masalah perempuan sih. Insting saya mengatakan kalau ia jago ngegombal. Kepadanyalah saya harus berguru. Belajar sejuta jurus maut menjinakkan wanita

Memorable quotes: “berarti tipe suara kamu nggak bisa dibawa ngobrol sampai pagi…”, ketika mengomentari suara saya yang serak setelah ngobrol terus, dan juga “anakku nanti mau dikasih bacaan One Piece!” dengan nada persis sang raja bajak laut

hendra

Hendra
Ekspektasi: kecil, suaranya rada cempreng, suka nyahut, tipe yang suka melamun, tipe yang kalau pake kemeja kerahnya selalu dikancing, tipe yang kalau patah hati sembuhnya lama
Realita: tinggi luar biasa, kokoh, rambutnya kelihatan selalu dishampo, suaranya kecil namun berat,

Perjalanan Depok-Bekasi tidak dekat. Namun Hendra rela mengarungi ruang dan waktu demi mengikuti kopdar ini. Saya dengar dalam perjalanannya ia sampai berkali-kali terlibat affair dengan supir grab. Agak kasihan juga.

Ditambah lagi ia telah melewati perjalanan yang lama dan panjang. Saking lamanya, jangan-jangan ia sampai berulang tahun di atas kereta. Pasti sangat melelahkan. Sudah seharusnya kedatangan Hendra disambut meriah

Hendra ternyata adalah pemuda tinggi menjulang dengan tampilan 90an serta memakai kemeja bermerk “Kakkoi”. Perpaduan gaya berpakaiannya itu mengingatkan saya akan Joni di film “Janji Joni”. Oh, ia juga memakai tas selempang kecil waktu itu

Ekspektasi saya yang pertama kali patah adalah penampilannya yang jauh lebih dewasa dari yang saya kira. Saya juga nggak begitu mengerti dari mana datangnya pikiran kalau ia terlihat sepuluh tahun lebih muda (ponds?). Rambutnya tipis halus dibelah tengah, gaya rambut yang jarang saya temui belakangan ini. Saya rasa ia sangat merawatnya dan hasilnya memang bagus. Saya lupa bertanya ia pakai shampo apa. Shampo yang bisa bikin rambut berkibar-kibar penuh kilau. Menurut saya, ia tidak terlalu kurus. Struktur tulangnya terlihat besar demi menyokong tubuh tingginya.

Kemudian dari segi suara, meskipun volumenya kecil, tetapi nadanya berat. Rasanya agak lucu saat mendengarnya pertama kali. Meleset dari perkiraan sih ya. Ada aksen-aksen Sunda ketika ia berbicara. Hendra sendiri terlihat mencoba menyesuaikan diri dengan suara kami-kami yang baru ia dengar pertama kali.

Yak. Sama seperti di versi Kak Dea dan Bang DiPtra, di kopdar kemarin Hendra memang tak banyak cakap. Berbeda dengan yang dikenali secara online. Hanya sesekali ‘ehehe’ dan berceletuk seadanya. Tetapi, pola pikir tak lazim nan bizzarely mesmerizing khas Kang Tamvan tetap kelihatan kok.

Sebagai founding fathers Obrolin, di antara kami ia yang paling ‘Obrolin’. Ia ingat kapan ulang tahun Obrolin yang sebentar lagi menginjak ultah pertama. Ia kangen bercengkerama dengan Jay dari Sportsupdate5, Bunda Ida yang dulu suka nagih uang kos, dan Kak Didi yang tinggal di Australia. Dan yang paling mengesankan, ia ingat nama panjang “MBAK” Widya yang fenomenal itu. Sepertinya “MBAK” Widya-lah yang paling dirindukan Hendra sejak ia pergi tempo hari. Bagi yang kepo dengan “MBAK” Widya dan ingin tahu nama lengkapnya, sila menghubungi narahubung Obrolin: Hendra

Memorable quotes: “ada yang bawa sisir nggak?”, tanya Hendra tiba-tiba. Mungkin dalam rangka menjaga belah tengahnya tetap di tengah, tidak minggat ke samping

unknownperson

Azizatoen
Ekspektasi: tipe yang kalau makan di resto nggak pernah ngeliat harga, tipe yang kalau makan banyak nggak bisa gemuk (yang bisa jadi objek dengki perempuan lain), tipe yang kelihatannya nggak bisa sakit
Realita: isengin Afi adalah kerjaannya, tipe yang mudah akrab ke perempuan lain, kadang suka ngomong jahat ke orang (yang kayaknya nggak sadar)

Hmm… Azizatoen adalah salah satu bloger terlama yang saya kenal di blog. Bersama tulisan ini, maka sudah 3 episode Azizatoen muncul di kopdar Semut Hitam. Impresi tentangnya sudah saya tulis di sini. Yah, kalau dipikir cukup wajar. Ia sudah menjadi teman blog saya sejak blog ini baru berumur beberapa bulan (dan sekarang blog ini sudah 3 tahun ada!)

Saya dengar ini adalah pertama kalinya ia bermain ke Jakarta dan sekitarnya. Cukup mengerti kalau ia merasa excited. Saya pikir, karena ini pengalaman pertama, ia akan lebih malu-malu selama di Jakarta. Ternyata tidak juga. Berdua bersama Afi mereka tertawa cekikan selama di KRL ketika mendengar nama “Stasiun Cikini”, yang membuat kami menjadi sorotan buibu sekitar. Saya juga bingung kenapa bisa ketawa -_-

Saat kopdar ia dan Kak Dea terlihat amat akrab. Padahal juga baru bertemu. Mungkin ini yang namanya ikatan batin perempuan

Memorable quotes: “Gondangdia? Kenapa nggak GendongDia? Hihihihi,” setelah ia berkata ini, saya mesti menjelaskan ke mbak-mbak di samping kalau ia baru 2 hari di Jakarta


Nah. Itu dia semua yang bisa saya tulis. Setelah saya pikir ulang, padahal baru bertemu, tetapi bisa ngobrol panjang bareng teman kopdar itu luar biasa. Mungkin inilah keajaiban kopdar.

Kepada nama-nama yang saya sebutkan di atas, mohon maaf apabila merasa tersinggung. Saya merasa terlarut ketika menulis ini, apabila jika mereka ulang lagi kopdar kemarin. Terima kasih atas momen yang kita buat bersama!

Advertisements

96 thoughts on “Kopdar Bersama Dea Rahma, DiPtra, dan Hendra

  1. Cikini….

    Itu ada di puisi Dilan untuk Cika, pacar Dilan setelah sama Lia. Rasanya mungkin Azizatoen keinget sama itu.

    Fix, dari sekian cerita keberangkatan kisah Hendra yang paling mengarungi samudra yak πŸ˜‚

    Liked by 1 person

      1. Hahaha. Ya udahlah, biar Ziza dan Afi saja yg ngejawab.
        Kalau aku lebih suka ketika mbak1 robotnya bilang, “Cakung”
        Lucu aja.. πŸ˜…

        Wkwkwk. Hendra pahlawan. Menembus Bumi bekasi dengan kecepatan cahaya.

        Liked by 2 people

  2. Ya Allah gak berenti ketawa juga baca ini sampe bingung harus komen apaπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚
    Yang jelas Fadel yg paling mudah describe someone dan paling teliti!
    Aku gak suka pink Deel! I like purple πŸ˜€

    Liked by 2 people

  3. 1. Aku terkejoed sama tulisan org-org ttg hendra yg diam, kupikir dia rameee kali kayak klo lagi nimbrung di grup πŸ˜…πŸ˜…
    2. Mbak widya, aku jadi kepo soal mbk widya 😜😜
    3. Suka ama kopdar kaliaan, jdi pgn kopdar ama anak sugepama 😊😊
    4. Pertahankalah jabatan raja kopdarmu πŸ‘‘

    Liked by 2 people

      1. Inget inget. Yang dulu pernah ngeposting warteg sekitar UIN itu yak hahaha. Siplah bang. Insyaallah bisa anak Jabodetabek kongkow-kongkow lagi

        Like

  4. Kopdar emang ajaib bnget ya..rame bnget ceritanya, mungkin tak serame prtmuannya kli ya, heee…

    Oya, ap mungkin si Azizatoen ketawa krn Cikini itu terdengar sprti yg dpkai di pntai itu kli ya..*ah, soktahusaya

    Liked by 1 person

  5. Apakah aku harus berkomentar di postingan ini juga? πŸ˜‚
    Rasanya kak Fadel bosan ya melihatku di kolom komentar kopdaran wkwkwk

    Makasih lho udah mau impersonate lagi untuk yang kesekian kalinya πŸ˜‰

    Liked by 1 person

    1. Kenapa bisa berkesimpulan ngerasa bosan? Wkwk
      Sipsip. Rasanya nggak adil kalau nulis buat semua bloger kemarin kecuali kamu. Lagipula yang kamu maksud yang kesekian kali baru 2 kali kan di seri tulisan kopdar ini

      Like

    1. Iya. Pengen main ke Surabaya. Ketemu teman2 di sana sekalian nyantap lontong balap…

      Atau kalau kita telusuri alternatif lain geur, kita tunggu kamu pulang ke Bekasi aja, lalu kita nongkrong macho di Summarecon. How’s that sound?

      Like

  6. Segala shampo dibawa2 dalam hal ini, wkwkwk. Naik krl-nya sampai stasiun Tanah Abang nggak sih? Kalau sampai sana pasti bakal ada komenan gini… Ntar abis Stasiun Tanah Abang, harusnya sih Stasiun Tanah Eneng πŸ€”πŸ€”πŸ€”

    Liked by 1 person

  7. tapi setidaknya dengan postingan ini, aku sedikit bisa menbayangkan satu persatu karakter teman obrolin yang ikut kopdar kemarin πŸ™‚
    Dan Kang Tamvan, lucu juga kalau dia ternyata bisa pendiem beda banget sama di group online..

    Liked by 2 people

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s