Bermula dari Dilan

Arista membuka forum dalam forum ketika ia tiba-tiba berkata ke Ayang, “Rasanya aku lagi pengen baca Dilan nih.”

“Emh. Ngapain sih ta”, balas Ayang dengan nada mencemooh. Aku tau pasti ia juga tidak suka dengan Dilan. “Del, Arista katanya mau baca Dilan.”

Serta merta, aku yang ditanya mengingat kembali 80 halaman awal kisah Milea dan Dilan yang pernah kubaca. Milea, perempuan fakir asmara yang doyan sekali digombalin dan Dilan yang sepertinya kerasukan jin gombal, yang membuatnya ngegombal Milea hampir di setiap dialog miliknya.

Kebetulan aku masih menyimpan sepotong dari novel itu. Sepotong dialog yang membuatku merinding membacanya.

“Sini ta, aku tunjukin cuplikan Dilan.”

Sebentar kemudian Arista membacanya, dengan aku memerhatikan tiap senti perubahan ekspresinya

“Nah… gimana?” tanyaku ketika ia selesai

“Hehe…”

Karena Arista perempuan (dan perempuan itu makhluk membingungkan), aku tak mengerti maksud ‘hehe’ di situ. Tetapi ternyata ia sendiri tak mengerti harus merasa apa.

“Ngerasa cringe gitu nggak sih?”, pancingku

“Cringe?”

“Iya. Kayak kalau kamu gemeter karena sesuatu yang agak-agak jijik atau garing”

“Oh cheesy?”

“Ya itulah. Mirip-mirip”

“Rada aneh sih dialognya haha”

“Ya kan. Makanya. Aku her…”

“Kok bisa ya banyak perempuan yang suka Dilan.”, potong Ayang tiba-tiba

“Kukira banyak perempuan yang suka gituan.”

Mereka terlihat tidak yakin dengan apa yang kukatakan. Tiba-tiba aku merasa mengatakan hal yang salah. Seakan menunggu penjelasan berikutnya, maka kulanjutkan

“Maksudku tipikal cowok kayak Dilan. Yang nakal, ganteng, pinter ngegombal…”

“Ahhh nggak juga kok,” kata Ayang dengan nada menusuk. “Aku nggak suka novel Dilan, nggak suka Dilan, ataupun cowok yang kayak Dilan.”

“Payah kamu del!” Arista seakan ikut menyalahkan. “Yang dibutuhin cewek dari cowok itu gampang. Nggak banyak. Yang penting cowok itu bertanggung jawab, dapat diandalkan…”

Ayang kemudian menyambung, “… dan mau dengerin cewek”

“Pinter. Bisa ngeliat situasi”, kata Arista lagi

“Cerdas. Penting sih cerdas. Kalau udah pegang cerdas, semua kepegang”

“Terus juga beriman”

“Kaya!”

“Akpol!”

Hmmm…. oke. Aku angkat tangan

Advertisements

46 thoughts on “Bermula dari Dilan

  1. Huft. Aku ga suka Dilan, udah berusaha suka dengan baca novel pertamanya yang pinjem ke temen, tapi masih b aja. Aku lumayan suka karena latarnya di BandungπŸ˜…

    Liked by 2 people

    1. Wkwkwk
      Dari segi gombal udah. Tinggal motoran sama tawurannya
      Sampai komen dua kali gini mbak 🀣 Semoga ada pembaca tulisan ini yang tahu dan memecahkan misteri buku itu huhu

      Liked by 1 person

  2. Klo buat usia anak SMA, atau org yg belum berfikir serius, dilan terlalu istimewa πŸ’• tapi klo perempuan realistis mungkin akan mikir lagi πŸ˜‚ cuma secara kpribadian aku suka sama dilan, dia unik, orangnya ga ambil pusing suatu masalah, gampang ambil hati orang, hahaha πŸ˜„

    Liked by 1 person

    1. Ah, kenapa aku mendapat sinyal kalau kamu pernah di’tidakseriusin’ seseorang yak wkwk. Yak. tinggal kamu tulis di hal yang kamu suka dari Dilan ini di medsos/blog/hati mas patjar agar dia makin mengerti (HAHA!)

      Like

      1. Huahaha juarak banget deh nebak orang πŸ‘, muna’ banget kan klo bilang ndak πŸ˜‚ aku suka karakternya dilan, cuma aku aku ga suka orang lain menjadi seperti dilan, setiap orang istimewa dengan apa yg mereka miliki πŸ’•

        Liked by 1 person

  3. List laki-laki idaman nggak akan pernah ada habisnya kalo nanya ke perempuan kak wkwkwk πŸ˜‚
    Udah, nonton filmnya dulu kak, nonton aja, terus bikin review ya. Penasaran kalo yang bikin laki-laki πŸ˜‚

    Liked by 2 people

    1. Kita simpulkan ajalah ya yang perempuan idamkan dari pria: SEMUANYA πŸ˜‚

      Berat mau nontonnya :((
      Biarlah review2 dan quotes di luar sana mengisi pandanganku tentang Dilan

      Like

    1. Ya kan πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚
      Awalnya aku rada khawatir ia nggak bakal punya temen banyak gara2 nada ngomongnya yang judes nan menusuk. Tapi ternyata kekhawatiranku salah haha

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s