Ketika Wanita Menangis

Senin waktu SMA dulu, salah seorang perempuan di kelasku ada yang menangis. Aku tak mau ingat alasannya mengapa. Yang jelas, beberapa teman perempuan lain mengerubunginya sambil menghiburnya dengan belasan “gapapa”. Kurasa masalahnya karena laki-laki. Tetapi ia tak berterus terang mengatakannya.

Jumatnya, seorang teman perempuan (yang kukira tak suka membaca) menenteng buku saat kami hendak berbaris di lapangan. Rasa penasaran memberanikanku untuk meminjam bukunya itu. Awalnya tak ia bolehkan. Alasannya karena aku laki-laki dan buku itu “sangat perempuan”

Namun ternyata ia bercanda. Sambil tertawa, ia lalu memberikan intipan sedikit bagian terbaik dari buku itu. Aku kurang ingat bagaimana persisnya, tetapi kurang lebih intinya begini:

“Ketika wanita menangis, itu bukan berarti ia mengeluarkan senjata terampuhnya, melainkan itu senjata terakhirnya.”

“Ketika wanita menangis, itu bukan berarti ia tidak berusaha menahannya, melainkan karena pertahanannya sudah tak mampu lagi membendung air matanya.”

“Ketika wanita menangis, itu bukan karena dia ingin terlihat lemah, melainkan karena dia sudah tidak sanggup berpura – pura kuat”

Aku lalu menatap matanya dalam. Rasa bersalah yang dingin cepat menyelimuti. Segera kukembalikan buku itu ke teman perempuanku itu, yang di hari senin kemarin menangis tersedu dan di jumat ini meminjamkan bukunya padaku. Aku ingat aku tak mampu lagi berkata-kata padanya hingga acara baris-berbaris selesai. Aku ingat bagaimana senyumnya mengembang saat kukembalikan buku itu

“Aku mohon maaf ma”, kataku kemudian

“Hahahaha. Gapapa, gapapa. Semua sudah lewat”

“Kurasa aku terlalu muda untuk menyukai perempuan. Bukan berarti aku tak menyukaimu.”

“Gapapa kok fif. Aku ngerti… hahaha”

Rahma pun kemudian berlalu. Aku memaku. Sekilas aku melihat senyumnya luntur. Sekilas aku merasa matanya luntur.

48 thoughts on “Ketika Wanita Menangis

    1. Bahahaha… Dulu sudah pernah tema serupa juga mbak dan dapat banyak saran dari wanita2 yang membaca. Didengerin, lalu habis itu kasih tisu, coklat, atau eskrim kan?? Ehehehe

      Like

  1. Aku masih belum bisa membayangkan mata luntur itu seperti apa bentuknya ._.
    Buku yang sangat perempuan sah-sah aja kok dibaca laki-laki, biar makin ngertiin kaum perempuan ya kan 🙄
    Kayaknya pernah baca tulisan ini di kak Fadel juga apa ya, kalau nggak salah 😂
    *langsung cari*

    Liked by 2 people

    1. Bahahaha… kamu bertanya di tempat yang tepat geur. Kalau kita ketemu/liat sama cewek nangis dan nggak bisa kabur lagi, maka:

      1. Tanya kenapa. Kemungkinan besar nggak akan dijawab. Tapi laki kudu nunjukin rasa peduli dan empatinya
      2. Dijawab atau nggak, dengerin baik baik
      3. Kasih tisu. Kasih pundak kalau mahramnya
      4. Kalau udah redaan dikit, kasih coklat atau es krim. Yg mahal

      Liked by 1 person

      1. semua kata”ku emang ga pernah dianggap serius.
        pdhl aku benar-benar jujur dari hati mengatakannya :”(

        aku memang ga cocok buat diseriusin seprtinya *syedih 😢😢😢😭

        Liked by 1 person

  2. Kabarnya di dunia ini cuma manusia yang menangis karena kesedihan, dan wanita yang paling banyak mengeluarkan air mata. Ga kering2 sumbernya meski nangis berkali2.

    Dulu waktu SD kalau nangis di sekolah aku suka dikasih permen. Nangisnya jg karena laki2 sih, masak bola ditendang ke kepalaku. Kan sakit. *padahal ya mereka ga sengaja sih.😢

    Liked by 1 person

      1. Setelah SD itu enggak pernah nangis di sekolah, eh pernah ding. Tp nangis berjamaah. Waktu ujian kelulusan, antara senang lulus dan sedih pisajan. Kalau gini kita saling ngasih pundak, rangkul2an gitu 😆😆😆

        Liked by 1 person

      2. Wkwkwkwkwk… ada motivator yang make “bayangkan ini kamu meninggal…” nggak kak? 😂

        Curang sih itu. Make trik yang pasti nyedihin banget. Kalau itu nggak cuma wanita, laki pria cowo juga banyak yang nangis pas deket2 UN. Sedih pisajan bahasa apa lagi tuh? 😂

        Liked by 1 person

      3. hahhaa, iyaaa adaaa. sungguh itu bikin nangis-nangis. itu nangis berjamaah juga kan diitungnya. berarti jaman kuliah aku pernah nangis dikampus, duh Del, kenapa diingetin ini sih. 😀

        “sedih pisahan”, salah ketik itu Fadel. huhu

        Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s