Kopdar Bersama Bang Ical alias bangicalmu.wordpress.com

Hi. Karena ini lebih basi, maka semakin ingin mengucapkan ini: “Kalau kalian (re: Bang Ical+Kunudhani) sempat berpikir tidak akan pernah ada tulisan mengenai kopdar waktu itu, tepis jauh-jauh pemikiran itu karena kalian salah. Ini dia,”

Kopdar Bersama Bang Ical!
Jeeeeng, jeng, jeng-jeng-jeng-jeeeeeng, jeng~
(backsound: Star Wars Theme)

Bang Ical
Pujangga unik, sedikit nakal
Nggak nakal ding, cuma banyak akal
Mampir ke blognya, maka tau ia berilmu tebal
Pandangannya luas, bak samudra tak berpangkal
Saking luasnya, kadang jadi mikir ini orang janggal
Lalu muncul rasa penasaran ke orangnya yang katanya vokal
Bagaimana rupanya? Apa ia normal? Atau jangan-jangan binal?

OW YEAHH!!! Jadi juga (kibas poni)
Yak. Cukuplah rima di atas mewakili awal kopdar bersama Bang Ical kali ini. Persona yang setelah sekian lama akhirnya bertemu juga. Saya pikir untuk Bang Ical, sudah cukup banyak yang mengenalnya hingga kemungkinan banyak juga yang penasaran. Tak terkecuali saya.

Sepulang dari Semarang, saya tidak benar-benar ‘pulang’. Saya melanjutkan perjalanan ke Malang dengan maksud menghadiri wisuda lainnya. Malang sendiri menjadi panggung akhir perjalanan wisuda saya. Yah, berhubung sudah jalan jauh ke timur, sebaiknya turut mengabari teman-teman bloger yang ada di kota itu. Khususnya Bang Ical

Nggak pernah nggak seneng mengunjungi Malang. Alasan utamanya sederhana. Malang dingin. Yap. Sesimpel itu

Sebagian besar hidup saya dihabiskan di daerah yang panas. Pun sama halnya dengan jalan-jalan. Pasti mengunjungi tempat yang panas. Batam? Panas. Jakarta? Panas. Lombok? Panas. Semarang? Panas. Jogja? Panas. Bandung pas siang? Panas. Bandung sehabis jogging? Panas. Bandung selagi machet? Panas. Bandung saat nggak sengaja dikelilingi cabe-cabean sana? Panas

Malang adem tjoy. Seturunnya saya dari Matarmaja, udara terasa basah-basah-segar. Berbeda sekali dengan Batam yang basah-basah-keringatan atau Jakarta yang basah-basah-lengket (eww…). Rasanya pengen lari-lari depan stasiun supaya angin Malang bisa lebih terasa dinginnya. Aahh.. padahal sudah lumayan lama, tapi dinginnya masih bisa saya ingat.

Kedatangan saya di Kota Apel bersamaan dengan perayaan tahun baru hijriyah di sana. Ada pawai yang sedang berlangsung. Pawai tersebut sepertinya berjalan mengelilingi pusat kota. Suasananya ramai sekali. Di mana-mana penuh hingar bingar. Meskipun mayoritas pengisi pawai adalah anak sekolahan, mereka sangat total mengikuti kegiatan itu. Yang paling mencolok adalah kontingen pawai MAN 3 Malang. Mereka membawa anggota paling banyak, punya semacam kereta dari bambu yang dibentuk menjadi semacam naga setinggi baliho, gamelan kompak nan merdu, serta promosi besar-besaran tentang prestasi sekolah mereka. Kagum saya dibuatnya. Sampai-sampai tanpa sadar saya mengikuti mereka keliling dan nggak sadar kalau udah nyasar. Yes.

Nah lho… Lalu kapan Bang Ical munculnya? Akibat gampangnya teralihkan fokus menulis saya, Bang Ical yang harusnya sudah muncul sejak paragraf pertama baru akan muncul di paragraf berikutnya. *kedip*

“Bang, sudah sampai Jalan Ijen. Deket parkiran motor.”

Entah apa saya sungguh-sungguh mengatakan itu atau tidak kemarin. Sudah terlalu lama soalnya. Yang jelas tak lama setelah turun dari motor, sosok Bang Ical kelihatan dari pinggiran parkir.

“Itu dia…”, kata Bang Ical. Dia tidak tahu kalau dalam hati saya juga mengucapkan,”Itu dia…”

Lalu terlihatlah sosok Bang Ical. Bang Ical adalah laki-laki kokoh yang fisiknya terlihat kuat. Ia berisi. Kulitnya sawo matang. Yah, saya yakin siapapun yang sudah membaca sampai ini tak terlalu kaget. Saya pribadi tak terlalu kaget saat melihatnya. Dalam bangicalmu.wordpress.com, perawakannya sudah beberapa kali kelihatan.

“Oh, ternyata tingginya biasa aja toh. Hahaha”, lanjut Bang Ical saat akhirnya bersua

Oh ya. Bang Ical tidak datang sendirian. Ia hadir bersama bloger yang juga saya kenali, Kunudhani (tadaaa~~)

Saya merasa berdosa kalau mampir ke Malang tapi nggak mengabari kabar si gadis satu itu. Sebelumnya, kami sudah pernah kopdaran juga awal tahun ini. Ceritanya ada di sini. Ia sama sekali tak berubah. Atau setidaknya saya yang merasa begitu. Fakta kalau ia merasa ia telah berubah (menjadi lebih pendiam katanya) adalah bukti kalau ia tidak berubah. Hmmm Oke -_-

Lalu di sudut Malang manakah kami bertemu? Eng ing eng…

suasana2
Bukan jepretan sendiri

Car Free Day Jalan Ijen Malang!
Tak pernah saya mendatangi acara car free day (cfd) selain yang di Jakarta. Secara garis besar cfd di Jalan Ijen ini sama saja dengan di Sudirman-Thamrin. Hanya saja, ruang lingkup cfd Malang lebih kecil. Jalannya lebih pendek dan juga lebih bercabang. Menurut saya ini ada bagusnya juga. Komunitas-komunitas yang biasanya nangkring di cfd terletak tidak berjauhan. Lumayan menghemat tenaga bagi saya, yang datang bukan demi berolahraga

Hari itu sedang ada komuintas pecinta musang yang mejeng. Melihat musang-musang itu, Bang Ical juga Kunu cepat mengambil tingkah. Bang Ical sergap mengambil kamera, sedangkan Kunu lincah mengambil langkah seribu.

Nggak setiap hari kita bisa melihat musang. Terlebih ini musang peliharaan pecinta musang. Mereka terlihat sangat sehat dan terawat. Nggak heran Bang Ical begitu antusias memotret mereka. Matanya tidak pernah lepas, bagaikan anak-anak mengejar layangan. Saya sendiri terpesona dengan satu musang gempal berperut tembem. Sementara itu, Kunu mengintai kami dari kejauhan.

Selain pecinta musang, ada juga komunitas (atau mungkin UKM) kesenian dari Universitas Negeri Malang yang menari-nari di tengah jalan sambil membagikan stiker. Hmm… namanya juga seni. Yang jelas, suasananya begitu ramai dan meriah. Bang Ical tak henti mengambil foto dari sana dan sini. Dari sudut itu dan ini. Total banget. Ia adalah tipe fotografer yang kalau memotret, posenya bisa lebih heboh daripada objek yang ia foto. Lincah, gesit, mematikan.

Kami lalu lanjut jalan menuju Pasar Minggu Gajayana (?) di Jalan Semeru. Itu tak jauh dari Ijen Boulevard, tempat musang-musang lucu menggemaskan tadi. Mengapa kami ke sana? Tak ingat.

Tetapi saya rasa itu ada hubungannya dengan perut lapar

Oke. Bicara pasar, berarti juga bicara tentang makanan dan sejujurnya, makanan-makanan yang ada di sana cukup membuat saya bingung. Bingung karena terlalu banyak, juga bingung karena nggak tau itu makanan apa. Namun ada satu makanan yang pas ngeliat, rasanya mau ngelonjak. Rambut nenek

rambut-nenek-1
Enaknya kebangetan. Sumber gambar

Entah apa nama makanan ini di tempat lain. Saya taunya nama gumpalan serabut pink ini rambut nenek. Agak risih sebenarnya dengan namanya. Sampai disangkutpautkan dengan nenek-nenek segala. Nenek-nenek kan tidak berambut pink. Bahkan nenek-nenek yang funky sekalipun.

Abaikan namanya, rambut nenek waktu itu enak banget! Mungkin karena sudah lama tidak makan, tetapi dulu pun saya tak pernah begitu suka dengan makanan satu itu. Rambut nenek produksi Pasar Minggu Gajahyana entah mengapa manja banget di lidah. Serabut yang tiba-tiba lumer di mulut membanjiri rasa manis ke lidah. Tanpa sadar tangan sudah mencubit berkali-kali rambut nenek itu dan serta merta bendanya abis :(( Nagih!

Harganya Rp 3000 sebungkus (kurang lebih segenggam tangan full). Entahlah itu murah atau mahal untuk ukuran harga rambut nenek, yang jelas saya tak menyesal membelinya. Bang Ical sendiri membeli es jeruk asli. Yak. Asli. Kami lihat sendiri jeruk sebesar kepalan tangan itu diperas. Kunu, karena dia sukanya sempol tapi belum nemu pedagangnya, ia tidak membeli apa-apa.

Tentu tak lengkap kalau perut kami hanya diisi oleh makanan ringan. Mencari makanan mengenyangkan adalah pilihan ideal. Namun, karena waktu itu saya sedang memegang prinsip harus-makan-makanan-yang-nggak-ada-di-Jakarta-atau-saya-nggak-mau-makan-kecuali-disuapin, pencarian kami menjadi panjang. Untungnya ketemu juga satu kuliner menarik yang asing bagi saya: Soto Madura. Yah, saya tak akan membahas panjang lebar tentang soto Madura. Bagi saya, rasanya tak jauh berbeda dengan soto lamongan dan artinya itu enak. Saya suka soto lamongan. Barangkali perbedaan soto Madura dengan soto lamongan ada di parutan kelapa di sot Madura. Hmm gurih-gurih-segaar gitu makannya

Sembari menyantap, kami sesekali mengobrol tentang hidup masing-masing. Bang Ical saat ini tengah mengambil studi S2 nya di Malang. Saya lupa di mana dan jurusannya, tetapi saya ingat jalur studi yang ia pilih mengharuskannya menjadi super produktif. Menghasilkan artikel/jurnal sekian jumlah dalam seminggu misalnya. Keren sekali. Belum lagi kalau memperhitungkan keaktifannya dalam paguyuban mahasiswa daerah yang ia emban.

Dan ya, pastinya ada pembicaraan tentang cinta-cintaan (aseeeekkk). Saya ingat pernah membaca tulisan Bang Ical tentang dirinya yang lebih berniat “meningkatkan kualitas diri” dibandingkan memikirkan perihal menikah. Pada akhirnya, begitu berbicara tentang nikah-nikahan, eh dianya semangat juga. Tentu saja kondisi itu saya manfaatkan untuk ngompor-ngomporin masa lalu cintanya yang pahit. Yes. Pahit. Masa lalu cinta seorang jomblo pasti pahit. Atau sekurang-kurangnya sepet.

Yah, bukan Bang Ical namanya kalau sekali nyicip yang pahit langsung trauma kemudian memutuskan tak akan pernah jatuh cinta lagi. Saya rasa tidak. Dia bahkan pernah ditinggal nikah dan sepertinya fine-fine saja.

Lupakan tentang ia yang “fine-fine saja”. Fakta ia yang ditinggal nikah karena melewatkan kesempatan benar-benar saya manfaatkan demi kesenangan pribadi. Nih tak ulang lagi ya: Sungguh merugi kau bang! Siapa suruh nggak gerak cepat! Bahahahaha. Menyenangkan sekali.

Bang Ical cukup supel. Mudah mengajak dan diajak bicara. Oleh karena itu, jangan pernah ragu untuk mengajaknya bercanda. Saya tak ragu. Saya malah mencoba melewati batas

Sepulang dari pasar minggu itu, kami melanjutkan jalan ke Museum Brawijaya.

Bagi yang belum tahu, itu adalah semacam museum yang khusus mengoleksi benda-benda sejarah yang sifatnya militer. Katakanlah persenjataan api, seragam angkatan, hingga tank. Museum Brawijaya tak terlalu luas. Kami sebentar saja berkeliling di sana. Sambil beristirahat sebentar di bawah tank, Kunu membeli sempol, lalu mengatakan quote yang tak akan saya lupakan: “Mengapa sempol itu enak? Hmm…” diiringi bunyi nyam-nyam-nyam menyelerakan.

Waktu itu siang sudah menjelang saat Kunu menyantap sempol terakhirnya (yang sepertinya ia pengen nambah). Dan apa yang biasanya orang dilakukan saat siang? Makan siang. Yay, makan lagiiii

Untuk makan siang ini, kami berpindah sedikit lebih jauh, ke tempat antah berantah yang memiliki nama MIE AYAM & BAKSO SOLO “PAK DOEL”. Kunu yang menyarankan untuk makan di sini. Sarannya yang lain, rumah makan ala timur tengah Yalla-Yalla, ditolak karena jauh. Kata Kunu sih mie ayam dan bakso punya Pak Doel ini enak. Ia bersama mas patjar sudah langganan.

Ternyata benar. Saya memesan mie ayam bakso dan rasanya memang wenak. Kelembutan mie nya bersatu padu dengan kegurihan kuahnya. Ditambah lagi rasa manis kecap dari ayam yang nagih. Hmmmm

Walaupun menyantap dengan nikmat, di sini saya stres sendiri. Harganya itu lho. Cuma Rp 6.000 untuk seporsi mie ayam! WOW! Porsinya cukup. Lalu temen makan mie ayamnya di sana seperti sate telur, sate usus, dan hidangan lainnya juga murah. Kalau tidak salah yang paling mahal cuma telur rebus kecap yang dibanderol Rp 2.500. Aih. Rasa-rasanya nggak masuk di akal saya. Sekurang-kurangnya di dekat kos saya sini kalau mau makan mie ayam setidaknya megang duit ceban. Saya bisa stres karena iri dengan orang Malang -_-

Ya, kami lanjut ngobrol lagi di sini. Sedikit saja. Tentang Obrolin yang dengan berat hati Bang Ical tinggalkan. Ada beberapa kegiatan lain yang ia emban sehingga ia merasa harus pamit dan tidak kembali dalam waktu dekat. Kalau dipikir lebih jauh, Bang Ical memiliki cukup banyak kegiatan di dunia nyata (blog masuknya dunia khayal kali yak haha). Kita berdoa saja semoga saja tidak lama ya!

IMG-20171204-WA0025.jpg
Hi, ini kami! Yang tengah, yang sok imut garuk kepala itu Bang Ical. Yang kanan, yang mukanya kayak emoticon itu Kunudhani. Saya sendiri tanpa sadar memegang plastik indoapril dan novel Gerimis di Atas Kertas yang realis-menyesakkan-gimana-gitu karya A. S. Rosyid. Ada yang tau siapa A. S. Rosyid? Hehe

Saya sempat scroll ke atas sebentar untuk membaca ulang ketika menulis sampai sini. Ternyata memang mayoritas tulisan ini tentang makanan yak hmm. Begitulah adanya. Mie ayam (dengan harga yang membuat stres) tadi adalah yang terakhir yang kami santap. Setelah itu kami memutuskan untuk pulang. Saya melanjutkan petualangan wisuda, dan mereka… ah lupa. Yang pasti perjumpaan kami waktu itu tidaklah lama. Toh cuma diisi sarapan, sempol (khusus Kunu), dan mie ayam. Tentu ada harapan agar bertemu di lain kesempatan.

Terima kasih ke Bang Ical dan Kunu sudah menyisihkan jadwal kosong untuk makhluk satu ini yang bahkan cuma kenal dari blog. Sudah mau repot-repot nemenin. Sudah membuka pintu untuk menjalin pertemanan. Semoga sukses kuliah dan kehidupannya untuk kalian berdua!

Oh ya, khusus Bang Ical,
KAU SANGAT MERUGI, BANG! BAHAHA

Advertisements

44 thoughts on “Kopdar Bersama Bang Ical alias bangicalmu.wordpress.com

  1. Dulu rambut nenek kayaknya warna asalnya putih Del, kemudian semakin tahun semakin ada variasinya, warnanya (dlm makanan) jd ada yang pink. Wkwkkw. Ini sok tahu aslinya.

    Ih, iya ini jd bahas banyak makanan. Jd kenapa sempol itu enak ya?
    😅

    Liked by 1 person

      1. Dikira apa.. 😀 permainan pasar itu, Del. Biar lebih bisa menggaet pembeli. Hahaha

        Eh, aku juga suka sempol lo. Wkwk. Cilok sama sempol masih favorit sampai detik ini. Tp aku jg ga tahu kenapa sempol itu enak.

        Like

  2. Wahh beruntung bisa kopdar sama bang Ical, si penyuka emoticon “:)”

    Oh jadi kak fadel pernah dikelilingi cabe cabean bandung toh.. Hmm
    Aku menemukan banyak fakta tentang penulis A.S Rosyid di sini, termasuk dia yang suka fotorgrafi juga. Wah wah

    Liked by 1 person

    1. Wkwk bener.. merhatiin banget 😂

      Nggak sengaja jen 😭😭😭
      Waktu itu lagi rame banget soalnya. Tentang A.S. Rosyid, masih banyak yang belum diungkap 🙂

      Like

      1. Entahlah siapa juga yg akan bertanggung jawab nantinya.
        Tapi saya bertekad kalau nanti ke Malang akan memesan 2 porsi mie ayam untuk sendiri, biar harganya sama kayak disini 😐

        Like

  3. Haha….sy ngakak pas baca yg ini, “Ia adalah tipe fotografer yang kalau memotret, posenya bisa lebih heboh daripada objek yang ia foto. Lincah, gesit, mematikan.”

    Rame ya kopdarnya, mas Fadel. Itu kopdarnya dg Kunu jg, tp krn judulnya dg Bang Ical makanya si Kunu disensor? 😀

    Oya, harga mie ayam di Malang kok murah bnget ya, klau disini (Kalteng) di atas 10rb…luar biasa..

    Oya, kyaknya suka jg dirimu Fadel candain bro Ical alias A.S. Rosyid itu, tu kalimat terakhir posnya pas bnget ditaruh di bagian ending, wkwk…

    Liked by 1 person

    1. Barangkali tips ini bisa ditiru: banyakin jelajah readers. Blogwalking. Nah semoga timbul rasa iri dan hasrat lebih kuat untuk segera bikin postingan lagi 👍🏼👍🏼

      Wkwk mkasih feedbacknya audhina 😂🙏🏼

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s