Lumpia Semarang

Bertahun yang lalu, saya bertemu dengan pedagang Lumpia Semarang seperti pada gambar. Lokasinya di depan Gelanggang Remaja Jakarta Timur. Pertemuan itu pun jadi perkenalan pertama saya dengan Lumpia Semarang. Sebenarnya, sebelumnya saya sudah pernah makan Lumpia Semarang. Hanya saja waktu itu Lumpia Semarangnya langsung saya makan tanpa sempat berkenalan.

Oke. Jadi ceritanya waktu itu sedang lelah dan lapar seusai macet-macetan dalam transjakarta (transportasi kita semua…). Kebetulan, pedagang Lumpia Semarang ini adalah pedagang makanan pertama yang terlihat begitu keluar dari halte busway. “Lumpia Semarang? Tapi ini kan Jakarta…” Kurang lebih begitu kata batin mengomentari apa yang dilihat. Berhubung lapar, saya pikir tak ada salahnya untuk mencoba membelinya. Toh bagi saya tidak ada makanan yang tidak enak. Yang ada hanya “enak” dan “enak banget”.

Namun kejadiannya tak seperti yang saya duga. Saya tak jadi membelinya karena alasan paling klasik.

“Bang, berapaan nih bang?”

“Enam ribu dek…”

“Enam ribu untuk satu kotak ya? Isinya berapa?”

“Ya 6000 itu untuk 1 biji lumpia dek”

“Wah… mahal ya pak…” kata saya sambil menjaga ekspresi supaya tidak terlihat terlalu kaget. Sebelumnya wajah si bapak sudah kecewa duluan saat saya tanya enam ribu itu untuk berapa banyak.

“Lumpia Semarang mah harganya memang segitu dek,” kini rasa kecewa si bapak semakin jelas terlihat

“Oh segitu ya pak? Kalau gitu pembicaraan kita ‘segitu’ aja pak. Assalamualaikum…”

Hmm… oke. Dialog terakhir dari saya itu tidak benar-benar saya ucapkan.

Sedih sebenarnya mengakui lumpia 6000 itu mahal. Saya yang waktu itu baru menjadi mahasiswa adalah sepelit-pelitnya mahasiswa. Jangankan ke pedagang lumpia, mau beli ale-ale aja pertimbangannya banyak. Kalau mengingat lagi masa-masa dulu jadi mahasiswa baru, rasanya mau nangis sendiri.

Lalu melangkah ke tahun-tahun berikutnya, saya berkesempatan mengunjungi Semarang, kota asal Lumpia Semarang (ya iyalah). Kalau di seluruh Jakarta saya cuma tahu pedagang Lumpia Semarang di depan Gelanggang Remaja Jaktim, nah di Semarang ini pedagang lumpia seperti bisa ditemukan di mana saja. Sudah menjamur layaknya pedagang gorengan. Memang tak salah kalau ada yang menyebut Semarang sebagai Kota Lumpia/Loen Pia

Keberangkatan waktu itu menuju Semarang diketahui oleh seorang teman di Jakarta. Dan kita semua tahu budaya kita kalau kita kedapatan teman yang jalan-jalan keluar kota. Yap. Budaya nitip. Tentu saja yang ia titip itu Lumpia Semarang.

Karena ada banyak yang jual Lumpia Semarang (mungkin sama dengan banyaknya merk angka Bakpia di Jogja), wajar kalau saya yang pertama kali ke Semarang bingung. Toh saya ingin tahu Lumpia Semarang kelas wahid itu rasanya seperti apa sekalian memberikan yang terbaik bagi teman penitip itu.

Lalu kira-kira penjual mana yang lumpianya direkomendasikan ya? Pertanyaan ini mungkin tak akan terjawab seandainya saya nyasar sendirian di sana. Tetapi tidak. Saya ditemani guide terpercaya, berpengalaman, nan baik hati sebaik ibu peri yang sepertinya paham Semarang luar dalam. Termasuk tentang lumpia. Ahh, beruntungnya waktu itu. Tentang nama si guide tidak bisa saya sebutkan. Ia bisa sombong parah kalau saya sebutkan. Ini saja sudah terlalu banyak saya memujinya. Moga-moga saja orangnya tidak sadar.

Jadi si guide itu menuntun ke Jalan Pandanaran. Suatu tempat yang mau tidak mau mengingatkan saya dengan Jalan Malioboronya Jogja. Di jalan inilah terdapat Lumpia Semarang yang katanya enak banget. Kalau tidak salah lokasi pastinya di dekat Bandeng Juwana (?) Aih lupa. Pokoknya di sekitar situ. Yang jelas ketika masuk saya tertegun melihat Lumpia Semarang yang disusun rapi. Baunya yang khas pun dapat tercium meski dari luar etalasenya

Kemudian tentang harga. Saya cuma tahu harga Lumpia Semarang yang dijual di depan Gelanggang Remaja Jaktim dan itu Rp 6000. Sudah diceritakan bagaimana wajah kaget tertahan waktu itu. Seandainya pola pikir saya tak berubah selama beberapa tahun ini, mungkin saya akan tetap kaget saat melihat harganya. Mungkin saking kagetnya jadi tidak sempat kaget. Tapi itu dulu sih. Setelah menahun menimba pengalaman di ibukota, melihat nominal-nominal besar di menu menjadi hal biasa. Sengak mode: ON

Jadi harga Lumpia Semarang yang kami temukan Rp 12.000 – Rp 15.000 per satunya. Jadi kalau Rp 6000 saja sudah dibilang mahal, berarti yang harganya dua kali lipat ini dibilang mmaahhaall. Lalu muncul pertanyaan mengapa harganya bisa ‘segitu’ untuk sepotong lumpia? Jawaban dari pertanyaan ini saya ketahui setelah memakan sebiji gulungan emas lumpia. Cukup simpel sebenarnya. Karena enak. Cukup. Tak bisa lagi diprotes.

Lumpia Semarang berintikan dasar rebung/bambu muda dan juga bawang-bawangan. Saya baru tahu kalau kedua bahan tadi enak juga dilapisi kulit lumpia. Lalu kedua bahan itu juga ditemani beberapa bahan-bahan lain seperti garam, gula, ayam/bakso/sosis/daging/ikan, telur, tauge, wortel dan mungkin masih banyak varian penambah rasa lainnya. Bayangkan saja semua kegurihan itu bersatu dalam satu kulit lumpia. Manisnya rebung dipadu dengan lemaknya daging dan telur. Belum lagi kalau dimakan dengan saus lumpianya serta cabe rawit. Hmm.. Seandainya Lumpia Semarang ini buatan Amerika Serikat, bisa saja jadi franchise yang menjajah dunia karena kekhasan dan kelezatannya.

Saya ingat saat pertama kali makan Lumpia Semarang (yang sampai lupa berkenalan) yang saat itu dibawa oleh teman Semarang ke kampus. Ia bawa banyak untuk teman seisi kelas. Tentu saja saya langsung suka. Sampai berdoa ada teman yang nggak suka malah, lalu bisa saya minta. Benar saja. Doa saya terkabul. Sepertinya doa orang yang ngiler disejajarkan dengan doa orang yang teraniaya ya. Namun dibalik kebahagiaan kami menikmati Lumpia Semarang, ada impak negatifnya. Nafas kami menjadi bau bawang dan rebung. Baunya itu tuh sampai-sampai kalau mangap dikit aja lalat yang terbang mendekat bisa mabok.

IMG_6895

Enyak, enyak, enyak

Oh ya tentang si bapak yang jualan Lumpia Semarang depan Gelanggang Remaja Jaktim, sampai sekarang beliau masih jualan. Nggak tau pasti jadwal jualannya hari apa dan jam berapa. Yang jelas sepulang dari Semarang saya jadi makin sering membeli. Harganya kini turun jadi Rp 5000 dan ukurannya menyusut sedikit (yang dulu juga lebih kecil daripada yang saya beli di Semarang sih). Mungkin kegeeran, tapi apa gara-gara perkataan saya waktu itu ya si bapak sampai menurunkan harganya. Hmm… maafkan saya pak. Semoga bapak sehat dan untuk semua yang bilang mahal agar ditunjukkan cahaya kebenaran. Amin

Advertisements

51 comments

  1. “Rp 12.0000 – Rp 15.000” itu kemahalan bang, masak 120rb satu biji, hehehe
    kalau harga sebanding dengan kualitas rasa sih, ok aja…
    tapi masak 12000 sih bang? 2000 an aja lah, kantong anak kost an ini… 😀

    Liked by 1 person

  2. Ah pagi2 jadi kepengen makan lumpia semarang kan jadinya. Tp btw mmg lumpia semarang yang sering aku titipin ke adek yg kuliah disana juga harganya rata2 sgitu… Rasanya jgn ditanya.. Enak bgt… 😀

    Liked by 1 person

    1. Iya kak. Saya juga pengen nganga waktu itu haha. Nganga campur ngences…
      Saya nggak kenyang sih kak makan satu aja. Tapi rasa puasnya terbayar kalau udah makan biar setengah aja (y)

      Like

  3. Bentar, aku list dulu bagian mana yang bikin aku ketawa:
    1. Yaudah segitu aja pak percakapan kita
    2. Beli ale-ale aja mikir
    3. Mmaahhaall
    4. Franchise lumpia
    5. Si bapak nurunin harga bisa jadi karena semut hitam
    Sakit nih perut ketawa terus bacanya 😂😂😂

    Aduh, itu siapa sih guidenya kok kayanya baik banget sama cantik banget. Boleh dong dikenalin kak sama orangnya yang mirip ibu peri itu 😌

    Btw emang bener kok kak lumpianya beli di Bandeng Juwana, daya ingat yang luar biasa! 😂

    Liked by 1 person

    1. Alhamdulillah ada yang ngerti tentang yang ‘segitu’ aja dan mmaahhaall itu wkwk. Selera humormu emas za 😂😂😂

      Dari mana kamu bisa tambah keterangan cantik banget itu -_- Tapi kalau mau dikenalin sekarang lagi nggak bisa huhu. Orangnya lagi mengasingkan diri jauh di pedalaman :”) Doain aja dia nggak sering2 bosen dan sehat selalu. Moga anak2 kecil di sana nggak dibikin nangis sama dia juga huhu

      Liked by 1 person

      1. Duh, coba kalau selera humor bisa dijual, kaya raya aku kak 😔
        Ibu peri mana ada yang nggak cantik? Ehem. Yaaah, pasti si cantik itu sekarang lagi kangen rumahnya :’)
        Si cantik kan kuat jadi nggak akan bosen dan nggak akan sakit 😂😂😂

        Liked by 1 person

    1. Bukan mereview kok zah. Cuma menceritakan impresi dengan yang namanya lumpia Semarang pas ketemu Abang pedagang lumpia depan GOR. Yah nggak lengkap rasanya kalau nggak mendeskripsikan dikir rasanya gimana huhu…

      Selama ini cuma tau kalau aslinya ini makanan orang Tiong Hoa. Tapi barusan ngebrowsing gara-gara kamu tanya sejarahnya gimana haha. Sejarahnya karena ada dua pedagang lumpia yang saling jatuh cinta lalu menyatukan kedua resep mereka kan? Romantis banget zah. Mungkin perpaduan budaya masakan Jawa dan Minang akan sama romantisnya *eh

      Liked by 1 person

      1. Jadi gimana… Ketagihankaaan ke semarang? Haha

        Ah kak fadel! Harusnya aku aja yg bercerita di kolom komentar kak fadel… Kali aja kan jadi …. Hehehe
        Yap tp bener kok! Percampuran jawa dan cina yg kemudian melegenda. Ahh..

        Liked by 1 person

    1. Wenakkee suc.. Hmmmm nyam
      Ah iya. Luput dari pengamatanku. Nanti iseng ah olesin Ponds Age Miracle. Siapa tau bakal tambah kenceng kulit lumpianya

      Like

    1. Wah ini komen kedua yang merekomendasikan lumpia Purwokerto. Parahnya baru kali ini aku tau ada lumpia Purwokerto haha

      Sip des. Masuk wishlist Purwokerto. Tapi kayaknya lumpia campur nasi bukan teman yang cocok deh -“

      Like

      1. Haha iyaa Oktin suka rasa apa? Kalau aku lumpia BOM bakso 😅
        He em aku asli Banyumas. Salam kenaal 🙋 *numpang kenalan di lapak orang, mumpung yang punya lapak lg nggak di rumah*

        Liked by 1 person

  4. Pernah nyobain lumpia semarang, emang mahal karena bentuknya guede. Tapi aku gak terlalu sukak sih. Soalnya enakan lumpia bandung. Bedanya apa, jangan ditanya~ icip aja kalau nemu wkk

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s