Masakan Abah

Apakah masih ada yang menganggap  laki-laki yang memasak itu tabu? Kalau mungkin masih ada, perlu diingat. Restoran-restoran di luar sana memiliki tukang masak yang mayoritas laki-laki. Sekarang malah terkesan aneh jika head chef dari satu dapur adalah seorang perempuan. Dalam kehidupan sehari-hari pun kemampuan memasak bagi laki-laki semakin dielu-elukan. Ia juga jadi salah satu nilai jual yang mahal. Terlebih kemampuan memasak ini menjadikan seorang laki-laki jadi lebih bernilai suamiable. Istri mana yang tidak melayang dapat memakan masakan enak dari suaminya?

Istri mana ya hmm… Mungkin salah satu jawabannya adalah istri dari Abah. Aih. Umi saya.

Bukannya mau bilang tak bisa memasak. Abah cuma punya kreativitas yang tak lazim di dapur. Ia jarang memasak, tetapi sekali memasak, satu rumah bisa heboh.

Dari apa yang anaknya tangkap, Umi cenderung tidak senang jika Abah memasak. Alasannya adalah: 1) Dapur jadi berantakan. Sebenarnya hobi Abah nomor satu adalah beres-beres rumah. Tetapi tidak ketika/setelah memasak. Pernah dulu sepulang sekolah, saya kaget karena melihat dapur porak poranda. Panci, wajan, pisau berserakan. Saya kira kucing kami lagi-lagi membawa masuk temannya lalu menggila di dapur. Ternyata bukan. Semua terjelaskan saat saya masuk kamar mandi dan melihat Abah lagi jongkok membersihkan kulit ikan tongkol yang naas.

Entah kenapa waktu itu Umi tidak ada di rumah. Barangkali keabsenan Umi pula yang mendorong Abah berani menguasai dapur sekali lagi. Abah khusyuk sekali mengerik kulit si tongkol sampai-sampai tak sadar anaknya mengintip barusan. Segera saja saya keluar main tanpa izin. Takut Umi keburu pulang duluan. Kalau Umi pulang lalu melihat dapur hancur lebur dan kamar mandi bertransformasi layaknya pasar ikan, kemungkinan besar Umi marah kubra. Setan saja cuma bisa diam kalau lihat Umi marah sughra. Jadi silakan bayangkan sendiri bagaimana marah kubra Umi. Ketika marah itu terjadi, lantas anaknya bisa apa? Keputusan untuk keluar main saat itu pun rasanya tepat sekali

2) Pengeluaran untuk sekali membuat ‘Masakan Abah’ besar. Abah boros. Keborosannya itu ia bawa pula ke dalam urusan masak-memasak. Ia tak segan berpesta pora demi menghasilkan makanan yang ia ingin wujudkan. Seperti nasi goreng misalnya. Nasi goreng buatan Abah harus ada sotong/ikan asin/ikan laut mahal, kecap yang banyak, dan mesti dalam porsi yang besar. Ini yang terkadang membuat Umi cuma bisa ngelus-ngelus dada. Sebenarnya masakan grande Abah dapat dicegah saat momen belanja di pasar. Namun apa daya. Saat berbelanja dengan Umi ke pasar, Abah sepertinya lihai menghilang di tengah keramaian. Lalu ketika muncul, di tangannya sudah terdapat bahan makanan yang sejatinya tidak masuk dalam anggaran belanja rumah tangga. Dan Abah tidak pernah kapok

Terakhir yang saya tahu, Abah jadi lebih suka membuat jus atau es. Ini melegakan. Karena lebih sulit untuk membuat jus/es yang tidak enak,  kecuali memang buahnya yang kurang baik. Tetapi tetap. Kebiasaan untuk membuat makanan semewah mungkin tetap jadi prinsip Abah. Semisal es buah sirsak yang pernah ia buat. Tahu sendirilah di mana posisi sirsak secara harga dibanding buah-buah lainnya. Pun begitu, Abah membuatnya banyak. Untung saja rasanya enak. Mungkin karena saya yang jarang makan sirsak atau karena campuran tape, susu kental manis setengah kaleng, serta keju di dalamnya. Harusnya nggak nyambung sih masukin keju dalam sirsak. Saya juga bingung kenapa bisa suka. Umi sendiri sepertinya cukup senang dengan es sirsak satu itu. Karena selain rasanya, sebelumnya ia sudah mengontrol dari segi pengeluaran. Bagaimana? Caranya lewat susu kental manis dan keju yang digunakan. Untuk barang-barang yang bisa dibeli di mini market seperti itu, Abah-Umi selalu mengandalkan putra satu-satunya sebagai agen pembeli. Dan Umi selalu berpesan kepada saya untuk selalu lebih memilih “Enaaaaaak” daripada Frisian Flag atau Indomilk dan Prochiz daripada Kraft.

3) Tak sebanding. Dengan poin-poin lemah di nomor 1 dan 2, masakan/karya yang dibuat Abah seringkali tak sebanding. Es sirsak itu hanya satu dari sedikit contoh yang berhasil. Lainnya? Duh. Sebelumnya saya mengatakan sulit untuk membuat jus/es yang tidak enak. Nyatanya, Abah ‘berhasil’ membuat es buah yang tidak enak. Seperti es lilin jeruk pontianak yang dibuat dulu. Rasanya mirip paracetamol. Yap.

Awalnya juga tidak percaya saat Filza bilang, “Bang, coba makan es jeruk di kulkas… rasanya mirip obat…” sambil tertawa. Ternyata benar. Pahit seperti obat. Saya langsung terngiang masa suram dulu saat saya menangis dicekoki obat generik yang pahit. Kali ini saya memakan es lilin rasa obat itu dengan menahan tawa. Kenapa bisa es rasa begini dibuat manusia?

Sebenarnya agak tidak adil menyalahkan Abah daripada si buah itu sendiri. Mungkin jeruk pontianaknya saja yang sudah tidak bagus dan kurang percaya diri. Tapi ya mau bagaimana lagi. Cuma Abah yang terpikir untuk membuatnya langsung dalam jumlah banyak tanpa sebelumnya mempertimbangkan apa memang cocok jeruk pontianak itu dijadikan es lilin. Saya yakin Abah kurang (atau mungkin tidak) menaruh gula di dalamnya atau tidak menyingkirkan seluruh biji jeruk saat memblendernya jadi satu. Ah sudahlah. Semua telah terjadi. Saya sempat bingung bagaimana kami menghabiskan semua es lilin dalam freezer itu. Abah sendiri tidak mau makan. Untung saja tak lama kemudian Rama dan Rozy (kedua teman saya) datang ke rumah. Segera saja saya memberi mereka untuk dibawa pulang. Es lilin oranye rasa paracetamol.

Saat masakan Abah gagal, yang bertugas menghabiskan adalah Umi. Ah, kadang juga dibantu saya. Hanya Umi dan saya yang berstatus omnomnivora alias pemakan segala yang bisa makan apa saja. Abah dan adik saya punya kecenderungan sendiri tentang makanan. Oleh karena itu bisa dibayangkan bagaimana dalam hati Umi saat Abah membuat masakan yang tidak enak, lalu Abah sendiri tidak mau makan, dan malah Umi yang menghabiskan. Makanya kalau melihat Umi makan ‘yang begituan’, saya langsung ikut bergabung. Kasihan. Umi sering kena demam karena menghabiskan makanan yang aneh-aneh.

Kini saya sudah amat jarang merasa masakan Abah. Saya bahkan tak begitu tahu apa Abah masih iseng sesekali memasak atau apa masakannya sudah selalu enak menyaingi masakan Umi. Entahlah. Tinggal jauh dari Abah selama setahun membuat saya kangen, bahkan sampai ke masakan anehnya. Mungkin ketika pulang nanti saya akan memintanya untuk memasakkan sesuatu. Nasi goreng, ikan tongkol, es sirsak, es lilin rasa paracetamol, atau apapun itu akan saya makan. Sekalipun jika membuat demam.

Advertisements

43 comments

      1. Soalnya pas baca keinget masakan bapak juga, yang entah kapan terakhir kali dibuat.

        Pulang pulang, lebaran ini pasti pulang kan ya 😂😂😂

        Liked by 1 person

  1. Abah..kebayang deh sosok Abahnya Fadel adalah pribadi yang pantang menyerah. Dilihat dr usahanya memasak berbagai genre makanan 😃 top deh. Sesekali request kolaborasi memasak abah n umi Del pasti hasilnya cetar membahana 😁

    Like

    1. Pantang menyerah dan pede maksimal kayaknya haha…
      Ah iya… lumayan bisa ngeliat keromantisan mereka juga. Kamu pun sesekali request masakan ayah juga ya. Apalagi kalau ingat kita bakal tinggal misah dari orang tua secara permanen

      Like

  2. es lilin rasa paracetamol? 😅

    Tapi seru juga ya sprtinya kl punya suami nnt pinter masak. Soalnya q ga pinter msak. 😁

    Salam buat abahnya mas Fadel. Abahnya keren! 🙌🙌🙌

    Like

    1. Ayo belajar bareng mbak! Saya pun walaupun malas, ada keinginan memiliki kemampuan2 dasar memasak. Sampai sekarang masih standar banget skillnya haha. Kalau kita bisa menyenangkan suami/istri karena masakan, sepertinya pahalanya bakal besar hehe

      Liked by 1 person

    1. Nah ini… sama banget sama Abah haha. Saya pun sama malasnya kalau bersih-bersih dapur setelah masak. Apa semua laki-laki seperti itu yah? Haha

      Like

  3. Aku ketawa bacanya, jadi pengin nyicip masakannya Abah 😂😂😂
    Kapan lagi bisa minum es lilin sambil bisa ngerasain obat? 😂
    Aih, beda sama Abahku yang nggak suka masak, sekalinya gorengin telor ceplok, gosong dan keasinan :’)
    Semoga bisa segera merasakan masakannya Abah lagi ya kak! Lekaslah pulang kampuang, Filza dan dua adik yang lain merindukanmu 😇

    Liked by 1 person

    1. Sampai sekarang aku masih ketawa kalau ingat lagi rasa es lilin itu wkwk. Kok bisa buat pahit begitu ya 😂

      Coba deh minta Abahmu masakin makanan. Telor ceplok, telor ceplok deh. Barangkali bisa membuat beliau senang karena anaknya pengen makan. Risiko tanggung sendiri tapi yak 😂😂

      Siap boss! Filza dan dua putri lainnya, entah menunggu entah tidak, aku akan mengejutkan mereka!

      Liked by 1 person

      1. Baru kali ini aku baca cerita ada es lilin rasanya pahit 😂
        Yak, nggak akan mau lagi Abah masak habis aku ejek habis-habisan setelah ceplokin telur goreng gosong keasinan itu. Abahku seketika baper dan mogok masak 😂
        Pasti menunggu, pasti kalau kakak sulungnya baik wkwkwk 😂

        Liked by 1 person

      2. Parah sekali kamu nakk 😂😂😂
        Apa teman dan adikmu nggak cukup kamu sakitin atinya?? Wkwk

        Btw selamat yaw. Kamu berhasil kembali lagi ke dalam komunitas wp *YAY*

        Liked by 1 person

  4. Haha lucu Bang. Abahnya gokil 😀

    Boleh nih duet sama Bapak saya masak dan jadi master chief. (Bapak saya juga suka masak, meski prosesnya ‘seabsurd’ yang artikel ini katakan 😅)

    Like

  5. Kenapa susunya harus cap ‘Enaaak’? Aku penisirin.. 😂

    Kangen ya mas Fadel. Iya. Hal-hal keseharian yang kadang dianggap, duh, apa lagi sih.. emang bikin kangen. 😂
    Tapi kalau suami bisa masak. Aku bakalan melayang-layang beneran deh. Eh. Jangan ding. Kebawa angin dan suka main tarik ulur.. Gak mauu..

    Liked by 1 person

    1. Karena sudah ada jaminan mutu yang tersemat dalam merknya 😂😂😂

      Tapi kan perasaan tarik ulur itu mengasyikkan suc… Biar bisa meliuk-liuk ke sana kemari alias tak monoton huhu

      Liked by 1 person

  6. Wah, terbalik berarti ya.. Abi ane jago banget masak.. Nasi goreng dan mie goreng Abi ane itu paling laris serumah.. Mie buatan Abi gak pernah pakai mecin sama sekali (Abi ane anti mecin), cuma pakai bumbu biasa (garam, gula, kecap) ditambah potongan lauk pauk dan sayuran, tapi rasanya bisa lebih enak dari mie yang pakai bumbu asli dari dalam bungkusnya..

    Sepakat, kebanyakan koki itu laki-laki, gak perlu tengok restoran, tukang pecel dan nasi goreng di pinggir jalan juga kebanyakan laki-laki, haha.. Termasuk mahasiswa tata boga, didominasi oleh laki-laki..

    #sayajugalakilaki #tapisayagakbisamasak #haha

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s