Orang Pintar vs Orang Bejo

Laki-laki kelas kami selalu punya hal-hal konyol untuk diperdebatkan. Mulai dari tema legendaris (namun juga sangat unfadeah) seperti lebih dulu ayam atau telur sampai bumi itu bulat atau datar. Setiap perdebatan itu terjadi, keadaan kelas menjadi heboh. Heboh sampai-sampai setiap telinga mendengar apa yang mereka perdebatkan. Namun aku kira tak ada yang lebih menghebohkan selain perdebatan episode “apakah sebenarnya wanita bisa kentut?” Aku lupa bagaimana kesimpulan akhirnya. Yang jelas para wanita di kelas langsung segera keluar saat perdebatan menjadi semakin intens

Episode perdebatan terakhir mengambil tema “lebih sukses mana, orang pinter atau orang bejo?” Sama seperti perdebatan-perdebatan sebelumnya, perdebatan ini memakan waktu lama. Dan ya, tetap kaya akan unfaedahness

Kubu “Orang Pintar” yang menyerang duluan. Mereka membentuk fondasi pendapat mereka dengan menyatakan menjadi Orang Pintar adalah pilihan pintar dan hanya Orang Pintarlah yang dapat memilih pilihan yang pintar. Mereka juga menambahkan kalau menjadi pintar adalah dambaan tiap orang, bahkan yang sedari awal sudah pintar sekalipun. Karena pintar akan membuka pintu kesempatan kepada orang-orang yang ingin meraih kesuksesan

Sejatinya sangat sulit mengikuti opini kubu “Orang Pintar” karena juru bicara mereka, Dimsum (akronim dari Dimas Mesum), punya gaya bicara yang berbelit-belit seakan tidak bermakna. Kita hanya dapat mendengar kata “pintar” yang diulang-ulang di tiap kalimatnya. Aku rasa rekan-rekan Dimsum pun tak mengerti sepatah kalimat pun dari mulut Dimsum. Namun mereka pintar. Mereka memasang ekspresi pintar mereka untuk terlihat lebih pintar dalam mencerna kalimat-kalimat pintar juru bicara mereka. Sambil menyilangkan tangan, mata mereka pun merendahkan orang-orang Bejo di kubu lawan. Di akhir pernyataannya, Dimsum berkata “Kepintaran yang pintar. Begitulah. Mohon maaf kalau sulit dicerna. Saya tidak bisa membuat kalimat yang lebih sederhana lagi…”

Orang Pintar pun bersorak. Dimsum mendapat banyak tepuk tangan dan tos-tosan dari kaumnya. Tatapan mesum yang sebelumnya ia pasang default seketika berubah menjadi tatapan pintar.

Namun sorak sorai Orang Pintar sama sekali tak menciutkan nyali Jabot, juru bicara “Orang Bejo”. Ekspresinya tetap terlihat tenang. Ia yakin keberuntungan akan tetap memihaknya. Orang Bejo siap melancarkan serangan balasan

Ia memulai dengan perkataan, “Hidup ini bagaikan segelas Ale-ale. Yang bisa kita lakukan cuma berusaha ‘menggosok’ dan terpaksa menggosok lagi kalau yang kita dapat adalah ‘coba lagi’. Lalu pertanyaannya, apakah kita benar-benar mau coba lagi setelah mendapat ‘coba lagi’? Anda tidak perlu menjawab pertanyaan ini jika Anda termasuk Orang Bejo. Karena Orang Bejo, tidak pernah mendapat ‘coba lagi’ dari segelas Ale-ale.”

Jabot berhasil membalas arogansi Dimsum dengan kepongahan versinya. Ia pun melanjutkan dengan menyatakan kalau unsur bejo memainkan peran penting di segala aspek kehidupan. Mulai dari hal yang paling menentukan seperti nasib dan jalan karier, hingga ke hal remeh temeh seperti apakah PR hari ini dikumpul atau tidak sedang kita tidak mengerjakannya. Entah sekuat apa daya upaya kita melakukan sesuatu, ada faktor X yang akhirnya menentukan keberhasilan itu. Faktor X itu adalah bejo.

Kebejoan juga berlaku pada orang pintar. Mungkin orang pintar pandai membuka kesempatan, tetapi orang bejo sering dibukakan kesempatan. Dan Orang Bejo tidak pernah menyiakan kesempatan yang telah disuguhkan. Oleh karena itu orang bejo dapat melaju lebih jauh. Fakta demi fakta (yang rasanya dibuat-buat) terus diceritakan Jabot sebagai amunisi penyerangan kubu Orang Bejo. Ke semuanya menyiratkan adanya faktor keberuntungan yang ikut andil. Sesekali Jabot juga meminta si Anu atau si Anu 2 untuk menceritakan kisahnya, yang tentu saja berisi keberuntungan-keberuntungan tak masuk akal. “Untung tiba-tiba si Anu datang. Kalau tidak, mungkin aku sudah ditipu habis-habisan sama pedagang tahu bulat itu. Awalnya aku sudah curiga kenapa bentuk tahunya agak oval…”, pungkas Anu 3 yang main bicara saja tanpa dipersilakan.

Perdebatan pun semakin panas seiring volume suara mereka yang meninggi. Dimsum menyatakan perumpamaan hidup dan Ale-ale yang diberikan Jabot tidak relevan lagi karena Ale-ale sudah tidak memberikan hadiah. Ale-ale kini sama saja dengan Mountea, Teh Rio, juga pendatang baru Gratinda yang tidak memberikan rasa deg-degan ketika menggosok bagian atas gelasnya. Jabot di lain sisi mengatakan kalau semua yang dikatakan Dimsum omong kosong, bukan karena Jabot tidak mengerti. Ia juga mengatakan kalau menggunakan kata pintar di setiap kalimat yang ia anggap pintar sama sekali tidak dapat disebut kepintaran yang pintar. Kedua kubu pun berdebat di luar kendali.

Biasanya aku condong ke salah satu kubu apabila laki-laki kelas kami ini mulai berdebat konyol. Tetapi kali ini tidak. Topik Orang Pintar vs Orang Bejo ini terlalu sia-sia bagiku. Bukan tema-tema sebelumnya lebih bermanfaat, hanya saja menurutku Orang Pintar dan Orang Bejo sama saja. Sama-sama gampang masuk angin. Mereka hanya meminum dua obat herbal yang berbeda.

Advertisements

40 comments

  1. Endingnya ngiklan banget dah…
    Kalau bang fadel?
    Minum yang mana saat masuk angin?
    Kalau aku sih, cukup belaian istri aja, kentut keluar dengan sendirinya gegara hati yang terhangatkan. xP

    Liked by 1 person

    1. 😂😂😂
      Sama sekali nggak niat ngiklan bang wkwk. Gambar saya tambah supaya orang pada ngerti aja sih maksud sama2 gampang masuk angin itu gimana. Tapi setelah jadi, emang rasanya seperti saya mencoba menjual 2 jenis produk yak 😂

      Liked by 1 person

  2. Yasalam ada ya kelas model begini 😂
    Sekolah tinggi memang beda 😂 selalu punya caranya sendiri untuk melepas tekanan dan siksaan batin yang meraung-raung 😂

    Nama temennya juga unik-unik 😂
    Kenapa… Endingnya… Lucu sih…
    😂😂😂😂😂😂😂😂😂
    Recehman awards tahun 2017 jatuh ke tangan semut hitam 😂

    Liked by 2 people

    1. ((Meraung-raung)) 😂😂
      Kamu masuk ke dalam pola pikir kami spertinya za haha. Yah sebenarnya nggak tertekan bangetlah. Dikit2 aja kok awalnya… Awalnya…

      Yay. Menang awards 😂
      Moga tahun depan bisa tetep receh *nangis bombay* *nggak tau harus seneng apa sedih apa nyampur* 😂😂

      Liked by 2 people

      1. Ceritakan kak, ceritakaaaan!
        Lepaskan segala sesak di dada, penat di otak, lepaskan seperti engkau sedang berflatulensi 😂
        Tolong tetap konsisten ya biar awardnya tidak berpaling ke lain hati 😂😂😂

        Like

  3. coba dong kak ditanyain resepnya jadi orang bejo apa wkwkwk
    edisi serius : setau aku kak, nggak ada tuh yang namanya istilah bejo. Semua keeberuntungan pasti karena ada usaha dan doa, entah seberapa pun porsinya wqwq.

    Liked by 1 person

    1. Wkwk.. Minum banyak obat masuk angin mungkin 😂😂

      Balasan edisi serius: setuju zah. Setelag ikhtiar dan tawakkal, yang ada tinggal nunggu restu Allah. Bukan bejo huhu

      Liked by 1 person

      1. yoiii.. kan ada pernyataan tak resmi yang mengatakan bahwa orang pintar akan dikalahkan orang nekad, orang nekad akan dikalahkan oleh orang gila, orang gila akan dikalahkan oleh orang bejo. Jika bejo dan pintar bersatu dalam diri seseorang maka tak ada wanita yang tak dapat ditaklukkan. halah.., termasuk Raissa.

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s