Lagi, Tentang STIS Mengajar

Hi. Awal bulan ini saya bercerita sedikit tentang STIS Mengajar, tempat saya berbagi ilmu dan kebahagiaan kepada anak-anak di sekitar kampus saya. Seru juga menulis yang itu. Benar dugaan saya, ternyata satu tulisan saja tidak cukup hmm.

Bagi yang sampai kalimat ini masih bingung apa yang saya maksud, tak mengapa. Itu cuma sedikit racauan saya tentang satu komunitas mengajar kampus yang sifatnya serupa dengan bakti sosial, yaitu berfokus mengajari anak-anak di bidang akademik dan non-akademik. Namanya STIS Mengajar. Meskipun namanya begitu, sayalah yang merasa lebih banyak diajarkan anak-anak itu. Tentang mengatasi anak-anak (yak, mengatasi… udah kayak ketombe aja), menghargai kepolosan dan kejujuran, serta sedikit-sedikit mempersiapkan diri menjadi ayah-ibu yang baik. Aih, malunya mengatakan itu…

Sepanjang yang bisa saya ingat, kehidupan saya sebagai anak-anak tergolong biasa saja. Kerjanya cuma main keluar sepanjang hari, membuat anak orang menangis, dan memanen buah kersen (saya bilangnya ceri). Abah dan Umi pun cenderung membiarkan anak-anaknya bebas bermain, membuat kami dapat merayakan masa-masa keemasan kami sebagai anak-anak. Kebijakan orang tua seperti itu adalah sesuatu yang patut saya syukuri karena saya sadar tidak semua anak diberikan kesempatan seperti saya dulu. Saya rasa walaupun dilepas begitu saja, diam-diam tiap orang tua tetap mengawas anaknya dengan rahasia

Yah, kebanyakan anak di STIS Mengajar juga sama seperti saya dulu. Masing-masing menjalankan tugasnya sebagai anak-anak, yaitu untuk bermain. Namun beberapa dari mereka punya latar belakang ala drama yang membuat saya menggumam,”ternyata yang begitu beneran ada ya.” Amat berbeda dengan latar belakang saya dulu yang kalau dijadikan sinetron, setengah season aja nggak akan bertahan saking datarnya

Jadi mengapa saya bilang ala-ala drama? Sebenarnya berlebihan juga mengatakan seperti itu. Saya hanya terkesima dengan hidup beberapa anak di sini. Mungkin yang pertama saya ceritakan adalah ini… Silvi dan Dita

IMG_4709

Ini dia Silvi dan Dita. Yang giginya keliatan ompong namanya Sylivi. Yang sipit, cemberut, udelnya keliatan lebar, namanya Dita. Yang bulet-bulet, anget, bermandikan kuah kacang, namanya siomay

Silvi (11) dan Dita (1,5) adalah kakak dan adik. Mereka adalah salah satu anggota rutin STIS Mengajar. Keduanya rajin datang tiap minggunya. Ketika pertama kali bertemu Silvi, saya sama sekali tak heran. Silvi serupa dengan anak-anak lainnya, yang juga datang membawa bukunya untuk belajar. Yang membuat ia ‘sedikit’ berbeda dengan yang lain adalah ia begitu mempersiapkan diri. Di dalam tasnya ada berbagai macam benda. Sebut saja kotak pensil, buku LKS, buku tulis, buku cetak, dan juga botol susu. Yap. Benda terakhir itu memang membuat bingung.

Materi hari itu mengenai jaring-jaring bangun datar, sesuai untuk Silvi yang kelas 5. Lalu pada saat kami sedang membangun sebuah kubus dari kertas, datanglah seorang bayi (apakah sudah cukup umur untuk dipanggil “seorang”?) ke arah Silvi. Bayi itu Dita. Dita dengan cuek duduk di samping Silvi yang kemudian dengan sigap bertanya, “Mau susu?” Dita mengangguk mantap, mengambil botol susu itu dengan sukarela, lalu mengenyot dengan kekuatan supernya.

Sebenarnya melihat Silvi membawa perlengkapan yang begitu lengkap saja sudah membuat kagum karena itu menunjukkan niatnya untuk belajar. Seperti membawa buku cetak misalnya. Anak-anak lain tidak membawa perlengkapan selengkap itu. Dan Silvi kita satu ini membawa “perlengkapan tambahan” selain alat tulis dan buku-bukunya. Ia juga membawa bayi, lengkap dengan botol susu dan pampers. Oleh karena itu, wajar bagi saya ketika pertama kali datang ke STIS Mengajar dan melihat Dita, muncul pertanyaan, “Apa ini posyandu?”

Jawabannya tentu saja bukan. Ini tetaplah STIS Mengajar. Silvi membawa Dita karena dia kakaknya. Sesimpel itu. Kedua orang tuanya bekerja meskipun di hari minggu dan artinya hanya ada Silvi dan Dita di rumah. Jadi ke mana Silvi pergi, di situ juga ada Dita dan botol susunya. Tak terkecuali saat Silvi pergi ke STIS Mengajar.

Kedua orangtua Silvi dan Dita adalah seorang buruh. Ibu buruh cuci, ayah buruh bangunan. Ibu mereka mendatangi rumah ke rumah sambil mengerjakan cucian dari kering, basah dan licin, hingga kering lagi. Ayah di lain sisi membangun rumah ke rumah, tergantung proyek mana yang membutuhkan bantuannya. Dari kedua pekerjaan itu, orang tua Silvi dan Dita tidak mengenal hari libur khusus. Mereka tetap bekerja saat angka di kalender berwarna merah.

Otomatis Silvi harus senantiasa ada untuk Dita ketika orang tuanya bekerja. Di hari sekolah, Dita dititipkan di penitipan anak dari pagi. Siangnya ia akan diambil Silvi ketika Silvi pulang nanti. Silvi kemudian bertugas menyiapkan makanan (dan susu juga tentunya) untuk Dita hingga salah satu orang tuanya pulang sore hari. Hari libur? Jadwal mengasuh Silvi jadi lebih panjang. Namun itu tidak serta merta mengambil seluruh waktu Silvi. Ia masih dapat pergi bermain, dengan catatan Dita juga harus dibawa.  Maka dari itu ia selalu membawa tas berisi perlengkapannya dan sepeda ala-ala Family

Ah.. membayangkan Silvi yang masih berumur segitu untuk mengemban tanggung jawab begitu membuat saya takjub. Kontras sekali dengan masa kecil saya yang semua serba mudah. Biarpun memiliki 3 orang adik, saya tak pernah mengasuh adik layaknya Silvi, yang secara total mengakomodir kebutuhan adiknya. Seketika bocah kelas 5 SD ini terlihat menjadi jauh lebih dewasa di mata saya.

Oh ya, mengenai Dita yang berumur 1,5 tahun, ia sangat menggemaskan. Dia juga jauh dari tipikal bayi yang sering menangis dan berceloteh. Hanya saja pecicilannya itu yang tidak tahan. Sebentar di sini, sebentar di sana. Saat ini naik pelosotan, tak lama kemudian sudah di ayunan. Semua ia lakukan sendiri dengan kaki bayinya yang empuk. Dita ternyata juga anak yang mandiri huhu.

Barangkali hidup saya yang terlalu tenteram, namun saya jarang menemui kasus seperti Silvi dan Dita yang sudah mandiri ketika tidak bersama orang tua. Atau mungkin juga karena keadaan yang seperti itu, Silvi dan Dita menjadi lebih mandiri. Yang pasti saya mendoakan agar mereka selalu sehat dan bahagia

Selain Silvi dan Dita, kita juga punya Noel, sang biang keladi. Dia tergabung ke dalam kelompok anak NAKAL-NAUDZUBILLAHMINDZAALIK. Bahkan di kelompok yang isinya anak-anak bandel tiada obat, masih ada yang paling nakal. Dialah makhluknya. Ciri-cirinya tinggi, berkulit gelap, berkuping lebar, suka berteriak, dan larinya paling cepat. Oh ya, ia juga mengidap HIV/AIDS. Yap.

WhatsApp Image 2017-01-22 at 16.55.54

Ini dia Noel. Di tulisan yang lalu ia dideskripsikan sebagai petinggi anak-anak nakal dan memang benar ia nakal. Selain nakal, ia juga mengidap HIV/AIDS

Noel baru kelas 5 SD. Virus HIV yang ada di tubuhnya sudah ada sejak ia lahir. Cerita bagaimana ia mendapat virus sendiri cukup menarik. Noel mewarisi HIV dari ibunya yang mewarisi virus itu dari ayah Noel. Artinya, pada mulanya ibunya tidak memiliki virus ini. Baru setelah menikah ia mendapatkannya. Tidak diketahui apa si ibu menikah dengan si ayah sebelum/setelah positif HIV.

Tak lama kemudian si ibu positif hamil. Namun, ia juga positif HIV. Oleh karena itu si ibu diberi pilihan oleh dokter, apakah ia ingin menggugurkan atau tetap melahirkan bayinya. Pilihan ini diberikan karena runtutan penyebaran HIV sudah jelas, yaitu ikut diturunkan bersama gen. Anak dari ayah/ibu penderita HIV hampir pasti menjadi penderita juga. Si ibu memilih ingin tetap memberikan calon anaknya kesempatan hidup. Maka lahirlah Noel. Dan seperti yang diduga, virus HIV juga ada dalam darahnya.

Si ibu lalu meninggal karena penyakitnya. Saya tak tahu bagaimana nasib ayahnya, namun yang pasti ia tak lagi tinggal bersama Noel. Mungkin juga sudah meninggal. Saya kurang pasti. Yang jelas statusnya Noel sekarang sama dengan yatim piatu. Ia diasuh oleh nenek/tetangganya.

Dengan latar belakang seperti itu, Noel kemudian tumbuh besar. Sekarang ini ia sehat. Terbukti dari seringnya ia tertawa mengucap kata kasar dan dapat berlari sekencang angin. Tetapi tentu kita tahu bagaimana cara HIV/AIDS bekerja. Sepuluh atau lima belas tahun lagi tidak ada yang tahu bagaimana kondisi tubuhnya.

Hebatnya bagi kami, kami baru diberi tahu kalau Noel menderita HIV/AIDS baru-baru ini, ketika sudah lebih dari 3 bulan mengajar. Sama sekali tak ada dugaan anak-anak di STIS Mengajar ada yang mengidap HIV/AIDS. Tentu saya tahu kalau penularan HIV terjadi apabila cairan tubuh (ludah, darah, dan lainnya) sang penderita masuk ke dalam tubuh kita dan dapat juga via peralatan medis non steril. Sama sekali tak akan tertular lewat berjabat tangan atau udara. Namun tetap ada perasaan khawatir. Apalagi mengingat kami sudah saling berinteraksi selama tiga bulan terakhir dan baru sekarang mengetahui informasi ini. Mau tidak mau kita jadi memikirkan interaksi apa saja yang kita lakukan beberapa bulan ke belakang. Pemberitahuan ini dilakukan di rapat internal kami sesudah mengajar. Dari wajah-wajah yang hadir, saya rasa tak ada yang memiliki raut sekhawatir Yunita, yang sudah tiga tahun kenal Noel sejak 3 tahun yang lalu. Saya hanya dapat tertawa melihatnya. Hahaha.

Saya tak lagi tahu bagaimana perkembangan medis saat ini, apa obat untuk HIV/AIDS sudah ditemukan atau belum. Berdoa saja Noel dapat menikmati hidup ini semaksimal mungkin. Mempersiapkan untuk kehidupan setelah ini juga jadi opsi yang paling baik

Nah. Dalam tulisan ini setidaknya saya kembali menyatakan rasa syukur saya mengikuti STIS Mengajar. Banyak pengalaman hidup saya dapatkan yang mungkin tak akan saya dapatkan di tempat lain. Saya harap apa yang kami lakukan terus berguna

Advertisements

22 comments

  1. Luar biasa!!!!
    Semoga Tuhan YME memberkati terus STIS Mengajar dan menjadi salah satu tempat yang memberikan harapan dan pilihan yang menyenangkan buat anak2 yang sering kali kita “kasihani”… Luar biasa kerja kalian!

    Liked by 1 person

  2. Beneran? Klo masih kecil berarti bwaan ortunya kn? Kasian banget ya, semoga dia ditangani dengan baik agar masa depannya cerah setidaknya dia bisa memenuhi impiannya.🙏
    Semangat untuk pak guru dan bu guru STIS mengajar 😃

    Liked by 1 person

  3. Sepertinya ceritanya nanggung, apakah kepotong kak?
    Padahal panjang tapi nggak berasa bacanya (yah dipuji lagi kan ini)
    Noel, daku ingin bertemu denganmu. Titip salam untuk Noel ya kak, bilang dari teman blog yang cantik jelita 😆

    Liked by 1 person

    1. Nggak kok. Itu dah selesai. Aku juga ngerasa ada yang kurang tapi nggak tau apa 😂

      Masalah jemawa udah jelas sih ya, tapi kalau ternyata kamu anarsis aku baru tau 😂👍🏼

      Disampein deh.. Dengan syarat pesannya kuubah dikit ya.. Bagian ujungnyaa aja

      Liked by 1 person

      1. Harusnya ada kata-kata mutiara biar self brandingnya lebih berasa 😂
        Ahahahaha itu nggak narsis kak, tapi realistis #eh
        Yaaah, mengubah pesan itu mengubah isinya lho kak 😢

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s