Gunung dan Sawah dan Sedikit Tambahan Burung-burung

Entah siapa yang memulai tradisi menggambar pemandangan alam pegunungan di kalangan anak SD. Saya yakin hampir semua dari kita pernah melakukannya di pelajaran KTK dulu. Melukis gunung, apakah itu satu, dua, atau banyak puncak, lalu di tanahnya dipenuhi sawah yang luas bagaikan karpet hijau menutupi tanah. Hebatnya lagi, setidaknya 90% anak di kelas saya menggambar tema legendaris ini. Termasuk saya tentu saja. Padahal di tempat saya tinggal (atau lebih tepatnya pulau) tidak ada gunung atau sawah sama sekali. Gunung terlalu berat dan padi terlalu sombong untuk tumbuh di tanah gersang pulau kami

Alasan kami bisa menggambar seperti itu tentu saja karena peran guru seni dan orang tua. Ada pengajaran dari mereka yang kurang lebih menitahkan kalau menggambar itu adalah menggambar gunung. Contoh-contoh gambar yang diberikan menyangkut gunung, lengkap dengan matahari yang menyembul keluar di celah antar dua gunung. Saya yang tidak ingin sama dengan 90% golongan di kelas hanya mampu menambah aksen burung2 yang terbang mencari makan di atas gunung2 itu. Yah, pada akhirnya tema gunung juga yang saya gambar. Lambat laun ketidakkreatifan (kosakata apa ini -_-) ini dapat menumbuhkan perasaan takut menjadi berbeda.

Rasanya konyol kalau berusaha mencari tahu siapa orang pertama yang mencetuskan ide ini. Namun saya rasa saya tahu apa alasan gunung dan sawah ia jadikan tema andalan pelajaran menggambarnya. Mungkin. Namanya juga ‘saya rasa’

Permadani hijau dan gunung yang angkuh menjulang begitu memanjakan mata. Mata biasanya lelah jika terlalu lama fokus ke satu titik, namun ke arah pemandangan itu? Seakan tersiram cahaya dan air dingin bersamaan. Sangat memanjakan. Sejauh apapun mata menerawang, hanya hijau yang membalas, memberikan kesegaran tak berbatas. Lalu langit biru yang sebenarnya sama indahnya sama sekali tak sungkan bersatu kontras dengan tinggi gunung dan hijau sawah. Sama halnya dengan orang-orangan sawah yang walaupun diam, keberadaannya tak bisa dinafikan. Ia patuh melambai-lambai mengikuti angin. Bersama udara yang sejuk dan bersih, pikiran kita semakin dilenakan pemandangan. Betul-betul asri. Barangkali beginilah fitrah manusia, yang merasa tenang ketika kembali ke habitat asalnya, alam hijau.

Dengan padi-padi gemuk siap panen itu, rasanya ingin berguling-guling di sana. Koprol dan salto juga kalau mampu. Pasti rasanya empuk, atau mungkin gatal-gatal sedikit karena ada jangkriknya. Tapi tak mengapalah. Padi-padi hijau itu pun layak diselami. Bagaikan lautan hijau yang lembut, namun bisa jadi penuh hama. Lalu padi-padi itu, ingin sekali rasanya menyeruput seluruh bulir-bulirnya yang lucu, merasakan gemertak beras dan gigi sambil tersenyum mengarah langiit… Hmm.. sudah terlalu jauh sepertinya… Entah apa yang ditulis di sini…. Mohon maaf

Intinya, gunung dan sawahΒ dan sedikit tambahan burung-burung, adalah gambar pemandangan yang menawan. Sekalipun bosan dijadikan tema gambar, pemandangan itu begitu menggodaΒ seakan memohon untuk dijadikan model.

Advertisements

28 comments

  1. Aku dengan bangga mau bilang klo “aku gmbar gunungnya beda orang-orang kebanyakan” ntr klo aku plg aku fotoin gmbaranku yg aku pjang d dinding rumah saking bangganya beda sendiri πŸ˜‚ ini emang sombong kok πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

    Liked by 1 person

  2. Karena kita agraris. Nenek moyang besar di alam dan filosofi keindahannya tertanam di benak generasi setelahnya (meski sekarang indah cuma formalitas)

    Btw, saya juga gambar model gunung yang begitu waktu kecil. Kayaknya udah jadi semacam grand formula deh 😁

    Liked by 1 person

  3. Waktu SD kalau gambar pemandangan saya sering jiplak pemandangan yg disajikan Gn. Lawu yang ada di sebelah Barat Daya SD, tampak dr depan sekolahan persis. Ya memang yang tampak gunung, berhektar2 sawah yang luas dan hijau, burung2, kecuali sungai kecil dan rumah yg sering saya tambahkan digambar.. kalau itu imajinasi tambahan. 😁

    Liked by 1 person

    1. Waah.. Sudah terbayang asrinya tempat tinggal ka ikha. Sepanjang hidup saya tinggal di tempat yang gersang nan panas haha. Tempat tinggal seperti ka ikha bisa jadi menjadi dambaan orang2 seperti saya πŸ˜„

      Liked by 1 person

      1. Ehmm.. asri Mas. Masih “ndeso banget” hahaha. Kalau mau gulung2 di padi yang menguning ada juga. Luas. Mau gulung2 sepuasnya bisa. Kalau mau jalan2 di kebun tebu ada juga, tapi agak panas juga ga sesejuk di lereng Lawu nya. 😊
        Sepertinya begitu, Mas Fadel akan suka tempat semacam itu. 😁

        Ah, kapan2 saya tak bikin post kampung saya, insyaAllah.

        Liked by 1 person

  4. Jadi mengenang masa-masa ingusan dulu, tapi sepertinya anak-anak masa sekarang nggak pernah menggambar gunung model begitu lagi kak, rupanya sudah lebih kreatif dibandingkan kita dulu πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s