STIS Mengajar

Oh April. Satu bulan tercinta. Bersama cuacanya yang pancaroba, bersama Hari Kartininya yang walau tidak libur tetap membekas bergelora. Yah, biar sudah telat, selamat datang april. Yay

Jadi bakal ada cerita sedikit tentang saya di sini. Sejak akhir tahun lalu, saya tergabung ke dalam komunitas mengajar sukarela STIS, yang berfokus melakukan pengajaran dan bimbingan akademik-non akademik ke anak-anak yang tinggal di sekitar kampus. Bayangkanlah kami sama dengan gerakan Indonesia Mengajar cetusan Anies Baswedan. Hanya saja ruang lingkup kami jauh-jauh lebih kecil, yaitu hanya menyentuh tingkat RW di satu keping Jakarta. Kegiatannya pun kurang lebih sama. Kami membantu menyediakan bimbingan akademik juga non-akademik yang diselingi dengan permainan dan lagu memabukkan bagi anak-anak.

STIS Mengajar (begitu namanya…) sudah ada sejak 2014. Cukup lama menurut saya. Biar begitu, baru ketika menjadi mahasiswa tingkat akhir saya memutuskan bergabung. Satu dari sedikit hal yang saya sesali selama kuliah. Sebelum ini sebenarnya saya sempat beberapa kali mengisi jadi pengajar sukarela, berbeda dengan status yang sekarang yaitu pengajar tetap. Dan ternyata, ada perbedaan mendasar antara pengajar sukarela dan tetap. Apa itu? Tentu saja banyaknya jadwal mengajar. Pengajar sukarela mungkin hanya dapat sekali-dua kali mengajar dalam satu semester (asumsi tidak main nyelonong) sedangkan pengajar tetap bisa setiap minggu kalau mau. Banyaknya jumlah mengajar ini sangat signifikan dampaknya bagi pengajar dan anak-anak karena dengan semakin sering mengajar otomatis anak-anak semakin dekat dan akrab dengan si pengajar.

Awalnya ketika mencoba menjadi pengajar sukarela dulu, niatnya cuma ingin menambah pengalaman dengan bermain-main menjadi guru TK jadi-jadian, sambilΒ mencoba mencipta persona kakak yang berwajah sangar namun berhati Hello Kitty. Ternyata bercengkerama dengan anak-anak itu asyik sekali.Β Misalnya ketika berinteraksi dengan kepolosan mereka yang bisa senang luar biasa ketika diberi chocolatos 500an. Atau bagaimana mereka bisa lupa waktu ketika sudah berhadapan dengan HVS dan sekotak pensil warna juga crayon. Entah mengapa suka saja melihat anak kecil yang seperti itu. Mungkin alasannya karena saya sendiri tidak sadar kalau dalam diri ini mengalir naluri keayahan yang amat kuat

Tentu saja anak-anak yang diajar STIS Mengajar beragam macamnya. Mereka terdiri dari beragam kelompok umur, dari umur 1 tahun (yak, satu tahun… kadang jadi mikir sebenarnya ini komunitas mengajar atau sekedar posyandu) hingga anak seumuran SMP dan terdiri dari laki-laki dan perempuan. Mereka juga punya bentuk kepala yang beragam, panjang kuku yang pendek atau yang tajam menikam, bahkan gaya fashion yang sangat variatif mulai dari cuma singlet sampai ke gaun pesta. Intinya ada banyak sekali jenis2 anak yang kami tangani. Kedengarannya profesional bukan?

Dan jangan tanya bagaimana variatifnya tingkah dan karakteristik mereka. Barangkali secara umum mereka sama saja dengan anak asli Jakarta lainnya, yang supel, straight-forward, juga terbuka. Namun karena sudah berinteraksi lebih dekat, saya jadi lebih mengenal ciri khas dari masing-masing anak. Mereka sangatlah berbeda satu sama lain. Ada yang memang kalem setengah mati yang gilirannya ngomong cuma keluar iya-nggak. Walau begitu tipe yang begini relatif lebih enak diajak berinteraksi karena lebih gampang diatur. Mereka juga masih mengerti bahasa Indonesia, jadi bisa diajak komunikasi dengan sewajarnya. Anak yang begini saya golongkan ke tipe BAIK. Mencirikan anak tipe BAIK cukup mudah. Selain mudah diatur, ciri lainnya yaitu kebanyakan dari mereka perempuan, umumnya lebih cerdas dalam hal akademik, memakai pakaian rapi dan tak lupa pula bedaknya yang cemong-cemong

WhatsApp Image 2017-01-29 at 15.28.15

Ah.. kalemnya anak-anak tipe BAIK ini. Bersama mereka adalah para pengajar yang tergolong istriable πŸ™‚

Sayang, di tempat saya mengajar, anak tipe BAIK iniΒ jumlahnya sedikit. Jauh lebih sedikit dari tipe yang satunya, tipe NAKAL-NAUDZUBILLAHMINDZAALIK. Bener-bener deh…

Mereka adalah tipe anak yang begitu melihat mukanya, bawaannya pengen ‘nyebut’ aja karena sudah hafal dengan kelakuannya yang nakal luar biasa. Kalau boleh digolongkan, tingkat kenakalan mereka cuma setingkat di bawah syaithan sehingga dengan menyebut asma Allah, setidaknya itu membantu kami menjadi lebih sabar dalam menghadapi mereka

Malas sebenarnya menggambarkan anak tipeΒ NAKAL-NAUDZUBILLAHMINDZAALIK. Karena cuma dengan menulisnya saja, bisa kembali mengingat trauma. Dalam kelas, mereka memiliki tingkat mobilitas amat tinggi alias tidak bisa diam alias pecicilan stadium gawat. Katakanlah meja, kursi, pintu, jendela, ventilasi, semua yang bisa dipanjat akan mereka panjat dan tidak ada yang namanya rintangan di hadapan mereka. Kalau ikut Benteng Takeshi saya yakin mereka bisa menang. Lalu untuk pengajar, nggak pernah ada yang namanya pengajar ikut kalem kalau berhubungan dengan anak-anak tipe ini, karena untuk mengimbangi kecepatan mereka, pengajar juga harus ikut berlari ke sana kemari. Memang seharusnya si pengajar tidak perlu ikutan mengejar mereka. Toh nanti mereka capek sendiri dan akhirnya nurut. Tapi ingat. Level mereka bukan lagi nakal, namun sudahΒ NAKAL-NAUDZUBILLAHMINDZAALIK, yang artinya saking nakalnya beberapa pengajar nggak mampu lagi cuekin mereka dan hanyut dalam ritme kenakalan yang mereka inginkan. Belum lagi mereka yang sepertinya kurang menangkap bahasa Indonesia sewajarnya. Kalau ingin berkomunikasi dengan mereka, mesti menyesuaikan bahasa Indonesia menjadi ala-ala tarzan. Dan itupun harus dilakukan sembari berlari. Mitos mengatakan mereka baru bisa diajak komunikasi normal setelah disuap dengan chocolatos

WhatsApp Image 2017-01-22 at 16.36.03

Coba lihat. Ini adalah petinggi-petinggi kelompok NAKAL-NAUDZUBILLAHMINDZAALIK. Tatap matanya dalam-dalam, lalu Anda akan merasakan rasa kesal yang menggila kepada mereka

Anak tipeΒ NAKAL-NAUDZUBILLAHMINDZAALIKΒ adalah segala anti-tesis dari anak tipe BAIK. Mereka kebanyakan laki-laki, kurang pandai akademiknya karena tidak suka belajar, serta memiliki penampilan luar yang tidak menggugah selera. Tak baik menilai orang dari penampilannya tok seperti pepatahΒ “Don’t judge the book by its cover”. Tetapi setelah melihat tingkah laku mereka, jelas pepatah itu tak berlaku. Keadaan terparah terjadi saat anak-anak nakal itu memulai peperangan dengan anak-anak baik. Atmosfernya bisa jadi panas nan tak terkendali. Kegiatan kami yang bernama STIS Mengajar bisa berubah nama menjadi STIS Menghajar. Aih, emosi sendiri jadinya kan…

Biar bagaimanapun juga, merupakan kebahagiaan dapat bercengkerama dengan semua anak di STIS Mengajar. Baik itu anak yang BAIK maupun yangΒ NAKAL-NAUDZUBILLAHMINDZAALIK. Seperti yang saya bilang di awal tadi, saya takluk dengan kepolosan serta keimutan mereka. Segala sesuatu tentang mereka dapat membuat saya menyimpulkan senyum. Sama sekali tak ada penyesalan meluangkan waktu untuk mereka. Ditambah lagi membagikan ilmu yang bermanfaat adalah satu ladang amal yang akan terus menghasilkan panen, bahkan ketika kita mati. Semoga saja apa yang kami berikan dapat senantiasa bermanfaat untuk mereka kini dan nanti.

Advertisements

39 comments

      1. Aih, kirain -_-
        Emang jadi momok sih bagian matematikanya. Oh ya, senin kamu UN kan? Sukses ya! Semoga ngerjainnya tenang dan memperoleh hasil menggembirakan

        Liked by 1 person

  1. Saya baca ini kok bayangan saya kelasnya crowded banget ya Mas. Meski ramai tapi asyik banget kayaknya.

    Berinteraksi dengan anak2 kecil itu memang selalu menimbulkan kebahagiaan tersendiri. πŸ™‚

    Liked by 1 person

    1. Hahahaha, nggak terlalu rame juga sih mbak ikha. Setiap kali ngajar biasanya anak yang datang sekitar 20-30an dan yang ngajar sekitar 8-12 orang. Jadi setiap pengajar megang 2 atau 3 anak. Yang kasian kalau dapet anak yang bandel2 itu huhu

      Bener mbak. Sepertinya mbak ikha juga punya pengalaman indah ya dengan anak-anak πŸ˜„

      Liked by 1 person

      1. Kalau dapet anak2 yang bandel itu sarana belajar Mas. Belajar sabar salah satunya… Saya sempet dibikin geleng2 saja kalau dapet yang begitu…😁
        Pernah dulu waktu masih kuliah sering ikut ngajar sukarelanya dept. SosMasnya UKM di kampus. Sejauh ini menyenangkan, bikin kangen kadang2 malahan. Katanya sih berinteraksi dengan anak2 itu bikin kita awet muda lo Mas.. πŸ˜…

        Liked by 1 person

      2. Alhamdulillah. Makasih sarannya mbak. Setuju banget dengan, memang menyenangkan πŸ˜„

        Awet muda? Bonus yang luar biasa ini. Teman2 saya yang perempuan pasti kesenengan kalau dikasih tau dengan cara begini wkwk. Bisa menggaet banyak pengajar nich πŸ˜‚

        Liked by 1 person

      3. Semangat Mas. 😁
        Iyaa awet muda, karena bawaannya happy terus. Hati yang selalu senang itu keriputnya males dateng cepet2.. πŸ˜‚ eh ini bener kok tapi, guru2 saya keliatan awet muda.

        Nah bilangin ke temen2 Mas Fadel deh, biar semangat. Promosiin juga waktu ngrekrut pengajar πŸ˜€

        Like

  2. Jadi pengin kenalan sama anak-anak nakal naudzubillah πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚
    Dulu pernah beberapa kali ikut komunitas mengajar juga, pengalamannya sama kaya kak Fadel, senang juga kesal. Anak-anak ada yang baik ada yang suka ngomong kasar. Pinter-pinternya kita aja sih mengkondisikan, tapi sepertinya anak-anak nakal naudzubillah kalau dikondisikan juga nggak bakal mempan wkwk πŸ˜‚
    Btw itu kode-kodenya nggak nguatin wkwkwk πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚
    ((( NALURI KEAYAHAN )))

    Liked by 2 people

    1. Wah sepertinya kamu pecinta tantangan ya za πŸ˜‚
      Iya, aku denger komunitas mengajar undip udah cukup besar ya. Ada temanku yang gabung komunitas sana juga soalnya. Kalau ngomong kasar nggak usah ditanya lagi, apalagi anak Jekardah -,-

      Kamu peka sekali gadis muda. Tau aja itu lagi ngodein *eh *oh

      Liked by 1 person

      1. Aku ikut komunitas mengajar di luaran undipnya kak, tapi tahun ini diajakin lagi masih bimbang *eh πŸ˜‚
        Pasti ngomong kasarnya jauh lebih parah dan menyakitkan yak πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚
        Sayangnya yang dikodein nggak baca wkwkwk *plot twist*

        Liked by 1 person

  3. Saya teringat pengalaman saya di KOMPPAS, April juga ultahnya, 13 April πŸ˜ƒ

    Omong-omong, Bang, berarti belum ada banyak anak remaja daerah situ yang bisa dijadikan ‘pejuang spesial’ gitu buat STIS? Yang disiapkan untuk melanjutkan kerja STIS di RT-nya πŸ˜ƒ

    Liked by 1 person

    1. KOMPPAS apaan bang? Komunitas sosial juga kah?

      Itulah kekurangan kami bang. Belum ada gerakan untuk menjadikan kegiatan ini sustainable. Remaja2 yang saya lihat di sini sangat banyak, mudah ditemukan nongkrong si tepi jalan. Walaupun kecil kemungkinan mereka ingin bergabung, tetapi langkah awal untuk mengajak mereka adalah esensial agar program ini bisa terus berjalan. Oh ya, untungnya masih ada masyarakat yang ikut membantu juga bang, yaitu dari ibu-ibu PKK sini. Mereka aktif sekali lho. Aktifnya ketua OSIS aja bisa kalah haha

      Like

      1. KOMPPAS itu komunitasku dulu di Malang, Bang. Komunitas pendidik juga, tapi sasarannya anak di pelosok desa dan anak jalanan πŸ˜ƒ

        Ah, ya, ada istilah cerdasnya ya, sustainable. Bisa tuh dimulai dari ibu-ibu PKK-nya dulu Bang, sama remaja puteri, biasanya lebih bisa diajak πŸ˜ƒ

        Liked by 1 person

    1. Ya kan ka? Btw kata2nya bagus sekali haha. Cuma dari melihat satu foto itu adrenalin ini bisa memuncak -_-

      Makasih doanya ka, typonya bahaya sekali itu πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

      Liked by 1 person

  4. Anak nakal itu sebenernya anak yang banyak akal kakak Fadel πŸ˜ƒ dan pada dasarnya mereka anak anak yang suka caper alias cari perhatian jadilah banyak tingkah gitu hihihi

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s