Perilaku Labil yang Kelak Dinamakan Alay, Ninja Saga, dan Terkhusus Facebook Itu Sendiri

Hi

Semasa SMP dulu, saya punya semacam janji yang mati-matian dijaga agar selalu tertunai, yaitu untuk tidak mempunyai satu pun akun media sosial selama seumur hidup. janji itu bermula karena Ninja Saga di Facebook. Yup.

Saya dahulu adalah seorang penggemar Naruto garis keras. Sudah menonton Naruto sejak kelas 3 SD dari channel TV Malaysia dan bisa dibilang jadi profesor di dunia per-Naruto-an. Saking luasnya ilmu saya tentang Naruto, saya berhasil menghasut teman saya agar ia mengalihkan cita-citanya dari polisi menjadi Hokage. Oleh karena itu saat mendengar ada suatu game internet bernama Ninja Saga yang meniru-niru Naruto, otomatis saya kesal. Kenapa ada yang berani-beraninya meniru karya agung seperti Naruto? Saya mencap Ninja Saga sebagai game palsu nan murahan sekaligus mengfatwakan kepada teman lainnya bahwa Ninja Saga hukumnya haram. Naas, perkataan saya tidak didengar. Keseruan game itu menjajal akal dan pikiran mereka. Tak peduli itu sebenarnya game apa, selama ada chidori dan raikiri yang mirip seperti di Naruto, mereka hanyut juga

5

Ninja Saga semasa jaya adalah saya semasa lara. Ah, jangan2 cuma saya yang tahu Ninja Saga di sini -_- (sumber)

Lalu dikatakan satu-satunya cara untuk bermain Ninja Saga adalah dengan mendaftar Facebook terlebih dahulu. Maka sejak itu, teman-teman saya yang laki-laki berbondong-bondong memalsukan identitas, karena Facebook hanya menerima pengguna 17 tahun ke atas (saat itu), kemudian menjajal Ninja Saga sepuasnya. Sepertinya keberadaan Facebook ini sudah diketahui anak perempuan sebelumnya, yang bukan hanya untuk bermain Ninja Saga, tetapi juga sebagai media sosial. Saya sendiri dan segelintir lainnya hanya tahu Facebook adalah Ninja Saga.

Saya terlambat menyadari eksistensi sebenarnya dari Facebook. Saya kira Facebook hanyalah jalan masuk untuk bermain Ninja Saga, dan berhubung saya tidak suka Ninja Saga, saya tidak mendaftar. Kenyataan Facebook sebagai medsos baru saya sadari berbulan-bulan kemudian, saat saya menyadari teman-teman sekelas menjadi lebih ‘alay’. Sedikit-sedikit mereka membahas status yang baru saja ditulis si anu. Atau menggosipkan relationship yang tertera di profile nya antara si anu1 dan anu2. Beberapa juga sudah membentuk keluarga sendiri yang diklaim ‘lebih kuat dari ikatan darah’, lengkap dengan nama marga yang tak masuk akal. Mereka bahkan saling memanggil dengan nama aneh yang ternyata adalah nama lain mereka di Facebook. Kasus ekstrem pada teman saya, ia lama menyahut kalau tak dipanggil dengan nama Facebook-nya. Tentu paham bagaimana nama alias di Facebook bisa begitu alaynya. Padahal pada saat itu istilah alay belum tercipta. Itu artinya, teman-teman saya alay sebelum waktunya

28837-nama-alay

Tes kealayan yuk! Kalau bisa baca nama akun facebook di atas, berarti positif… (sumber)

Kemudian secara perlahan demam Ninja Saga mereda karena ternyata semua bisa jadi jago sehingga gamenya terasa gampang. Namun hal yang sama tidak terjadi pada alay dan Facebook itu sendiri. Kealayan anak SMP semakin menjadi-jadi seiring tingginya traffic pengguna Facebook. Facebook waktu itu tak terbendung sampai-sampai ia memengaruhi aspek kehidupan sekolah.

Jumlah friends dalam Facebook menjadi semacam tolak ukur popularitas di sekolah saya. Semakin banyak, berarti semakin terkenal. Jumlah friends yang lebih banyak juga memperbolehkan anak itu untuk jadi lebih sombong. Anak yang sudah mempunyai 500-600 friends misalnya, saat itu dipastikan ia menjadi bintang sekolah. Ia akan mudah ngobrol dengan siapa saja, tidak punya musuh, bahkan memiliki akses mudah untuk berulang kali gonta-ganti pacar. Suatu privileges yang menggiurkan.

Sedangkan yang hanya memiliki sekian friends seakan terpinggirkan dari komunitas. Mungkin sedikit berlebihan, tetapi dirasakan adanya kesenjangan sosial akibat perbedaan jumlah friends ini. Setidaknya dari kacamata saya. Dan bayangkan apa yang terjadi pada diri saya yang bahkan tidak memiliki akun Facebook. Sebenarnya dalam keadaan biasa, semua berjalan baik-baik saja. Tetapi apabila sudah menyangkut perbincangan status baru si anu3 misalnya, saya merasa diabaikan. Gone in the wind. Hilang ditelan bumi. Mereka baru mengajak ngobrol lagi ketika ingin mencontek PR atau minta tolong membelikan nasi kuning di kantin. Mengerti? Keberadaan Facebook ini menjatuhkan martabat saya.

Sebenarnya solusi dari keluh-kesah saya waktu itu mudah. Kenapa tidak buat saja akun Facebook? Jawabannya adalah saya tidak suka itu. Perilaku labil yang kelak dinamakan alay, dan Ninja Saga, dan terkhusus Facebook itu sendiri. Begitu tidak sukanya sampai berjanji tidak ingin memiliki media sosial seperti Facebook dan lainnya sepanjang hidup. Konyol memang

Janji itu terus saya pegang sampai lulus SMP dan bahkan sampai SMA. Facebook meredup di masa SMA dan muncullah Twitter. Namun janji saya tetap terjaga. Tidak ada akun Facebook, nihil juga untuk Twitter. Saya tidak lagi merasa terdiskriminasi karena sudah terbiasa. Kehidupan saya bahagia sejahtera meski tanpa medsos.

Namun janji yang berusaha saya jaga mati-matian terpaksa terlanggar sewaktu masuk kuliah. Saya terpaksa mendaftar Facebook karena itu semacam satu-satunya jalur informasi menghadapi ospek dan awal perkuliahan. Meski sudah mati-matian memperjuangkan prinsip, saya tidak mati saat melanggarnya. Setidaknya belum mati sampai saat titik di kalimat ini. Dan saat mulai mengakrabkan diri dengan Facebook, semua terasa konyol. Saya yang sudah lebih dewasa kembali menerawang ke masa itu, masa-masa Ninja Saga dan alasan saya membenci Facebook. Alasan yang sama sekali tak beralasan namun secara tidak sadar alasan itu terus saya pegang selama lima tahun.

Yah, sebenarnya tak cuma itu alasan saya untuk tidak bermedsos. Bukan hanya karena kealayan di mana-mana, atau Ninja Saga saja. Alasan lain adalah efek adiktif yang ditimbulkannya. Sebenarnya tak masalah kalau kita mampu mengontrol diri sebaik-baiknya. Namun bagi yang tidak, media sosial dapat menyita banyak-banyak waktu. Terlebih jika lingkaran medsosnya hanya dipenuhi timeline-timeline ala sosialita. Lalu juga ada pembelok kebenaran berita, yang tersebar mudahnya layaknya debu beterbangan. Arus informasi yang begitu cepatnya harus senantiasa dilakukan crosscheck agar tidak tersesatkan. Dan ya, sejuta dampak positif medsos menjadi kabur kalau sudah begitu. Saat waktu kita telah tersedot sia-sia dan saat kita memercayai hal yang salah.

Medsos adalah media penyebaran indormasi yang teramat luas. Oleh karena itu bisa jadi sarana penyampaian informasi, komunikasi, hingga dakwah yang paling efektif. Medsos juga penyambung tali silaturahim yang paling baik. Tanpa ada medsos besar kemungkinan kita telah kehilangan sebagian besar kontak teman dan kolega lama. Sungguh besar manfaatnya. Sebetulnya tak perlulah saya menulis positif-negatif medsos ini. Masing-masing kita sudah tahu. Toh kalau sudah baca ini, kemungkinan yang baca ini aktif di medsos juga dan merasakannya sendiri. Jadi, mungkin lebih baik jika kita lihat lagi bagaimana kita menggunakan medsos kita. Apakah sudah bermanfaat atau malah lebih banyak keburukannya, kitalah yang menentukannya dan kita pula yang mempertanggungjawabkan 🙂

the_best_comics_ever__facebook_by_satyrars-d4nbxip

Lebay, tetapi konsep sederhananya mungkin terjadi (sumber)

Oh ya, saya sendiri tak lagi benci Facebook walaupun sebenarnya sedang melawan rasa adiktifnya. Tetapi untuk Ninja Saga… ah sudahlah… Tulisan ini sudah jauh-jauh melenceng dari niat awal. Bahkan medsos yang dicontohkan termasuk tipe yang sudah basi ya. Facebook huh? Telat sekali. Mungkin baru tahun depan saya aktif di Twitter, lalu akhirnya tahun 2022 baru ikut aktif di Instagram. Yah, setidaknya beberapa dampak negatif medsos dapat saya hindari, bukan lagi kurangi. Untuk blog, walaupun orientasi blog ini 11-12 sama medsos, saya bersyukur karena akhirnya mengembangkannya. Keberadaan Semut Hitam ini mampu membuat saya tetap bernafas di era digital seperti sekarang.

Kalau ada yang tidak berkenan, mohon maafkan

Advertisements

39 comments

  1. Ehem… yang sudah lebih dewasa.

    Aku diet medsos sampe kurus Del 😄
    Yang tersisa cuma twitter 😐
    Jadi masih mau jadi Hokage?

    Like

    1. Woaahh.. Diet medsos bisa sampai kurus juga ternyata haha. Jujur aku tertarik buat main twitter. Medsos singkat padat memikat ~

      Duh ogahhh.. Naruto seorang yang pantes jadi Hokage *hormat khidmat*

      Like

  2. Saya punya facebook dan twitter, cuma sampai sekarang nggak merasakan keseruannya dimana. Emang apa enaknya bikin status? Sampai sekarang masih bingung. Tapi kalo blog udah 2 tahunan dan seneng aja. Setidaknya saya punya rumah di dunia maya. Terima kasih.

    Like

    1. Wah tos bang 🙌🏼
      Saya hampir nggak pernah bikin status di fb. Cuma ngeshare doang. Ngerti sih serunya bikin status. Seakan keberadaannya diakui apabila statusnya dikomentari. Mungkin sudah jadi kebiasaan juga bikin status ini

      Liked by 1 person

  3. Sebagai anak sosmed ku tertohok wkwk 😂
    Emang bener sih kak waktu jadi lebih banyak tersita, cuma wawasan jadi makin luas, tergantung bagaimana kita menyikapi media sosial itu sendiri sih sebenernya wkwk 😂
    Btw, aku malah udah jarang buka facebook, lebih asyik main twitter, coba deh kak 😅

    Like

    1. Twitter sejujurnya memang ingin daku coba. Karena twitter singkat (sekali) dan karena temen2 sekitar mulai meninggalkannya yang artinya baik. Katanya sih karena twitter minim inovasi. Cuma ya kalau baru mulai sekarang entah bagaimana membangunnya 😂 Yah, asal bisa dapat info2 menarik dan penting dari tweeter lain nggak masalah

      Liked by 1 person

      1. Iya kak sekarang twitter sepi jadinya malah makin asyik 😂
        Udah kak bikin aja, nanti kuajari #gayanyaaa
        Banyak info menarik kok di twitter, cuma emang belum ada fitur jodoh aja sih memang 😂

        Like

      2. Hmm niat kak Fadel terpampang nyata kok, keliatan crystal clear dari sini 😂
        Tenang kak, masih ada tahun depan dan tahun depannya lagi untuk menyelesaikan resolusinya 😂

        Like

    1. Nah lho.. Nggak ada yang tau siapa itu Shino di sini pan wkwk. Dan kata2 berenang bersama itu bisa jadi ambigu btw. Istilah Berenang massal lebih disenangi karena memang rame2 😑

      Reputasi hard-rock Naruto fans sepertinya masih tersemat padamu

      Like

      1. jangan menghindari fakta bahwa kau melakukannya del, lagian mungkin orang-orang di sini emang gak tau siapa shino tapi setidaknya mereka tau tindakan konyolmu dulu

        btw aku gak ngefans lagi yg kyk gitu, aku sudah dewasa,orang dewasa ngefansnya sama one piece wkwkwk

        Liked by 1 person

      2. Saya tidak tulis, tapi saya ini hardcore fansnya One Piece bang haha. Jilid komik lengkap dan pengetahuannya sudah teruji, dereshishishi 😂

        Like

  4. Waaah dirimu belum tau asiknya bermedia sosial hehe. Memang sih waktu seolah-olah terbuang percuma. Tapiiii jalur aye untuk dipertemukan dengan jodoh aye melalui facebook lhoo. Duluuu banget akhir tahun 2011 kala Facebook berada di titik puncaknya.

    Kamu harus nyobain friendster 👍🏻

    Like

    1. Yang begini yang mesti saya camkan bang, bisa juga dapat jodoh dari fb haha. Friendster sedang maintenance, sudah coba saking penasarannya apa masih ada atau tidak wkwk

      Like

  5. Wah, baru sempat berkunjung lagi, dan…. salut sekali sama kak fadel! Mantips jiwa. hehehe. Tepat sekali saat ini saya sedang puasa instagram jadi motivasi sekali, keep up the good content yak kak! 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s