Kopdar Bersama Kunudhani alias kunudhani.wordpress.com

Yow. Cerita kopdar lagi nih. Kali ini bloger yang saya jumpai adalah…(drumroll)…

KUNUDHANI! (yay)

kunudhanihome

Kalau ditanya blog mana yang memiliki banyak tulisan hidup nyeremin, kemungkinan sebagian orang akan sulit menjawabnya. Terkhusus apalagi kalau sebagian orang yang dimaksud tidak kenal sama blog yang satu ini, Kunudhani. Mungkin sekarang sudah sedikit mereda, tetapi tulisan pengalaman mistis itu bocah banyak benerr. Kunu sudah beberapa kali berinteraksi dengan orang kesurupan, orang yang iseng nelfon yang sebenarnya diragukan itu orang apa bukan, bahkan punya adik tuyul yang suka nyembunyiin barang. Bayangkan. ADIK TUYUL men. Berapa banyak dari kita yang punya adik seorang/seekor/sesosok tuyul? Kalau memang ada yang namanya panti tuyul, mengadopsi satu saja ogah, tapi Kunu punya. Luar biasa sekali kan. Saya pikir teman-teman Kunu beruntung sekali punya teman seperti Kunu, yang punya ‘orang dalam’ di dunia mistis. Tetapi sepertinya teman2 Kunu tidak berpikir seperti itu :”)

Oleh karena itu, dapat dikira bagaimana bergejolaknya pikiran saya saat detik-detik bertemu dengan Kunudhani tempo yang lalu. Entah akan bagaimana orangnya. Membaca blognya, saya jadi sedikit meraba-raba bagaimana kesan pertama saat bertemu dengannya. Mungkin ia dikelilingi aura-aura dingin menggetarkan roma dan juga punya dandanan gothic yang dipengaruhi oleh nuansa mistis lokal. Atau yang lebih seru, ia turut mengajak adik beda alamnya itu (Si Bona namanya) ikut kopdar. Hmm… yang terakhir ini ini sedikit saya khawatirkan, lantaran saya tidak punya adik atau kakak tuyul sebagai tandem main Si Bona. Kan gawat kalau Si Bona bosan terus ngerengek minta pulang. Btw dunia tuyul punya jenis permainan yang seperti apa ya?

Yah.. itu semua berlebihan. Memikirkan hal seperti itu sudah terlampau jauh. Paranoid istilahnya. Saya sudah didoktrin untuk tidak takut kepada hal mistis seperti itu. Seandainya memang Si Bona diajak jalan naik motor Kunu, saya sama sekali tidak keberatan. Terserah dia nanti mau duduk di belakang atau depan. Kalau perlu saya tanya Kunu sebelumnya tentang makanan kesukaan tuyul biar Si Bona senang kala ikut. Selama tak berhubungan dengan darah dan sesajen,  pasti saya usahakan. Hmm.. ya. Entah kenapa saya lebih fokus ke Bona daripada Kunu sendiri

Oke, cukup tentang Bona. Kunu jauh dari kata mistis di saat pertama kali saya jumpai di depan plang Universitas Negeri Malang. Mungkin karena saya yang tidak peka, atau karena masih siang, tetapi yang jelas Kunudhani terlihat sebagai gadis biasa dalam artian yang baik. Oh ya, kala pertama kali bertemu seseorang, saya sering berusaha menilai orang itu dari impresi pertamanya dan sejujurnya, saya merasakan ada kesan matur dan modern yang mengalir dalam dirinya. Kelak saya tahu apa alasannya. Untuk sekarang cukuplah diketahui bahwa Kunudhani adalah gadis tulen, yang ternyata tinggi semampai dan motornya motor beat item. Udah. Oh, sama medhoknya ada dikit.

Pada akhirnya begitu ketemu, kami langsung cus ke destinasi pertama. Tanpa ada basa-basi, kendali motor saya rebut dengan hati ikhlas. Destinasi pertama… Batu!

Saya belum pernah ke Batu. Jadi sama sekali tak ada bayangan tentang kota itu, yang memiliki nama sangat membumi. Saya pun tak menyempatkan mencari tahu bagaimana Batu ini dan ternyata hal itu membantu. Berangkat tanpa ekspektasi bisa membantu kita menikmati daerah baru dengan maksimal. Dan kesimpulan setelah 15 menit saya berada di Batu, saya suka Batu 🙂

dsc01583

Nggak banyak tempat kayak gini yang berjarak dekat dengan kota besar… (sumber)

Sebelumnya saya sudah pernah main ke Malang. Malang tok. Padahal kalau bicara wisata Malang, kita juga bicara Batu, tetapi saya malah tak tahu menahu tentang Batu ini. Lebih parah, terakhir kali saya ke Malang bisa dibilang saya tidak berbuat apa-apa. Mendem di kos temen. Persis ayam jaga telor.

Batu ternyata sangat dekat dengan Malang. Jalannya hanya lurus-lurus aja dan moro-moro udaranya berubah jadi dingin. Seingat saya jarak yang kami tempuh untuk sampai di Batunya tak sampai 1 jam. Itu jarak yang tak lama, terlebih untuk orang yang sudah kenyang akan macet. Udara di Batu juga kentara sekali dibanding Malang. Waktu itu cerah dan matahari ceria sekali, namun atmosfernya dingin. Mau tak mau saya membandingkan Batu dan Puncak Bogor. Persis sekali. Yang berbeda, pemandangan Batu lebih hijau dan asri serta jalannya kalah menanjak dibanding Cisarua.

Sepanjang perjalanan, Kunu menyatakan minatnya untuk membawa saya ke pantai-pantai di Malang. Alasannya: dia suka pantai. Alasan suka pantai: mengingatkannya dengan mantan. Alasan pantai bisa berhubungan dengan mantan: Kunu dan mantannya dulu sering ke pantai, bahkan ketika putus Kunu selalu mencari pengobatan mental ke pantai. Beberapa alasan ini menjadikan Kunu memiliki keterikatan batin dengan pantai. Saya sendiri walaupun berminat melihat akan bagaimana kondisi psikologis Kunu saat di pantai nanti terpaksa menolak karena jaraknya yang terlalu jauh untuk waktu kami yang singkat. Meski akhirnya tidak bernostalgia dengan pantai, mantan Kunu nanti ikut tersebutkan di kesempatan nantinya.

Mengikuti arahan Kunudhani, tempat wisata pertama kami dalam edisi kopi darat kali ini ialah Coban Rondo

img_3687

Landmark Coban Rondo. Letaknya dekat dengan air terjun

Saya tak bisa melupakan pengalaman saya saat di sini. Kira-kira kami sampai di situs ini jam 1 siang dan saat itu mendung. Dapat dikatakan mendung itu menambah sejuk di Coban Rondo ini.

Sebagai informasi, tempat wisata Coban Rondo ini seakan terbagi menjadi 2 daerah. Yang pertama dekat pintu masuk, adalah tempat adanya taman labirin dan beberapa tempat rekreasi lainnya. Serta daerah kedua adalah tempat air terjunnya itu sendiri. Karena labirin ini lebih dekat, tentu bijak untuk mengunjungi labirin ini terlebih dahulu

Ahh.. memasuki taman labirin adalah mimpi saya sejak kecil. Entah karena menonton apa, yang jelas ingin sekali rasanya tersesat di tengah teka-teki besar seperti labirin. Asal tersesatnya tidak terlalu lama dan tidak sampai nangis, semua pasti menyenangkan. Labirin Coban Rondo ini saya katakan tidak terlalu luas. Tapi bikin sesat ya tetep. Dengan bantuan suara dari atas, akhirnya bisa juga sampai ke tengah labirin ini atau tujuan akhirnya. Tanpa ada orang-orang di tower yang teriak “SAALAAAHHH, SALAAAAHH!!”, mungkin saya dan Kunu terpaksa tinggal di labirin ini selamanya. Terpaksa bikin tenda dan belajar mengolah daun agar siap santap untuk makan. Oh ya, di finisnya atau bagian tengah labirin ini terdapat taman kecil dan air mancur

taman-labrin

Nih penampakannya. “Ngeliat dari atas sih kayaknya gampang…”, begitu kata bocah belagu ini sebelum menjajalnya dari bawah. It’s literally different… (sumber)

a1

Tuh air mancurnya. Ketemu ini sehabis sesat di jalan itu kayak ketemu oasis, di hari yang terik, pas lagi puasa Daud. Seger benerr (sumber)

Satu kecerobohan, saya tak membawa kamera pada jalan-jalan  kali ini. Begitu sampai hape veteran saya sudah kehabisan energi dan akhirnya pingsan. Bahkan pingsannya saat belum sempat keluar dari labirin ini. Maka tidak ada jepretan pribadi di sini huhu. Dampak lainnya adalah saya selalu mencari colokan di mana-mana. Di dinding mushola, di warung, di dapur rumah makan dan tempat tak terduga lainnya. Yap. Untuk jalan keluar, kami berhasil keluar berkat kepedean saya membaca arah yang ternyata menyesatkan lalu terpaksa ngekor orang lain yang kelihatannya lebih berpengalaman. Kunu terlihat was-was harus tinggal di labirin ini selamanya.

Okeh, setelah keluar, segera kami menuju destinasi di Coban Rondo berikutnya, yaitu Coban Rondo itu sendiri. Coban artinya air terjun. Rondo artinya janda. Coban Rondo kurang lebih bermakna air terjun janda. Terdengar hot dan seksi bukan?

Pada waktu inilah saya menyaksikan sendiri penampakan menakjubkan. Saat hendak beranjak ke lokasi air terjun, cuaca yang gerimis-gerimis-ena ikut mengundang datangnya kabut. Kabut tebal di tengah siang. Percaya atau tidak, kabutnya begitu tebal sampai-sampai jarak pandang kurang dari 30m. Biasanya kabut hanya sempat saya rasakan di pagi-pagi sekali di Puncak dan tempat dingin lainnya. Tetapi ini jam 2 siang. Ah, takjub saya dengan Batu. Tak perlu saya deskripsikan dinginnya. Kami pun memutuskan menghabiskan waktu duduk sebentar sembari menunggu kabut menipis. Aih, menunggu kabut menipis katanya. Seberapa sering kita mendengar kalimat itu?

Hmm… ada sangat-sangat banyak yang bisa diceritakan tentang Coban Rondo ini. Misalnya kami yang menerobos hujan setelah kabut tadi dan tangan saya yang gemeter kedinginan hanya dapat menghangatkan diri dengan Pop mie, atau Kunu yang ternyata paranoid dengan segala jenis binatang (Coban Rondo punya banyak monyet) dan saya yang sedaya mungkin memanfaatkan itu, atau Coban Rondo yang ternyata tinggi-tinggi sekali.

img_3671

Ini dia janda yang saya maksud. Hujan membuat airnya deras sekali bung

IMG_3679.JPG

Aih, sama air terjun aja hormat…

img_3684

Ini yang paling membuat saya kesal selama di Coban Rondo. Di dekat labirin tadi tidak ada peta semacam ini. Baru setelah beberapa kilo naik turun dari labirin tersebut peta ini dapat ditemukan. Lokasinya dekat mushola air terjun.  Entah apa maksudnya ditaruh jauh sini. Kzl -_-

Coban Rondo pun khatam dan kami meluncur ke tempat berikutnya… Alun-alun Kota Batu

Oh ya, tentang arah jalan selama di Batu, saya bergantung sepenuhnya ke Kunu. Jelas. Wong ini pengalaman Batu pertama saya. Dan ternyata, Kunu suka memberikan arahan jalan yang ‘menantang’ selagi saya mengendara motor. Tak pernah ada arahan “nanti belok kiri/kanan ya…” . Arahan itu mungkin dianggap kurang menantang bagi Kunu. Kunu hanya menunjuk jalan dengan arahan “Ikutin Bapak itu del…” atau “lurus aja, nanti kalau Oom itu belok, kita juga belok…”. Hmmmm…. Masalahnya, Bapak dan Oom mana yang ditunjuk? Bisa jadi ada banyak ‘Bapak’ di depan kami dan saya harus memilih satu yang tepat. Berkendara dengan Kunu serasa sedang bermain kuis. Harus berpikir cepat dan tepat.

Yah, selagi diselingi mengikuti “bapak yang naik motor itu” dan om-om lainnya, kamipun berbagi pengalaman hidup selama ini. Daaann untuk Kunudhani, itu gadis punya segedung (bukan segudang lagi) pengalaman menakjubkan lagi menarik. Tentang mantannya, riwayat organisasinya, tentang ia yang mencoba menulis blog travel namun tak berhasil, tentang ia yang pernah kursus di Pare namun dianggap gagal karena jatuh cinta ke gurunya yang ganteng, tentang jatuh bangun kuliahnya sehingga ia mampu menguasai 8 aplikasi demi mendukung kuliahnya, tentang jatuh bangun keluarganya dan betapa ia cinta kepada mereka. Aaah… Berapa banyak pengalaman yang bisa terjadi ke satu wanita muda sebenarnya? Senang bisa ikut belajar dari pengalamannya

Lalu tak lama kemudian sampailah kami di sini…

img_3698

Saya tidak tau siapa Bapak Eddy Rumpoko, namun saya rasa kerjanya menyulap taman kota jadi semacam theme park kecil patut diacungi jempol. Dua jempol

Oke. Jadi sejak pertama kali melihat alun-alun ini, saya tak percaya ini adalah taman kota. Semua begitu meriah, penuh warna-warni, dipenuhi fasilitas khas taman yang amat berkelas. Bahkan di sini ada Ferris Wheel! Sok Inggris yak. Itu lho, biang lala. Tentu saja ini mesti dicoba. Apalagi tiket naiknya cuma Rp 3000. Wohoho

Kami tiba di alun-alun sore. Agak sayang sebenarnya kalau ngeliat dari atas biang lala di waktu sore karena kata Kunu malam dengan lampu-lampunya menjadikan pemandangan dari atas terlihat indah. Tetapi toh duit yang dibayar cuma Rp 3000, lebih baik kami naik sore dan malam nanti kan heuheh. Ketika mulai naik, walaupun terlihat agak was-was, Kunudhani kedapatan tersenyum simpul sendiri. Hmm…

“Kenapa nu senyum-senyum sendiri?” tanya saya geli

“Ah nggak. Jadi keinget mantan. Dia tuh suka banget naik ini”

“Mantan yang pantai itu?”

“Bukan. Beda lagi…”

Nah lho. Beda lagi. Yah, obrolan itu tak mengurangi decak kagum saya setelah lama tak menaiki biang lala. Sayang cuma sebentar di atasnya. Sebentar pula Kunu terngiang dengan mantannya yang satu lagi itu. Atau jangan2 lama terngiang?

Yah, biarlah foto yang berbicara berikutnya…

img_3727

Ketika maghrib sudah dekat. Untungnya dekat lokasi ada masjid agung huhu

img_3699

Barangkali kandidat tempat dengan apel raksasa terbanyak se-Indonesia

img_3690

Apel lagi, namun dalam bentuk kios. Di sebelah apel kios stroberi. Nah ini diambil dari atas biang lalalalalalalalal

img_3705

Alun-alun punya banyak lampion warna-warni berbentuk hewan. Ini salah satunya ketika mati. Yang berwujud kelinci. Saya takut melihat wajahnya yang mesum

img_3724

Pasar Laron. Sangat dekat dengan alun-alun. Pedagang, pembeli, semua kayak laron. Ramenya ya maksudnya. Banyak yang dijual, mulai dari makanan hingga pernak-pernik.

img_3735

Dan ini… ketika biang lala dinyalakan lampunya. WOW. Sayang antrian untuk naik tak dibuka lagi.

Sesekali waktu kami (lagi-lagi) diselingi obrolan ringan, dan ya, masih terselip mantan-mantan lainnya. Hmm yah.. untuk masalah itu harus diakui superioritas Kunudhani. Saya sendiri masih bertanya-tanya dari mana pengalaman sebanyak itu bisa ia dapatkan. Inilah salah satu yang saya maksud keuntungan dari blog. Kita bisa mengenal banyak orang dengan segedung pengalaman pula. Tentu banyak yang bisa kita dapat dari pengalaman-pengalaman itu

Hey Kunudhani, terima kasih sudah mau direpotkan selama main di Malang kemarin. Padahal datangnya bukan di hari libur tapi masih sempetin meliburkan diri demi anak belagu satu ini. Mungkin saya akan tetap mengeram telur di Malang kalau nggak ada Kunu kemarin. Tanpa sempat jalan-jalan ke satu tempat wisata pun. Ahh.. dan yang paling penting, senang sudah bisa bertemu langsung dengan orangnya yang ternyata asyik. Doi ngakunya kalem, tetapi jangan percayaaa. Nggak ada sama sekali unsur kalem di diri Kunu dan jelas bareng dia nggak akan ada suasana yang tenang-tenang aja. Pasti rame.

Ah ya, Kunu ini sangatlah mis-ter-ius. Tak ada fotonya di blognya dan tak ada juga di sini. Saya dengan senang hati menjaga kemisteriusannya itu. Biar kesannya mistis lebih terasaa. Kalau ada yang ingin lebih tau tentang Kunudhani, tak perlu sungkan acak-acak blognya. Bisalah mengenal sedikit dari sana. Tetapi kalau ingin mengenal leebiiih dalam, ajukan segera undangan kopdar padanya. Dengan begitu semua rasa penasaran akan tuntas 🙂  Catatan untuk laki-laki: Kunu adalah wanita yang amat mencintai nusantara. Pria bertampang oriental dan kebulean, lebih baik mundur.

Sebenarnya jalan-jalan saya di Malang bersama Kunu masih ada kelanjutannya. Tetapi ini sudah terlalu panjang. Tak tega saya menulisnya lebih jauh. Jadi, saya lampirkan saja sedikit foto di Jodipan. Kampung warna-warni itu lho…

This slideshow requires JavaScript.

Advertisements

68 comments

    1. Begitukah? Saya datang hari rabu dan saat itu lumayan sepi. Ada bule juga lho biarpun hari rabu *yup, memang tidak nyambung sama sekali*

      Sudaaahhhh…
      Sama sempol biasa aja sih, tapi susu itu luar biasa lezatnya. Favorit: melon

      Like

      1. Kunudhani lupa jalan ke Coban Rais dan kami tak punya maps ataupun peta yang dapat diandalkan. Talun nggak tau deh. Alasan lain adalah waktu. Memang kemarin nggak sempetin main lama di Malang, hal yang disesali sewaktu menuju stasiun buat balik =(

        Like

      2. Oh, alasan aku ke Malang pada awalnya nggak ketulis yak wkwk. Kopdar bareng Kunu ini bisa dibilang bermula dari kebetulan ki. Ngerencanain ndolan ke Malang, eh nggak taunya Kunu dari Malang juga. Jadii ya … 😂

        Like

      1. SEMUANYA MBAK MO wkwkwk
        Nama, foto, status, peliharaan kucing yang sukanya ngegigit, semua tentang mbak mo itu adalah suatu misteri… Itu juga sih bagian lala nya *entah nyambung atau nggak lala di sini*

        Like

      2. Wis biasaakkk Del. 😄😄😄
        Yang nggak enak itu bagus. Supaya bisa lebih memaknai yang enak 😥 #halah

        Like

    1. Ah ya, udah minta izin sih mba buat ngasih foto Kunu di sini, tapi gak dikasih sama doi wkwk. Yasudala ~

      Mungkin bisa mengobati nih mba. Kunudhani juga bukan nama asli doi. Kunudhani berasal dari bahasa Sanskerta yang artinya “kebaikan”… Nah redaan kan penasarannya hehe

      Liked by 1 person

      1. owh gtu to? 😁 ya sudahlah, smga nnt ada ksempatan ke Malang lg. Cinta mau ktmuan sm mba Kunu.

        Iya, agak redaan, mba Kunu yg mistis trnyata punya nama lain hihi, makasih mas Fadel 😃

        Like

  1. Aih kopdar lagii. bikin Iri! haha

    loh loh mas Fadel, saya juga di Malang, rasanya engga adil nih haha.

    salam buat mba Kunu, kapan2 kopdar sama aku dong 😉

    Liked by 1 person

    1. Wah.. nggak tau Ka Arin di Malang. Saya kira di Lombok huhu. Tau gitu diajak ketemuan =”

      Kunu orangnya asyik lho Ka. Sesama orang Malang udah pasti cocok deh

      Like

    1. Nggak ngucapin itu 😂 padahal kalo inget pasti dilakuin
      Kopdar ini nyambil kok bang. Niatnya main ke Malang tempat teman. Yah, mumpung ada temen blog yang kita tahu di situ, ya sempetin tatap muka 😄

      Like

      1. Apaan sedikit pake banget 😂😂😂

        Jakarta git, sekitaran Kp Melayu. Kalau nonton berita di tv wilayah Bidaracina-Kp Melayu banjir, nah bisa jadi bisa ketemu aku “dadah-dadah” sama kamera 😂😂

        Liked by 1 person

      2. Ya ampun kena banjir juga kak rumahmu?

        Pantesan kamu kelayapan kopdar mulu, jangan” ada niat untuk migrasi nih?
        Kelampung aja 😆

        Masih jarang banjir 😂😂

        Liked by 1 person

      3. Wkwkwk.. Nggak kena banjir untungnya. Paling kena bechek-bechek dikit…
        Padahal Lampung dekat dan punya banyak teman juga yang dari sana, tetapi sekalipun belum pernah nginjak tanah Sumatera sana. Eh kamu di mananya git Lampungnya? Kalau ake ke sana paling mainnya ke Metro

        Liked by 1 person

      4. Di Bandarlampung, dekat Unila 😁

        Main kesini jatuh kak, banyak tempat rekreasi. Ya tp maafkeun Agit gak bs jd guide, sebab sulit banget menghapal jalan 😩

        Jd ya siap” jd bilang kalo kopdar sm Agit 😂

        Liked by 1 person

  2. haaaah!!! aku scrool buru2 kebawah skip tulisan dan foto2 cuma mau cari foto si kunu hahaha, ternyata zonk 😀
    yo wis lah, balik keatas, baca tulisannya dulu :p

    Like

    1. 😂😂😂
      Nggak dapet resti mba fey. Kalo baca komen gini rasanya jadi nyesel, pengen ngebongkar kemistisan itu bocah. Batang hidungnya doang jadilah haha

      Like

      1. kunu kayak aku dulu, ngeblog dengan segala kemisteriusan, buntut2nya malah narsis mulu hehehe
        kita liat nanti kedepannya mau nongol ga tu anak di hadapan publik blog hahaha

        Liked by 1 person

      1. Ternyata nggak pingsan naik biang lala itu hebat yah 😅 Eh, kamu mesti banyak latihan supaya bisa bergabung ke barisan pemberani sepertin kami dhin 😂😂

        Liked by 1 person

  3. Yasalam ini kopdarannya kapan ditulisnya kapan yak 😂
    Kak Kunu juga malah belum nulis 😂
    Akhirnya diceritain juga setelah kemarin bersua hanya diceritakan sedikit soal kopdar 😂
    Btw itu beneran kak Kunu mantannya beda-beda kak? Wah keren ya, jadi ingin berguru 😂 #eeeh

    Liked by 1 person

    1. Yap. Sangat tidak aktual 😂
      Aku banyak belajar dari Kunu, sang motivator hati. Semua berkat mantan2 itu. Kunu bahkan berencana mengadakan seminar tentang mantan karena sudah (terlalu) lama berkecimpung di dunia permantanan…

      Kamu becanda kan masalah mau berguru itu wkwk. Eh aku nggak yakin deh kamu becanda atau nggak 😂 #eeeh #latah #yeah

      Liked by 1 person

      1. Motivator hati sukses bikin aku ketawa 😂😂😂
        Seminar tentang mantan, nanti pesertanya orang-orang gagal move on semua 😂
        Bercandalah kak yasalam, punya mantan juga enggak wkwkwk 😂

        Like

  4. kunu.. mana fotomu..!!! ☁☁☁☁☁☁☁⚡
    ☁☁☁☁☁☁⚡☁
    ☁☁☁☁☁⚡⚡☁
    ☁☁☁☁⚡⚡☁☁
    ☁☁☁⚡⚡☁☁☁
    ☁☁⚡⚡⚡☁☁☁
    ☁⚡⚡⚡☁☁☁☁
    ⚡⚡⚡⚡⚡⚡⚡⚡
    ⚡⚡⚡⚡⚡⚡⚡⚡
    ☁☁☁☁⚡⚡⚡☁
    ☁☁☁⚡⚡⚡☁☁
    ☁☁☁⚡⚡☁☁☁
    ☁☁⚡⚡☁☁☁☁
    ☁⚡⚡☁☁☁☁☁
    ☁⚡☁☁☁☁☁☁
    ⚡☁☁☁☁☁☁☁
    Shocked!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s