STIS: Sekolah Kami yang Letaknya di Depan Kali Ciliwung beserta Cerita Banjir di Dalamnya

Hmm.. saya rasa judul tersebut sudah terlalu eksplisit. Biarlah. Tak terpikir judul lain.

banjirstismaulanatahir

Bukan hasil photoshop. Pasti kakak angkatan saya. Klik untuk sumber

Sebenarnya, saya sudah kuliah (kalau ada yang kepo). Sudah masuk tingkat akhir malah. Tetapi mengapa saya menggunakan istilah ‘sekolah’ dan bukannya universitas untuk tempat saya berkuliah? Tak lain tak bukan karena memang tempat saya menuntut ilmu sekarang tidak menggunakan nama universitas. Tempat kuliah saya SEKOLAH Tinggi Ilmu Statistik (STIS). Tolong jangan dibaca setis. Baca: eS-Te-I-eS –> normanya begitu

Saya yakin banyak yang tidak tahu akan sekolah saya. Tak mengapa. Saya sendiri juga baru tahu adanya STIS ketika jangka waktu pendaftarannya tersisa 3 hari dan entah kesurupan apa tahu-tahu sudah daftar saja. Dan yah, kita tak akan pernah tahu plot twist seperti apa yang Allah siapkan ke masing-masing aktornya. Belakangan diketahui skenario jatah main saya adalah di STIS ini yang bahkan waktu itu hanya tahu statistik sebagai mean, modus, dan median. Hmm… kalau diingat lagi…

Sejujurnya yang memicu saya untuk menulis ini adalah hujan berkepanjangan yang terjadi beberapa hari ke belakang di Jakarta. Pola pikir saya semenjak tinggal di ibukota untuk sekian tahun secara otomatis merespon kata ‘banjir’ saat mengetahui terjadinya hujan lama. Menyedihkan memang, namun dapat dimaklumi. Karena beberapa kali saya alami genangan air setinggi mata kaki akibat dari hujan yang ‘hanya’ berlangsung selama kira-kira 3 jam. Cukuplah itu menggambarkan betapa buruknya sistem pengairan ibukota. Tetapi saya percaya, meskipun saya katakan buruk, Pemerintah Daerah DKI Jakarta selalu berbenah untuk mencegah banjir. Saya rasa dampaknya mulai kelihatan sekarang

Nah, beralih ke sekolah saya lagi, bila memang benar lokasi yang terkena banjir adalah wilayah yang berada di dekat sungai, bayangkan nasib sekolah saya. Karena apa yang menjadi judul ini adalah kenyataan sebenarnya. Karena sepertinya seluruh Indonesia tahu bahwa Kali Ciliwung adalah target utama pemberitaan banjir yang senang sekali mendapat hadiah banjir kiriman dari Bogor. Dan karena letak sekolah saya yang di depan kali itu dapat berarti banyak bagi kami yang juga tinggal di daerah sekitar sekolah (yang artinya di sekitar Kali Ciliwung juga)

Saya bersyukur karena banjir besar tak pernah terjadi lagi setidaknya 3-4 tahun ke belakang. Saat terjadi, sungguh itu menjadi suatu tantangan. Tidak percaya? Coba lihat wajah mahasiswa STIS pada meme di atas. Betapa teduh wajahnya…

Saya sangat tersentuh (ceileeeh…) saat pertama kali melihat meme di atas. Apa yang coba disampaikannya tepat sasaran. Mahasiswa STIS, yang polos dan lucu-lucu, berubah menjadi ganas lalu menerjang banjir demi mengikuti kelas. Sebuah pesan manis untuk mahasiswa zaman sekarang yang masih menjalankan tradisi titip absen.

Tetapi apa yang saya anggap sangat mengena di hati tentang meme di atas adalah karena saya tahu susahnya yang ia rasakan. Saat-saat banjir datang dan tentunya kuliah harus terus dijalankan. Saat itulah wajah sebenarnya dari niat kuliah dapat terlihat, yaitu ketika dihadapkan dengan skenario banjir. Skenario ini mungkin tidak akan dirasakan mahasiswa-mahasiswa lain kecuali mahasiswa Jakarta. Tetapi coba dibayangkan. Kamu sedang duduk manis di lantai 2 sebuah rumah karena lantai 1 tempat biasa kamu duduk manis sudah tergenang air. Di luar keadaannya sama saja. Ada genangan air setinggi dada. Sementara itu, kamu sadar kalau di kampus yang hanya berjarak 7 menit jalan kaki, akan diadakan kelas mata kuliah yang cukup penting di satu jam yang akan datang. Apa yang akan kamu lakukan?

Bagi Rahmat Ghazali Fanath, mahasiswa STIS asal Bula, yang ia lakukan adalah memasukkan binder dan notes, seragam kuliah, beserta alat tulis ke dalam tas, lalu bersiap pergi ke kampus. Sepatu kuliahnya ia masukkan ke dalam kresek karena sepatu itu terlalu besar untuk tasnya yang sudah penuh duluan oleh baju dan celana. Kresek tersebut kemudian diikatkan tali rafia dan disambungkan ke lengannya. Ia sendiri hanya memakai kaus oblong, celana pendek, dan sendal jepit merk swallow yang melegenda. Rencananya, ia terlebih dahulu akan mampir ke kosan temannya yang bebas banjir untuk mandi dan memakai seragam kuliahnya. Lalu bagaimana ia mencapai ke kos temannya itu sementara sepanjang jalan ada air setinggi dadanya? Tas miliknya ia pegang dengan kedua tangan di atas kepalanya. Sepatu yang telah dibungkus kresek dan diikatkan rafia di lengannya mengambang di atas air. Rahmat melintas banjir, dengan ransel digenggam erat di atasnya dan sepatu yang mengambang mengekor tak jauh di belakangnya.

Bagaimana? Menurut saya apa yang dipilih Rahmat adalah hal yang luar biasa. Tidak semua akan berpikir sepertinya. Apalagi mengorbankan basah hingga sedada demi pergi kuliah. Tahu sendiri basah akibat air banjir yang kotornya seperti apa. Lalu Rahmat di sini adalah sosok nyata. Ia adalah teman saya dan kos yang dimaksud ia tuju adalah kos saya.

Pertama, tak semua mahasiswa STIS merasakan banjir seperti di atas. Hanya orang-orang terpilih seperti Rahmat dan segelintir lainnya, yang kosnya tepat di depan Kali Ciliwung. Sementara kos saya sendiri yang berada tak jauh dari kos Rahmat tidak tersentuh banjir. Hal ini karena kos saya terletak di dataran yang lebih tinggi dibanding kosnya. Jauh lebih tinggi. Padahal jarak kos kami tidak sampai setengah kilo. Hal ini menyebabkan air menggenang dan terperangkap di wilayah sekitar kos Rahmat.

petaSTISdansekelilingnya.JPG

Kotak merah: sekolah. Kotak hijau: bonsay. Kotak biru: bonasut. Kotak kuning: bonasel. Lingkaran abu-abu: titik terparah banjir. Kos saya dan Rahmat berada di wilayah bonsay. Istilah dan denah yang dibuat hanya memudahkan, tidak persis dengan kenyataan yang ada. Maksud memudahkan di sini demi memudahkan penulis tentu saja –“

Sekolah kami bernasib lebih baik. Bangunan fisiknya yang lebih menjauhi Ciliwung tidak terkena banjir. Jadi perkuliahan tetap bisa dilaksanakan. Sebagai info, STIS tidak memiliki asrama. Para mahasiswanya menyewa kos atau mengontrak rumah di sekeliling kampus. Yang saya maksud sekeliling kampus ini terbagi menjadi 3 wilayah yaitu: Kebon Nanas Selatan (bonasel), Kebon Nanas Utara (bonasut), dan Kebon Sayur (bonsay). Bonasel dan Bonasut berada jauh di timur Ciliwung yang berarti lebih aman dari banjir Ciliwung, namun bukan berarti bebas banjir karena masih ada serangan banjir dari kali kecil di sekitar sana. Wilayah yang persis di depan Ciliwung inilah titik banjir terparah dan mahasiswa yang tinggal di situ adalah mahasiswa bermental waterproof.

STIS sendiri yang flood-free dijadikan posko penanganan banjir saat terjadi banjir besar. Ketika tahun 2013 misalnya (latar tahun yang sama dengan skenario Rahmat). Halaman kampus kami didirikan tenda tentara yang cukup besar. Di dalam tenda tersebut ada dapur darurat, perahu karet besar, pun beberapa bantuan makanan dan pakaian di letakkan di situ. Sedangkan untuk gedung SD di belakang STIS dijadikan tempat pengungsian warga. Percayalah, walaupun berkuliah, suasananya sama sekali berbeda. Terutama dengan kondisi lingkungan darurat banjir yang seperti itu.

Di awal tahun 2013 itu, banyak orang percaya adanya siklus banjir besar 5 tahunan Jakarta. Jika diiingat lagi, banjir parah terjadi pada tahun 2007 dan 2012. Jarak 5 tahun itu membuat banyak orang percaya bahwa banjir besar ini membentuk siklus . Nyatanya tidak. Bahkan BMKG membantah adanya siklus itu. Tidak adanya siklus 5 tahunan terbukti setelah satu tahun setelah 2012 yang banjirnya sangat parah, banjir skala besar tetap terjadi. Ini cukup mengagetkan kami. Entah bagaimana kagetnya teman-teman saya di wilayah banjir itu.

Saat itu saya masih semester 1 alias orang kampung yang baru beberapa bulan numpang di ibukota, lengkap dengan kepolosannya dan keluguannya yang memabukkan. Dihadapkan dengan banjir seperti itu cukup menguji kami. Bayangkan kami yang baru saja menapaki kemandirian sudah diberikan ujian dari hidup dalam bentuk banjir begitu.  Terlebih bagi yang tempat tinggalnya terdampak parah seperti Rahmat dkk.

Saya sendiri terbilang tidak terlalu diuji pada banjir waktu itu. Kos saya ada di lantai 2 dan lantai 1 nya tidak tergenang air. Saya tidak perlu repot-repot mengamankan barang dari air meski perjalanan kampus menjadi jauh lebih berair. Saya yang polos (suka sekali saya menggunakan kata ini) bahkan mengaggap keadaan banjir sekitar saya layaknya festival. Karena banjir, mohon maaf, membuat keadaan jadi lebih meriah. Sekeliling saya jadi lebih ramai. Tiba-tiba banyak orang di pinggir jalan menonton banjir, menonton penyelamatan warga dengan perahu karet, dan kerumunan relawan dan tentara yang datang membantu. Kru televisi dari hampir seluruh channel pun datang ke area banjir dekat kampus kami untuk mengabarkan pada dunia. Itu pertama kalinya saya melihat mereka di balik kamera, lengkap dengan mobil van besar bertempelkan logo kebanggan mereka dan fasilitas canggih untuk merekam

Bahkan pedagang makanan dan aksesoris penolong banjir ikut meramaikan.  Mereka mungkin salah satu dari sedikit orang yang melihat banjir ini sebagai sesuatu yang positif. Dagangan para pedangang ini laris. Saya tahu karena saya ikut andil melariskannya. Siapa yang tidak tertarik makan bakso hangat di tengah udara dingin akibat hujan berkepanjangan? Saya pun ikut mengamati banjir waktu itu dan berharap semoga lekas surut agar para korban banjir itu dapat bernapas lega.

Rahmat pada akhirnya mengungsi juga di kos saya bersama dua orang lainnya. Sebut saja mereka Salendah Brothers, kakak-adik asal Manado yang juga ngekos di bonsay bagian bawah. Ketiga orang ini membawa perlengkapan kuliah dan sedikit barang berharga mereka untuk diamankan di tempat saya. Mendadak kos saya menjadi ramai dan saya senang keramaian.

Tadi saya bilang mereka turut membawa peralatan kuliah yang terdiri dari seragam lengkap serta buku-buku. Itu artinya, di kondisi banjir yang menyusahkan seperti itu mereka siap untuk terus berkuliah. Entahlah. Saya tak tahu apa yang akan saya lakukan seandainya jadi mereka. Berjuang untuk tetap datang ke kelas sekalipun mereka sedang mengungsi. Semangat mereka yang seperti itu harusnya saya tiru.

Sesekali Rahmat dan Salendah Brothers turun ke bawah, ke kos lama mereka untuk mengamati bagaimana perkembangan ketinggian air. Saya ingat perkembangannya sedikit di luar dugaan. Air terus meninggi untuk beberapa hari. Kalau dulu cuma sedada, ketinggian air sempat mencapai atas pintu. Ketika hendak mengambil barang yang tertinggal di kos, Salendah Brothers yang abang mesti sedikit menyelam. Bayangkan bung. Dan besoknya mereka terus datang ke kampus. Keadaan ini berlanjut untuk tiga hari ke depan. Banjir baru perlahan surut di hari ke-4. Orang-orang yang tinggal di tempat saya sendiri memutuskan pulang di hari ke-4 itu.

Alhamdulillah. Keadaan sekarang sudah jauh lebih baik. Tak pernah lagi banjir parah seperti tahun 2013 itu. Kalau memang sudah pernah, Indonesia pasti tahu lewat televisi. Sekarang daerah depan Ciliwung itu sudah dibangun parit besar di bawah jalanan sebagai bentuk antisipasi. Lebar kali diperbesar dan ada juga sodetan Kali Ciliwung yang memakan proses pengerjaan panjang. Semoga dengan adanya itu semua, banjir di sekitar kampus STIS tak pernah terjadi lagi. Cukup kamilah angkatan terakhir yang merasakannya. Tak tega rasanya kalau adik-adik kami ikut merasakan penderitaannya. Sedangkan kami sendiri jelas-jelas tak ingin lagi mengecap rasa banjir untuk kedua kalinya. Tahun ini insyaallah angkatan kami wisuda. Kalau terjadi lagi… ah entahlah. Bakal jadi ‘hadiah’ terbaik sebelum wisuda mungkin :”)

Tentang Rahmat dan Salendah Brothers, mereka masih tinggal di kos yang sama meski sudah 4 tahun berlalu. Banjir tak menyurutkan semangat kuliah mereka pun tidak menyurutkan niat mereka untuk tetap tinggal di bonsay. Untung saja tidak pernah banjir lagi sejak itu. Gairah mereka untuk belajar dan lulus sepatutnya ditiru seluruh mahasiswa. Entah itu demi orang tua, diri sendiri, atau masa depan, setidaknya kita menjaga tujuan baik kita berkuliah. Karena selalu ada orang yang begitu menantikan kita menjadi orang yang lebih kuat nantinya seketika menapak keluar dari kampus

img_7651

Ini hadiah terakhir dari saya. Sebuah foto kami yang polos dan ceria. Itu saya, yang matanya tak kelihatan karena terlampau sipit

Yak! Tak terasa tulisan ini jadi begini panjaaaaaaaaaaaaaaangnya. Kalau ada yang ingin bertanya tentang STIS, bolehlah menghubungi saya via email terlebih dahulu. Alamatnya tertera di halaman About. Lalu…

Wahai pembaca, tak mengapa jikalau tuan-nyonya pembaca melewatkan sebagian besar isi tulisan ini. Pun tak masalah jika tuan-nyonya hanya melihat gambar yang ada. Tetapi mohon jangan lewatkan tulisan yang ini. Sejak senin ini, mahasiswa STIS menghadapi UAS yang sama mengancamnya dengan banjir parah itu. Saya minta doanya agar kami dapat dengan tenang dan mengerahkan segala daya upayanya dalam melewati UAS kali ini. Kalau tak mau mendoakan untuk kami, doa untuk saya saja tak mengapalah. Saya pasrah… Seikhlas pinta kami mengadu, sepintas doa pasti membantu.
TERIMA KASIH

 

Advertisements

41 comments

  1. hahaha… prolog minta doa mau UASnya panjang yaaaa
    amiiin, didoakan, kalian dapat nilai yang bagus2 dan nantinya akan berguna bagi nusa dan bangsa, amiiinn

    mudah2an kedepannya ga pake banjir2 lagi yaaa 🙂

    Like

    1. Wakakakak.. pengamatan yang bagus bang. Memang benar seragam kami tidak dirancang ketat sehingga tampak semua otot2 (atau lemak) di tubuh kami. Mungkin ini ada hubungannya dengan status kami yang mahasiswa, bukan taruna. Tidak seperti taruna STPDN, STIP, dan beberapa kedinasan lainnya

      Like

    1. Ahahahahah.. keadaan yang memaksa san. Anehnya san, kosanku dulu itu nggak mati. Padahal jarak satu rumah di depan mati semua haha.

      Memang angkatan teruji yaa

      Like

  2. yang bisa diingat dari statistik adalah……….peluang??? *eh bener nggak sih

    doaku menyertaimu nak,,, untuk yang matanya terlampau sipit itu (enggak tahu yang mana) hahaha/ eh tapi kaya anak SMA ya?

    Liked by 1 person

    1. Yup, bener mbak mo. Statistik memang dikembangkan dari peluang itu, yang memabukkan…
      Terkadang kami pun berpikir seperti itu. Bahwa dari penampilan dan kelakuan tak ubahnya anak SMA. Selamanya remajaaa -_-

      Liked by 1 person

  3. Sedih sekaligus termotivasi bacanya kak :’)
    Jadi inget kalo musim hujan gini seringnya milih nggak berangkat kuliah cuma karena mager :’)
    Btw, semoga UASnya lancar jaya kak! 😁

    Buat yang penasaran dimana letak si Semut Hitam, dia berada di belakang, dengan pose tangan membentuk hati. Tentunya, matanya nggak kelihatan 😂😂😂

    Liked by 1 person

  4. Kakak saya alumni STIS (saya sudah pernah cerita, haha). Dulu pernah saya di kampung dapat kabar kalau lantai bawah kosnya kebanjiran. Dia pindah kos dari Dawel ke Bonasel (Bonasel 3, tepatnya) juga karena banjir, hehe (padahal di Bonasel juga kena banjir sih secara pas di belakang kosnya adalah kali, haha). Andai saya dulu mengikuti jejaknya masuk STIS mungkin saya juga akan menulis postingan yang mirip-mirip Mas, hehe. Tapi bagaimanapun, semangat mahasiswa sana yang setegar karang jadi contoh buat saya supaya tidak gampang mengeluh. Kayaknya saya enak banget kuliah, tidak pernah kena banjir, bahkan kita berharap hujan badai supaya tidur nyenyak #eh.
    Selamat menempuh UAS, semoga nilainya memuaskan, skripsinya gemilang, dan penempatannya sesuai dengan keinginan. Amin…

    Like

    1. Wah, pengetahuan tentang STIS nya lengkap banget haha. Bahkan saya mesti inget2 dulu Dawel itu yang mana -,- Kakaknya perempuan ya bli? Dawel terkenal karena perempuannya *eh (dengan dramatisasi)
      Ahahah.. saya pun masih digerogoti rasa malas. Sesekali pernah juga mendambakan hari kuliah tak datang minggu ini. Namun kalau melihat teman2 saya sendiri yang seperti ini bener2 memotivasi.
      Amiin untuk doanya. Doa khas orang perguruan tinggi kedinasan nih 😀

      Like

      1. tapi banjirnya sebetis doang kak, gak kayak di meme itu wkwk. malah kata temen saya belum sah jadi warga jakarta kalo belom pernah menerjang banjir hehe

        Like

    1. Serius Quree..
      Seperti yang aku cerita, di tahun aku dulu bagian paling parah sampai sepintu banjirnya. Dan temen2 yang kena banjir itu tetep berkuliah :”

      Like

  5. ya ampun bang fadel, dikau ternyata berjuang mati-matian karena banjir.
    .
    iya..iya didoain, semoga UAS nya lancar. semoga cepat wisuda.
    .
    ps: aku baca semuanya lho, ngakak tapi kasihan.
    .
    btw, kamu yang bentuk tangn jadi love itu ya, bang?

    Like

  6. prolognya kepanjangan hahaha, aku baca cepet aja, lihat gambarnya, dan yang paling penting aku baca terakhirnya, moga uasnya lancar, dapat nilai yang diinginkan, amin .

    Like

    1. Sudah lazim mas kalau nggak tahu haha. Saya juga nggak begitu paham, tetapi ada alasan sendiri bagi mereka yang seperti itu. Alasannya ada yang karena ibu kosnya kelewatan baiknya, ada pula yang karena kosnya murah. Untungnya kalau memang banjir parah terjadinya dalam satu tahun cuma sekali… AAMIIN

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s