Kerajaan Jalanan

Tentang anak Jakarta di sekitar tempat saya tinggal, jalanan adalah tempat bermain mereka. Sebuah kerajaan/tempat bermain yang ideal. Ah, mungkin daripada ideal  lebih tepat dikatakan satu-satunya karena anggaplah tidak tersedia opsi lain. Yang hampir dapat dikatakan opsi lain itu adalah Taman Simanjuntak, taman bermain yang terletak cukup jauh untuk berjalan kaki. Tentu saja daripada mesti berpeluh jauh-jauh ke sana, jadilah jalanan dan gang depan rumah menjadi istana permainan anak-anak di sekitar sini.

Entahlah apa bisa dibandingkan dengan masa kecil saya dulu. Dari segi permainan kami banyak memainkan permainan yang sama. Sebutlah sepak bola tarkam dan layangan. Perbedaannya adalah tempat bermainnya. Saya dulu bermain di lapangan voli, mereka di jalan. Sebenarnya sama-sama bukan tempat yang cukup pantas untuk bermain. Namun bermain bola kaki di lapangan voli masih lebih masuk akal ketimbang bermain bola kaki di jalan yang juga berebut lahan dengan motor atau mobil.

Jika dalam sepak bola profesional bunyi peluit adalah tanda permainan diberhentikan sementara, maka dalam sepak bola tarkam anak sini bunyi klakson lah pengganti peluitnya. Itu tandanya anak-anak diminta menyingkir dari jalan agar mobil/motor yang bersangkutan dapat lewat. Miris memang. Tak jarang pula anak-anak sini melemparkan bencinya kepada si pembunyi klakson lewat menyoraki kendaraan tersebut (dengan nada mayor plus sorak)

Apa yang membuat lebih sedih adalah faktor keamanannya. Karena barangkali terlalu asyik, bunyi klakson atau hawa keberadaan kendaraan yang ingin melewati jalan tidak dirasakan oleh anak-anak sini. Alhasil beberapa kali pernah terjadi saling senggol antara anak-anak dan pengguna kendaraan. Anak usia 10 tahun vs. mobil avanza keluaran 2009. Sudah jelas siapa yang menang.

Jika sudah begini entah bagaimana solusinya. Yang sering terjadi di lapangan adalah orang dewasa yang membawa kendaraan ngomel sendiri. Hasil lain yang mungkin terjadi, malah orang dewasa itu yang memarahi anak-anak karena dinilai bermain sembarangan. Tidak pada tempatnya. Lalu di mana tempatnya kalau begitu? Kembali lagi ke awal, jalanan adalah istana anak-anak sini. Lapangan/tanah kosong terlalu mewah bagi mereka dan kemewahan itu harus ditempuh dengan berjalan setidaknya 2 kilometer.

Jelas anak-anak tak dapat sepenuhnya disalahkan karena ini. Pada hakikatnya mereka hanya menjalankan apa yang seharusnya mereka jalankan, yaitu bermain. Sayangnnya untuk anak-anak sini, ‘tugas’ mereka tersebut terpaksa bentrok dengan hak pengguna jalan lainnya. Saya sebagai pengguna jalan seringkali merasa risih melihat mereka berlarian di jalan dengan masih banyaknya kendaraan lalu lalang. Risih pertama karena jalanan menjadi penuh rintangan dan perlu kehati-hatian ekstra dalam melintasinya. Tentu saya tidak mau terlibat masalah gara-gara saya membuat lutut mereka lecet akibat jatuh atau hal lain yang lebih parah.

Lalu risih yang kedua ikut muncul saat melihat mereka yang masih sangat muda harus berjibaku hanya untuk bermain. Kalaulah tidak kendaraan yang lewat jadi penghalang, beberapa orang dewasa sekitar bahkan dengan kata kasar mencoba menghentikan mereka. Tidak heran anak-anak sini memiliki kepribadian yang keras jika menilik dari masa kecil mereka yang seperti ini, yang terpapar penggunaan bahasa hina nan rendah. Dan kita semua tahu kalau anak-anak adalah peniru yang hebat. Apa yang kita ucapkan dengan mudahnya mereka tiru. Orang Indonesia pada umumnya mengakhiri kalimat dengan tanda baca (./?/!), tetapi tidak dengan anak-anak sini. Mereka mengakhiri kalimat dengan kata ‘tolol’, ‘bego’, atau ‘anjing’. Tak perlulah saya praktekkan.

Barangkali ketiadaan tempat bermain bagi anak-anak hanya terjadi di sudut-sudut ibukota dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah. Tetapi sadarlah betapa banyaknya masyarakat ekonomi sulit itu dan bayangkan ada lebih banyak lagi anak-anak yang hidup di wilayah itu. Mereka si penghuni kerajaan jalanan sangat banyak. Sayang satu hal sering terlupa, masing-masing dari mereka adalah masa depan kita. Akan menjadi tulang punggung saat tulang punggung yang sekarang sudah keropos kelak. Apa yang akan terjadi di masa depan apabila masa anak-anak saat ini kita rusak?

Advertisements

10 comments

  1. Jakarta memang keras ya, bahkan bagi anak-anak yang bermain itu sebenarnya jadi salah satu kebutuhannya. Serbasalah sih kalau lewat di jalanan yang banyak anak main-main. Most of the time kalau saya ya mengalah, jalankan motor pelan-pelan. Memang masih kurang banget ruang terbuka ramah anak di kota ini. Makanya kemarin agak takjub juga melihat taman di Kalijodo itu, banyak anak-anak main di sana. Paling tidak tempat itu lebih baik. Mudah-mudahan pemerintah membangun taman lebih banyak lagi, hehe.

    Like

  2. Kalo nurut saya gimana pun keadaannya sebaiknya tidak diperbolehkan bermain di jalanan. Kan ada rt atau rw atau lurah yg seharusnya segera mengatasi masalah tersebut dengan menyediakan ruang kosong untuk anak2. Itu tugas pemimpin di daerah sekitar agar warganya sjahtera.

    Like

  3. Kayanya bandung pun gitu, untuk yang rumahnya dengan kondisi ekonomi kebawah, anak2nya main di jalanan. Nggg tapi untungnya di bandung udah banyak ruang publik dan taman2 yang mumpuni untuk anak2 bermain, dan lokasinya gak jauh2 juga sih karena tempatnya banyak. Walau banyak, itupun mungkin masih dianggap kurang kali ya, entahlah hehehe.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s