Dalam Melanjutkan Pendidikan

“Oy del, tolong dulu itu sepupumu. Masa’ milih sekolah aja bingung.”

Masa’ milih sekolah aja bingung? Tentu saja bingung. Terlebih kalau sepupu saya ini belum tahu minatnya apa. Saya ingat dulu sewaktu hendak melanjutkan kuliah, masa-masa seperti inilah yang saat menentukan. Yaitu masa menjelang kelulusan SMA

Tidak seperti kelulusan SMP atau SD sebelumnya, banyak sekali perbedaan pada kelulusan SMA yang membuat kita menentukan pilihan. Mari ingat kembali. Ketika lulus SD, pilihannya cuma dua, yaitu masuk SMP atau tidak. Tidak ada pilihan lain selain dua pilihan ini.  Ditambah lagi, sulit rasanya membayangkan kalau ada orang yang bingung di antara kedua pilihan itu. Yah, kita tidak membicarakan kasus-kasus ekstrem seperti di daerah terpencil yang saking terpencilnya penjual gorengan juga tidak ada. Tetapi bagi kita yang diberikan kemudahan, tentu memilih melanjutkan pendidikan ke SMP adalah pilihan yang jelas. Keuntungannya jauh lebih banyak ketimbang memilih menetap dengan gelar SD nya. Pun sama dengan kelulusan SMP. Hanya saja pilihan yang tersedia bertambah banyak dengan konsekuensi berbeda saling signifikan (SMA/SMK/cukup, saya tidak bisa sekolah lagi)

Lalu kita berkembang dan berkembang hingga akhirnya tak terasa masa kelulusan sudah menjelang. Kini kita dihadapkan pilihan yang jauh lebih banyak, jauh lebih berisiko, jauh lebih membingungkan. Di saat seperti ini, masa kelulusan SMA, kita akan semakin dekat ke jawaban apa sebenarnya kelak cita-cita okupasi kita akan terwujud. Penentunya adalah titik ini

Kalau bercita-cita menjadi pengacara, idealnya kita belajar hukum dalam fakultas hukum pula. Karena (umumnya) pengacara tidak lahir dari laboratorium kimia, ruang bedah, atau sawah penelitian. Sama halnya dengan pekerjaan lainnya yang membutuhkan spesifikasi akademik tertentu. Oleh karena itu penentuan jalur pendidikan yang harus dipilih saat lulus SMA adalah persimpangan terpenting yang masing-masing jalan bermuara pada pekerjaan di masa depan. Meski ini tidak selalu karena ada yang namanya skenario dari Sang Pencipta

phd091912s

Kadang nyakitin kalau melihat ini -_-  (sumber)

Dalam memilih, sebuah studi mengatakan otak kita mempertimbangkan dua hal yaitu Kemampuan Kognitif dan Preferensi Pribadi. Kemampuan kognitif adalah saat kita membandingkan pilihan yang ada dengan melihat risk and rewardnya. Kurang lebih ia menjawab pertanyaan apa ma’rifatnya lebih banyak daripada mudharatnya. Lalu ada preferensi pribadi yang bermakna kecenderungan kita ke dalam suatu pilihan. Ini terbentuk karena pengalaman masa lalu atau memang sudah menjadi naluri seseorang. Kedua hal inilah yang utamanya bekerja saat kita mencoba memilih sebuah pilihan. Dan ya, ini juga berlaku ketika kita memilih ‘sekolah’ selanjutnya.

Masalahnya, dalam kebanyakan kasus, ada faktor lain yang justru malah lebih dominan memengaruhi proses kita menentukan pilihan, yakni faktor pilihan orang tua. Karena ini sangat penting bagi masa depan si anak, orang tua biasanya mengintervensi pilihan anak. Alasannya karena anak adalah ‘anak’ dari orang tua tentunya, yang ditumbuhkan dengan rasa cinta dan karena itu peduli dengan masa depannya. Hanya saja terkadang pilihan orang tua berselisih dengan anak. Apabila memang demikian, dalam memilih piilihannya si anak kehilangan faktor preferensi pribadi yang sebelumnya sudah ‘disetir’ oleh orang tua. Dapat dikatakan pilihan yang ada tereliminasi menjadi beberapa saja akibat setiran itu. Mungkin anak menjadi tidak bingung lagi dengan pilihan yang lebih sedikit, tetapi masalahnya apa anak akan senang dengan pilihan yang tersedia? Apa anak dapat melanjutkan pendidikan meski itu tidak sesuai dengan apa yang ia rasa suka? Bagaimana masa depan anak tersebut jika memang begitu?

Selain sepupu saya itu, adik saya juga akan lulus SMA tahun ini dan tugas saya adalah menyediakan pilihan sebanyak mungkin sehingga ia dapat memilih sebebasnya berdasarkan kemampuan kognitif dan preferensi pribadinya. Tentu orang tua dan saya akan ikut membantu memberi masukan agar kognitifnya tajam. Namun untuk preferensi, akan sebaiknya kami serahkan penuh padanya sambil mengawasi. Satu hal lain yang penting dalam menyediakan pilihan itu adalah dengan memastikan kalau biaya dan segala tetek bengeknya tidak menjadi tembok penghalang.

Advertisements

15 comments

  1. Kalau dilihat-lihat sekarang mungkin pilihan saya selepas lulus SMA dulu terlalu realistis. Yah, tapi ke mana pun kita melangkah dan jalan apa pun yang kita pilih pasti punya sisi positif dan negatif, yang penting siap saja dan bisa melalui. Jika pada akhirnya merasa salah pilih dan menemukan bidang yang ingin digeluti, jadikan saja hobi, haha (dalam kasus saya sih demikian, hehe).

    Liked by 1 person

    1. Emang kubantu Mbak Mo hoho…
      Kebetulan doi tipe2 yang kalau galau bisa menahun. Selalu aku kasih masukan dan saran kok. Sekarang masih cari tahu minatnya dulu sih. Kalau ngikut abangnya nggak tahu deh, katanya dia bosen jadi pengekor…

      Aahh.. semangatnya bercerita si adik satu itu

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s