Adiba dan Pemuda Kalem Padahal Nekat

Adiba, 22 tahun, telah selesai menempuh pendidikannya. Tak ada lagi kata bangga yang dapat aku dan Zahira sematkan pada perempuan kecil kami ini. Ia shalehah, cerdas, dan mampu membedakan yang baik dan bathil. Kini aku yakin, bahkan di saat aku tidak ada nanti, ia bisa menjaga dirinya sendiri. Akulah yang membutuhkan pertolongannya kelak.

“Assalamualaikum…”

Zahira bergegas menuju pintu. Keluarga kami kedatangan tamu. Seorang lak-laki muda sepertinya. Zahira menghabiskan waktu cukup lama berbicara dengan tamu tersebut yang berada di depan pagar, hal yang membuatku penasaran siapa gerangan si tamu tersebut. Namun belum sempat aku keluar, Zahira sudah kembali. Wajahnya terlihat panik bercampur bingung

“Bah, ada tamu…” kata Zahira ragu

“Iya, tahu. Siapa sih? Kok kayaknya kamu jadi pucat gitu. Mau ngapain dia?”

“Katanya mau ngelamar Adiba anak kita…”

Hmm… jadi begitu rupanya. Bahkan aku pun tak sanggup berkata-kata lagi

Si pemuda kemudian dipersilakan masuk. Dengan malu-malu ia masuk ke kawasanku, yang notabene wilayah musuh baginya. Aku mempersilakannya duduk di sofa tua kami dan sambil basa-basi, ia mulai memperkenalkan diri. Beberapa menit kemudian aku mulai tau siapa dia. Bahkan lebih jauh, aku tahu siapa keluarganya, latar belakang pendidikannya, status pekerjaan dan lain sebagainya. Lalu setelah semua itu, keluarlah kalimat nekat,”Saya ingin menikahi anak Bapak!” yang tidak sesuai dengan wajahnya yang terlihat kalem.

Aku tidak tahu bagaimana dengan dia, tetapi aku merasa gugup. Sejak tadi aku terus diam membisu sambil memperhatikannya ngomong ke sana kemari. Entah apa yang selayaknya kuperbuat. Ini pertama kalinya ada orang yang mencoba merampok anakku dariku. Jadi kuputuskan untuk mencerna terlebih dahulu apa yang sedang terjadi saat ini dan memikirkan langkah terbaik. Aku harus pergi ke belakang untuk berdiskusi dengan Zahira dan Adiba

Di belakang, ternyata Adiba sedang menguping pembicaraan kami.

“Adiba, kamu kenal siapa dia?”

“Kenal bah. Kami satu fakultas pas kuliah kemarin.”

“Menurut kamu Abah harus gimana?” tanyaku ragu

Namun Adiba tak menjawab lagi. Dari raut wajahnya ia terlihat malu-malu. Salah juga aku bertanya padanya. Yang harus kulakukan sekarang adalah diskusi dengan Zahira. Sudah seharusnya aku meminta saran dari Zahira istriku. Biasanya ia dapat diandalkan untuk masalah begini. Tetapi anehnya istriku itu tak dapat ditemukan di rumah. Tidak di kamar ataupun wc. Kulihat ke depan rumah, sandal yang biasa dipakai Zahira tidak ada. Kalau begini sudah jelas ia mengungsi ke warung untuk sementara. Tinggallah aku sendiri menghadapi pemuda yang terlihat kalem padahal nekat itu

Kemudian aku kembali ke sofa untuk bertanya padanya,

“Mengapa anak saya?”

 

 

 

 

 

SELESAI


 

Alhamdulillah selesai juga 🙂

Sebenarnya ingin dibagi menjadi lebih sedikit. Tetapi rasanya aneh kalau dipaksa selesai saat itu. Begitupun kalau digabung. Takut jadi kepanjangan untuk ukuran satu postingan saya. Saya sendiri sebisa mungkin tidak menulis yang terlalu panjang dalam satu postingan. Pasti lemas orang membacanya kalau panjang sekali. Melihat panjang tulisan panjang saja bisa jadi jatuh mental duluan, jadinya tidak terbaca sama sekali.

Oh ya, kalau sadar, pertanyaan “Mengapa anak saya?” adalah pertanyaan yang sama yang disampaikan Ayah Zahira kepada tokoh Abah saat ia melamar. Jadi semacam siklus kegiatan yang sama. Barangkali si pemuda ini akan mengikuti rekam jejak yang sama dengan Abah, dan Adiba yang menjadi sosok Umi/Zahira yang baru

Menulis cerpen ini sangat menyenangkan. Mungkin karena saya yang belum menikah dan belum merasakan membangun keluarga dari nol, makanya membayangkan membangun keluarga sendiri membuat saya girang dan malu-malu sendiri. Timbul pula pertanyaan, apakah kelak saya akan memulai keluarga seperti itu? Apakah keluarga saya kelak seperti Zahira dan Adiba? Jawaban pertanyaan ini tidak akan terjawab kecuali (minimal) 1 tahun ke depan haha. Yang jelas saya gembira dengan cerita ini. Semoga rasa bahagia saya tertular kepada pembaca 🙂

Advertisements

17 comments

  1. Bener… kadang kalo baca banyak jadi megap2 gt Del. Tapi makin kesini postingan sy malah jd pajang ya… #rem mana rem…

    Adiba cepet gede yo, cepet kawin.. nggak kaya….. saya. Hahahshahaha

    Liked by 1 person

    1. Megap2 😂😂😂
      Tapi tulisan Mbak Mo banyak kejutannya di titik demi titik. Jadi tetap menarik, penasaran ada apa lagi di titik berikutnya 👍🏼👍🏼👍🏼

      Untuk yang terakhir ikut doain aja deh mbak mo. Semoga cepet ketemu sama teman berjudinya… HA HA

      Like

  2. Salut, eh, mau konsisten nulis serial. Saya menikmati si Adiba ini. Iri sih karena sering coba konsisten menulis serial, tapi tidak betah. Saya orangnya gampang lupa, terlampau mudah move on sih 😀

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s