Adiba, 12 Tahun

Sebuah cerpen islami, tentang Adiba yang sudah 12 tahun 🙂


Adiba, 12 tahun, ternyata memang memiliki mata yang sipit. Persis abahnya. Zahira mau tidak mau menerima kenyataan ini. Adiba juga menjadi seorang perempuan yang cantik. Hal yang membuatku senang bercampur khawatir

Ia tidak lagi suka memanjat karena semakin memahami hakikatnya sebagai perempuan yang memang tidak memanjat. Bisa dibilang itu semua berkat Zahira. Ia lah yang mendidik Adiba menjadi perempuan sejati didikan agama. Berkat Zahira juga perempuan kecil kami ini verbal dan memiliki daya kritis yang tinggi

“Bah…” kata Adiba memanggilku

“Ya nak?”

“Katanya negara kita negara muslim terbesar di dunia bah?”

“Ohh iya nak. Betul itu. Kamu harus bangga dengan hal itu.”

“Kenapa harus bangga bah?”

Pertanyaan itu semakin sulit kujawab. Karena jawaban yang ingin kukatakan ada dalam pertanyaan Adiba yang pertama, yaitu kita bangga karena menjadi negara muslim yang terbesar. Adiba kemudian melanjutkan,

“Di Indonesia banyak orang yang bergelar haji. Diba bisa lihat sendiri bah, banyak sekali poster dan baliho milik calon legislatif di pinggir jalan yang pakai nama haji di depannya. Orang pemerintah yang bergelar haji pasti lebih banyak lagi ya bah. Tetapi anehnya korupsi di Indonesia tetap saja menggila

Pas Diba nonton televisi juga sama aja bah. Tiap hari isinya acara nggak bagus. Gosipin orang lah, umbar-umbar auratlah, tindak kekerasanlah. Apa di Indonesia ini orang-orangnya menyukai tontonan seperti itu bah? Memang acara tausiyah juga masih ada, tetapi jumlahnya kalah jauh dibanding acara maksiat yang Diba perhatikan

Jumlah masjid yang ada di Indonesia juga banyak banget. Tetapi jarang sekali Diba lihat shaf shalat berjamaah terisi setengah masjid, apalagi full. Palingan pas shalat jumat doang. Masa’ harus nunggu orang menghina Qur’an dulu baru kita semua tergerak untuk bersatu? Rasanya nggak pantes aja. Seakan-akan semangat kita cuma muncul kalau dipancing amarah aja. Entah apa kita akan tetap berkumpul bersatu kalau tidak ada yang menistakan agama kita. Menurut Diba yang namanya kuat itu konsisten. Tiap hari, tiap minggu. Seenggaknya ketika azan menyeru dapatlah kita pahami itu sebagai seruan untuk berhimpun. Kalau kita, umat muslim terbesar di dunia menyeru kepada yang satu, pasti keren banget

Makanya Diba masih bingung bah, kenapa kita harus bangga?”

Pertanyaan yang sama sekali tidak dapat kujawab. Apa yang anakku utarakan semuanya benar. Selama ini aku merasa cukup bangga dengan hidup di negara mayoritas muslim. Hidup bersama menjadi negara dengan penduduk Islam terbesar di dunia. Tetapi pada nyatanya jumlah muslim yang sangat banyak itu memiliki posisi dan keimanan yang lemah. Masjid jarang penuh, tetapi kalau urusan maksiat bisa jalan terus. Sedekah harus seirit mungkin, tetapi kalau masalah pakaian dan gadget harus semewah mungkin. Kontras sekali dengan hadits Rasulullah yang pernah kubaca:

Rasulullah SAW bersabda: “hampir terjadi keadaan yang mana umat-umat lain akan mengerumuni kalian bagai orang-orang yang mengerumuni piring makanannya.”

Salah seorang sahabat bertanya, “Apakah karena sedikitnya kami saat itu?”

Rasulullah berkata: “Bahkan di saat itu kalian sangat banyak jumlahnya, tetapi kalian bagai ghutsa’ (buih di lautan) …” … (HR. Abu Daud, Ahmad)

Sekarang pertanyaannya, apakah aku termasuk buih itu? Apa kami termasuk buih-buih itu? Apa kamu juga termasuk buih-buih itu?

Advertisements

7 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s