Adiba, 8 Bulan

“Ayo sini sama Pappi, kita belajar jalan,” ajakku pada Adiba.

Adiba, 8 bulan, tumbuh menjadi perempuan kecil yang sehat. Kini dia sudah merangkak, berdiri berpegangan dan sepertinya punya kemampuan fisik mengagumkan. Aku menebaknya begitu karena Adiba hobi sekali memanjat. Tak ada benda rumah yang lolos dari panjatannya. Kasur, kursi, meja makan, lemari bahkan pintu sekalipun. Bayangkan, pintu! Pintu yang cuma papan datar dengan satu gagang itu dapat ia panjati seakan sedang panjat tebing. Aku bangga melihat perkembangannya yang seperti itu, tanda bahwa ia akan tumbuh kuat. Menonton ia memanjat seakan melihat calon atlet panjat tebing versi mini. Tetapi sayang Zahira megap-megap setiap kali melihat Adiba beraksi, dan kalau ia megap-megap, ia suka memukul perut suami. Entah respon macam apa itu. Maka dari itu daripada cekung perut ini plus kena omel tak berujung, setiap kali ada Zahira aku selalu menahan panjatan Adiba. Biarlah aku yang dipanjat

“Idih… Masa’ dipanggil Pappi. Nggak cocok tau.” kata Zahira.

Walau sudah 8 bulan, kami masih belum memutuskan apa panggilan ayah-ibu yang cocok pada kami. Setiap bulan panggilan itu terus berganti. Bulan ini aku mencoba panggilan ayah yang glamor, mulai dari Papa minggu lalu, Pappi minggu ini, dan Pipi untuk minggu depan. Bulan lalu aku menggunakan panggilan yang cukup sastrawi, ayahanda. Ini adalah kebijakanku sendiri yang ditentang Zahira namun tetap kujalankan diam-diam, selama ia tidak dengar. Kebijakan yang amat beresiko.

Namun kebetulan kali ini ia mendengar aku menjuluki diri sendiri ‘Papi’ yang masih bisa diresponnya dengan nada canda. Mungkin kalau kuteruskan, nada canda itu berubah menjadi tanpa nada, tanda Zahira sudah mendidih. Setelah ia bilang panggilan Pappi tadi tidak cocok, aku tak langsung percaya. Lantas aku mempraktekannya sendiri, memanggil ‘Papi’ berkali-kali di depan cermin yang ternyata membuatku mual. Sepertinya Zahira benar.

Pada akhirnya kami menggunakan panggilan Abah-Umi setelah perkataan tanpa nada Zahira. Kupikir itu bagus. Selain itu aku memang tidak punya pilihan lain kalau ibu satu ini sudah memutuskan.

Satu hal yang tak pernah lepas dari Adiba selain sesi panjat-memanjatnya adalah sesi tilawah. Kami saling bergantian membacakan tilawah di dekatnya. Ini agar ia semakin cepat mencintai bacaan firman-firman Allah, sebagai bacaan yang akan paling banyak ia baca kelak sepanjang hidupnya. Selain itu ustadz kami juga menerangkan bahwa membacakan Al-Qur’an pada anak dapat meningkatkan kecerdasan intelektual dan emosional mereka. Sesuatu yang katanya sudah dibuktikan penelitian ilmiah

“Luar biasa kan Bah kata Ustadz Fatih?”

Oh, semenjak itu panggilan Abah melekat padaku

Advertisements

17 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s