Ayah Zahira

Hola! Kali ini saya memutuskan untuk mengorbitkan salah satu cerpen saya ke dalam blog. Cerpen kali ini cukup panjang. Ukuran aslinya 8 halaman penuh kertas A4. Oleh karena itu cerpen ini saya bagi-bagi menjadi beberapa bagian. Konsepnya jadi semacam cerbung gitu. Ini adalah cerpen Islami. Akan ada banyak istilah dan materi keislaman di dalamnya.

Oh ya, mohon maaf bila membosankan. Selamat menikmati πŸ™‚


Bisa dibilang semua berawal dari kursi sofa itu. Sofa yang jelas sudah tua dan kehilangan kekencangannya. Di sofa itu aku duduk membisu, terbisukan suasana beku. Terutama setelah pernyataanku yang naif, β€œSaya ingin menikahi anak Bapak!” direspon dengan senyap. Biarpun latihan cara menizgucapkan kalimat itu dengan lancang plus meyakinkan sudah kulakukan seminggu belakangan, aku sama sekali tidak latihan mengenai respon apa yang harus diberikan apabila pernyataan tadi cuma ditanggapi dengan diam. Pada akhirnya aku ikut diam sampai batas waktu yang tak ditentukan. Tutorial menghadapi calon mertua yang beredar di internet menggambarkan calon mertua sebagai orang yang galak, overprotective, kepo status AWAS, atau suportif, Tidak ada yang tipenya pendiam atau pasif atau pemalu

Aku tahu tadi Zahira bersembunyi di balik kamar itu. Kurasa ia menguping pembicaraan kami. Aku juga yakin lelaki di depanku ini, Ayah Zahira, tahu akan hal itu. Karena itu ia meminta permisi sebentar ke belakang. Barangkali ingin berdiskusi pribadi dengan Zahira. Diskusi paripurna yang menentukan jalan hidupku atau lebih tepatnya jalan hidup keluarga yang akan kuimami nantinya. Yang menjadi ladang sekaligus kendaraan menuju jannah

β€œMengapa anak saya?” tanya Ayah Zahira lagi ketika kembali

β€œSaya ingin menikah karena Allah Pak. Saya ingin seseorang yang mengingatkan saya ketika saya salah nanti, seseorang yang mendoakan saya dalam sehat maupun sakit, seseorang yang karenanya anak-anak kami ikut mendoakan kami. Saya melihat anak Bapak adalah orang itu. Selagi apa yang saya pahami tentang istri yang baik adalah istri yang shalehah, saya ingin menikahi anak Bapak secepatnya. Saya takut jika tidak dengan anak Bapak, ketika dalam perjalanan pulang nanti saya terpikat dengan perempuan yang salah dan berubahlah pemahaman saya tentang konsep istri yang baik. Saya takut jika tidak dengan anak Bapak, keluarga saya kelak berada dalam kesesatan yang nyata.”

Advertisements

10 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s