Dilema Atas Sebuah Kursi

Yang paling saya sukai ketika naik transjakarta adalah karena kita dapat berjumpa dengan berbagai macam orang. Secara tak langsung kita mengamati bagaimana keadaan umat manusia saat ini saat bergerombol. Dan maksud saya bertemu banyak orang juga berarti bertemu banyak perempuan, makhluk agung paling membingungkan

Suatu siang di bus transjakarta, secara ajaib tersisa satu kursi kosong. Kursi yang terabaikan itu seakan berkata, “Hei, saya nganggur. Duduk sini cepat. Jangan merasa sok kuat!” Maka tanpa ba bi bu saya turuti apa maunya, yang sebenarnya mau saya juga.

Tak lama kemudian seorang perempuan masuk. Perempuan yang sepertinya pekerja kantor. Entah apa gerangan yang membuatnya naik transjakarta pada siang ini ketika (mungkin) seharusnya ia berkutat di depan komputer. Tetapi yang jelas perempuan ini ada di bus dengan saya.

Telah dikatakan sebelumnya bahwa kursi yang saya duduki adalah yang terakhir kosong tadi. Artinya tak ada lagi kursi kosong sekarang dan perempuan itu terpaksa berdiri dekat dengan saya.  Di sini satu pertanyaan menyikut naluri saya sebagai lelaki. Apa saya harus menyerahkan kursi?

Pertimbangan:

  • Saya laki-laki. Dia perempuan. Perempuan lebih lemah dibanding laki-laki, jadi sudah seharusnya saya merelakan kursi untuk bokongnya
  • Saya laki-laki. Dia perempuan. Lalu kenapa? Toh saya juga capek dan perlu duduk. Perjalanan masih panjang. Sepanjang kasih ibu kepada beta
  • Saya laki-laki. Dia perempuan. Kalau memang tidak ada yang berdiri, termasuk laki-laki yang pura-pura tidur di kanan saya, saya akan berdiri. Biar yang lain malu karena jadi laki-laki tak tanggap. Siapa tahu perilaku saya ini menjadi inspirasi bagi mereka di kemudian hari
  • Saya laki-laki. Dia perempuan. Tetapi bapak kumisan di kiri saya juga laki-laki. Biar ia saja yang mengikhlaskan tahtanya. Toh kumis menandakan kejantanan, sudah sepantasnya ia yang berdiri. Lagipula perempuan ini cantik. Saya tak ingin dicap sebagai laki-laki murahan yang gampangnya menyerahkan kursi karena ia cantik.

Timbang pikir timbang, pada akhirnya saya yang berdiri. Mungkin karena terobsesi ingin jadi pria tampan yang gemar menolong orang. Padahal jadi tampan untuk saya sudah mustahil

Namun apa yang terjadi? Saya ditolak bung! Sudah susah payah mengangkat badan sambil bersuara manis, “Silahkan mbak”, tetapi saya malah dicuekin. Senyum terbaik saya dibalas dengan senyum terpaksa. Seperti senyum ketika kita menolak seorang salesman penjual barang mahal nan kurang berfaedah

Ternyata saya tidak sekedar dicuekin. Perempuan itu lanjut berkata, “Nggak apa-apa kok mas. Saya masih kuat.”

Pada saat inilah nilai konkrit dari emansipasi wanita terasa. Tidak hanya pada hari kartini saja disuarakan. Tidak hanya ketika wanita ingin kebagian sesuatu yang enak saja, tetapi juga berbagi bagian tidak enaknya. Di sini saya merasa kesetaraan gender laki-laki dan perempuan benar-benar terjadi. Hanya dengan satu kalimat perempuan ini.

Selama ini emansipasi digaungkan demi kebebasan wanita agar dapat terjun di lingkungan masyarakat sebagaimana laki-laki, yang tidak terkungkung dalam pagar rumah tangga saja. Lebih jauh, emansipasi dianggap sebagai pendobrak stigma bahwa wanita hanya untuk dapur-sumur-kasur. Itu adalah pandangan yang teramat kuno dan saya tidak setuju kalau wanita cuma untuk dapur-sumur-kasur. Wanita perlu kebebasan layaknya laki-laki.

Lewat emansipasi pula wanita ingin menunjukkan bahwa wanita adalah makhluk yang kuat dan layak disejajarkan. Namun dalam beberapa kesempatan, masih ada wanita yang malah menafikan esensi emansipasi ini. Seakan emansipasi hanya diperjuangkan apabila itu menguntungkan (jabatan, gaji, kursi politik dll). Apabila itu merugikan, rusaklah makna emansipasi tersebut. Contoh kasus yang mudah adalah masalah tempat duduk dalam transportasi umum. Mohon maaf, tetapi beberapa kali saya merasa ada perempuan yang merasa ia harus diprioritaskan dalam urusan tempat duduk. Bahkan sudah pernah terdengar perdebatan berbuntut panjang hanya demi tempat duduk selama hitungan menit. Tak ada lagi yang namanya kesetaraan jika itu menyangkut tempat duduk transportasi umum. Beberapa wanita menganggap ia adalah prioritas

Kita mungkin masih ingat dengan sebaran ini

Cerita ini mudah untuk dipercayai. Siapapun yang pernah merasakan ganasnya KRL dan transjakarta ketika jam sibuk kemungkinan pernah melihat tipe-tipe perempuan seperti ini. Wanita yang tidak tua, tidak hamil dan jelas belum hamil, tidak menggendong anak, anggota tubuhnya lengkap dan berfungsi normal, tidak sakit, tetapi ia malah merasa mendapat tempat duduk adalah keharusan. Tak jarang tipe wanita seperti ini tidak mengalah meski di dekatnya ada golongan prioritas yang sebenarnya

Saya bahkan pernah membaca curhatan seorang pengguna KRL mengenai perilaku wanita dalam gerbong khusus perempuan. Disiratkan di tulisan itu bahwa kepedulian untuk memberikan tempat duduk kepada wanita yang lebih membutuhkan dalam gerbong khusus perempuan sangat mengenaskan. Sama sekali tak ada rasa iba dari perempuan muda dan sehat kepada wanita prioritas. Pada akhirnya wanita prioritas (tua, menggendong anak, cacat, hamil) lebih memilih gerbong biasa karena di sana masih ada kepedulian. Hal ini tentu sangat memprihatinkan

Tentu tak ada maksud saya menulis ini untuk mendiskreditkan kaum wanita. Pun tak ada niatan saya untuk menggeneralisir semua wanita tamak akan tempat duduk yang hanya sementara. Tak semua wanita seperti itu. Masih banyak wanita yang sadar diri dan memahami makna sebenarnya dari emansipasi wanita. Sebenarnya adalah pemikiran yang sempit kalau emansipasi hanya dimaknai ‘sama-sama pantas berdiri di transportasi umum’. Tetapi kalau sudah menyangkut prioritas tempat duduk, alangkah baiknya jika definisi prioritas itu adalah yang benar-benar membutuhkan. Sungguh perempuan adalah makhluk yang kuat. Hanya saja mungkin ada pola pikir yang tak kunjung dihapus dari beberapa laki dan perempuan yang mengatakan perempuan itu, dalam tanda kutip, lemah. Jika bepergian kerja yang menempuh jarak berpuluh-puluh kilo sanggup, banyak hal lain yang sebenarnya disanggupi juga namun terbentur mental block.

Saya masih sering menemui wanita luar biasa dalam transportasi umum. Yang kuat dan tidak merasa tempat duduk hukumnya wajib hanya karena ia wanita. Tentang cerita saya di bagian atas itu adalah cerita nyata. Ketika perempuan yang saya tawarkan tempat duduk malah menolak.

Lanjut ke cerita lagi, ketika merasakan mental shock karena kebaikan hati saya ditolak mentah-mentah, tempat duduk tadi jadi kosong. Tak ada pemiliknya. Si perempuan ini masih enggan duduk. Sedangkan saya? Adalah keputusan yang sangat memalukan kalau saya yang duduk di tempat itu lagi. Kesannya itu seperti memberi kado ultah ke orang lain tetapi minggu depan kado tersebut saya ambil lagi. Untuk menghindari rasa malu lebih jauh, akhirnya saya turun di halte terdekat. Biarpun halte tujuan saya masih jauh. Sangat jauh.

Oh ya, satu lagi. Saya sama sekali tak menyesal memberikan tempat duduk saya kepada perempuan tadi biarpun saya jadi harus mencari bus transjakarta lain. Ada rasa kebanggaan sendiri ketika saya sebagai lelaki menyerahkan kursi itu pada wanita, makhluk membingungkan paling agung. Mungkin ini karena naluri lelaki saya yang kental. Sesungguhnya memuja wanita mengalir deras dalam merah darah lelaki, dan selamanya akan terus begini.

Advertisements

53 comments

  1. Menarik…

    Saya selalu kagum dengan laki2 yg bersedia mmberikan tmpat duduk untuk wanita d kendaraan umum, menurut saya itu keren…

    Kalau saya pribadi, ktika naik kreta slalu mmilih d gerbong wanita, dan saya slalu berprinsip ‘untuk apa mempertaruhkan sifat baik hanya demi tempat duduk yg bahkan hanya ditempati sebentar saja, mending berdiri 😁’

    Like

    1. Ahay, keren…
      Perempuan seperti Mba Dila jauh lebih keren 🙂 Kalau semua penumpang KRL berpikir logis seperti mba barangkali nggak ada lagi kejadian tidak mengenakkan seperti berebut tempat duduk

      Liked by 1 person

  2. Beberapa hari yang lalu saya bertemu dengan Ibu-ibu usia 30an di KRL, beliau duduk di kursi prioritas. Kemudian datang Ibu hamil, sudah ada mas-mas yang bilang “Ini ada ibu hamil ayo kasih tempat duduk.” Dan si Ibu yang duduk di bangku prioritas tetep diam ga bergerak, si ibu hamil pun berdiri lama sampai kemudian ada oranglain di bangku seberang yang kasih tempat duduknya. Ga lama kemudian ada kakek-kakek sepuh banget, didiemin juga berdiri di depannya. Sampai si kakek jatuh mungkin saking ga kuatnya (bisa jadi karena beliau sakit juga cuma ga bilang2) dan si ibu ini tetep diam, yang kasih bangku malah orang lain. Kemudian, ada sekeluarga dengan 2 anak-anak kecil, si Ibu ini tetep diem dan bahkan sampai disamperin sama satpam KRL, malah beralasan “ini saya sama anak saya” padahal anaknya udah gede banget dan udah dapat tempat duduk sendiri. Saya sebel jadinya sama ibu ini. Lebih sebel lagi karena saya cuma bisa diam dan mbatin, ga berani menegur si Ibu 😥

    Like

    1. Kasus ibu ini sudah level tinggi sepertinya. Penasaran aja apa yang ada di pikirannya ketika dilihat orang lain bahkan ketika sudah disamperin satpam KRL sekalipun

      Itu pula yang ikut saya sesalkan. Sering saya hanya diam melihat golongan prioritas nggak bisa duduk. Semoga saya ditambahkan keberanian untuk berkata benar

      Like

    1. Wkwk… terpancing menambahkan kalimat penutup yang tidak perlu 😆
      Saya malah menikmati kok ris berinteraksi dengan wanita. Ini demi mencari jawaban atas segala kebingungan ini *halah*

      Like

  3. Wkwkw….. Mungkin wanita tersebut juga malu sama penumpang lainnya kalau harus mendapatkan tempat duduk. Apalagi klo wanita cantik, harga dirinya lebih tinggi lagi karena sudah biasa mendapat perlakuan istimewa dari lelaki.

    Liked by 1 person

  4. Mungkin anda terlalu banyak pertimbangan sebelum memberikan tempat duduk pada wanita tersebut.. jadilah sebaliknya ia juga punya banyak pertimbangan pula sebelum menerimanya..hahaa.. becanda ding.
    Lebih dari dua minggu yang lalu saat saya naik bus TJ juga ada kejadian serupa komen di atas saya saat ada ibu hamil besar naik dan petugas langsung mengarahkannya ke bangku prioritas yang waktu itu penuh bahkan untuk berjalan ke tengah saja sulit karena waktu itu bus sudah penuh sekali, nahasnya sampai satu dan dua kali petugas berteriak ke perempuan2 yang duduk tapi tidak satupun yang beranjak dari kursinya.. jelas saya heran tapi tentu tidak bisa berbuat apa-apa karena sama2 berdiri.. setelah teriakan ketiga kalinya dan karena teguran seorang ibu pada salah satu wanita yang duduk barulah ibu hamil tersebut bisa duduk.
    Terlepas dari pantas atau tidak pantas, peduli atau tidak peduli, terkadang terlintas di benak ini, mungkin beberapa dari mereka merasa lelah dan halte tujuan masih jauh, apalagi di sore hari biasanya kebanyakan penumpang wanita adalah para pekerja yang baru pulang kerja, yang duduk terlihat tidur nyenyak sekali bahkan tak sedikit yang berdiri juga terkantuk-kantuk sambil menggantungkan kedua tangannya ke atas..
    Yah.. dinikmati saja realita kehidupan Jakarta, armada bus TJ terus di tambah tapi nampaknya tidak mengurangi penuh sesaknya.

    Like

    1. Wkwk… berarti saya harus selalu spontan nih kalau berinteraksi dengan wanita. Yang penting pikir cepat 😆

      Kasus yang seperti kamu ceritakan juga pernah saya saksikan sendiri. Miris memang. Apalagi kalau ingat sebenarnya kita cuma mempertahankan kursi yang hanya hitungan menit

      Like

  5. Mancap jiwa. Andai semua mas2 dan mbak2 yg segar bugar di luar sana kaya mas fadel..
    Kadang kalau naik kendaraan umum banyak yang tertidur. Tahu2 pas jatah turun pada bangun aja. Pas sekalii..

    Like

    1. Wkwk… kadang aku alamin juga tuh, kalo tidur bangunnya pas banget nyampe tujuan 😆
      Tetapi belakangan nggak pernah lagi. Apa itu tanda aku semakin dewasa? *nggaknyambung*

      Like

    1. Alasan yang nyakitin ini 😂😂😂
      Quree, jangan sampai laki2 lain tau. Aku tidak ingin mereka berkecil hati karena perempuan hilang mood seperti itu. Aku tidak ingin mereka merasakan apa yang aku rasakan 😂😂😂

      Like

      1. Tdk bermksd menyakiti del… Hanya saja wanita mmg sprti itu.. Moody-an 😂😂
        Harap dimaklumi wkwkk
        Beritahu mereka(para laki”) jgn pernah berhenti mencoba utk memberikan penawaran yaa hahaa..
        Smga beruntung 😂😂

        Like

      2. Hey, laki-laki! Sudah pernah dengar lagu ‘Karena wanita ingin dimengerti’ ? Aku selalu bilang wanita itu membingungkan, tetapi sepertinya aku mulai nggak bingung lagi. Yang wanita butuhkan adalah BANYAK PENAWARAN! Maka jadilah lelaki yang pintar bertanya dan pahami situasi. Sekian!

        Liked by 1 person

  6. untung aku naik bis jarang2, jadi ga ikutan drama “bangku” itu
    nenek2 ama emak2 hamil aja deh yang diprioritaskan, pada dasarnya ga papa sih klo lagi hamil diri, pegel doang, cuma takut kegencet2 aja klo berdiri

    Liked by 1 person

      1. itu sih yang aku rasain, wong jalan kaki dari FX sampe Artha graha aja aku sanggup kok hehehe
        ga tau deh kalo bumil2 yang lain, mungkin ada juga yang memang gampang capek 🙂

        Liked by 1 person

      2. Ini artha graha yg lewat monas?? Wkwk 😂😂😂 Cfd-an aja udh bukan ngos ngosan lagi kalo rutenya ke situ…

        Kayaknya emg ka fey yg kelewat super deh 😂😂😂

        Like

  7. Hmmm sepertinya tulisan ini mengandung unsur self-branding 😂
    Nggak papa kak Fadel, siapa tau ada yang nyantol setelah baca tulisan kak Fadel 😛
    Tapi kalau aku jadi ceweknya sih, aku bakalan duduk selama ditawarin wkwk 😂

    Like

    1. Wkwk, pake istilah self-branding segala. Pas nulis ini niatnya mau bikin model cerita, nggak taunya di tengah2 malah kebawa emosi dan jadilah ini. Unsur riya nya jadi terpampang jelas ya wkwk. Eh bentar, kok kesannya jadi kayak jombs ngenes gini ya -_-

      Nah gitu za. Perempuan yang pengertian huhu. Harusnya tiap laki sudah sadar konsekuensinya kalau ia sudah berkorban untuk wanita *halah*

      Liked by 1 person

      1. Nggak papa kak, self-branding seringkali diperlukan kok kak 😂
        Tapi itu nggak riya kak menurutku, cerita pengalaman aja 😂
        Ya memang jombs ngenes kan kak? Udah ngaku aja nggak usah malu-malu segala 😂
        Asyik, ku memang pengertian, tapi doi nggak ngerti-ngerti
        *halah*

        Liked by 1 person

      2. Sebenarnya nggak ngenes juga sih, masuk wilayah abu2 mungkin *lesu*

        Kalau masalah kamu susah ngebantunya za wkwk. Didoain aja deh biar ‘si doi’ makin pinter, cepat ngertinya 🙂

        Liked by 1 person

  8. saluutt.. 😀 meskipun akhirnya ditolak kursinya saya salut dengan yang mau membagi kursiny untuk yang lebih membutuhkan.
    dan.. paragraf terakhir itu saya suka! hehe.. makhluk membingungkan paling agung. 😀

    Liked by 1 person

  9. Wah, untung mas orangnya positif. Lah, kalau saya, mungkin mikirnya begini, “Saya laki-laki. Dia perempuan. Saya kasih aja tempat duduk saya ke dia. Hitung-hitung niatan baik. Mana tau habis itu bisa kenalan, lalu tempat duduk yang telah saya ikhlaskan tadi diganti dengan tempat duduk di pelaminan :)”.
    Maaf mas, saya biasa absurd. Biasa, jomblo Schrödinger. Antara curhat dan tidak curhat.
    Keep writing mas! Saya tunggu buku cetakan pabriknya.

    Liked by 1 person

    1. Kamu ngapain muncul di sini gung. Manggil mas segala -_-

      Bangsa jombs memang sensitif masalah laki dan perempuan ya. Pikirannya selalu jauh paling depan, padahal cuma tentang tempat duduk wkwk. Sukses terus gung 😉

      Like

  10. Del, tulisannya bagus banget! Suka sama cara pikirmu hahahaha. Sebagai perempuan yg kadang suka naik transportasi umum, kadang suka ada laki2 yg nawarin tempat duduk, dan seneng banget karena lintas gender lebih bisa menghormati (?) dan ya, realitanya gitu, bangku prioritas suka didudukin org2 (dalam hal ini wanita) yg sebenarnya ga butuh2 amat. Suka prihatin….

    Anyway, keep up the good work, Del!

    Liked by 1 person

  11. Deeeel gue seneng baca tulisan lo.
    *wait kenapa jd gue lo wkwkw*

    Suka sedih sih emang kalo ada yg ga memahami arti ‘tempat duduk prioritas’ itu apa. Tapi kalo kasusnya dia terlanjur duduk karena gaada bangku kosong dan masih bersedia berdiri sih gapapa. Ini kalo dia udh mah ngotot tp ga mau berdiri juga ya…. gimana ya….

    Keep up the good work, Del! Jadi gatel pengin nulis juga huehehe. Long time no see, buddy!

    Liked by 1 person

    1. Long time no see Rima!
      Duh senengnya ngeliat Rima baca. Udah kelewat lama nggak ketemu soalnya haha. Membaca dari komentarmu, kok kayaknya kamu udah berkembang jadi dewasa banget ya wkwk. Pandangannya udah luas gitu dan pinter ungkapinnya (y)

      Sukses selalu Rim!

      Like

      1. wkwk haiii Fadel! aku juga seneng baca tulisanmu. memberi insight kalo “harusnya aku mulai nulis juga lho…”
        actually no, aku masih seorang Rima yg masih berusaha menjadi dewasa di tengah dominasi sifat kekanak-kanakan yg ga kunjung luntur. membaca hal-hal beginian yg suka membantu mengembangkan pikiran dan aku seneng salah satunya dari temenku sendiriiii hahaha
        ditunggu tulisan-tulisan selanjutnya ya wkwk

        Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s