Review: Hacksaw Ridge

Sudah ada cukup banyak film bertemakan Perang Dunia ke-2 sebagai suguhan utamanya. Hebatnya, tiap-tiap film tersebut dapat menyajikan premis dan plot yang berbeda satu sama lain. Sudah ada cerita mengenai sekompi tentara dengan nekat berkelana di medan perang hanya demi menyelamatkan satu prajurit dalam Saving Priate Ryan ataupun drama tentang bagaimana seorang Yahudi yang berusaha mati-matian menyelamatkan diri agar tak dibantai Nazi dalam The Pianist. Dapatlah dibilang hampir semua yang berkenaan dengan perang terbesar sepanjang sejarah itu sudah pernah dijadikan materi film. Tetapi ternyata tidak. Hollywood belum kehabisan ide, seperti yang ditampilkan film Perang Dunia ke-2 terbaru kali ini, Hacksaw Ridge.

Hacksaw Ridge menyoroti Desmond Doss, pemuda Amerika yang bergabung dengan ketentaraan Amerika Serikat dengan suatu keunikan, yaitu ia menolak ikut berperang dengan memegang satu senjata pun. Yap, tanpa senjata sama sekali. Tidak dengan senapan, pistol, atau pisau kecil. Alasannya adalah karena ia adalah seorang kristen yang taat yang memercayai membunuh termasuk dosa besar. Hal ini didasari pula dengan pengalaman pahit di masa lalu.

Bayangkan seseorang yang ingin ikut berperang namun sama sekali tidak membawa senjata, tentu Doss mendapat banyak penolakan dan cemooh dari sersan, kapten, bahkan kolonel kompinya. Belum lagi beberapa rekannya yang ikut membencinya karena prinsipnya yang dianggap konyol. Sayang itu semua tidak menyurutkan semangat Doss untuk bergabung bersama tentara Amerika. Pada akhirnya Doss dapat ikut membela negaranya sebagai tenaga medis dan berjasa menyelamatkan 75 orang dalam pertempuran Hacksaw Ridge. Penyelamatan 75 rekannya tersebut ia lakukan seorang diri dan sekali lagi, tanpa senjata, di tengah sekumpulan pleton Jepang

Memasuki bagian awal film kita disuguhi dengan plot klasik film perang. Seorang pemuda Amerika yang memiliki rasa nasionalisme tinggi merasa terpanggil untuk membela negaranya dalam perang tetapi orang tua dan kekasihnya tidak menyetujui. Yang namanya laki-laki, sudah ketebak bagaimana kelanjutannya. Ia bersikeras mendaftar. Sampai saat ini saya merasa ini hanya film perang biasa. Toh plot seperti ini sudah banyak ditayangkan. Lalu alur berpindah ke barak tentara yang saya pikir penggambarannya terlalu baik untuk barak tentara. Kita kemudian dikenalkan dengan teman-teman sebaraknya yang menyambut Doss dengan ramah. Disisipkan juga beberapa adegan humor segar di sini yang mungkin beberapa perempuan tidak suka (atau bisa jadi sangat suka)

Drama mulai terjadi saat Doss dengan tegas menolak memegang senjata. Tetapi itu bukan bagian serunya. Bagian klimaksnya adalah ketika mereka mendarat di Okinawa, medan perang sebenarnya. Di sinilah saya teryakini bahwa ini bukan film perang biasa. Perang di sini digambarkan dengan mentah. Sepanjang adegan di medang perang ini kita akan diberikan tentara mati mengenaskan. Kedua kaki yang terputus, tangan yang melepuh akibat mortir, kepala yang pecah tertembus peluru dan lain sebagainya. Sangat sadis.

Negatif dari film ini barangkali terletak pada karakter Desmond Doss yang walaupun berada di tengah hujan peluru, tak sekalipun ia terluka hingga di akhir film. Terlepas dari itu saya pikir ini film yang sangat bagus

Sutradaranya mungkin ingin menunjukkan bahwa perang adalah sesuatu yang amat jahat. Banyak adegan yang terlalu gamblang di sini yang menunjukkan betapa amoralnya perang. Saya cukup merinding dibuatnya. Di sebelah saya adalah perempuan, dan melihat dia harus menonton film seperti ini sepertinya sedikit jahat.

Tetapi di situlah letak bagusnya. Karena terbantu dengan teknologi CGI yang sudah semakin maju, perang dapat digambarkan dengan lebih nyata sekaligus sadis. Deskripsi perang yang sadis itu saya pikir sangat sesuai dengan perang yang seharusnya, yang berdarah-darah, yang menularkan rasa takut. Membuat kita tersadar betapa bodohnya manusia yang melakukan perang.

Advertisements

12 comments

  1. Huasik reviewnya. Kemarin saya ketinggalan teater hacksaw, padahal tman2 yg cewe penggemar si andrew udah pada heboh suruh nonton. Akhirnya nonton bajakan di online. Orang2 yg pergi perang tanpa senjata di ww2 bukan cuma desmond tapi banyak juga dari negara lain. Si desmond bagusnya karena dia dokter, jadi bisa bantu perang tanpa angkat senjata

    Liked by 1 person

    1. Wah emang udah keluar fir? 😆
      Kalau baru yang cam kurang mantep nih. Pernah nonton cam sekali, malah pusing selesai nontonnya
      Yah begitulah kisah Desmond si pemuda Amerika. Kayaknya semua yang dari sana bisa dijadikan film ya haha

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s