Dari Guntur, Kelas 7B

Bukankah aku memang anak yang tidak banyak meminta? Aku hanya sedikit-sedikit minta. Tolong bedakan. Lagipula, aku anakmu. Meminta memang hak anak selama ia masih menjabat sebagai anak. Entah itu meminta banyak-banyak atau sedikit-sedikit meminta.

Ayah ingat bagaimana permohonanku untuk duduk barang sebentar bersamaku demi menonton kartun pagi waktu itu? Padahal kartun itu cuma muncul seminggu sekali. Tetapi pada akhirnya hanya aku sendiri penontonnya. Ya, aku tahu masih ada 51 minggu lain untuk meminta, tetapi aku ingin minggu itu juga. Siapa tahu aku mati minggu depan.

Pada saat pengambilan rapot kelas 4 waktu itu juga sama. Waktu itu aku tidak tahu apakah anak lain mesti meminta ayahnya untuk datang mengambil rapot atau tidak. Tetapi aku meminta Ayah untuk datang. Ingat tidak bagaimana kejadiannya waktu itu? Kalau tidak, biar kuberi tahu akhirnya. Ayah tidak datang. Belakangan aku tahu kalau ternyata malah banyak ayah temanku yang memaksa untuk datang.

Kadang aku berharap kalau Tuhan menambahkan durasi jam dalam sehari karena sepertinya 24 jam selalu habis untuk kesibukan Ayah. Satu hari 28 atau 30 jam tak mengapalah. Asal ada waktu lebih untukku dan cukup bagi Ayah memenuhi kesibukannya. Win-win solution kan? Kalau memang akhirnya terkabul, aku akan datang ke rumah temanku satu per satu, dari pintu ke pintu, mengenalkan Ayah terbaik yang kupunya.

Aku sudah mengarang sedikit apa yang mungkin aku katakan di depan temanku nanti…

“Halo, ini Ayahku. Satu-satunya dan nomor satu. Aku tidak tahu pasti apa pekerjaannya, tetapi, aku tahu ia seorang pekerja keras. Buktinya ia selalu berangkat pagi sekali, bahkan ketika ayam belum bangun, dan pulang malam sekali. Mana ada ayah lain yang bekerja seperti ayahku ini. Aku sangat bangga dengan Ayah. Oh ya, maaf nggak bisa lama-lama. Nanti bonus 2 jam dari Tuhan hari ini keburu habis. Dah”

Simpel kan. Mohon maaf jika aku sedikit-sedikit minta Ayah untuk hadir bersamaku. Aku mengerti Ayah jarang ada di sampingku agar aku bisa terus makan enak. Tak mengapa. Karena bisa makan enak bukanlah pilihan yang buruk.

Lalu suatu hari nanti, Ayah tak perlu meminta banyak padaku, tak perlu pula sedikit-sedikit minta padaku. Aku akan selalu ada untuk Ayah sebelum Ayah meminta. Sebelum apa yang Ayah mau terucap, aku akan mengadakannya. Aku bangga dengan Ayah. Kini, nanti, dan selamanya.

Muhammad Guntur, kelas 7B

Advertisements

5 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s