Pariwisata Berkelanjutan: Untuk Saat Ini dan Seterusnya bagi Lombok

Tentu sudah menjadi fakta bahwa Pulau Lombok adalah destinasi impian bagi para pelancong dan wisatawan, baik itu nasional ataupun internasional. Fakta ini tidak mengherankan mengingat Lombok memiliki magnet kepariwisataan kuat yang berasal dari keanggunan alam juga nilai-nilai kebudayaan yang kuat mengakar. Secara statistik, jumlah wisatawan nusantara dan mancanegara yang datang berkunjung ke Provinsi Nusa Tenggara Barat terus meningkat sejak tahun 2012 hingga 2014. Pertumbuhan ini adalah kabar yang amat menggembirakan bagi pariwisata NTB karena di saat yang bersamaan jumlah kunjungan pariwisata di Bali, yang lebih dulu dikenal sebagai pariwisata, malah mengalami penurunan. Kurang lebih ini dapat diinterpretasikan wisatawan tak hanya mulai melirik NTB sebagai destinasi wisata jempolan melainkan sudah menjadikan NTB alternatif wisata yang menjanjikan. Seperti perkataan yang sering terdengar di kalangan wisatawan terkait rivalitas Bali-Lombok, “kalau ke Bali tidak dapat Lombok. Tetapi kalau ke Lombok sudah pasti dapat Bali”

Namun pariwisata NTB atau lebih spesifik lagi Lombok, terbentur beberapa masalah yang mengakibatkan fasilitas dan kualitas kepariwisataan di Lombok masih kalah dibanding Bali. Katakanlah dari segi pelayanan dan pelestarian daerah wisata alam yang dapat dibilang hanya mendapat nilai rendah dalam rapot pariwisata Lombok. Isu-isu seperti ini jika tidak ditanggapi secara serius akan menyebabkan segala keuntungan dari sektor pariwisata hanya dapat  berlangsung sesaat. Jangan kaget jika 10 atau 15 tahun lagi pariwisata Lombok hanya menjadi kenangan indah di masa lalu dikarenakan tidak adanya perencanaan masa depan yang matang

Hal ini pula yang menjadi fokus perhatian teman-teman mahasiswa dari Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS) Jakarta, yaitu melihat bagaimana pariwisata tidak hanya menjadi aset untuk saat ini namun juga kontinu hingga masa depan. Konsep pariwisata seperti ini dikenal sebagai Sustainable Tourism atau Pariwisata Berkelanjutan.

Pariwisata Berkelanjutan adalah konsep pariwisata yang mempertimbangkan tiga aspek yang berkenaan langsung dengan pariwisata itu sendiri, yaitu aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan. Jadi pariwisata tidak hanya dilihat dari segi ekonomisnya saja. Karena sisi ekonomi tidak cukup menjelaskan nilai pertumbuhan sebenarnya dari pariwisata. Ada unsur masyarakat dan kelestarian wilayah yang mendapatkan jatah perhatian sama besarnya. Konsep seperti ini menutup kemungkinan eksploitasi daerah wisata besar-besaran sekaligus melakukan perencanaan yang baik untuk pariwisata ke depannya. Keadaan pariwisata yang berkelanjutan mengartikan turisme di wilayah tersebut sudah mapan serta siap untuk terus menjadi kawasan wisata ideal untuk jangka panjang

Apa yang ditawarkan mahasiswa STIS terkait pariwisata Lombok adalah ilmu dan kemampuan. Berbekal keahlian bidang statistik yang diperoleh di kampus, mereka mencoba mencari jawaban atas tanda tanya besar bagi kepariwisataan Lombok: apakah kondisi pariwisata berkelanjutan di Lombok sudah tercapai? Lalu apa yang harus dilakukan apabila kondisi itu sudah/belum terpenuhi?

Untuk mendapatkan jawaban tepat sasaran diperlukan pendekatan sains yang tepat pula. Pendekatan sains itu adalah dengan turun langsung ke lapangan, menangkap gambaran kondisi yang ada dalam bentuk data, mengolah dan menganalisis, hingga akhirnya menemukan kesimpulannya. Proses yang panjang itu mewakili keseluruhan penelitian yang dilakukan mahasiswa STIS selama di Lombok. Istilah yang mereka gunakan adalah Praktik Kerja Lapangan 55 STIS. PKL 55 STIS dilakukan pada 14-22 Maret 2016 yang lalu dengan mengambil lokus penelitian di Kabupaten Lombok Barat dan Kabupaten Lombok Utara.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, indikator pariwisata berkelanjutan digolongkan menjadi tiga golongan besar, yaitu sosial, ekonomi, dan lingkungan. Indikator tersebut kemudian menjadi patokan utama dalam melakukan penelitian ini. Tentu untuk mendapatkan informasi yang sesuai unit observasi yang didekati tidak hanya berasal dari satu dimensi tetapi tiga populasi berbeda yang mewakili masing-masing dimensi. Dimensi ekonomi didapati dari populasi unit usaha pariwisata, dimensi sosial dari penduduk daerah wisata, serta lingkungan dari keduanya. Selain itu profil dan perspektif dari wisatawan juga mutlak dibutuhkan

Setelah proses pengumpulan data di lapangan (dengan wawancara ketiga populasi), didapatilah 1415 pemilik unit usaha pariwisata, 2820 penduduk daerah wisata, dan 1167 wisatawan yang menjadi responden. Sejumlah responden tersebut didapatkan untuk memperoleh keterangan dampak ekonomi dan sosial pariwisara, daya saing usaha pariwisata, pengelolaan lingkungan, serta kepuasan wisatawan. Keterangan itu kemudian diolah dan dianalisis lewat metode Barometer of Tourism Sustainability (BTS) dan AMOEBA of Tourism Sustainable Indicators (ATSI) yang dapat menggambarkan pariwisata berkelanjutan

Hasilnya adalah:

  • Untuk Kabupaten Lombok Barat, indikator lingkungan ketersediaan dan konservasi air serta pengelolaan limbah padat berada pada tahap potentially unsustainable dan unsustainable berturut-turut yang artinya diperlukan pembenahan untuk meningkatkan kualitas manajemen air dan limbah (berdasarkan ATSI). Sedangkan berdasarkan BTS didapatkan hasil potentially unsustainable yang menunjukkan belum tercapainya pariwisata berkelanjutan di Lombok Barat
  • Dalam kasus Kabupaten Lombok Utara, daya saing usaha pariwisata pada tahap potentially unsustainable, serta pengelolaan limbah padat pada tahap unsustainable mengindikasikan diperlukannya stimulus ekonomi agar unit usaha pariwisata memiliki dorongan lebih untuk meningkatkan kualitas layanan pariwisata. Pengelolaan limbah padat yang masih parah juga menjadi perhatian serius (berdasarkan ATSI). Dengan BTS, pariwisata Lombok Utara berada pada tahap intermediate, menandakan pariwisata berkelanjutan yang cukup/medium

Hasil tersebut secara keseluruhan memberikan gambaran pariwisata berkelanjutan di Lombok Utara dan Barat. Memang pariwisata Lombok masih memiliki banyak celah yang perlu ditambal dan dibenahi untuk mencapai tahap pariwisata yang berkelanjutan. Namun setelah melihat pencapaian hingga saat ini, besar kemungkinan celah-celah tersebut dapat dengan mudah tertutupi dengan kerjasama pemerintah dan masyarakat yang partisipatif. Karena sesungguhnya isu apapun yang dihadapi, partikel inti dari segala solusi adalah masyarakat plus dukungan penuh dari pemerintah. Timbal balik masyarakat dan pemerintah inilah yang membuat roda pembangunan dapat terus melaju, melangkahi tanjakan paling terjal sekalipun. (M. Fadel, STIS Jakarta)

Advertisements

10 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s